halo, sebelumnya ini pertama kalinya aku bikin tulisan di fictionpress. sebelumnya, aku cuman nulis di wattpad sama fanfiction.

sebenernya, ini sama aja kaya nulis fanfict Big Time Rush karena tokoh utamanya nanti diambil dari mereka. karena ada rules and guideliness yang nggak ngebolehin RPF, yaudah akhirnya nama belakang mereka aku ganti.

oh ya, cuman mau ngingetin, untuk dialognya, walaupun ini ditulis dalam bahasa Indonesia, anggap aja mereka ngobrolnya pake bahasa Inggris. hahah. soalnya takutnya nanti jadi bingung soalnya ini settingnya di Indonesia. HAHA. pertama kali banget ini nulis yang model beginian. heheh.

tapi nanti kalo misal ada penjelasan ngomong pake bahasa Indonesia, ya berarti pake bahasa Indonesia hehehehe.

pokoknya enjoy aja. semoga aja ada yang berminat buat baca. kalo suka yang silahkan monggoh di review. kalo nggak ya monggoh dikasih masukan.

maaf ini A/N nya banyak bangeettt. haha. baru pertama kali soalnya. yaaaa. pokoknya enjoy ajadeh. *winkwink*


Chapter 1

Seorang remaja berusia 15 tahun terduduk dengan kesal di depan meja kerja ayahnya yang sedang sibuk menandatangani banyak berkas. Remaja laki-laki berambut pirang keemasan itu terus saja memasang wajah kesalnya setelah mendengar keputusan ayahnya yang terdengar tidak bisa diganggu gugat. Tetapi, ayahnya hanya menganggapnya dengan enteng dan tidak memperdulikan anak lelakinya yang sedang ngambek di depan meja kerjanya.

Sepuluh menit yang lalu, ayahnya baru saja memanggil anaknya yang baru pulang sekolah itu ke kantornya. Dengan ditemani oleh supir pribadinya yang sangat setia kepadanya, anak laki-laki bernama Kendall Mason itu hanya menurut saja dengan apa yang disuruh ayahnya. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang ayahnya ingin bicarakan dengan dirinya. Tetapi, dia tidak memiliki pilihan lain.

Ayahnya memanggil Kendall ke kantornya untuk membicarakan sebuah masalah yang memang sudah Kendall keluhkan selama 7 bulan tinggal di Jakarta. Ya, Kendall merupakan seorang anak pindahan dari Washington DC, Amerika Serikat dan baru tinggal di Jakarta selama 7 bulan. Tetapi, selama 7 bulan tersebut, Kendall sudah sangat tidak nyaman dengan kota yang berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa tersebut.

"Kotanya panas sekali, Dad! Bahkan aku bersekolah memakai seragam!" protes Kendall di minggu pertamanya di Jakarta. Ayahnya tidak terlalu memperdulikannya saat pertama kali Kendall protes. Tetapi, hampir setiap hari setelah ayahnya pulang kantor, Kendall langsung mengeluhkan keadaannya yang baru menjadi warga Jakarta. Dari yang jalannya selalu macet parah, jam sekolah yang terlalu pagi, sampai hawanya yang sangat panas.

Ya, ayah Kendall memang seorang Duta Besar Amerika untuk Indonesia. Beliau sudah bekerja di Indonesia hampir 2 tahun tetapi anak semata wayangnya, Kendall, baru pindah ke Indonesia 7 bulan yang lalu karena ayahnya tidak mau membawa Kendall ke lingkungan baru dan tidak mau menjadi anti-sosial karena hal tersebut. Itulah mengapa beliau meninggalkan Kendall di Washington. Tetapi, setelah beberapa tahun ditinggal, Kendall malah menjadi sangat brutal dan sering keluar malam untuk berpesta. Bahkan nilainya menjadi sangat jelek dan dia sempat terancam untuk tidak naik kelas.

"Dad, kau memindahkanku ke Yogyakarta sama saja seperti Dad memulangkanku ke Washington!" protes Kendall setelah 10 menit cemberut. Ayahnya yang sedang sibuk tersebut langsung meletakkan pulpen dan kacamatanya dan melihat mata emerald Kendall yang sama seperti miliknya.

"Yogyakarta dan Washington itu sangat berbeda budaya, Kendall. Dad sengaja memindahkanmu ke Yogyakarta karena kota tersebut terkenal dengan orang-orangnya yang santun dan tidak seenaknya sendiri. Mereka memiliki kebudayaan sopan santun yang luar biasa baik dan Dad ingin kau tinggal di sana agar kau bisa mencontoh budaya mereka. Jika Dad memulangkanmu ke Washington, Dad yakin 100% kalau kau akan kembali seperti Kendall yang suka keluar malam untuk berpesta. Kau ini masih di bawah umur, Nak," kata ayahnya dengan penuh kewibawaan. Bibir Kendall semakin manyun mendengar kata-kata ayahnya. Dia tidak suka jika ayahnya memiliki sebuah alasan yang sulit dibantahnya.

"Dad-"

"Kau akan berangkat besok pagi. Aku sudah mengatur tempat tinggal, sekolah, dan akomodasimu selama di Yogyakarta,"

"Dad!"

"Dad memberimu waktu 1 semester, Kendall. Ini juga tahun keduamu di SMA. Jika kau masih tidak bisa tinggal dengan Dad, Dad akan mengirimmu kepada ibumu di Alaska," kata ayahnya dengan nada yang sudah tidak bisa diganggu gugat. Kendall semakin cemberut dan langsung meninggalkan kantor ayahnya setelah membanting pintu kerja ayahnya. Di ruang kerjanya, ayahnya hanya menghela napas berat melihat tingkah laku anaknya yang terkadang sangat membuat sakit kepala.


Kendall sama sekali tidak mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya untuk berpamitan. Dia hanya menyapa ayahnya dengan mengucapkan selamat pagi dan langsung menyantap sarapannya. Setelah itu, ayahnya menawarkan diri untuk mengantarkan Kendall ke bandara tetapi Kendall hanya menggeleng dan meneruskan sarapannya. Setumpuk roti isi dengan ekstra keju dan segelas susu murni.

Saat jarum jam menunjukkan angka hampir pukul 8 pagi, Kendall langsung beranjak dari sarapannya dan meninggalkan ayahnya begitu saja. Dia sangat marah dengan ayahnya yang masih tidak mau memulangkannya ke Washington. Dan dia bertambah marah jika ayahnya akan memulangkannya ke Alaska dengan ibunya. Tidak, Kendall sama sekali tidak membenci ibunya. Hanya saja, Kendall tidak suka dengan ibunya yang sudah menikah lagi pasca perceraiannya dengan ayahnya. Itu terjadi dua tahun yang lalu dan Kendall masih sulit untuk menerima kehadiran ayah barunya.

Selama perjalan menuju Yogyakarta pun Kendall masih merasa sangat kesal dengan ayahnya. Walaupun dia mengobrol sedikit-sedikit dengan seorang wanita 20 tahun yang duduk di sebelahnya, tetap saja suasana hatinya masih sangat bergejolak dan marah kepada ayahnya. Wanita yang bernama Anita itupun juga tidak terlalu memperhatikan Kendall yang terlihat kesal. Dia hanya tertarik mengobrol dengan Kendall karena Kendall datang dari Amerika dan dia sangat tertarik untuk mengetahui lebih tentang Amerika dari Kendall.

Setelah hampir satu jam dia duduk di dalam pesawat dan mengobrol dengan wanita asal Tangerang, Anita, pesawat pun mendarat di sebuah bandara yang Kendall sama sekali belum pernah lihat sebelumnya. Dia hanya memicingkan matanya saat membaca nama bandara yang terdengar asing di telinganya sendiri.

"Adi… sutjipto…" gumam Kendall dengan aksen Amerikanya yang sangat kental. Dia lalu memakai kacamata hitamnya dan mulai berjalan ke arah baggage claim untuk menunggu barang-barangnya diturunkan dari pesawat.

Saat dia menunggu di baggage claim, Kendall melihat ke lingkungan sekitar dan yang dia lihat hanyalah orang-orang dengan ras Malayan Mongoloid. Jarang sekali dia melihat orang dengan ras Kaukasoid seperti dirinya berada di bandara tersebut. Walaupun Kendall melihat ada beberapa, tetapi tetap saja hampir 90% mereka adalah orang pribumi. Mengingatkannya kepada saat pertama kali dia datang ke Indonesia.

Setelah cukup lama menunggu, Kendall pun mengambil barang bawaannya dan mulai keluar dari ruangan yang tidak terlalu penuh dengan orang tersebut. Dia mulai mendongakkan kepalanya untuk mencari orang yang sudah diutus ayahnya untuk menjemputnya. Setelah nyaris 15 menit Kendall mencarinya, dia akhirnya menemukan seorang pria berbadan kurus dan tinggi – seperti dirinya – dengan setelan baju batik dan celana bahan. Kulitnya sawo matang, sama seperti orang-orang pribumi kebanyakan dan senyumnya sangat lebar. Orang tersebut memegang sebuah kertas bertuliskan "WELCOME MR. KENDALL MASON"

"Hei, aku Kendall Mason," kata Kendall setelah menghampiri orang yang wajahnya terlihat jauh lebih muda dari Kendall. Padahal Kendall sendiri masih berusia 15 tahun.

"Hello, Mr. Kendall Mason. I'm Galih. I'll be your guide and driver while you are in Yogyakarta. Welcome to Yogyakarta, Sir," kata Galih dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Berbeda dengan supirnya yang di Jakarta. Sangat sulit untuk berbicara bahasa Inggris dan sama sekali tidak ramah.

Melihat senyum lebar yang dipasang di wajah Galih, Kendall juga ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya dia melupakan amarahnya terhadap ayahnya karena memindahkan Kendall seenaknya.

"Apa Anda mau berkeliling dulu atau langsung ke rumah, Mr. Mason?" tanya Galih sambil membawakan barang bawaan Kendall yang sangat banyak. Melihat Galih yang sangat sopan dan sangat bisa berbahasa Inggris, Kendall pun tidak sungkan untuk menghabiskan waktunya lebih lama dengan supir barunya ini.

"Aku ingin berkeliling dulu, Galih. Tolong panggil aku Kendall saja. Aku masih 15 tahun, kok. Tolong jangan terlalu formal," kata Kendall sambil tersenyum kepada Galih. Laki-laki pribumi tersebut terbelalak mendengar Kendall yang menyebutkan usianya.

"15? Aku pikir kau 20 tahun, Kendall," kata Galih. Kendall menaikkan alisnya yang sangat tebal mendengar komentar orang pribumi tersebut. Agak sedikit tersinggung saat mendengar kata-kata Galih tersebut.

"Memang usiamu berapa?" tanya Kendall dengan nada yang sedikit tersinggung. Mendengar nada bicara Kendall, wajah Galih mulai tampak tidak nyaman.

"Maafkan aku, Kendall. Aku berusia 23 tahun," jawab Galih dengan pipi yang memerah. Kini giliran Kendall yang terbelalak.

"I thought you were 12!" kata Kendall. Galih hanya tertawa mendengar kata-kata Kendall.


Selama di perjalanan, Kendall bisa melihat kota Jogja tidaklah semegah kota Jakarta. Menurutnya, kota Jogja tidaklah terlalu sesak dan panas. Walaupun cukup ramai, tetapi tidak sesempit kota Jakarta yang bisa macet selama berjam-jam. Kendall pun seketika lupa dengan amarahnya kepada ayahnya setelah melihat kota Jogja yang sangat jauh berbeda dengan kota Jakarta.

Bahkan, Galih mengajak Kendall untuk mencicipi beberapa kuliner khas Jogja dan mengajak Kendall berbelanja sebentar untuk kebutuhannya di rumahnya nanti. Kendall sama sekali tidak ada gambaran bagaimana rasanya tinggal di sebuah rumah yang benar-benar rumah. Seumur hidupnya, dia tinggal di New York dan Washington. Dia selalu tinggal di apartemen dan dia sama sekali belum pernah tinggal di sebuah rumah yang memiliki halaman dan semacamnya. Bahkan selama di Jakarta pun dia tinggal di roof apartemen yang sangat mewah dan Kendall sudah tidak asing lagi dengan hal-hal seperti itu.

Kendall bahkan sudah mulai menyukai Galih. Laki-laki berusia 23 tahun itu rupanya orang yang sangat cerdas. Hanya saja, karena keterbatasan biaya, dia tidak bisa meneruskan kuliahnya di sebuah universitas ternama di Jogja. Walaupun ada beasiswa, tetapi, Galih masih kurang beruntung untuk meneruskan beasiswanya. Bahkan Kendall sempat tersentuh dengan cerita Galih yang ditinggal ayahnya saat Galih masih berusia 10 tahun. Ayahnya meninggal karena kanker menggerogoti tubuhnya. Seketika saat Galih menceritakan tentang ayahnya, Kendall langsung teringat dengan ayahnya yang sedang bekerja keras di Jakarta sana demi menghidupi dirinya yang jauh dari orang tua. Di saat itu, Kendall merasa tidak enak dengan ayahnya karena sudah marah.

"Itu sekolahmu, Kendall," kata Galih sambil menunjuk ke sebuah sekolah dengan bangunan kuno. Kendall menaikkan alisnya melihat sekolah tersebut. Bangunannya kuno dan terlihat menyeramkan. Berbeda dengan sekolahnya di Jakarta yang terlihat modern.

"Ini sekolah paling favorit di Jogja," tambah Galih. Tetapi tetap saja, Kendall bergidik ngeri melihat sekolahnya yang terlihat kuno tersebut. Belum pernah sebelumnya Kendall bersekolah di sekolah yang memiliki bangunan kuno. Dia selalu bersekolah di sekolah dengan bangunan modern. Apalagi dia sering membaca cerita-cerita horror yang berlatar belakang bangunan kuno.

"Pemerintah Yogyakarta memang menjaga kelestarian cagar budaya yang berbangunan kuno. Maka dari itu, sekolah tersebut dibiarkan terlihat kuno. Padahal dalamnya sangat modern," kata Galih. Kendall bisa menghela napas sedikit mendengar penjelasan Galih.

"Apa di sekolah ini memagai seragam berwarna putih abu-abu seperti di Jakarta?" tanya Kendall polos. Mendengar pertanyaan Kendall, Galih hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Di Indonesia, seragam untuk siswa SMA memang putih abu-abu. Untuk siswa SMP berwarna putih biru, dan untuk siswa SD mereka memakai seragam berwarna putih merah. Untuk mahasiswa, mereka dibebaskan dari seragam," kata Galih. Kendall terbelalak mendengar penjelasan Galih. Jadi, di sini mereka selalu memakai seragam? Batin Kendall.

"Lama-lama kau akan terbiasa, kok," kata Galih sambil terkekeh. Kendall pun hanya terdiam dan menenggelamkan dirinya dengan handphone nya yang tak henti-hentinya bergetar. Kendall memang baru saja menulis di twitternya "Stopped in another strange city. Kinda love it though. And still missing Washington" dan mendapatkan banyak sekali mention dari teman-temannya di Washington dan juga Jakarta.

"Baiklah, Kendall, saatnya pulang. Kau harus banyak istirahat untuk ke sekolah besok pagi," kata Galih. Kendall hanya menggumam dan masih sibuk dengan twitternya. Dia membaca reaksi teman-temannya yang sebagian besar menertawakannya karena dia pindah lagi. Tetapi teman-temannya yang di Jakarta malah merasa kehilangan karena bule mereka pergi. Kendall sendiri masih tidak mengerti mengapa dia dipanggil bule oleh teman-temannya.

Setelah melewati beberapa lampu merah, akhirnya mereka pun memasuki sebuah perumahan elit yang terletak tidak jauh dari universitas terkenal di Jogja. Kendall melihat-lihat rumah-rumah tersebut. Rata-rata berlantai dua dan tidak terlalu besar. Mungkin diperuntukkan untuk mahasiswa. Tetapi memang terlihat sangat mewah. Pantas saja ayahnya membelikannya satu untuknya.

"Baiklah, Kendall, ini tempat tinggalmu," kata Galih saat berhenti di sebuah rumah yang hampir sama seperti yang lainnya. Kecil dan mewah. Kendall tersenyum lebar saat Galih memberikannya kunci rumahnya. Akhirnya setelah 15 tahun tinggal di apartemen yang tidak memiliki halaman, Kendall pun bisa tinggal di sebuah rumah yang benar-benar dekat dengan tanah dan memiliki halamannya sendiri.

"Terima kasih," kata Kendall dalam bahasa Indonesia yang masih terdengar kaku. Galih hanya tertawa mendengar cara bicara Kendall yang masih bercampur dengan aksen Amerika.

Kehidupannya di Yogyakarta pun dimulai.