SCHATZI

Warning : R 18, lemon, sensual words, adult things

Pairing : Wolfgang/MeiLing

—Dibuat untuk memperingati dua tahun Carl/lavitaromantica di fictionpress, lewat dua hari sih, pertamanya join 07-07-2012—


Wolfgang memandang Schatzi-nya dari kejauhan di sebuah taman besar di Sans Souci, Potsdam. Mei Ling, aktris muda berusia delapan belas tahun yang paling cantik sedunia di mata Wolfgang mengobrol dengan ayah dan ibu tirinya dengan renyah. Beradu pandang dengan Wolfgang dalam jarak yang cukup jauh dan terkikik manis.

"Calon suamimu tidak galak padamu, kan?" Frau Pauli, ibu tiri Mei Ling bertanya dengan wajah mencurigakan. "Kamu belum pernah diapa-apakan olehnya, kan?"

Mei Ling menanggapi Frau Pauli dengan santai. "Sayangnya belum pernah, dan aku tidak berani melakukannya."

Frau Pauli dan Li Cheung saling berpandangan. "Jangan biarkan Swiss itu menyentuhmu luar dalam, Mei Ling!" Cheung mengingatkan. "Be lady in class!"

Wolfgang tidak ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan dan ia mengeluarkan satu batang coklat Lindt favoritnya, menggigitnya keras. Betrand dan Fabrizio duduk di sebelahnya. "Sudah pernah memerawani gadis itu sebelumnya?" tanya Betrand dengan wajah tanpa dosa. Betrand adalah adik Wolfgang yang lebih sedang berkutat dengan dunia politik dan organisasi internasional. "Bagaimana rasanya? Nikmat? Menyakitkan?"

Ia mengayunkan kakinya dengan cepat dan mengenai perut Betrand. Suka dengan hal-hal yang serius bukan berarti tidak suka hal yang tidak serius. "Bukan urusanmu, Betrand. Mio bagaimana? Kalian bertengkar lagi?"

Betrand gigit jari, kembarannya yang bernama Fabrizio tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. "Kalian belum pernah melakukannya?" tanya Betrand dengan nada tanpa dosa. "Aku tidak percaya, Bruder kan semesum Alvarez!"

"Aku bisa sabar menunggu saat malam pertama nanti. Pernikahan akan dilangsungkan tiga hari lagi!" Wolfgang menjawab dengan ketus. Dalam hati Wolfgang ingin segera melakukannya dengan Mei Ling, apa daya Mei Ling selalu menolaknya selama merajut jalinan kasih selama dua tahun, terhitung sejak Mei Ling berusia enam belas tahun. Hal yang mengejutkan ia bisa bertahan dengan Mei Ling.

Li Cheung tidak pernah menyukai Wolfgang, ia selalu menunjukkan sikap antipati terhadap Wolfgang karena dianggap Wolfgang berpacaran dengan Mei Ling hanya untuk menjadi alat pemuas nafsunya. Atas dasar itulah Wolfgang benar-benar menjaga Mei Ling, tidak menyentuhnya sebelum mereka resmi menjadi suami istri.

"Ich bin schöner gigolo—kalau itu maksud kalian?"

Kembar Schmidt mengeluarkan dengusan kecil antara tawa atau ekspresi jijik. "Mantan aktor dewasa yang pura-pura menjadi suci," celetuk Fabrizio. "Apa kau tidak pernah berpikir untuk menyentuh Mei Ling dan membuat dirimu menjadi sewangi bunga peony dibandingkan wangi keju yang kau anggap wangi bunga?"

Wolfgang mengacak-ngacak rambutnya jengkel karena kesal. Bau keju, topik yang harus ia hindari saat bersama Mei Ling. Untung saja ia tidak terlalu menyukai keju tetapi keju adalah masalah bagi Mei Ling. Gadis Asia itu sensitif dengan keju, mencium bau dan melihat saja sudah mual-mual apalagi bila keju tersebut tidak sengaja tertelan di mulutnya—timbul bintik-bintik di seluruh wajahnya.

Acara makan malam romantis yang Wolfgang siapkan dengan susah payah berakhir buruk dengan wangi keju yang tidak sengaja tercium dari tubuhnya. Mei Ling mual-mual, moodnya memburuk dan meninggalkan Wolfgang sendirian layaknya jomblo ngenes seperti Carl Sørensen. Itu hanya sebagian kecil dalam diri Mei Ling yang bisa diatasi, selebihnya Wolfgang bersyukur mendapatkan Mei Ling yang muda, manis, mengerti dirinya dan membuat kutukan di dalam diri Wolfgang hilang.

"Wolfgang!" Mei Ling berlari ke arahnya, memberikan Wolfgang kecupan hangat di pipinya. "Kok nggak gabung sama kami?"

Jantung Wolfgang berdetak kencang. Mei Ling sudah bukan anak-anak lagi, ia sudah dewasa. Semakin hari Mei Ling semakin cantik, tanpa make up sudah sangat memukau. "Ada apa, Schatzi?"

Mei Ling mengenakan gaun berwarna kuning, membawa beberapa tangkai bunga matahari yang senada dengan gaunnya. Rambut Mei Ling dibiarkan tergerai panjang dan lipstik Mei Ling yang merah merekah—ah—menggoda Wolfgang untuk menciumi bibirnya dengan penuh nafsu.

"Suit! Suit!" siul Betrand dan Fabrizio.

.

.

.

Di dalam hotel

Setelah Cheung pergi dan Wolfgang berada di sebelah kamarnya, Frau Pauli menarik tangan Mei Ling erat. "Kamu sudah siap, Mei Ling?"

"Siap apanya, Mutter?" tanya Mei Ling polos. "Aku sudah siapkan makanan kesukaan Mutter hari ini."

Frau Pauli memukul jidatnya sendiri. "Bukan soal makanan, liebe. Soal yang lain!"

"Soal apa?" Mei Ling ngotot bertanya. "Katakan saja terus terang!"

Cheung tidak pernah mengajarkan apa-apa pada Mei Ling dan tidak pernah memberitahu apapun soal pria, tidak mengherankan Mei Ling sangat polos dalam hal yang memiliki kaitan erat dengan pria. "Bagaimana persiapan bulan madumu?"

"Oh, itu. Aku—sudah membeli beberapa potong lingerie seksi!" godanya dengan senyuman nakal. "Pria senang dengan hal-hal visual dan aku akan membuat malam pertama menjadi sangat menyenangkan."

"Herr Schmidt sudah pernah menidurimu?"

Mei Ling membeku di tempat. "Be—belum pernah, Mutter apa-apaan sih!"

Dua tahun berpacaran, kira-kira ada delapan kali Wolfgang mencoba untuk menidurinya. Berciuman, berpelukan sudah sering mereka lakukan. Untuk melangkah lebih jauh, Mei Ling jelas ketakutan karena ayahnya yang overprotektif dan berita-berita mengenai pengalaman seks yang mengerikan akibat menonton film SALO yang diberikan oleh salah satu penggemarnya yang ternyata berisi adegan kekerasan seksual yang membuat Mei Ling takut setengah mati.

"Mutter pikir kalian sudah pernah melakukannya!" Frau Pauli tampak kecewa mendengar jawaban Mei Ling. "Kalian suatu saat nanti akan melakukannya, suka tidak suka. Mei Ling termasuk beruntung bisa menggaet Wolfgang Schmidt. Seharusnya kamu bangga karenanya."

Kalau Mei Ling tidak mencintai Wolfgang, ia tidak akan mau menerima pria yang terlampau jauh usianya untuk dinikahi sekalipun demi harta. Wolfgang terlalu tua untuknya dengan kisaran usia yang berbeda tujuh belas tahun darinya. "Lebih tepatnya aku yang sial!" Mei Ling terkikik genit. "Fans fanatiknya sangat banyak di Swiss."

"Mutter sudah siapkan senjata perlengkapan di malam pertama!" Frau Pauli membawa satu pak kondom, lubrikan, celana dalam seksi dan barang-barang sensual lainnya kepada Mei Ling. "Kalau Herr Schmidt terlalu kasar padamu, bilang pada Mutter!"

Lihat saja nanti, apakah malam pertamanya akan berjalan dengan baik atau justru sebaliknya. Mei Ling berharap ia tidak terlalu ketakutan saat ia dan Wolfgang bercinta nanti. Cerita-cerita menakutkan mengenai malam pertama, kesakitan yang akan dialaminya dan hal lain yang membuat Mei Ling parno sendiri. Jika ia berbicara tentang hal ini kepada wanita Eropa lainnya jelas Mei Ling akan ditertawakan habis-habisan. Menjadi orang Asia ada beberapa kerugian seperti segan bertanya. Sifat pemalu Mei Ling masih saja ada padahal sudah kurang lebih dua tahun ia tinggal di Swiss dan lebih membingungkan lagi mengapa Wolfgang memilih dirinya.

Tidak hanya Mei Ling yang tergila-gila padanya, seluruh wanita di daratan Eropa sangat tergila-gila kepadanya sampai-sampai rela bodoh karenanya,.

"Wolfgang tidak akan menyakitiku, Mutter tenang saja!" Mei Ling menenangkan Frau Pauli. "Namanya malam pertama pasti sakit."

Di kamar sebelah

Wolfgang gugup menjelang pernikahannya. Ia dan Mei Ling akan tinggal satu atap di rumah yang besar. Ia akan memiliki Mei Ling seutuhnya, menghabiskan masa tuanya bersama-sama. Tidak pernah Wolfgang sangka bahwa gadis kecil yang ia tergila-gila kepadanya, akan menjadi istrinya beberapa hari kedepan.

Ia memesan kamar paling mewah yang berada di lantai teratas untuk bulan madu mereka dengan memberikan kejutan menarik di dalamnya, sesuatu yang membuat Mei Ling menjerit kegirangan. Wolfgang tahu betul bahwa Mei Ling tidak berpengalaman dalam menghadapi pria dan sebagai pria pertama yang telah membuat Mei Ling yang dulunya pembenci laki-laki jatuh cinta, ia harus membuat malam pertamanya fantastis.

Malam pertama.

Bayangan paling gila sekaligus fantastis.

Membayangkan Mei Ling berada di dalam kecupan hangatnya, tubuh telanjangnya yang akan dijadikan selimut untuk Mei Ling dan mencuri apa yang menjadi miliknya secara sah. Wolfgang selalu mencuri ciuman dari Mei Ling berkali-kali, membisikkan kata-kata mesra di telinganya sampai upaya untuk mengajak Mei Ling bercinta yang sayang sekali, terus menerus gagal.

Musik tango pertama ia bertemu dengan Mei Ling di pesta dansa terputar jauh lebih sering dari sebelumnya dengan Mei Ling yang berada di sebelah kamarnya, mencemaskan hal yang sama dengan Wolfgang.

"Masih musik yang sama? Apa kau benar-benar galau atau tolol?" tanya Carl Sørensen heran. "Kau bebas mengapa-ngapakannya nanti. Dia wilayah kekuasaanmu!"

Bukan masalah galau atau tidak galau. Musik ini mengingatkan Wolfgang pada pertemuan pertamanya dengan Mei Ling. Mau tidak mau, musik tango ini harus diputar pada resepsi pernikahannya nanti.

"Cara bicaramu seperti jomblo ngenes!" tukas Wolfgang. "Atau kau kesal tidak menemukan wanita idamanmu sampai-sampai kau berharap aku ribut dengan Mei Ling dan kau ingin merebutnya dariku?"

"Aku tidak berminat dengan gadis terlalu muda seperti dia!" balas Carl jengkel, lagi-lagi dituduh jomblo ngenes oleh temannya sendiri. "Aku tidak berminat dengan perawan, pasti sedikit-sedikit menangis, ribut dan sejenisnya."

.

.

.

Keluarga Schmidt sudah berkumpul semua di dalam ruangan besar beserta orangtua Mei Ling, tidak ketinggalan juga beberapa teman Wolfgang dan rekan wartawan. Kerabat-kerabat Wolfgang seperti keluarga Mueller juga diundang walaupun Wolfgang nampaknya ogah untuk mengundang terutama Friedrich dan Fredrik si kembar menyusahkan.

"Lumayan banyak juga yang diundang!" Friedrich Brückner celingak-celinguk mencari mangsa yang bisa digaet olehnya. "Leonhart, kamu tidak ikut mencari?"

Masih ada lagi, duo jomblo ngenes dari Swiss. Friedrich Brückner dan Leonhart Schläppi yang mendapatkan undangan dari kakak Brückner, seorang wartawan gosip. Ada juga fans nyasar bernama Chaboel dan Kaekoes yang kecewa atas pernikahan mereka berdua. Chaboel yang gagal menggaet Wolfgang (tujuannya sih buruk, untuk menghabiskan harta Wolfgang yang banyak) dan Kaekoes yang ditolak cintanya oleh Mei Ling padahal menyatakan saja tidak.

"Turut berduka cita, kenapa Wolfgang tercinta milih Mei Ling babi sih?" tanya Chaboel dengan wajah kecewa. Chaboel adalah cabe-cabean yang nyasar ke Swiss dan seorang bule hunter yang dikirim dari negara Asia Tenggara. "Ane lebih eksotis daripada dia."

Beberapa jam sebelum pemberkatan pernikahan, Mei Ling mengajak Wolfgang untuk masuk ke dalam ruang ganti sebentar.

"Wolfgang! Coba lihat gaunnya!" Mei Ling memanggilnya di ruang ganti. "Cantik nggak?"

Wolfgang nyaris saja menyergap Mei Ling melihat penampilannya. Gaun Mei Ling putih polos dengan bros bunga peony putih, tanpa lengan. Lipstik merah merekah, eyeliner hitam yang mempertegas mata Mei Ling yang kecil. Kemudaan Mei Ling tidak begitu nampak.

"Ba—banget!"

Saking gugupnya, Wolfgang spontan berkata. Mata Mei Ling yang bulat seperti anak anjing membuat Wolfgang gemas. Wangi tubuh Mei Ling seperti wangi bunga peony yang baru mekar. Absurd memang, ia memakai nyaris dua botol parfum beraroma bunga peony. Tidak begitu terasa saat ia sendirian, tetapi sangat terasa saat Mei Ling berada di sampingnya.

"Sini kugigit kamu!" Wolfgang menggerutu kecil, menggigit bibir bagian bawah Mei Ling dengan mesra. "Aku sudah tidak sabar untuk memakanmu."

Mei Ling tidak membalas dengan ciuman melainkan dengan cubitan mesra di pinggang Wolfgang. "Kendalikan nafsumu di malam pertama nanti!"

.

.

.

.

Saat pemberkatan nikah, Mei Ling diantar ayahnya berjalan menuju altar dimana Wolfgang menunggunya. Tangan Mei Ling gemetar hebat saat memegang satu buket bunga peony pink, Wolfgang yang menatapnya dengan tatapan lapar seakan ia ingin menelanjangi Mei Ling saat ini juga.

Cheung yang mengantar Mei Ling, sedih melepas putri satu-satunya kepada Wolfgang Schmidt yang selalu dicurigainya akan mempermainkan Mei Ling. Sampai sekarang kecurigaannya tidak terbukti.

"Kubunuh kau dengan tinjuku kalau kau berani melukai putriku!" ancam Cheung di telinga Wolfgang setelah mengantar Mei Ling ke altar.

Wolfgang bersikap santai dan mendengarkan sang pastur membacakan doa-doanya. Setelah mereka berdua saling mengucapkan sumpahnya masing-masing, Wolfgang membuka tudung putih yang menghalangi wajah Mei Ling, mencium bibirnya sekilas dengan mesra dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama.

Setelah kembar Mueller, barisan sakit hati (baca : fans laki-laki Mei Ling yang terkenal sebagai jomblo ngenes, Chuboel, Kaekoes, dsb) mulai mengeluarkan bunyi-bunyian aneh, Mei Ling melepaskan bibirnya dari Wolfgang dan menahan rasa malu. "K—kau, nafsuan!" bisiknya gugup.

Tiba saatnya Mei Ling melempar bunganya kepada seseorang, wanita-wanita jelas berebutan untuk mendapatkan bunga pertama. Mei Ling melemparnya, Chuboel dan Mio jambak-jambakan berebut buket tersebut, justru yang mendapatkannya malah Nora yang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu.

"Mio, sudahlah!" Betrand mengingatkan. "Nggak ada gunanya berebut bunga!"

"Dasar nggak romantis!" gerutu Mio jengkel. Kesal karena ia tidak mendapatkan bunga dari sang pengantin juga Betrand yang tidak romantis. "Betrand payah di ranjang!"

Tamu lainnya terkikik melihat pertengkaran Mio dan Betrand. Perhatian mereka yang awalnya terfokus kepada Mei Ling dan Wolfgang teralihkan pada pertengkaran mereka berdua.

Resepsi berjalan dengan lancar di malam hari, Mei Ling tidak terlalu banyak makan dan Wolfgang terus menempel kepada Mei Ling (tentu saja karena Mei Ling sekarang menjadi istrinya). Brückner dan Leonhart seperti orang kelaparan, menghabiskan makanan yang ada sebanyak-banyaknya, Chuboel dan Kaekoes berkelahi karena tidak dapat mangsa yang bisa digaet di pesta ini, Mio dan Betrand kembali berbaikan seperti pasangan pengantin baru.

Musik tango pertemuan pertama mereka diputar dengan sangat lambat, mereka berdua berdansa dengan mesra. "Meine Frau—ich liebe dich," ia berbisik mesra di telinga Mei Ling. "Be mine."

Sentuhan Wolfgang di pinggangnya, kerapatan tubuh Wolfgang dengan tubuhnya sedikit mengingatkan Mei Ling kalau malam ini ia akan menyerahkan miliknya yang selama ini ia jaga pada Wolfgang. "Be gentle with me, Mein Mann."

—oo00oo—

Seluruh tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Ada yang menginap di hotel yang sama dengan pasangan pengantin baru tersebut tetapi beda lantai.

Mei Ling tidak bisa menyembunyikan kegugupannya di hadapan Wolfgang. Wolfgang dengan jas berwarna putih dan bunga mawar merah di dekat kantong. Tangan besarnya menggengam salah satu tangan Mei Ling mesra.

"Kamu mulai mengantuk, Schatzi?" Wolfgang bertanya halus, menggendong tubuh Mei Ling dengan gerakan cepat, berjalan setapak demi setapak anak tangga. "Bertambah ringan di dalam gendonganku."

Wolfgang ingin langsung mengajak Mei Ling bercinta. Hasrat terpendam yang ia tahan selama bertahun-tahun minta dikeluarkan saat itu juga.

Mei Ling masuk ke dalam kamar dengan ranjang ukuran besar ditambah bunga peony bertebaran di sekeliling tempat tidurnya. Wangi dari bunga peony juga tercium sangat pekat, seketika Mei Ling lupa dengan bau keju menyengat yang pernah ia cium beberapa hari lalu. Mei Ling berlari ke arah ranjang, berbaring dengan gembira.

"Empuknya!" seru Mei Ling. "Nyaman dan lembut sekali!"

Kesempatan untuk Wolfgang, menyergapnya dalam pelukan hangatnya."Kamu suka, Schatzi?" nada Wolfgang mulai menggoda, ia berbaring seperti Mei Ling. Tangannya mulai merambat ke dalam gaun. Terus masuk dengan lembut ke arah celana dalam. Begitu sampai, ia mulai masuk dengan cepat, menyusup ke dalam kewanitaan Mei Ling. Kepala Mei Ling di dorong ke arah belakang sedikit agar Wolfgang bisa menciumi bibirnya secata utuh sambil tetap memainkan kewanitaannya. "Kau tahu apa yang paling fantastis malam ini, Schatzi?"

Mei Ling tersengal-sengal, Wolfgang lihai dalam urusan bercinta. Mulutnya dibuka secara halus oleh lidah Wolfgang, merangsek ke dalam mulut Mei Ling dan mengajaknya beradu lidah dengan Wolfgang selama beberapa menit. Wolfgang mendominasi bibirnya, untuk permulaan ia benar-benar memainkan perannya sebagai suami. Otak Mei Ling tidak berfungsi dengan benar saat berhadapan dengan Wolfgang.

"Wolf—Wolfgang!"

Suara Mei Ling perlahan melemah. Wolfgang melepaskan lidahnya dari mulut Mei Ling, membiarkan saliva mereka berdua tumpah di ranjang mereka. Mei Ling belum sempat untuk membersihkan saliva yang tertumpah, Wolfgang sudah menyerangnya dengan ganas, posisinya berada di atas Mei Ling. Ia membuka paksa gaun Mei Ling dan memperlihatkan kamisol berenda di dalamnya.

"Meimei—Schatzi—"

Nada Wolfgang menunjukkan nafsu membara yang ditahan-tahannya sejak lama, mata biru Wolfgang tidak bisa dibohongi oleh Mei Ling. Ia akui malam ini kalau ia begitu bernafsu dengan Mei Ling sekarang ini. Mei Ling tidak boleh melawannya, khusus untuk hari ini.

"Akan kubuat Meimei tidak berdaya malam ini!" gumam Wolfgang penuh nafsu membara, menahan kedua tangan Mei Ling dengan erat. Mei Ling memberontak kecil dan Wolfgang membenamkan kepalanya ke dalam leher Mei Ling, menggoda lehernya dengan mesra. Mei Ling lemah, tidak menyangka dominasi pria di ranjang sebegitu kuatnya seperti yang Wolfgang lakukan di malam pertamanya.

"Wolf—please no—AWWW!"

Mei Ling memekik, Wolfgang membuat luka-luka di lehernya saat ia lengah hanya dengan satu gigitan saja. Gigitan pertama dari Wolfgang. Ia meringis kecil dan Wolfgang langsung menenangkannya, menjilat bekas gigitan dengan lembut. Pria itu meraba tubuh perawannya dari atas ke bawah, termasuk daerah terlarang sebagai makanan penutup yang akan Wolfgang cicipi di malam pertamanya.

Wolfgang menciumi seluruh tubuh Mei Ling secara seksama, memastikan agar tidak ada yang terlewatkan. Bersamaan dengan nafsu yang sudah semakin membara, Wolfgang menarik gaun yang dikenakan oleh Mei Ling dengan halus, begitu sudah terbuka secara utuh Wolfgang cepat-cepat membukanya dan melempar ke sembarang arah, tersisa Mei Ling dengan kamisol dan celana dalam berenda.

Sekuat tenaga Mei Ling mencoba agar rasa malunya tidak nampak di hadapan Wolfgang tetapi ada kemungkinan ini semua gagal. Sengatan listrik sangat terasa di seluruh tubuhnya yang tidak pernah disentuh oleh pria manapun.

Celana dalam Mei Ling terbuka sampai ke pangkal paha. Daerah Mei Ling, rapat dan halus, menggoda pria manapun ketika disodori hal semacam ini. Bibir Wolfgang menyambar daerah kewanitaan Mei Ling, menciuminya tanpa ada rasa jijik. Mei Ling pasrah saat Wolfgang menyetubuhinya. Wolfgang adalah suaminya dan berhak untuk melakukan apapun terhadap tubuhnya.

"Hiks—hiks! Ge—geli!"

Mei Ling mulai terangsang, pikir Wolfgang penuh kemenangan. "Suara desahanmu sangat manis. Jauh lebih manis dari lagu-lagu romantis yang sering Mutter putarkan saat aku masih anak-anak."

"W—Wolf—" isak Mei Ling, menarik seprainya dengan wajah malu. Wolfgang menggodanya terus menerus tanpa memberinya jeda. Rayuan Wolfgang terdengar seperti ancaman yang manis sekaligus memabukkan. Cairan putih keluar di dalam kewanitaannya, menghisapnya tanpa adanya keraguan sama sekali.

Berapa kali Wolfgang menyerang tubuhnya dengan sensual, Mei Ling tidak ingat. Ini baru permulaan dan sudah gemetaran setengah mati seperti kucing kardus.

Jilatan Wolfgang berpindah ke arah payudara mungilnya, memberikan remasan halus di bagian bukit kembarnya dan memberikan sensasi tersendiri untuk Mei Ling. Memainkan payudaranya dengan halus seakan tahu benar apa yang dibutuhkan oleh Mei Ling.

"Please—be gentle—" Mei Ling mencengkram bahu Wolfgang dengan kencang. Air mata membasahi pipi Mei Ling. Penampilannya sungguh berantakan. Kamisol yang nyaris robek, make up yang mulai luntur dan Mei Ling terlihat sangat jelek sekarang. Tidak untuk Wolfgang, justru kecantikan Mei Ling bertambah di sana. Jari Wolfgang memasuki daerah kewanitaan, menggerakkan jarinya dengan mesra. Gerakan-gerakan sensual di dalam lubang kewanitaannya membuat Mei Ling lemas karena tidak berdaya sekaligus kesakitan mendalam. "—with me—" bisiknya di telinga Wolfgang.

"Meimei—tenanglah—aku akan—," terengah-engah, ingin segera dibebaskan dari nafsunya yang membara malam ini. "—lebih lembut, ini baru permulaan saja."

Segala penghalang yang mengganggu mereka berdua dalam bercinta dilepaskan dengan cepat, tidak ada satu menit. Keduanya saling memperlihatkan ketelanjangan masing-masing. "Izinkan aku, untuk memasukimu—" Wolfgang mendorong masuk miliknya ke dalam vaginanya dengan cepat. Mei Ling terdesak, nafasnya yang memburu, ia memejamkan matanya ketakutan.

Kejantanannya bergerak dengan sangat cepat di dalam Mei Ling, perlahan mulai melembut agar Mei Ling tidak terlalu kesakitan. Membungkam mulutnya rapat-rapat agar ia tidak menjerit ketakutan. Ia tidak sanggup beradu pandang dengan Wolfgang dan benar-benar yakin kalau ia pasti nggak sanggup melihat pesona Wolfgang saat bercinta.

"Meimei!" Wolfgang menenangkannya, membiarkan Mei Ling berada di dalam pelukannya sambil menekan pinggang Mei Ling untuk menahan miliknya yang berada di dalamnya. "Biarkan aku terus bergerak di dalam!"

Kejantanannya bergerak semakin cepat, mulai berusaha untuk mendobrak pertahanan kokoh milik Mei Ling, berbagai cara ditempuh agar bisa diterobos dengan sempurna. Merasakan ada sesuatu yang robek di dalam dirinya, pekikan kecil keluar dari bibir Mei Ling. Cerita-cerita klasik saat malam pertama bukanlah isapan jempol belaka, itu memang nyata dan milik Wolfgang yang cukup besar untuk ukuran kewanitaannya membuat Mei Ling kesakitan di saat Wolfgang terus merangsek ke dalam.

"—ahn—Wolfgang—ich habe—"

Mei Ling ketakutan, tidak kuat menahan serangan yang bertubi-tubi ini. Lenguhan kesakitan muncul di bibirnya. Sakit, mual dan kenikmatan semuanya tumpah ruah di dalam diri Mei Ling. Cairan milik Wolfgang menyebar di dalam rahimnya. Lima menit lamanya mereka menyatukan tubuh mereka. Wolfgang sengaja membiarkan Mei Ling untuk meraih kenikmatannya sendiri, mengajari caranya bemesraan.

Wolfgang sudah mengambil keperawanannya. Ia akan menjadi milik Wolfgang seutuhnya.

"Schatzi!"

Mei Ling terkulai lemas lalu tertidur dengan senyuman manis, tanpa sadar tangannya menggenggam tangan pria yang usianya nyaris dua kali lipat darinya.

Wolfgang menyelimuti tubuh Mei Ling dengan kemeja putihnya. Wangi bunga peony masih sangat pekat, dijamin Mei Ling langsung bermimpi indah setelah ini. Senyuman Mei Ling saat tertidur pulas menjelaskan banyak hal pada Wolfgang.

.

.

.

"ADAW!"

Cheung menggeplak kepala Wolfgang dengan buku silat yang dibacanya. "Kau tidak mengapa-apakan putriku, kan?"

Mata Wolfgang membelalak. "Vater bercanda? Jelas tidak mungkin aku mengapa-apakannya kecuali membuatnya hamil!" gerutunya heran dengan kelakuan ayah Mei Ling yang masih saja sentimen terhadapnya tanpa alasan yang jelas.

"Ulrich berkata padaku kalau Mei Ling keluar dari hotel dan berjalan tidak lurus. Jawab pertanyaanku, Wolfgang!"

Kerutan jengkel di dahi Wolfgang bertambah. Ulrich Werner senang menyebar gosip yang tidak benar mengenai dirinya. Demi Tuhan ia bukan playboy kalengan, tampang saja yang seperti playboy brengsek macam Alvarez. Aslinya sangat dingin terhadap wanita dan anti berurusan dengan hal-hal romantis. Mengapa ada saja pertanyaan aneh-aneh yang ditujukan kepadanya.

"Dia baru pertama kali bercinta!" jawab Wolfgang kesal. "Anda seharusnya tahu itu dan sadar saat menyerahkan putri anda padaku!"

Cheung kicep, Wolfgang pandai membalikkan semua perkataannya. Apa yang dikatakan Wolfgang memang benar adanya dan sangat tegas. Bayangan menjijikan tentang tubuh putrinya yang kini disentuh oleh Wolfgang membuat Cheung ingin meminum obat pencuci perut hari itu juga. Ditambah istri keduanya, Frau Pauli yang over kepo tentang hubungan Wolfgang dan Mei Ling membuat Cheung gusar, takut-takut kalau Wolfgang akan meninggalkan Mei Ling seperti permen karet. "Kalau kau lembut padanya tidak akan seperti ini!" bentak Cheung jengkel. Sebisa mungkin ia tidak mau kalah dengan Wolfgang. "Jaga putriku dengan benar! Lebih baik putriku bersama Sørensen daripada denganmu!"

Wolfgang mengernyitkan dahinya. Enak saja menyerahkan Mei Ling pada jomblo ngenes macam Sørensen.

"Baik! Baik! Aku mengaku salah!" keluhnya jengkel. Tidak ada gunanya beradu ribut pada ayah istrinya. "Daripada ribut-ribut, ayo kita berdamai saja!"

Satu bulan kemudian

"Bagaimana Herr Schmidt? Dia pecinta yang baik, bukan?"

Ibu tirinya datang ke rumah baru mereka yang lebih kecil dari rumah keluarga besar Schmidt. Mei Ling memintanya karena ia tidak suka berada di rumah yang terlalu besar karena terasa seperti di rumah hantu.

Bekas gigitan Wolfgang di lehernya sudah mulai memudar. Karena malu, Mei Ling menutupinya dengan plester berukuran besar dan saat orang-orang bertanya kepadanya ia akan bilang ia digigit nyamuk besar-besar.

"Pertamanya memang agak sakit, Mutter. Setelah itu dia mulai lembut!" Mei Ling menarik nafas panjang. "Satu minggu belakangan ini aku sering muntah-muntah."

Ini baru berita bagus bagi Frau Pauli. "Berapa kali kalian bercinta dalam sehari?"

"Dua kali! Wolfgang menjajahku habis-habisan!"

Mood Mei Ling yang sering naik turun membuatnya kesal akan pertanyaan yang mengganggu. Usia pernikahan mereka yang sudah mencapai satu bulan lebih, masih saja dikirimi hadiah-hadiah oleh fans maupun keluarga terdekat. Bahkan ada juga yang mengirimkannya pakaian bayi, peralatan bayi dan lain-lainnya.

"Tapi Mei Ling suka, kan?" Frau Pauli bertanya dengan genit. "Dari wajahmu terlihat jelas."

Tentu saja Mei Ling sangat menyukainya. Kalau ia membencinya, jelas akan ia adukan pada orangtuanya kalau Wolfgang membakar kondom yang sudah disediakan untuk melindungi Mei Ling. Ia sadar betul bahwa suatu saat nanti ia akan hamil anaknya.

THE END—


BONUS 1

Chuboel, Kaekoes, Brückner dan Leonhart pundung di suatu ruangan gelap meratapi nasib mereka masing-masing yang menjadi jomblo ngenes.

"Aku tidak mengerti mengapa Wolfgang menolak diriku padahal aku ini eksotis, beda dengan Mei Ling si babi itu!" gerutu Chuboel. "Kurang cantik apalagi aku!"

Leonhart tidur di pangkuan Brückner, meratapi nasib mantannya tidak kembali ke dalam pelukannya dan malah tergila-gila dengan aktor pendatang baru bernama Ferrero Furrer yang menurut Leonhart adalah pria jelek, jones dan lain-lainya. "Di pesta pernikahan kemarin tidak ada yang bisa digaet!"

"Yang penting sudah makan banyak!" Kaekoes berkata. Apalagi ia, mengejar-ngejar banyak wanita di pesta tetapi tidak ada yang tertarik dengan Kaekoes. Setelah Kaekoes meminta alamat mereka masing-masing yang ada malah dihajar berjamaah oleh wanita-wanita yang ada. "Wanita di sini berselera rendah!"

Leonhart dan Brückner menghajar Kaekoes sampai babak belur saking jengkelnya. Sungguh sial mereka berdua bertemu dengan orang gila yang kerjanya merusuh setiap saat.

"Schmidt itu medit, pelit, kere lagi!" ejek Kaekoes. "Kalau kaya harusnya bayarin cewek bisa kan?"

"Ya kali!" balas Leonhart tidak kalah jengkel.


AUTHOR NOTES : Dua tahun lamanya saya berada di fictionpress, sampai sekarang masih menulis. Sebelumnya ada yang tanya mengapa karya saya mirip dengan salah satu author sufemfin, yes—saya authornya, sempat menulis dari tahun 2010-2012 akhirnya pindah kesini karena menemukan ketenangan batin. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, masih inget banget pairing pertama fic ini adalah Mathias/Antonia (yang akhirnya sulit saya kembangkan, mengenai anaknya Alvarez ma Sev). Wolf/Mei paling banyak PWP-nya kalau dihitung-hitung, Friedrich/Kiriko saja kalah banyak :hammer

Terima kasih bagi pembaca setia :D Good bless you