Story By: Rhia Yami no Hime

Fiction.

Rate: K

Genre: Family & Hurt.

Warning: Typo, some mistakes EYD, AU.

Karakter: Kyuu Otohata (Dimensi K) as Kakak Sepupu, dan Rhia Augusta (Dimensi R) as Adik Sepupu / 'Aku'

Inspiration: Kisah nyata yang dialami oleh Chiyo/Rhia.

A/N: Sebuah cerita untuk Kakak Sepupuku yang baru saja wafat.

xXx

I've Never Had a Kind Cousin Like Him.

xXx

Waktu itu... sudah beberapa tahun yang lalu... saat aku masih duduk di bangku SD, saat aku liburan sekolah, Ayahku sering mengajakku pergi ke rumah saudaranya yang sedikit jauh dari rumahku berada. Tujuannya, untuk bersilahturahmi dengan keluarga dari Ayah.

Saat itu, pertama kalinya, aku datang ke sana. Takut dan canggung selalu datang di dalam diriku karena belum pernah bertemu dengan keluarga beliau. Memang, jika aku bertemu orang yang pertama kali aku kenal, aku merasa minder dan sangat pendiam. Keluarga ayah di sana begitu ramah menyambutku dan memperkenalkan diri mereka satu-persatu kepadaku. Namun, canggung tetaplah ada, dan aku memilih diam. Hanya mengangguk dan tersenyum sejenak.

Tak lama, seorang lelaki muda dan canggung datang menghampiriku. Aku sedikit takut melihat perawakannya yang jangkung itu, tapi wajahnya yang ramah terus dia pancarkan untukku dengan tulus, sehingga aku tak merasa takut lagi kepadanya.

"Jadi, ini Putra Ketiga dari Augusta-san? Cantik dan manis, ya." puji lelaki muda itu terhadapku. Aku hanya mengangguk paham dan tetap tak berani mengucapkan kata 'Terima kasih' untuknya. Namun, dia tak mudah menyerah untuk terus mengenaliku lebih dekat. "Namamu siapa?" tanya lelaki itu untuk mengetahui namaku.

"Rhia... Augusta Rhia." jawabku canggung sambil menunduk malu. Untuk pertama kalinya, aku mengeluarkan suaraku untuk menjawab pertanyaannya. Padahal dengan orang lain, aku sulit untuk mengeluarkannya, tapi saat dihadapannya, aku mengeluarkan suaraku dengan mudah dan tanpa ragu. Seperti, merasakan kenyamanan saat bertemu dengannya.

"Hee~ Nama yang indah." pujinya sekali lagi. Aku kembali mengangguk malu. Kemudian, dia memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya untukku. "Aku, Kyuu. Otohata Kyuu. Salam kenal, ya." ucapnya sambil memancarkan senyuman yang luar biasa menenangkan rasa takut dan canggungku ini. Mau tapi malu, aku menggenggam tangannya yang kuat tapi lembut seperti senyumannya. Dia seperti malaikat untukku. "Aku ingin mengajakmu ke cafe dekat rumahku. Di sana, banyak es krim yang lezat, lho. Kakak belikan, deh." tambahnya sambil menawariku sebuah hal yang sangat aku sukai. Aku mengangguk cepat dan tersenyum riang untuknya. Sekali lagi, dia telah membuatku tersenyum dan mulai menarikku dari rasa takut dan canggungku.

Aku dan Kyuu, Kakak Sepupu, keluar berdua ke cafe dekat rumahnya. Hanya dengan berjalan kaki membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai di sana. Waktu yang cukup lelah untukku yang masih kecil, tapi aku senang berjalan kaki dengannya. Sesekali, aku memandang wajah dan fisiknya. Wajah yang tampan dan manis dan bertubuh ideal dan jangkung itulah yang membuatku bertanya-tanya, 'Apa Kyuu-san adalah seorang malaikat yang turun dari langit?'. Ahaha... sungguh pertanyaan yang tak masuk akal dan polos bagi gadis kecil sepertiku.

Aku terus memandanginya, dan tak sengaja, dia menoleh ke arahku. "Ada apa?" tanya Kyuu merasa heran. Aku terkejut dan reflek memandang ke arah lain dengan malu. Dia terkekeh melihat tingkahku yang lucu dan menggemaskan. Yang membuatku terkejut adalah, dia langsung menggendongku. Reflek aku menoleh ke arahnya dan memasang wajah bingung. "Kamu lelah, 'kan? Kakak gendong saja biar Rhia-chan tidak lelah." ucap Kyuu sambil tersenyum hangat untukku. Aku hanya mengangguk malu dan senang karena digendong olehnya. Saat aku merasakan tangan yang kuat menggendongku ini... tidak membuatku sakit ataupun takut jatuh. Sungguh kuat tapi lembut, hangat dan nyaman. Belum pernah aku merasakannya seperti ini dari kakak sepupuku yang lain.

"Nah, kita sampai~" ucap senang Kyuu saat kami berdua sampai ke tempat tujuan. Kami masuk ke dalam cafe itu. Cafe yang sederhana namun nyaman dan sejuk membuat banyak pelanggan yang datang ke cafe ini untuk menikmati tempat dan es krimnya. Aku sungguh tak sabar ingin mencicipi es krim di cafe ini!

Kyuu menuruniku di kursi khusus anak-anak. Kemudian, dia berjalan ke arah pelayan itu untuk memesan dua es krim untukku dan untuknya. Tak lama, dia kembali sambil membawa dua gelas berisi es krim coklat yang terlihat menggiurkan.

"Ini dia~" ucap Kyuu saat dia menaruh segelas es krim coklat untukku dan segelas es krim coklat untuknya. "Makanlah. Jangan malu-malu." ucap Kyuu dengan senyumannya. Dengan cepat dan lahap, aku memakan es krim itu. Sungguh manis dan luar biasa enak dibandingkan es krim yang lain. Kyuu hanya melototiku saat melihatiku sedang makan es krim dengan lahap. Sekali lagi, dia terkekeh melihat tingkahku yang lucu. Tak sadar, seluruh wilayah bibirku terkena banyak es krim. Aku selalu makan sampai belepotan seperti itu. Dia mengambil tisu dan mengusapkannya dengan lembut ke bibirku, untuk membersihkan coklat yang menempel di mulutku. Aku hanya memasang wajah bingung lagi untuknya, namun dia selalu terkekeh melihat wajahku yang polos dan suci.

"Kenapa Kyuu-san begitu perhatian terhadapku?" tanyaku dengan polosnya.

"Aku melakukannya, karena aku senang mempunyai adik sepupu sepertimu. Yang lucu dan imut." jawab Kyuu dengan jujur.

"Hee~ Aku lucu dan imut?" tanyaku bingung.

"Ya. Sangat. Aku senang sekali Rhia-chan menjadi adikku." jawab Kyuu.

"Adik?" tanyaku lagi.

"Yup. Rhia-chan adalah adikku. Dan aku adalah kakakmu. Rhia-chan boleh memanggilku Kyuu-nii." ucap Kyuu.

"Kyuu-nii? Uhm... boleh!" ucapku riang karena mendapatkan seorang kakak laki-laki pertama walaupun hanya sebatas sepupu. Dan kami pun kembali memakan es krim kami masing-masing.

Setelah makan, kami berdua kembali ke rumah lagi. Dan ternyata, Ayah mengajakku pulang karena sudah waktunya untuk kembali ke rumah. Aku sedih karena harus berpisah dengannya, tapi mengatakan sebuah kalimat yang membuatku yakin dan senang, "Kapan-kapan main ke sini, ya? Kakak janji, akan mengajak Rhia-chan makan es krim lagi." ucap janji Kyuu untuk membuatku senang. Aku mengangguk yakin dan kami pun mengikat jari kelingkin kami satu sama lain untuk membuat perjanjian bersama. Dan akhirnya, aku dan Ayah pamit pulang ke rumah.

Setiap aku liburan, Ayah terus mengajakku ke rumah saudaranya, sehingga aku sering bertemu dengan Kyuu-nii, kakak sepupuku yang aku sayangi. Bercanda bersama, bermain bersama, dan lain-lain. Sungguh pengalaman yang luar biasa aku dapatkan saat bersamanya.

Namun, setelah Ayah meninggal dan aku beranjak dewasa, aku semakin sulit bertemu dengan Kyuu-nii. Aku semakin sibuk dengan kegiatan sekolahku, Kyuu-nii pun sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa tahun kemudian, Kyuu-nii menikah dengan seorang wanita idamannya yang cantik, baik, serta tulus mencintai Kyuu-nii. Aku turut senang walaupun aku tak bisa mendatangi pernikahannya. Aku hanya berdo'a agar keluarganya rukun dan sejahtera.

Saat aku menjadi seorang Mahasiswa, aku berencana ingin ke Kyuu-nii bersama ibuku. Setelah sampai di sana, aku dikejutkan dengan pandangan yang membuatku ingin menangis sedih dan sakit. Kyuu-nii... jatuh sakit... dan tubuhnya... lumpuh... Sangat kurus... Sungguh... aku hanya bisa menangis saat melihat kondisinya. Aku tak sanggup melihat kondisinya yang hanya terlentang... tak mampu menggerakan kedua tangan dan kakinya... hanya bisa melirik dan... berbicara dengan sangat lirih sampai aku pun tak mampu mendengarkannya. Aku sungguh shok dan bingung, apa yang telah terjadi kepadanya sampai dia seperti ini.

Aku mencoba untuk mendekatkan diriku kepadanya dan terus menahan rasa sedih, karena aku tak ingin membuatnya khawatir dan sedih. Namun, bagaimana pun aku menahan bendungan air mata, tetap saja bendungan itu rusak dan hancur saat aku melihat senyumnya yang hangat di wajah dan tubuh rapuhnya itu. Aku tak mengucapkan apapun dan hanya menangisinya. Dia tahu apa yang aku rasakan saat melihat kondisinya seperti itu. Tapi, dia tetap tersenyum dan terus menenangkanku seperti waktu itu. Dia memintaku untuk jangan bersedih, karena dia yakin bahwa dia akan baik-baik saja. Walaupun begitu, aku tetap merasakan kesedihan yang tiada hentinya jika dia terus berpikir seperti itu. Bahkan, dia memintaku untuk terus mendo'akan ayahku dan menjaga ibuku baik-baik. Tetaplah berjuang dalam pendidikan, dan lain-lain. Aku hanya mengangguk menurut, tapi di dalam hatiku terus menjerit dan memohon padanya untuk jangan berkata seperti itu kepadaku! Aku terus berteriak disaat dia terus menasehatiku dengan senyumnya yang lembut. Aku tak bisa membalasnya dengan senyuman, tapi air mata yang terus mengalir dari mataku.

Setelah dia berbicara denganku, sang istri memberitahukan sebab dari kondisi Kyuu-nii seperti ini... karena dia mengidap sebuah penyakit yang sama sekali tak pernah ditemui oleh dokter manapun, tak bisa disembuhkan dengan obat apapun, bahkan penyakit itu, tak pernah muncul walaupun hasil lab-nya, Kyuu-nii sama sekali tidak mengidap penyakit atau masalah apapun. Aku hanya berpikir, bahwa, ada seorang yang berbuat jahat kepadanya. Aku sungguh membenci orang yang berbuat jahat pada Kyuu-nii. namun Kyuu-nii memandangku dan memintaku untuk tidak menyalahkan orang yang telah membuatnya seperti ini. Ini adalah takdir yang dipilih oleh Tuhan untuknya. Tapi bagiku, ini tak adil sama sekali! Kenapa Kyuu-nii tetap bersabar mendapatkan siksaan dari orang yang sangat jahat kepadanya?! Aku hanya berharap dan berdo'a agar orang itu mendapatkan balasan karma yang lebih pedih dari yang dia lakukan pada Kyuu-nii. Dan semoga, orang itu segera meminta maaf kepada Kyuu-nii, agar Kyuu-nii bisa -waktu aku libur, aku menjenguk keadaan Kyuu-nii dan terus berdo'a untuknya, berharap Kyuu-nii sembuh dan kami bisa bercanda lagi.

Namun... Tuhan mengkehendaki dan berbeda dengan yang aku harapkan...

Melalui pesan mimpi... Yura, saudara sepupuku sekaligus kakak iparku, datang ke rumahku dengan wajah yang sedih yang sangat luar biasa sakit bagiku. Kemudian, menghampiri ibuku untuk memberitahukan sesuatu yang aku tahu... itu adalah... sebuah berita yang menyakitkan hatiku... namun, aku tak dapat mendengarkannya.

Tak lama, aku terbangun dan merasa bingung dengan mimpi itu. Semenit kemudian, ibuku datang ke kamarku dan memberitahukan sebuah berita duka.

Kyuu-nii...

Meninggal...

Dunia...

Kedua mataku melebar dan perlahan... mengeluarkan butiran-butiran bening yang mengandung perasaan sedih yang sangat amat sakit...

"Kenapa... kenapa begini?! Bukankah Kyuu-nii berjanji akan baik-baik saja?! Kenapa Kyuu-nii berbohong padaku?! KENAPA?!" teriakku dalam hati.

Rasa sakit yang sangat amat luar biasa sakit... kembali aku rasakan untuk kedua kalinya... setelah aku kehilangan ayahku... sekarang... aku kehilangan... Kyuu-nii...?
Tapi, tak bisa aku memarahi Tuhan yang sudah mengambil Kyuu-nii karena ini adalah kehendak-Nya. Aku hanya berdo'a dan memohon kepada-Nya...

'Tuhan, tolong berikan dia ruang di sisi-Mu, lindungi dia di dekat-Mu, dan sayangi dia di samping-Mu.'.

Dan untuk Kyuu-nii...

'Kyuu-nii, Rhia-chan janji... Rhia-chan akan menuruti nasehat darimu, menyayangi orang di sekitarmu, jangan menaruh dendam, dan tetap maafkan orang yang telah melukai Rhia-chan maupun Kyuu-nii. Rhia-chan... akan terus mendo'akan Kyuu-nii dan merindukan Kyuu-nii. Sayounara... Nii-chan... Aishiteru...'

-End-