"Shattered Moon"


When you have bid your servant once adieu

Nor dare I question with my jealous thought

Where you may be, or your affairs suppose

But like a sad slave stay and think of naught

Save, where you are, how happy you make those

So true a fool is love that in your will,

Though you do anything, he thinks no ill

(Shakespeare)


Prolog

Aku selalu penasaran apakah semua tokoh dongeng dan mitos yang ada di dalam buku adalah nyata. Karena yang kutahu beberapa dari mereka – vampir, werewolf dan penyihir – benar-benar ada dan hidup di tengah-tengah manusia. Kami hidup bersama dalam dunia yang sama; berbagi ruang dan berpijak di planet yang sama.

Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak – selain mereka mampu menyembunyikan identitas aslinya – sehingga jarang bisa ditemukan. Sebagian kecil dari mereka ada yang hidup terpisah, mengasingkan diri dari manusia. Namun sebagian besar hidup membaur dengan manusia.

Memang bukan hal yang mudah untuk hidup bersama di tengah keragaman. Seperti halnya manusia, mereka punya sifat yang berbeda-beda. Walaupun umumnya mereka punya naluri yang nyaris sama dengan manusia. Itu adalah sisi manusiawi dari mereka.

Keteraturan yang ada akan selalu goyah oleh berbagai masalah. Untuk menjaga keteraturan itulah Perisai Perak ada. Aku adalah salah satu pemburu yang mereka miliki. Pekerjaan kami adalah mengawasi masyarakat non-manusia dan membereskan kekacauan yang dibuat oleh para pelanggar aturan.

Namun apa yang akan dipaparkan disini adalah kisah hidupku. Ini bukan tentang perselisihan atau perebutan kekuasaan antara pihak-pihak yang berkuasa atau yang menginginkan kekuatan. Bukan kisah demikian. Selama ini aku ingin menjalani sisa hidupku sewajar mungkin, dan aku tidak berminat pada metode mendikte orang lain atau untuk merenggut apa yang bukan milikku. Bukan juga tentang kisah petualangan tentang perburuan makhluk-makhluk yang melanggar peraturan perdamaian. Tidak demikian, karena identitas hanyalah sesuatu yang tampak di luar saja – apapun mereka, sebagian besar dari mereka menginginkan hidup damai dan berusaha menjaga komitmen itu.

Ini hanyalah kisahku. Satu kisah sederhana yang tidak menyenangkan – namun kurasa sebagian orang di dunia ini pasti pernah mengalami apa yang kualami, atau setidaknya mengalami kejadian yang nyaris sama.

Seumur hidupku yang kurasakan hanya kehampaan – keadaan setengah hidup – kalau saja aku tidak menemukan sesuatu yang membuka mataku pada kehidupan. Sesuatu yang membuatku hidup, namun di saat yang sama juga menawarkan kematian.

Pada akhirnya aku harus menyerah. Seperti seorang pecandu yang menyerah pada hasrat ketergantungannya. Aku menginginkan hidup sama besarnya dengan menginginkan darah. Tidak dapat kuingkari kenikmatan cairan merah kental yang memberiku kekuatan untuk menjalani hidup. Semua ini kudapatkan hanya darinya. Dan saat dia tidak ada, maka tiada rasa lain selain mati rasa. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menanti saat jam pasir itu berhenti mengalir.