Behind The Scenes [Serie 1]

Summary : latar belakang mengapa cerita dari lavitaromantica dibuat secara utuh

Han – Si tokoh utama dalam kisah ini. Cewek kacamata dengan rambut sebahu, diam-diam menghanyutkan, semi-serius.

Ullmann – Cewek, entah kenapa namanya seperti cowok. Teman Han, serius, tidak bisa ditebak. Senang mengganggu Han kalau ketahuan melakukan yang memalukan.

Bauer – Cewek lagi dan teman Han. Dengan senyuman mencurigakan

Mauro, Romana – teman Han dalam dunia penulisan

ENJOY!

oo000oo—

Awal kisah kepindahan Han dari dunia fanfiksi ke fiksi original

Han menghela nafas panjang. Pairing war lagi, rusuh lagi. Han semakin malas untuk menulis di fanfiksi. Banyak sekali yang rusuh seperti ababil. Hati masih ingin menulis tapi apa daya, idealismenya terkekang di sana. Buah pemikirannya sulit diterima oleh khalayak umum.

"Hmm—apa coba membuat fiksi original saja seperti yang lainnya. Siapa tahu bisa!" gumam Han dalam hati. Han tidak begitu yakin dalam pilihannya. Dicoba menulis di luar fanfiksi rasanya begitu sulit karena karakter yang biasa ditulisnya untuk fanfiksi masih melekat.

Pelan tapi pasti, inspirasi semakin menumpuk dan dicoba untuk membuat karya pertama tentang tiga pria bernama sama dengan perbedaan kepribadian dan kewarganegaraan.

"Untung saja nemu naskah karangan lama bekas SMA dulu sebagai ujian praktek!" ia menghela nafas lega. Dengan modal menyusun ulang original characters yang dulu digunakan untuk salah satu fandom akhirnya Han mendapatkan pencerahan.

Karya yang akhirnya dikenal dengan sebutan Carl Trilogy atau Verano A Dinamarca. Sayangnya belum berlanjut lagi sejak tahun 2013.

Ide Carl Trilogy

"HAAAANNN! LO GALAU YE DENGERNYA ITU MULU!" bentak Ullmann. "Demen banget lagu tenor mendayu-dayu!"

Amor s'en vien, è l'ora gradita,senza il tuo ben dimmi come fai Lolita? – O, love comes, it's (such) a pleasant time, without your goodness, tell me how to live, Lolita?

Kebiasaan Han yang baru mendengarkan lagu galau Italia dan Spanyol. Tentu saja yang mungkin bagi orang Spanyol atau Italia itu adalah lagu sampah dan senjenisnya, tetap terdengar bagus. Gara-gara lagu itu, Han mendapatkan ide untuk melanjutkan Carl Trilogy.

"Isi lemarimu buku galau semua! Cerita cinta galau semua!" Ullmann mengerutkan dahinya.

Han menelan ludahnya. Jangan sampai teman-temannya tahu ia tergila-gila dengan shoujo manga lama, kisah erotis dari Eropa (Han mempunyai beberapa novelnya yang disimpan dalam-dalam), Sailor Moon dan lain-lain.

Kisah Severina dan Carl Alvarez

Berkaitan dengan point sebelumnya.

Gara-gara lagu Lolita (Serenata Spagnola) versi Luciano Pavarotti yang selalu didengarkan setiap hari, setiap saat. Memberi inspirasi baru bagi Han untuk menuliskan kisah mereka secara rinci.

Tak lupa buku-buku tentang pasangan dengan perbedaan usia yang cukup sukses tetapi berhasil dalam hubungan menjadi inspirasi cerita ini.

Kisah Adrianne dan Carl Fredrik

Berawal dari kisah Marisa (sebelum namanya diubah menjadi Adrianne) dan Carl Sørensen, yang namanya tidak diubah sampai sekarang.

Han ingin membuat kisah wanita tomboy yang merindukan kasih sayang ayah tetapi seksi dan mantan tentara yang wajahnya pernah cacat.

Han membongkar-bongkar dokumen di laptop yang masih berbentuk karangan tidak rapi, voila—bisa dipermak menjadi kisah yang baru. Tulisan dari tahun 2010 yang akhirnya dirombak ulang di tahun 2012 dan menjadi bagian Carl Trilogy.

Kisah Francine dan Carl Romano

"Kok yang Carl Romano nggak dilanjutin?"

"Yaah! Yang Romano kapan nih?"

Han pusing tujuh keliling, ternyata—oh—ternyata. Membuat karakter terakhir sebagai pelengkap secara dadakan dan namanya terinspirasi dengan pemain timnas Italia bernama Antonio Cassano adalah petaka.

Sampai saat ini (tahun 2014), justru yang terpakai malah sang anak yaitu Fiorella dalam kisah yang akan diterangkan dalam bagian berikutnya.

Ide Friedrich dan Kiriko. Berulang kali perombakan dan lainnya.

Tahun 2013, kebiasaan baru Han yaitu googling mengenai aktor Jerman maupun Skandinavia. Saat itu mulai mencari-cari filmnya, pertama-tama filmnya Daniel Bruehl dulu baru filmnya August Diehl. Ludwig II versi manga maupun film, Love in Thoughts adalah film favoritnya yang menginspirasi untuk membuat Friedrich dan Kiriko.

Akibat bosan dengan kisah yang biasa-biasa saja dan oom-oom kalem. Harus ada tantangan lainnya yang lebih menggigit.

Han berpikir ingin membuat kisah lainnya di luar Carl Trilogy yang berbeda jauh. Kisah pria dingin tapi bertampang beler dan berjiwa mesum, wanita sok seksi nan kecentilan tetapi menggoda dan masih muda.

2013 masih dalam bentuk dibawah 1000 kata. Judulnya masih Du Bist Wunderbar dengan delapan belas chapter.

Di bulan Desember

"Kok ceritanya kayak ampas gini ya? Ulang lagi ah!" gerutunya kesal. "Tambah karakter lainnya, kurang greget ceritanya!"

Akhirnya ditambah dengan beberapa karakter baru yang sebelumnya seperti Maximillian Schmidt, Juergen Otto, Joerg Wagner dan lain-lain yang terinspirasi dari wajah Matthias Schweighoefer, Thore Schoellermann, Thomas Kretschmann dan Sabin Tambrea untuk penggambaran ketiga tokoh itu. (FYI, mereka semua adalah aktor Jerman yang lumayan oke)

Pasangan Random yang Tiba-Tiba Jadi Tokoh Utama

Bosan membuat kisah pasangan Eropa dengan Eropa lagi akhirnya Han mencoba untuk membuat tokoh lain yang pasangannya Asia.

Perlu waktu yang cukup panjang akhirnya mencoba membuat kisah baru tentang orangtua Maximilian yang salah satunya orang Asia. Untuk ulang tahun teman sih sebenarnya, sesekali membuat tantangan baru nggak apa.

Plan awal Han, tokohnya bernama Wolfgang Schneider dan Leong (belum ada nama ceweknya). Buka-buka akun KasKus ada thread ababil dengan kisah bernama sama antara bule kere dan cewek matre tukang minta traktir akhirnya Han memutuskan menggunakan nama Schmidt.

Berawal juga ngobrol-ngobrol dengan Mauro dan Han di twitter kalau Han mau buat kisah Frau Leong itu aktris Hong Kong yang nyolot tapi masih dibawah umur dan Wolfgang adalah aktor senior. Endingnya mereka jatuh cinta dan diapa-apain. Waktu itu Han membayangkan Wolfgang seperti Michael Fassbender (untung aja nggak jadi, galak gitu mukanya tapi Han tetap demen)

Tidak hanya kisah Wolfgang dan Mei Ling, banyak tokoh minor maupun tokoh baru yang tahu-tahu punya kisahnya sendiri karena Han tidak tega mereka jadi jomblo ngenes seperti Juergen Otto yang akhirnya mendapatkan anak dari Friedrich, Bella Mueller. Atau Ulrich Werner, aktor playboy malas nikah yang akhirnya mendapatkan keponakan Wolfgang yang cantik nan memikat?

Asal usul terbentuk karakter Wolfgang secara utuh

"HAN! JANGAN NONTON FILM MULU!" bentak mamanya saat Han berada di rumah selama sebulan setelah tinggal di perantauan. "BELI MAKANAN DI SUPERMAKET!"

Han nyaris tidak mendengar teriakan ibunya dari kamar. Internet kencang, saatnya nonton semua film Ken Duken, Michael Fassbender, Daniel Bruehl dan lain-lain.

Beberapa film Jerman yang ditontonnya, memberikan gambaran jelas untuk tokoh-tokoh dalam fiksinya. Terutama film-film Duken yang kebanyakan dari Jerman dan Italia, lama kelamaan membuat Han membayangkan sosok Wolfgang secara utuh dan jelas penggambarannya.

—oo00oo—

EXTRA DARI HAN

"Ullmann. Stress skripsi nih! Nonton felemnya Ken Duken yuk!" ajak Han sambil main Cookie Run di androidnya. "Bisa gila lama-lama gw liatnya!"

Bukannya mendapat tanggapan positif, Han malah dilempar bungkus permen. "Ogah! Ntar ada apa-apanya!"

"Nggak bakalan, cyin! Masa gw bohong. Film Frei kok. Ya elah!"

Ullmann mengeryit. "Mukamu sudah mencurigakan begitu. Pasti ada apa-apanya!"

TO BE CONTINUED—

Author notes : akibat stress skripsi jadi beginilah. FYI, cuma dua chapter. Mau menambahkan silahkan, tidak mau tidak apa-apa. Btw Han itu saya.

Review is my vitamin. Keep reading all.