Disclaimer : The picture is not mine.

Warning : Typo(s), etc.

Don't like? Don't read!

Enjoy!


Tukar Kado

.

by

fetwelve

.

.

.

Aku mengingatnya.

Hari di mana aku memustuskan untuk beranjak dari sofa nyamanku yang kugunakan untuk menghabiskan waktu demi waktu, melangkahkan kakiku yang berbalut celana selutut menuju balkon untuk melihat kembali terbenamnya matahari.

Hari di mana pandangan periferalku menangkap sesuatu yang sudah lama tidak ada di sana.

Di balkon tepat sebelah apartmenku, duduk manis seseorang yang bahkan lebih bersinar dari matahari. Dan tanpa sadar aku telah menatapnya lebih dari tiga detik.

Apa mungkin alasannya untuk duduk di lantai—bukannya berdiri atau duduk—sama denganku? Dulu aku duduk di lantai balkon untuk merasakan hangatnya mentari yang menerpa kulitku sekaligus dingin yang menyergap karena marmer yang menyerap panas tubuhku. Tapi kini ... ah, sudahlah. Kini aku menumpukan lengan pada besi penyangga balkon—dalam posisi berdiri.

Kemudian ia menatapku dengan tatapan aneh, lalu berpaling kembali pada sang surya. Namun tiba-tiba ia tersentak lalu masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian. Mungkin ada yang memanggilnya untuk makan malam? Aku tak dapat mendengarnya dari sini. Ukuran apartemen di sini besar, jadi balkon-balkon terletak berjauhan.

Keesokan harinya kami bertemu lagi, yang anehnya ia segera masuk ke dalam setelah menyadari kehadiranku.

Kenapa? Sekarang belum waktunya makan malam, jadi tak seharusnya ia meninggalkan matahari yang sedang mengucap salam untuk bertemu lagi.

Apa yang terjadi? Aku mencoba menunggunya dari matahari terbit hingga terbenam tapi dia tidak muncul.

Pikiranku bekerja. Mungkinkah dia tertarik padaku lalu menjadi gugup untuk bertemu? Tapi—pikiran macam apa itu? Aku terlalu percaya diri. Aku mulai berpikir lagi hingga akhirnya keinginanku untuk melanjutkan ritual petang ini berkurang drastis.

Oh, tidak! Jangan sampai aku menjadi penghalang bagi kecintaan orang lain. Aku tidak ingin menghalanginya menatap sang mentari, karena kecintaanya terhadap gas panas hasil nuklir itu terefleksi dengan jelas dari mata birunya.

Aku bertekad akan mengunjunginya, untuk memperjelas tebakan-tebakanku yang belum tentu benar.

Semua itu ... semua itu yang terus berputar di kepalaku, menyemangatiku setiap saat untuk dengan sabar melakukan semuanya.

~.~.~

"Hai," sapaku hangat.

Ia menoleh cepat kearahku. "Bagaimana kau bisa masuk!?"

"Pintu apartemenmu terbuka, kurasa."

"Apa tujuanmu datang ke sini?" Badannya terlilhat tegang.

"Aku ingin ... berkenalan," jawabku, menyodorkan tangan. Dengan sabar aku menahan pertanyaan terpenting.

"Nicholas," kataku akhirnya, setelah beberapa detik ia hanya memandangi tanganku tanpa menjabatnya balik. Aku menurunkan tanganku.

"Ini ada makanan. Aku masak sendiri, loh. Kamu mau?"

Masih belum ada tanda-tanda ia akan bicara.

"Oh, ya. Aku ijin pinjam sendokmu, lupa bawa," aku tertawa kecil.

Ia terlihat berpikir keras. Dahinya sedikit mengerut dan bibir mungilnya mengerucut.

"Jadi, bunyi logam beradu tadi ... sendok?" gumamnya pada dirinya sendiri. Hmm, pertanyaan itu membuatku bingung. Memangnya suara apa lagi?

"Orangtuamu sedang pergi, ya? tanyaku retoris. "Bagaimana kalau kita makan sambil berbincang sedikit?" Aku memberanikan diri untuk berjalan selangkah mendekatinya.

Ia pun mundur selangkah. "Kautahu, tetangga? Kau tidak bisa lama-lama di sini. Ibu akan segera kembali."

Aku tak dapat menahan untuk tidak berjalan mendekati sosoknya lebih dekat lagi. "Aku hanya ingin tahu, akhir-akhir ini kau tidak terlihat lagi di balkon pada sore hari. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Sambil melangkah, tangan kiriku bergerak merogoh kantung yang kubawa.

Matanya tampak menerawang sebentar, mengingat-ingat.

"Apa pedulimu?"

Ia melakukan suatu gerakan halus. Saat jarak di antara diriku dan dirinya menjadi tipis, aku bisa melihat dari manik indahnya, bahwa ia kesepian.

Sejurus kemudian, tangannya bergetar. Apa ia baik-baik saja?

"Pembunuh!" teriaknya histeris. "Keluar kau dari sini!"

Satu detik ... dua detik...

"Hah?"

Namun kebingunganku yang semakin menjadi itu kabur sama sekali, ketika ia menusukkan sebilah belati padaku.

Mataku terbelalak lebar; tapi dia membulatkan mata lebih besar, sambil menutup mulutnya.

Dengan lesu aku menampilkan padanya apa yang kurogoh dari kantung. Bunga matahari.

"Ini untukmu, tadinya. Warna hangat dari jingga bunga ini, bukan tulip kuning menyilaukan seperti cahaya pagi. Sebenarnya masih banyak yang ingin kubicarakan, tapi aku sudah tidak tertarik lagi."

"Usahaku berlatih, waktu kosongku yang bermutasi menjadi waktu sibuk, demi belajar memegang benda mati, kaubalas seperti ini!?"

"Aku tak menyangka! Aku meneriakkan kekecewaanku. Tubuhku bergetar hebat.

"Kau meneriakiku pembunuh, Pembunuh! Ternyata semua manusia sama saja!"

Sekeras mungkin aku mengatur napas dan emosi yang memuncak. "Baiklah kalau itu maumu. Aku ingin tukar kado."

~.~.~

Bella Alexandra. Seorang penderita paranoid akut. Meninggal dengan pisau tertancap tepat pada jantungnya. Terdapat sekuntum bunga matahari di genggamannya. Tidak ada sidik jari maupun jejak kehadiran seorang asing selain ibunya. Belum dapat dikategorikan sebagai peristiwa bunuh diri karena korban menggunakan sarung tangan.

Demikian catatan polisi yang sebelumnya menyelidiki kematian tak berbekas Nicholas Brown...

FIN


A/N: Genrenya udah pas belom ya? :S

.

Mind to review?

Concrit, maybe?

.

-Thanks for reading-