Epilog


Pernahkah kau membayangkan akhir macam apa yang akan kau hadapi di penghujung hidupmu? Untukku, bayangan itu sudah lama terbentuk dalam benakku. Bahkan sejak aku membuka mata lagi dan menyadari bahwa aku bukanlah orang yang sama seperti beberapa hari sebelumnya. Yang tidak terpikir olehku adalah orang yang kucintai akan ada di sampingku saat hidupku berakhir, sehingga aku mendapatkan kematian yang indah.

Meski kisahku tidak berakhir dengan menggembirakan. Namun aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk mencintai – hal yang dulu kukira tidak akan pernah bisa kulakukan karena aku terlalu skeptis bila melihat pengalaman orang tuaku.

Di saat-saat terakhirku ini, aku bisa mengingat dengan cukup jelas masa laluku. Dan aku menyadari sesuatu, meskipun ini sudah sangat terlambat. Cinta tidak hanya berisi hal-hal manis yang menyenangkan. Bila kau melihat lebih dekat – dan seandainya bisa dilihat – orang-orang yang mengenal cinta pasti memiliki hati yang dipenuhi luka. Karena cinta juga melukai dan sang pencinta harus siap menerimanya, itu satu konsekuensi yang tak bisa dihindari. Namun justru disitulah cinta akan menemukan kemuliaannya.

Matahari mulai menebarkan sinar hangatnya di bukit itu. Aku merasa begitu tenang. Lebih tenang dari kapan pun selama masa hidupku. Pelukan dari orang yang kucintai adalah hal terakhir yang membuatku merasa begitu damai. Seperti merasakan saat satu hari telah usai, dan kelelahan menggiring manusia dalam lelap. Mataku terpejam. Rasanya begitu ringan saat segalanya memudar.