"Are You Done With Me"


Di siang hari yang terik dan gerah aku berjalan tanpa arah sendirian. Merasa gusar, bukan karena berada di tempat yang asing sendirian, tapi karena aku takut kalau perjalanan ini akan sia-sia. Kegalauan ini telah bertahan lama di hatiku, seperti kemarau panjang yang tidak kunjung berakhir.

Akhirnya aku kembali ke kota ini, dimana cinta masa kanak-kanak itu pernah bersemi kembali. Di jalan Malioboro ini, aku kembali menapak tilas perjalanan yang pernah menggetarkan hatiku kepada seorang pemuda yang pernah menjadi sahabat semasa di sekolah dasar.

Aku membuka layanan GPRS di ponselku untuk membuka akun milikku pada salah satu jejaring sosial. Jariku mengetik beberapa kata. 'Perjalanan yang akan menutup luka. Akan kuakhiri kisah ini di tempatnya bermula.' Aku memposting status itu dengan berharap untuk merasa sedikit lebih lega. Aku ingin membagi beban ini, tapi tidak ada seorang pun yang bisa kujadikan tempat untuk mengadu di kota asing ini.

Semua ini bermula saat pertemuan kembali dengan sahabat lamaku enam bulan lalu. Sebelum pertemuan itu, kami memang sering berhubungan lewat jejaring sosial. Kami juga pernah bersahabat di sekolah dasar, tapi sebelum dia dan keluarganya pindah ke kota ini. Kemudian setelah bertahun-tahun, kami bertemu kembali saat aku mengikuti study tour. Aku memanfaatkan waktu bebas di hari terakhir study tour itu bersamanya di tempat ini.

Sebelum pertemuan itu aku memang sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa. Suatu perasaan yang berbeda dari perasaanku terhadapnya saat kanak-kanak dulu. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku lewat sms saat di perjalanan pulang dari study tour. Jawaban yang kuperoleh cukup memuaskan, tapi aku menangkap adanya keraguan dalam suaranya saat meneleponku.

Kuabaikan keraguan yang tersirat itu, karena terkecoh dengan bayangan-bayangan kebahagiaan yang berpendar cemerlang. Saat itu aku terlalu senang dengan jawabannya.

Tapi apa yang telah kuabaikan ternyata muncul ke permukaan. Tiga bulan kemudian dia menghilang. Nomor ponsel dan akun jejaring sosialnya tidak aktif. Dia meninggalkanku kebingungan sendiri. Aku mungkin masih bisa menerima seandainya dia mengatakan untuk mengakhiri hubungan kami. Tapi yang mengecewakan adalah dia justru menghilang tanpa mengatakan apa pun.

Kulalui tiga bulan setelahnya dengan hati hancur dan perasaan yang tak karuan. Seringkali aku menangis, tapi aku tidak tahu apa sebenarnya yang kutangisi, kepergiannya ataukah kebodohanku sendiri.

Matahari sudah condong ke barat. Kuputuskan untuk kembali ke hotel. Aku beruntung mendapatkan kamar yang sama di hotel tempatku menginap dulu. Sudah dua hari aku disini. Besok mobil travel yang kupesan akan menjemputku pulang. Aku juga sudah berkemas tadi pagi.

Meski sudah sore, udara masih terasa pengap, mungkin karena aku yang terbiasa tinggal di kota dingin. Jendela kamar yang terbuka dan kipas angin yang terus berputar tidak memberikan kesejukan yang cukup. Sementara itu isi kepalaku terasa mendidih oleh emosi.

Aku berguling di ranjang dan menangis tanpa suara. Setelah ini, aku tidak akan menangisi ini lagi. Aku akan melupakannya dan kembali menata perasaanku.

Tangisku terhenti saat kudengar suara ketukan di pintu kamar. Buru-buru kuhapus air mataku dan membuka pintu. Saat tampak sosok yang berdiri di depan pintu, tubuhku seolah membeku.

"Raka…."

Pemuda itu tampak kacau, wajahnya berkerut sedih.

"Boleh aku masuk?" tanyanya, nyaris dengan nada memohon.

Aku mempersilakannya masuk, meski sebenarnya aku ingin membanting pintu di depan mukanya. Tidak ada kursi di kamar ini, jadi aku menyuruhnya duduk di ranjang, sedangkan aku duduk di sisi lain ranjang karena tidak ingin terlalu dekat.

Setelah kesunyian yang berlangsung lama, dan hanya diisi oleh suara deru kipas angin. Akhirnya kuputuskan untuk bicara duluan saat langit mulai gelap dan membuat kamar menjadi suram.

"Apa maumu kemari?" tanyaku ketus.

Raka menunduk, sosoknya jadi tampak seperti bayangan bungkuk. "Aku melihat statusmu. Kupikir kau pasti berada disini. Aku mohon maaf karena telah melukaimu selama ini. Tapi sungguh aku tidak ingin ini berakhir begini," ucapnya lirih.

Aku mengepalkan tangan menahan amarah. Dia membuat hatiku kacau balau karena keraguannya. Meski aku akan selalu memaafkannya, karena aku tidak ragu pada perasaanku padanya. Namun aku terlanjur kecewa karena dia mencampakkanku.

"Bisa-bisanya kau kemari untuk minta maaf. Aku merasa sangat sakit. Kalau saja dulu kau mengatakan kata 'putus', itu akan lebih baik. Aku tidak akan merasa kacau begini," kataku sambil menahan tangis. Raka mengulurkan tangannya, tapi aku menepisnya dengan keras.

"Saat itu aku tidak yakin hubungan jarak jauh ini akan berhasil. Maaf kau jadi terluka karena ketidaktegasanku. Kau bukan orang asing bagiku. Aku telah lama mengenalmu. Aku sudah bertekad untuk membuang keraguanku. Maaf bila membuatmu menunggu. Tapi aku tidak ingin hubungan kita berakhir," ujar Raka sungguh-sungguh. Dia tidak berbohong tentang penyesalannya.

Aku terkejut mendengarnya berkata begitu. Tapi bagaimanapun sudah cukup bagiku. Aku menggeleng. "Kau tahu benar aku akan selalu memaafkanmu. Tapi aku sudah lelah dengan segala ketidakpastian ini. Aku tidak sanggup menapaki jalan yang sangat berkabut ini. Kau sendiri yang telah membuatku meragukanmu."

Setelah itu aku menyuruhnya pergi. Untuk terakhir kali, yang kulihat darinya adalah wajah sedih itu. Kini aku yang merasa terluka karena melukai orang yang berharga bagiku. Tapi aku sudah menetapkan hati. Meskipun malam itu aku menangis keras sampai lelah, aku berusaha untuk rela dan yakin pada keputusanku. Ini adalah pilihan terbaik untuk kami. []


To Rima Touya: Terimakasih sudah berbagi cerita. Semoga ini cukup memuaskanmu ^_^