"Lilium!" Di luar dugaan, Asterus justru berlari secepat angin. Dengan sekejap mata, sosok Lilium yang masih berada dalam kondisi shock sudah berada dalam rengkuhannya. "Lilium!" Sekali lagi, Asterus melanunkan namanya dengan bergetar.

Apa? Apa Licht menceritakan tentang dirinya pada si Asterus ini?

"Lilium, kau kemana saja!" Asterus melepaskan pelukannya, ditangkupnya wajah Lilium dengan kedua tangannya. Air mata menetes bersamaan dengan selengkung senyuman manis. "Aku ingat semuanya, Lilium! Aku langsung tahu begitu melihatmu, Tuan Putri."

Eduard jelas terkejut. Pertama, tidak disangkanya kalau Asterus ternyata mengenal Lilium. Kedua, panggilan 'Tuan Putri' itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Aku senang, puzzleku yang hilang sudah kembali lagi ke tempatnya. Hidupku sudah lengkap kurasa." Asterus menyeka air matanya, menatap Lilium yang masih dalam kondisi shock. "Nah, ayo pulang, Yang Mulia."


Chain of Destiny and Wheel of Time

Presented by Eternal Thunder

Chapter 4 : The Begining


Bahu gadis itu bergetar kala air mata merembes melalui celah kelopak mata yang tertutup. Lilium mendudukkan diri di pojok ruangan. Pembicaraan pribadi, atas perintahnya, membuat semua anggota Kerajaan tertahan di balik pintu besar dari marmer dingin bertahtakan permata. Lilium merintih.

"Kumohon, Asterus, biarkan aku pergi."

Gadis bersurai sewarna coklat kayu itu menatap dengan ekspresi tak mengerti. Pandangan matanya keruh. "Kenapa aku harus melepaskanmu? Setelah beberapa bulan terakhir aku menderita karena kegundahan yang menggerayangi hatiku, apa kau tak merasa besalah? Percayalah, Lilium. Aku benar-benar senang setelah menemukanmu kembali."

"Asterus.."

Penggal saja kepalanya kalau ia mengatakan tidak rindu pada saudaranya. Ia sungguh-sungguh merindukan masa-masa dimana ia dan Asterus menghabiskan waktu bersama. Bergurau, duel, mengamati benda angkasa. Tetapi kini, ketika Khronos semakin menunjukkan ketidaksabaran akan ending yang sesungguhnya, tidak ada yang bisa dilakukannya.

"Kau mengingatnya bukan? Kau mengingat hari itu, bukan?"

"Semua ingatanku tentangmu telah kembali sepenuhnya. Tanyakan saja kenangan yang mana, nostalgia kita bisa segera dimulai."

Pertama Grem, lalu Asterus, dan terakhir Eduard. Sebentar lagi, Licht dan ayahnya akan mengetahui kebenarannya juga. Kemudian, satu atau dua hari setelah hari ini, semua rahasia akan terbongkar. Dan pertumpahan darah akan terjadi ketika peleton telah berbunyi. Merah yang pekat itu harus rela disaksika Lilium sekali lagi.

"Semua yang ada di sekelilingku, perlahan-lahan akan menghilang, Asterus. Jiwa mereka terbang menuju jasad yang baru."

Ruangan besar dengan semua barang mewah yang menempati diam dalam kebisuan yang mencekam. Sebaris kalimat yang diutarakan Lilium membius Asterus untuk mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Kalimat tadi.. rasanya pernah ia dengar. Di suatu tempat di dalam kastil ini.

Lilium berdiri, pantang baginya untuk terus jatuh terpuruk. Larut dalam keputus asaan hanya akan membuat Khronos menyeringai senang. Tanpa disadari, ia telah menyuguhkan satu lagi hiburan untuknya.

Surai soft purple menjadi satu-satunya objek tatapan Asterus. Gadis itu kemudian tersenyum tipis. "Lilium, hidup dan mati adalah hal yang lumrah. Sudah hukum alamnya seperti itu. Jika kau mau mengubah kodrat tersebut, maka jadilah seorang dewa dan hentikan tugas malaikat kematinan."

"Hei Asterus, sejak kapan kau memeluk agama?"

"Tidurlah, Lilium." Ada banyak yang ingin diucapkan Asterus. Ada 1001 pertanyaan dalam benaknya. Namun kali ini, biarkanlah Lilium beristirahat. Sudah lama bilik ini tidak bersua dengan pemiliknya. "Nanti pagi, aku akan membangunkanmu lebih awal. Kita akan menyelinap keluar. Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?"

Pergi menyelinap saat malam hari atau pun pagi hari, baik Lilium mau pun Asterus senang melakukannya. Gairah menegangkan saat takut tertangkap basah adalah sesuatu yang menyenangkan layaknya bersembunyi dari musuh di medan perang. Dan karena itulah, mengabaikan perih di hatinya, Lilium bisa mengulas senyum tipis.

. . .

Pondok kecil teronggok di tengah hutan. Dikelilingi oleh keheningan dalam kekelaman yang membabi buta. Cahaya lentera temaram memantulkan citra wajah kedua orang itu. Yang satu berwajah keras dan terlihat kasar, yang lainnya lembut namun tegas. Surai brunette dan blonde bergerak saat keduanya menggerakkan sendi putar di lehernya. Saling bertatapan.

"Aku sungguh tidak mengerti."

"Ya, begitu pun denganku," orang yang wajahnya seperti berandalan mengangguk setuju.

Pondok itu kembali dikuasai keheningan. Bahkan suara serangga nokturnal pun tidak terdengar. Kedua orang itu menatap objek yang sama, cahaya lilin yang menari-nari mengikuti lantunan angin dari ventilasi yang terlalu lebar.

"Dia sudah mengetahuinya?"

"Dia siapa?"

"Gadis itu."

Si brunette tertegun. Detik kemudian ia menggeleng pelan. "Dia akan segera mengetahuinya. Jika tidak hari ini, mungkin besok. Jika tidak besok, mungkin lusa."

"Jika tidak lusa, mungkin tidak akan pernah."

"Aku sangsi." Kepala brunette itu sedikit bergerak. Pria yang sepertinya memiliki fisik besar bergerak tidak jelas. Radius rambat cahaya lentera temaram skalanya sungguh kecil. Apa yang ada di dalam pondok dingin itu tidak bisa terlihat seluruhnya. "Cepat atau lambat, seluruh kerajaan ini akan mengetahuinya."

"Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?"

"Pergantian kekuasaan."

"Ya, pergantian kekuasaan." Sang blonde menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, mengangguk. "Tetapi tetap saja janggal. Instingku mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Terserah kau mau percaya padaku atau tidak, tapi jangan meragukan insting seorang pemburu."

"Aku tidak peranah meragu-" ucapannya terhenti. Wajah yang terpantul oleh cahaya lentera tampak tegang. Mata sipitnya membulat dengan wajah yang semakin terlihat menakutkan. Sang brunette menatap teman blondenya—yang juga tengah memasang ekspresi yang sama. "Kau dengar itu?"

"Ya, aku dengar."

Srekk.. Srek..

"Hei, siapa di sana?!"

. . .

"Wow, gosip tentang seseorang yang berjalan sembari tertidur itu benar adanya. My, my, kau bisa merendahkan reputasimu sendiri, Lilium."

Dinding batu dilapisi kaca bening berwarna palm lembut. Kamar yang besar ini terlihat seperti dipasangi cermin di sana-sini. Properti mahal pun bertebaran dengan desain yang tak tanggung-tanggung. Ranjang bertirai sutra dengan selimut beludru merah di atasnya terasa dingin ketika di sentuh. Belum ada yang mengunakannya.

Di samping ranjang, sebuah jendela mewah terbingkai sempurna dengan white chrysanthemum yang menguarkan aroma harum menyengat. Beberapa hiasan dinding mahal, pigura foto dan lukisan, juga lentera berbahan emas dan perak mempercantik kamar Sang Puteri. Lemari besar raksasa dengan ukiran artistik berisi gaun-gaun mahal berdesain elegan menjulang ke langit-langit.

Beberapa tahun terakhir, yang ia tahu, ruangan ini belum dibuka. Atau mungkin lebih tepatnya, sejak Lilium menghilang dari kerajaan. Asterus tidak tahu pasti kapan sebenarnya saudarinya itu lenyap dan membuat seisi Kerajaan melupakan dirinya. Tidak sampai gadis itu akan menceritakan sendiri di hadapan Baginda Raja.

Puteri ungu muda itu terbaring di sebuah sofa besar berwarna coklat pastel hangat. Gadis itu bahkan masih menggunakan dress rumahan panjang yang membuatnya terlihat seperti rakyat biasa berkehidupan susah. Namun tetap saja, pesona seorang Lilium tetap melekat kuat.

"Hei, Lilium. Bangun. Kita sudah berjanji untuk menyelinap pagi ini," ucapnya sembari menggoyangkan tubuh Lilium.

Kelereng amethyst mulai nampak ketika tirainya terangkat perlahan-lahan. Wajah bangun tidur Lilium selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati. Asterus terkekeh pelan. "Selamat datang kembali, nak."

"U-Ukh.." Semuanya masih nampak remang-remang. Lilium menyingkirkan helaian rambut yang menempel di wajah. "Hm, Asterus?"

"Aku harap kau tidak melupakan sesuatu."

"Kau memindahkanku kemari?" Lilium memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia berhasil bangkit dari sofa dengan bantuan Asterus. Tubuhnya terasa melayang. Apa kakinya menapak pada lantai marmer bermotif rangkaian bluebells itu?

"Aku harus memperingatkanmu, Lilium. Kau harus menghentikan kebiasaan burukmu. Berajalan sambil tidur, huh? Kau akan terlihat seperti vampire."

Mitologi mengenai vampire memang sedang populer dewasa ini. Entahlah Lilium akan mengetahuinya atau tidak, mengingat istilah itu muncul ketika ia berada di dunia tanpa Lilium. Di luar dugaan, Lilium terkekeh pelan.

"Baiklah, aku benar-benar tidak sadar bahwa aku memiliki kebiasaan itu. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Pergi ke gereja di dekat sungai. Ayah menunggu di sana. Dia sangat ingin berbicara padamu."

"Kenapa tak di sini saja?" Lilium mendesah sembari membuka pintu lemari besarnya. Dipilah-pilahnya rangkaian gaun yang berkilauan indah. Hei, gaun dengan corak bulu burung merak itu ada di sana! Ia tersenyum miris mengingat dimana ia pertama kali melihat gaun itu. Di atas perkamen kertas, lukisan dirinya tengah tesenyum dengan gaun indah itu.

"Ayah tak suka berada di sini. Seperti yang kau tahu, hubungan kedua orang tua kita tidak terlalu baik. Apa kau menghilangkan memori itu?"

"Aku tidak melupakannya dengan sengaja."

Inilah kenyataannya. Ada beberapa pecahan pion kecil yang tak kembali pada tempatnya. Bilah-bilah ingatan besar itu saling memperkuat. Mereka dengan kompak melumpuhkan ingatannya akan serpihan pion memori yang terlupakan. Lilium meringis. Dalam hati berniat untuk menghajar Khronos jika dia bisa melakukannya.

Mengambil salah satu gaun sederhana dengan warna pale aqua, Lilium membuka dress pemberian Licht. Berbagai pikiran tentang bagaimana keadaan meraka yang ia tinggalkan berkecamuk saling bertubrukan. Bagaimana keadaan Grem sekarang? Apa Eduard sudah mengingatnya? Dan, apakah Licht akan marah padanya ketika ia muncul di hadapan gadis detective itu?

Asterus menarik tangannya begitu Lilium selesai berpakaian. Pintu besar dengan butiran kristal dan mutiara menimbulkan derit yang menggema. Lorong megah dengan lentera berapi warna-warni dilanda kekosongan. Asterus terkikik dan menaruh jari telunjuknya di depan bibir.

"Dapur sudah mulai beraktivitas, seperti yang kau tahu. Nah, sekarang, kita akan berlari sementara para kesatria itu belum mengambil posisinya."

"Baik, baik. Aku tidak sabar untuk meluncuri tangga."

"Kau mengingatnya?"

"Dengan sangat jelas."

Suara tapakan kaki saling bersahutan, Asterus berlari dengan wajah bahagia. Dia terus berceloteh tentang apa yang dirasakannya ketika akhirnya mendapat teman menyelinap setelah sekian lama harus melalui semuanya sendirian. Dan Lilium hanya bisa membalas dengan senyum palsu. Hatinya terlalu gelisah. Suara tawa seseorang menggema dalam kepalanya.

. . .

"Apa yang terjadi?"

Seluruh anggota Kerajaan duduk melingkar di sana. Di sebuah meja besar dengan dua buah kursi raksasa berwarna merah di masing-masing ujung—hampir menyerupai tahta raja. Di sebelah utara, seorang pria bermahkota menatap datar lurus ke depan, tepat menuju Lilium yang duduk di seberang lainnya.

"Aku tidak ingat. Sungguh Ayah, aku tidak ingat kejadian apapun sebelum ini."

Bohong,

"Lalu?"

Berbagai pasang mata menatapnya dengan kilat yang berbeda. Datar, heran, dingin, waspada, bahagia. Dan salah satunya adalah sepasang mata gadis itu. Licht, sorot emosinya tidak terbaca.

"Ingatan itu baru muncul ketika Asterus memanggilku 'Tuan Puteri'. Sama seperti yang akan terjadi pada kalian, aku mengalaminya juga." Sepasang mata mulai bertatapan dengan mata lainnya. Lilium berusaha mengabaikan dan melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan. "Sebelum ini, tidak ada yang benar-benar aku ingat."

Bohong.

"Aku tak mengingatmu." Pria berwibawa dengan jubah merah memandang datar Lilium. Orang yang berkumpul di meja bundar itu, para Dewan Kerajaan, diam-diam membenarkan dalam hati. Tidak ada yang berani mengangguk setuju. Gadis remaja yang disegani oleh mereka itu, Asterus Kliment, berdiri tepat di samping kursi Lilium. Tubuhnya mengumbar aura hewan liar. Sungguh, Asterus terlihat seperti serigala kelaparan.

"Butuh waktu, Ayah. Sekarang, setelah aku nyatakan hal ini, kalian harus meyakininya sepenuh hati. Percayalah, kalian akan mengingatku."

Lilium menarik nafas dalam. Asterus menyikutnya dan melemparkan senyum lembut. Wajanya seperti mengutarakan 'aku ada di sampingmu'. Lilium membalas senyuman itu dan mengangguk singkat.

"Aku, Lilium Kliment, pewaris tahta satu-satunya Kerajaan Kliment. Mohon bantuannya."

Dan kau adalah orang yang terkutuk. Bukankah kunci itu semakin dekat?

Sebaris kalimat yang menggema dalam kepalanya merupakan melodi pengantar tidur yang mematikan. Lilium merasakan kepedihan yang mendalam. Bercampur dengan gesekan harpa yang memekakkan telinga. Kesadarannya terkikis perlahan-lahan. Hal terakhir yang bisa didengarnya adalah teriakan Astrus.

. . .

Hei, aku benar-benar terkejut kau tidak tahu siapa sebenarnya diriku ini.

"Berisik kau, sialan!"

Seorang Tuan Puteri tidak sepantasnya mengatakan hal seperti itu. Image yang telah susah payah Ayahmu bangun akan sia-sia, Lilium.

"Apa pedulimu?"

Kemari, mendekatlah. Biar kutunjukkan sesuatu.

.

.

.

Bangungan itu hanya sebuah susunan batu-batu yang dicat putih. Atapnya dibuat dari tanah liat yang dibakar, setidaknya itu lebih elit dari tumpukan jerami. Tetapi ukiran artistik yang terlihat asing merupakan objek yang terlihat paling menarik di mata gadis itu. Scene pergi ke gereja tua ini, belum pernah terjadi dalam hidupnya. Mungkin benar, pertemuannya dengan Licht mengubah semuanya.

Suasa pagi hari terasa dingin. Asterus merelakan tubuhnya digerogoti suhu dingin yang mungkin bisa membekukannya jika ia tak berpakaian. Ia menyampirkan jubah sepinggang pada bahu Lilium. Gadis itu sudah bersahabat dengan suhu dingin, katanya. Padahal, Lilium sendiri sebenarnya sangat menyukai hawa dingin menusuk tulang ini.

Kabut tipis menempati udara seperti seharusnya. Menambah kepadatan unsur gas di udara pagi hari. Beberapa kali terlihat kereta kuda yang melaju membelah asap putih tipis, terlihat seperti realisasi legenda hantu apa pun yang melibatkan kereta kuda. Lilium masih melirik ke arah jalanan ketika Asterus sudah berseru pada seseorang di dalam sana.

"Ayah. Hei, kau dimana?"

"Di sini, wahai anakku. Kemarilah, aku benar-benar ingin melihat Lilium."

Melewati berbanjar-banjar kursi yang ditata rapi, sebuah ruangan dimana disinari lentera yang sangat terang merupakan asal tempat suara itu merambat. Kedua gadis itu berdecak kagum ketika melihat patung-patung raksasa berjajar rapi. Beraneka bentuk dan pose.

"Ini.."

Di sana, seorang lelaki dewasa tengah menundukkan wajahnya di hadapan sesosok patung tinggi menjulang dengan posisi duduk. Kain putih yang biasanya melekat pada dewa-dewa Yunani dipahat dengan sempurna. Wajahnya tidak jelas, tetapi yang pasti sosok pria tinggi besar tengah melipat tangannya di depan dada. Sepasang sayap terkatup menghiasi punggungnya. Indah, namun memberikan kesan menakutkan.

"Mendekatlah, wahai anakku."

"Ayah, patung-patung ini.. kau dapat darimana?"

"Athena. Ketika melakukan pelayaran, banyak hal yang bisa dipetik dari sana, termasuk untuk dibawa pulang." Pria dewasa dengan tampang remaja itu melirik ke samping anaknya dan tersenyum lembut melihat sesosok bersurai soft purple menatap patung itu penuh minat.

"Sungguh aku merindukanmu, Lilium. Dewaku Khronos mengatakan bahwa kau akan datang kemari."

Deg.

Apa katanya tadi? Khronos?

"Jadi kau beriman pada Dewa Khronos. Dewa apakah beliau, Ayah?"

"Dewa waktu, anakku. Dewa yang mengatur tentang seluruh pergerakan waktu dan juga dimensi. Distorsi ruang dan waktu juga terjadi karena kehendaknya."

Di sana, Lilium berdiri dengan tubuh gemetar. Matanya ditarik untuk selalu mengamati pahatan kapur putih itu. Lidahnya kelu untuk bicara. Namun ketika mulutnya membuka, yang berhasil dikeluarkan adalah suara tawa. Tawa yang dibarengi dengan kelopak mata yang membuka lebar. Sebuah tawa gila ala pembunuh yang mengalami gangguan jiwa.

"Aha.. Ahahaha.."

"Lilium?"

"Khronos brengsek!"

.

.

.

Itu salahmu karena kau seorang atheis, Lilium. Sekarang kau tahu kalau aku itu ada,

"Apa yang kau atur? Waktu? Jangan bercanda. Kau hanya menghibur dirimu sendiri."

Apa yang kau tahu tentangku, hm?

"Teruslah tertawa. Setelah itu, akan kubuat kau menderita."

Hitam yang pekat diisi kekosongan. Tidak ada yang berdengung. Hampa.

Hei.. Aku mulai bosan dengan semua ini. Berusahalah lebih keras agar semuanya dapat diakhiri. Lilium, aku bosan..

"…"

Suatu hari, setelah kau menemukan peti, akan kupastikan kau menemukan kuncinya.

. . .

"Apa yang terjadi? Licht! Licht, apa yang terjadi?"

Gadis itu menangis meraung-raung. Ia mendekap Lilium. Sebuah tindakan yang berani dengan memeluk seorang Puteri Mahkota tiba-tiba. Dengan alasan yang masih abu-abu pula. Namun ia tidak peduli. Licht hanya butuh bahu Lilium, itu saja.

"Hiks.. Ma-Masih mengingat Grem dan Eduard, Tu-Tuan Puteri?"

"Tentu."

Firasatnya mulai tak enak.

"Mereka tewas terbakar tadi malam. Di tengah hutan, di pondok tempat Eduard beristirahat ketika berburu."

Lilium meneguk ludah. Saatnya telah tiba.


TBC


Berapa lama fic ini ditelantarkan? Maaf, sebenarnya tidak bermaksud begitu.

Bagi yang sudah pernah membaca chapter selanjutnya dari fiksi ini, saya datang membawa chapter selanjutnya. Silakan dinikmati~ Oh, aku tahu ini sudah mencapai akhir, kalian sudah menikmatinya, jadi saya tidak akan bilang 'selamat menikmati~ ¯ω¯

Dan saya berusaha kembali dengan style writing yang—harapannya—sama dengan chapter sebelumnya, bahkan kalau bisa lebih baik. Saya ingin segera menamatkan fiksi ini, sungguh. Meskipun bahkan konfliknya belum setengah jalan. Tetapi saya akan berusaha. Bagi yang mau menunggu, silakan ditunggu~

Sign,

Eternal Thunder