Tiga Belas Aosei Rzhevsky Devushka

Don't like? Don't read.

Happy reading.

.

.

.

Tiga Belas

.

.

.

.

.

Hei, apa lo percaya sama angka sial?

.

.

.

.

.

Siang yang panas di sebuah sekolah menengah atas di dalam kelas yang AC-nya juga kebetulan lagi mati, kelas XII IPA 2. Matahari menggantung tinggi di langit yang luasnya tak terhingga, memancarkan sinarnya yang terik. Derastra Langit sedang mencoret-coret selembar kertas HVS dengan pensil kesayangannya. Cowok yang hobi menggambar dan maniak seni itu terlihat sedang mencoba mengusir kebosanannya di tengah jam kosong ini. Harusnya, sih, sekarang jam Biologi. Kebetulan Pak Alex nggak masuk. Jadi, deh, anak-anak Metal Core―nama kelas XII IPA 2, kurang tahu juga kenapa namanya Metal Core―yang hampir semua muridnya keterlaluan bandelnya tapi pintar itu meribut.

Langit menguap. Dia semakin merasa bosan di kelasnya. Biasanya, dia ngejailin sahabatnya si Aster, tapi hari ini Aster juga kebetulan nggak masuk, katanya izin acara keluarga. Tambah bosan aja si Langit sekarang. Mata birunya melirik sana-sini ke seluruh penjuru kelas. Kali aja ada yang bisa digangguin atau apa gitu. Memang cowok yang satu ini nggak tahan barang sehari aja untuk nggak mengganggu orang. Baru saja Langit ingin menyudahi aksi coret-coretnya tadi, sahabat cowoknya memanggil.

"Bro!" sapa Franky sambil menepuk bahu Langit dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah cowok berambut gondrong kecokelatan itu.

"Apaan?" tanya Langit langsung. Dia agak sewot. Cuaca terik banget, broo! Bikin hati cepat panas.

"Eits, nyante dong, bro! Gue cuma mau nanyain soal lagu techno punya Black Eyed Peas yang lo bilang kemaren itu," sahut Franky sambil mengeluarkan Samsung Galaxy Ace-nya.

"Oh. I Gotta Feeling? Memang kenapa sama lagu itu?"

"Yah gue mau minta kirim lah, Ngit! Lo gimana, sih. Gue udah ngeluarin hape gini masa lo gak ngerti juga maksud gue," sahut Franky agak nyolot.

"Lo kira gue peramal? Langsung ngerti maksud orang-orang. Bisa aja lo ngeluarin hape buat fesbukan," balas Langit ketus. Dia memang orangnya temperamental alias gampang sebal. Franky jadi malas juga liatnya.

"Udah, deh, sewotan mulu lo. Buruan kirim dah lagunya," ujar cowok rambut cepak itu. Kelihatan banget nggak sabarannya.

Langit cuma mengangguk doang sambil mengeluarkan iPhone 5-nya. Baru ganti hape lagi dia. Padahal sekitar empat bulan yang lalu, dia masih make Samsung Galaxy Ace 2. Cowok blasteran Indonesia-Inggris itu memang punya hobi jelek, gonta-ganti hape. Langit nge-scroll layar touch screen-nya seraya bersandar di bangkunya, mencari lagu ber-genre techno yang dipinta Franky tadi. Tak lama, dia nemuin lagu itu. Matanya melirik ke arah sahabat rambut cepaknya.

"Bluetooth-nya udah nyala?" tanya Langit.

"Daritadi, Bro! Lo lelet, sih!" Franky nyolot lagi. Tambah sewot aja si Langit. Tanpa banyak bicara, Langit pun mengirim lagunya ke hape Franky.

Nggak sampai semenit, Samsung Galaxy Ace milik Franky memunculkan tanda panah di atas layarnya. Tanda kalau kiriman lagu dari Langit tadi sudah selesai.

"Oke sip, Bro! Thanks yo!" seru Franky senang. Dia pun beranjak dari duduknya. Sesaat dia menoleh, "gue sama anak-anak mau ke kantin, nih. Lo ikut gak? Biasa, nongkrong," tawar Franky.

"Nggak, deh. Gue di kelas aja. Lagi males turun-naik tangga," balas Langit sambil memutar-mutar pensilnya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Oke deh, bro! Gue cabut dulu!" Dan Franky pun keluar kelas bareng beberapa anak Metal Core lainnya. Langit juga biasanya ikutan. Tapi hari ini dia lagi malas juga bosan banget. Mending di kelas aja, deh. Toh sebentar lagi juga bel pulang berbunyi.

Mata Langit pun melirik ke arah jam digital yang menempel di atas papan tulisnya. Jam sudah menunjukkan angka 13.00, udah jam satu tepat aja. Lima belas menit lagi bel pulang bakal menyuarakan bunyinya. Hari Kamis memang selalu pulang lebih cepat. Semua anak-anak SMA Negeri 13 ini paling suka sama hari Kamis. Pulang cepat. Siapa, sih, yang nggak suka pulang cepat?

Langit berubah pikiran. Tadinya dia mau menyimpan pensilnya. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Ide untuk menggambar. Lumayanlah untuk ningkatin apresiasi seni gue. Seniman keren kayak gue gini 'kan harus sering latihan, pikirnya narsis sambil mengeluarkan selembar kertas HVS baru yang masih kosong. Maniak seninya kumat. Langit mulai mencoret-coret lagi kertasnya.

Pertama dia bikin sketsa dulu. Nggak perlu waktu lama buat Langit untuk bikin sketsa. Dalam lima menit, sketsanya sudah jadi. Bentuk kasar sudah terlihat. Cowok maniak seni itu berbalik merogoh-rogoh ransel hitamnya dan mengambil pulpen khusus untuk menggambar. Ditebalkannya garis-garis sketsa tadi dengan cekatan. Bentuk naga bersayap mulai terlihat. Langit memberi sentuhan terakhir di bagian ekornya dan menghapus semua garis-garis kasar yang ada.

"Selesai!" seru cowok itu senang sambil mengangkat kertas gambarnya dan memandanginya.

Seekor naga bersayap dengan tiga belas ekor terpampang di sana, terlihat sangat hidup. Hewan fantasi. Langit tersenyum puas. Entah apa yang ada di pikirannya hingga tiba-tiba saja dia punya ide buat menggambar naga yang ekornya berjumlah tiga belas itu. Tak lupa ledakan-ledakan di sekeliling naga itu sebagai latarnya.

Memang, dia juga maniak banget sama sesuatu yang berbau fantasi. Nggak tau, deh, turunan siapa dia itu. Padahal mama sama ayahnya nggak ada yang suka sama hal begituan. Tanpa Langit sadari sama sekali, anak-anak cewek Metal Core ternyata sudah merubunginya. Sekelas juga tahu hobi Langit yang ini.

"Gambar lo keren banget, Langit!" seru Retha.

"Iya! Gambar kamu bagus banget!" timpal Tini juga.

"Gambarin buat aku juga, dong!" sambar Sasha.

Sontak Langit nyaris saja terjatuh dari kursinya saking kagetnya dia. Tapi kemudian, cowok itu menyeringai senang. Seni bikinannya dipuji gitu. Coba kalo sama Aster, pasti malah diejek, deh.

"Makasih, makasih," ucap Langit senang. "Entar gue gambarin juga deh buat lo-lo semua. Sesuai sama permintaan kayak gimana," balasnya santai sambil membereskan semua alat-alat gambarnya. Cewek-cewek tadi langsung pada kesenangan. Kayak abis dapet tanda tangan artis terkenal aja.

KRIIIING!

Tepat saat Langit selesai membereskan semua alat-alat gambarnya, bel pulang berbunyi. Kontan anak-anak Metal Core yang tadinya ribut jadi tambah ribut. Semuanya bersorak mendengar bel pulang berbunyi. Franky dan anak-anak lainnya juga udah balik dari kantin. Melihat Langit yang sudah menyandang ransel hitamnya, Franky teriak, "Hoi seniman Metal Core!"

Merasa teriakan itu buat dirinya, Langit menoleh ke arah Franky. "Apa lagi lo?" tanyanya sambil nyamperin sahabatnya yang hobi teriak-teriak itu.

Franky nyengir dengan sedikit memohon. "Eh, gue nebeng sama elo, dong, Ngit! Hari ini gue gak bawa motor. Motor gue masuk bengkel," katanya baik-baik. Kalau ada maunya aja kayak begitu bicaranya. Langit memutar bola matanya malas.

"Oke, deh. Payah lo," timpal Langit cuek sambil melambung-lambungkan kunci motor ninjanya.

"Gitu dong, Bro! Lo seniman paling keren, deh!" ucap Franky sambil mengacungkan jempolnya.

"Sok muji lo. Lagi ada maunya aja lo muji gue," ucap Langit malas. Franky balas nyengir. Dia cuma ngelirik Franky sekilas lalu berjalan keluar kelas diikuti sahabat karibnya itu.

.

.

oOoOo

.

.

Suara motor ninja biru milik Langit terdengar. Langit baru saja sampai di rumahnya setelah mengantar Franky pulang tadi. Dia memarkirkan motornya pas di depan pintu garasi. Langit pun langsung melenggang masuk ke dalam rumah begitu turun dari motornya. Pintu depan terbuka sebelah. Rumah Langit 'kan dua pintu tuh depannya.

Tumben mama ngebiarin pintu kebuka gini, pikir Langit bingung. Tapi dengan cuek, Langit masuk dan tetap membiarkan pintu rumahnya terbuka. Dilihatnya sang mama tercinta sedang kasak-kusuk dengan beberapa orang temannya. Pantesan ajaa, teman-teman mamanya pada datang ternyata.

Langit langsung aja naik ke lantai atas setelah nyengir ke mamanya. Cowok gondrong itu males berurusan dengan mamanya kalau si mama lagi kedatengan teman-temannya. Entar teman-temannya mama itu pasti bakal nanya ini-itu ke Langit. Malasin. Langit cuma tinggal berdua sama mamanya. Ayahnya yang tinggal di Rusia, paling pulang dua bulan sekali. Biasa, ayahnya yang emang asli Rusia itu kerjanya juga di tanah asalnya.

Baru saja Langit akan meraih gagang pintu kamarnya, terdengar sebuah suara dari dalam sana. "Berantakan banget, sih, kamarnya," ujar suara itu. Kontan aja Langit langsung ngegebrak pintu kamarnya. Dia kenal banget sama suara itu.

"Asteria?!"

Yang namanya disebut pun menoleh. "Kenapa? Santai aja lah," ujar cewek berambut pendek seleher itu. Dia asli Indonesia. Asteria Zandi kembali meneliti kamar sahabatnya. Udah lama dia nggak ke sana. Cewek kalem ini yang tadi absen dari sekolah.

"Kamar lo berantakan banget, sih, Ngit," simpul Aster langsung. Dia masih nggak memedulikan Langit yang tampangnya udah sebel banget melihat sahabatnya tiba-tiba nongol di kamarnya. Pakai acara ngomentarin kamarnya segala lagi.

Beginilah kamar Langit. Miniatur-miniatur binatang dari kayu, logam, dan tanah liat numpuk di atas meja belajarnya. Langit susun sendiri kayak gitu. Poster-poster tertempel di sana-sini dan salah satunya adalah poster ledakan Tsar Bomba. Ledakan bom terbesar di dunia bikinan Rusia. Kata Langit, ledakan yang satu itu keren banget. Makanya dia sampai punya posternya. Ada juga beberapa poster binatang-binatang fantasi yang bentuknya aneh-aneh. Belum lagi tempat tidurnya yang seprainya kusut kayak apaan.

"Apanya sih, yang lo sebut berantakan?" tanya Langit, masih sewot sambil melempar ranselnya ke tempat tidur, bikin tambah berantakan.

"Lo tanya apanya? Aduh, Langiit! Liat, dong, kamar lo ini kayak kapal pecah, tau! Miniatur kesayangan lo numpuk di meja! Poster-poster nempelnya seenak jidat jadi menuhin dinding gitu! Buku pelajaran lo kegeletak gitu aja di bawah tempat tidur!" Aster langsung nyolot.

Sebenarnya Aster ini nggak bisa disebut kalem kalau udah di depan Langit. Mereka bisa disebut duo cerewet kalau udah bersatu dan dipastikan bakal berantem terus. Langit balik memandang Aster bingung. Dia mengakui kalau tempat tidurnya memang berantakan. Tapi, miniatur dan poster? Nggak!

"Ini tatanan kamar yang berseni, tau!" ketus Langit nggak terima kamarnya dibilang berantakan. Bagi dia, justru begini yang rapi. Ini semua seni!

"Berseni apanya kalo berantakan gini! Gue nggak pernah ngerti sama selera lo, Langit!"

"Lo aja yang seleranya payah! Liat, penuh dengan fantasi, kan! Lo nggak ngerti sama selera seniman keren kayak gue ini"

"Haah? Keren? Seniman kemaruk, sih, iya lo!"

"Bilang apa lo barusan?!"

"Gue bilang, lo seniman kemaruk!"

"Ngajak berantem, ya, Asteria!" Langit udah pasang kuda-kuda siap bergulat sama Aster, cewek pecinta Matematika yang selalu dipanggil Asteria oleh Langit. Cuma Langit sendiri yang manggil Asteria, yang lain semuanya pada manggil Aster.

Melihat Langit yang udah pasang kuda-kuda, Aster juga udah berniat masang kuda-kuda kayak Langit kalau dia nggak ingat tujuannya datang ke sini.

"Gue ke sini bukan mau berantem woi!" ujar Aster sambil berkacak pinggang.

"Trus lo ke sini mau apa?! Mau ngeritikin tatanan kamar gue yang berseni ini?!" balas Langit.

"Itu cuma kebetulan doang! Emang kamar lo berantakan, sih. Gue ke sini mau ngingetin kalo ada tugas bikin makalah Kimia sama Bahasa Inggris yang dikumpul besok," ucap Aster lagi, nada suaranya kembali santai.

Langit sontak membelalak kaget. Dia lupa sama tugas itu! Masa dia harus bergadang nanti malam?

"Yang bener lo?" serunya langsung. Aster mengangguk.

"Gue, sih, udah kelar dong~" sahut Aster tanpa ditanya. Mendengar itu, Langit jadi sebal lagi. Gimana dia bisa lupa sama dua tugas penting itu? Pikiran Langit mulai menerawang. Dia mikir gimana caranya tugasnya selesai dalam satu malam.

"Besok tanggal berapa, sih?" tanya Langit dengan pikiran kalut nggak karuan.

"Tanggal tiga belas," Aster menyahut santai. Dia pun duduk di kursi belajar milik Langit.

"Aaaargh!" Langit mengacak-acak rambutnya yang gondrong itu, frustrasi. "Tiga belas 'kan angka sial! Dan besok itu tanggal tiga belas! Pantes aja gue udah mulai kena sialnya sekarang!" serunya gondok.

Aster membelalak begitu mendengar seruan frusrtasi Langit, nggak percaya sama apa yang didengarnya. "Lo percaya sama hal begituan, Ngit? Demi apaa?" serunya langsung. Nggak nyangka aja kalau sahabat sehidup sematinya dari SD itu percaya sama hal begituan.

"Itu cuma tahayul doang, Derastra Langiit!" imbuh Aster lagi, dia sampai menyebutkan nama lengkap Langit, tanda dia udah gemas banget melihat sahabatnya.

"Nggak! Nih buktinya gue udah kena sialnya!"

"Lo aja yang fantasiin sendiri kena sial! Lo 'kan maniak fantasi, seni, sama ledakan! Nggak ada yang bener, deh, lo," ucap Aster sambil meletakkan tangan di depan wajah, facepalm, melihat sahabatnya yang menurut dia semakin hari semakin aneh aja. Mana yang dimaniakin sama cowok mata biru itu juga aneh-aneh semua.

"Gue emang maniak seni sama fantasi. Tapi nggak maniak ledakan! Gue cuma suka aja, nggak sampe maniak!" seru Langit nggak terima.

"Terserah, deh," Aster nggak ambil peduli. "Kamar lo ini yang bikin lo sial sendiri, tau gak. Masa' lo bisa tenang, sih, tidur dengan poster ledakan sama binatang-binatang serem yang bentuknya abstrak gitu?" sambar Aster lagi sambil memperhatikan semua poster-poster yang tertempel di dinding kamar Langit.

Langit yang frustrasi sejak Aster memberitahu soal tugas tadi, nggak menggubris lagi ucapan cewek rambut pendek itu. Dia udah pusing duluan mikirin tugas sama angka sial. Memang terkadang Langit itu kumat begonya.

"Yaudah, deh, Ngit. Gue pulang dulu, ya," pamit Aster sambil tetap melihat Langit yang sekarang duduk di atas tempat tidurnya, "tugas jangan lupa dikerjain!" ucap Aster lagi.

Langit nggak memedulikan Aster. Rasanya dia benar-benar gila padahal cuma karena dua tugas itu doang. Itu artinya, Langit harus lembur total malam ini. Dia sempat melihat Aster melambaikan tangannya dan keluar dari kamarnya. Langit bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju salah satu poster binatang fantasi kesayangannya. Ular hitam kecokelatan bersayap putih dengan tiga kepala. Ditatapinya poster itu.

"Lo tau gak?! Gue frustrasi, nih! Besok ada dua tugas! Besok juga tanggal tiga belas!" ujar Langit pada ular kepala tiga itu sambil menatapi mata ularnya yang berwarna keemasan. Dia bicara sama poster itu.

Seniman Metal Core satu ini memang punya daya khayal yang terlalu tinggi. Liat aja, dia ngomong sama poster! Langit memang sering ngedumel sama poster-poster binatangnya kalau dia lagi frustrasi kayak sekarang. Namun, cuma Aster dan mama Langit yang tahu akan kebiasaan nggak wajar Langit ini. Dan mereka semua juga udah maklum.

"Apa?! Lo ngejek gue?! Berani banget, ya, lo ngejek gue! Lo tau gue lagi frustrasi gini!" bentak Langit pada ularnya. Mata ular yang menyeramkan bagi semua orang itu seolah mengejek Langit. Kontan Langit yang daya khayalnya terlalu tinggi itu tambah sebal aja melihat ularnya. Hampir aja dia mau melempar si ular kepala tiga dengan bantal.

Langit pun tenggelam di dalam dunia fantasinya bersama poster-poster itu.

.

.

oOoOo

.

.

Aster duduk di bangkunya. Dia baru sampai ke sekolah. Jam juga baru menunjukkan angka pukul tujuh pagi. Hari ini dia nggak berangkat bareng Langit karena ada tugas piket. Aster cuma ngeliatin teman-temannya piket karena dia tadi udah piket duluan. Tugasnya udah selesai. Dia pun mengeluarkan makalah Kimianya karena jam pertama adalah Kimia. Jam tujuh lewat lima nanti bel masuk berbunyi, berarti lima menit lagi.

"Langit kok belom dateng, ya?" gumam Aster sendiri tepat pada saat bel masuk berbunyi.

Anak-anak Metal Core yang tadi pada di luar, semuanya berhamburan masuk ke dalam kelas. Tak lama setelah bel masuk berbunyi, seorang guru dengan baju dinas hitam masuk. Bu Metta, guru Kimia mereka. Terkenal paling killer di sekolah. Padahal Bu Metta itu cantik banget dengan postur badan kayak gitar Spanyol juga. Tapi ya itu, killer abis.

Anak-anak pun bersiap untuk belajar. Semuanya mengeluarkan makalah Kimia mereka sebelum Bu Metta menyuruh. Aster melirik ke bangku sebelahnya yang kosong, bangku Langit. Cowok itu belum datang.

"Baik. Kumpulkan makalah Kimia kalian seka―"

"Selamat pagi!"

Perintah Bu Metta tadi terpotong oleh seruan seorang cowok yang berdiri di pintu kelas sambil mengatur napasnya. Sepertinya dia habis lari dengan kecepatan kilat. Semua anak Metal Core melihat ke arah pintu kelas termasuk Aster. Derastra Langit berdiri di sana.

"Maaf, Bu. Saya terlambat," ujar Langit takut-takut sambil masuk ke kelas. Bu Metta diam saja. Langit tahu apa sangsinya. Mengerjakan empat puluh soal Kimia dalam waktu tiga hari jika terlambat.

"Mana makalah Kimia kamu?" tanya Bu Metta langsung. Langit membuka ranselnya dan mencari apa yang disuruh Bu Metta. Tapi kemudian, mukanya mulai panik.

"Makalah Kimia gue mana?" seru Langit sambil membongkar semua isi ranselnya. Seisi kelas sudah mulai bisa menerka apa yang terjadi sama seniman mereka. Langit lupa membawa makalah hasil lemburnya tadi malam. Yang ada di ranselnya cuma makalah Bahasa Inggris.

Takut-takut Langit melirik ke arah Bu Metta.

"Bu, makalah saya ketinggalan di rumah," ucap Langit dengan suara pelan. Bu Metta yang killer itu tersenyum.

"Kembali ke tempat dudukmu," suruhnya dan Langit langsung ngeloyor ke bangkunya.

"Jangan lupa delapan puluh soal Kimia lengkap dengan jawaban sudah saya terima tiga hari lagi, Derastra Langit." Bagaikan guntur suara Bu Metta menyerang pendengaran Langit yang rasanya pengin pingsan aja pas mendengar tugasnya. Kontan aja anak-anak Metal Core semuanya menahan tawa.

"Bodoh banget, sih, lo!" seru Aster langsung begitu Langit duduk di sebelahnya.

"Nah, 'kan, gue kena sial di tanggal tiga belas ini," sungut Langit. Aster cuma menghela napas dan kembali memperhatikan Bu Metta. Dia malas menanggapi Langit yang percaya sama angka sial.

Jam pertama berjalan dengan santai kecuali bagi Langit yang sama sekali nggak santai setelah mendapat ultimatum delapan puluh soal Kimia dari Bu Metta.

.

.

oOoOo

.

.

"Duit gue ketinggalaan!" seru Langit panik begitu dia mau keluar kelas. Sekarang udah waktunya istirahat dan dia mau ke ruang tata usaha untuk membayar uang sekolah.

"Lo hari ini kenapa, sih, Langit? Tadi lupa bawa makalah Kimia. Trus salah bikin tugas makalah Bahasa Inggris. Sekarang lupa bawa duit!" omel Aster yang pusing sendiri liat sahabatnya. Tadi setelah Kimia selesai, jam Bahasa Inggris dimulai dan makalah yang dibikin sama Langit ternyata salah. Memang sepertinya sia-sia aja lemburnya tadi malam.

Langit kembali membongkar-bongkar tasnya. Duitnya tetap nggak ada. Langit melemas.

"Ini hari terakhir untuk bayar uang sekolah ... dan gue nggak bawa duitnya! Gue sial banget hari ini! Harusnya nggak ada tanggal tiga belas!" teriak Langit tanpa memedulikan anak-anak Metal Core yang udah pada ngeliatin dia.

"Sini lo, ikut gue!" Aster langsung menarik tangan Langit dan keluar kelas. Cewek itu keliatan sebal banget dengan tingkah Langit akan angka tiga belas. Dia mengajak Langit untuk duduk di taman sekolah. Begitu sampai, Aster mulai ngomel.

"Derastra Langit, sahabat gue tercinta, dengar," Aster menatap Langit yang nampak frustrasi itu. "Ini terjadi karena lo percaya tahayul itu! Nggak ada angka yang sial di dunia ini!"

"Tahayul apaan! Ini beneran, tau! Lo liat aja, hari ini gue sial terus, Asteria!" seru Langit yang tetap pada pendiriannya. Mata biru turunan dari ayahnya terlihat nanar.

"Lo jadi sial karena lo ceroboh! Bukan karena angka sial! Coba, deh, lo pikir balik. Lo lupa sama tugas sampe gue ingetin lo baru inget. Trus, gue yakin tadi malam lo begadang bikin tugas. Iya 'kan? Sampe salah bikin makalah Bahasa Inggris juga."

Langit mengangguk.

"Nah, karena lo begadang, lo jadi nyusun jadwal pelajaran pas pagi dan lo pasti telat bangun tadi!" kata Aster yang memang udah tahu banget bagaimana sahabatnya ini.

Langit mengangguk lagi.

"Lo telat dan buru-buru nyusun jadwal! Pasti lo nggak inget untuk ngebawa makalah Kimia elo sama duit buat bayar uang sekolah, 'kan? Makanya lo jadi kayak kena sial!"

"Tapi ini karena udah tanggal tiga belas!" Langit keukeuh. Dia nggak suka disalahkan.

"Aduuh! Itu semua karena kecerobohan lo sendiri, tauu! Lo juga yang ngesugesti kalo tiga belas itu angka sial! Semua bisa terjadi kalo disugestiin! Pikirin, deh, ucapan guee!" seru Aster geram sendiri.

Langit pun terdiam. Dia mencerna ucapan-ucapan Aster. Memang, ucapan Aster tadi ada benarnya. Dia yang percaya sama angka sial, otomatis dia jadi mensugesti dan mendoktrin diri kalau tiga belas itu angka sial.

"Ucapan lo bener juga, Asteria," kata Langit mulai kalem, nggak keliatan frustrasi lagi kayak sebelumnya. "Dipikir-pikir lagi, emang iya gue yang ceroboh. Harusnya gue nggak percaya, ya, sama angka sial, 'kan dosa percaya begituan." Langit berkata lagi dan tumben bijak.

Aster tersenyum. "Nah gitu dong! Itu baru sahabat gue!" ujar Aster senang. Begitu juga dengan Langit yang cuma nyengir setelah menyadari kesalahannya.

"Yaudah lo bayar uang sekolah pake duit gue aja, deh! Ntar lo ganti," sahut Aster lagi sambil beranjak dari duduknya.

"Makasih. Tumben lo baik," serang Langit langsung. Dia juga berdiri dari duduknya. Aster langsung mendelik tajam ke arah sahabatnya. Sebal.

"Berisik lo. Dasar seniman payah," ucap Aster sambil berjalan meninggalkan Langit menuju ruang tata usaha. Langit mendengar ucapan Aster dengan jelas. Dia langsung mengejar sahabatnya itu.

"Woi! Lo bilang apa tadi?!" teriaknya begitu menjajari langkah dengan Aster. Mukanya keliatan sebal lagi.

"Seniman payah! Maniak fantasi!" Aster menyahut dengan wajah tanpa dosa. Dia nggak peduli sama Langit yang sudah mengeluarkan aura hitam tanda dia kesal banget dikatain sama Aster barusan.

"Awas aja lo, ya!"

Dan Aster pun lari begitu sadar bahwa Langit ngejar dia. Hal yang biasa terjadi inipun terulang lagi. Seolah nggak pernah bosan sama rutinitas begitu. Berantem. Bertengkar.

.

.

.

.

.

Nah, apa lo masih percaya sama angka sial?

.

.

.

FIN

.

.

.

Writer's Note

Ah akhirnya ikutan berkecimpung di fictionpress setelah sekian lama nyangkut di fanfiction. Fiction ini sebenernya cerpen bikinan saya untuk ekskul pas kelas 11 dulu, sih mwehehe dan dengan sedikit editan, akhirnya saya memberanikan diri untuk publish ke sini huhuhu u,u

Saya beneran masih baru di fictionpress ini jadi harap maklum kalo fic-nya masih banyak kesalahan-kesalahan dalam bentuk apapun. Dan soal genre, saya selalu bingung buat masang genre jadi sekali lagi harap dimaklumi, yah.

Ah sebelum dibilang plagiat atau apa, saya mau bilang kalo tokoh Derastra Langit di atas itu agak terinspirasi dari salah satu chara Naruto yang maniak seni ledakan. Kalo gak salah, namanya Deidara gitu, ya? Iya bukan, sih? Lupa juga.

Yaudah sekian aja deh bacot saya, ntar malah nambah-nambahin words lagi. Akhir kata, bersediakah meninggalkan jejak di kolom review? =D

Terima kasih.

Sincerely,

Aosei Rzhevsky Devushka