Perkenalan tokoh:

Kay, tokoh sentral pembaca aktif Bagawad-Gita. Seorang murid.

Sukmatama, seorang scholar, guru dari Kay. Penjaga perpustakaan sebuah rumah baca di wilayah terpencil di gunung tinggi.

Rakai, sahabat Kay yang seumuran. Seorang scholar di dunia nyata, atau, ilmuwan, dosen, guru secara formal.

Jayadi, atasan dan sahabat Kay, kadang juga menjadi Guru Kay secara informal.

Sujiwa, sahabat Kay. Bekerja di dunia hiburan sebagai bodyguard/ petugas keamanan (kalau bukan disebut preman)

;

;

Dalam dunia imajinasi kita berbincang tentang Bhagawad-Gita, Guru

;

(written by Rakai Asaju)

;

Kay mencoba untuk kembali berkonsentrasi ketika membuka buku itu, lembar demi lembar. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang ia sendiri baru mempelajarinya beberapa waktu lalu. Meskipun sekarang ia sudah fasih karena banyak berlatih, Rakai memberitahunya kalau buku itu adalah versi terjemahan yang menggunakan gaya lama, bahkan bukan perkara mudah untuk seorang yang bisa berbahasa Indonesia untuk memahaminya. Namun demikian, mengapa Sukmatama memberikan buku itu padanya, itulah yang sebenarnya dipikirkan oleh Kay. Sukma bukan orang sembarangan, dia takkan memberikan sesuatu begitu saja kecuali ada maksudnya. Maksud itulah yang Kay merasa harus ia cerna. Yang jawabannya, tentu termaktub di dalam buku.

Fleksibel saja, pikir Kay. Tahap pertama dalam memahami adalah menjadi gelas kosong, berpikir tanpa belenggu.

Seumur hidupnya hingga saat ini, ia sedikit menghindar teks keagamaan. Tapi ia juga tak mengatakan dirinya tak spiritual, ia meyakini adanya Sang Pencipta sama seperti para ilmuwan meyakini teori Dentuman Besar yang membentuk alam semesta. Ia hanya tak mau pikirannya terkungkung dalam dogma. Sebenarnya, ia rindu untuk berbincang masalah itu. Rakai yang Muslim, mengatakan kalau rata-rata masyarakat lokal masih sangat fanatic daripada open-minded dalam membahas kepercayaan, jadi sebaiknya hindari memperbicangkan itu. Lihat kondisi, situasi dan siapa yang diajak bicara. Pak Jayadi, satu atasannya yang Katolik, juga pernah bilang hal yang mirip.

Jadi, ia hanya membatasi Zen yang dianggapnya netral karena Musashi Miyamoto pernah secara implisit menyebutnya dalam teks Kitab Lima Lingkaran, kitab strategi favoritnya. Satu-satunya kitab yang secara eksplisit menyebutkan tentang ilmu pertarungan, sebagaimana ia memang tak pernah lepas dari dunia itu.

Jadi… buku apa ini? Kay mulai mengamatinya. Sampunya berwarna biru dengan tulisan "Bhagawad-Gita" di sampulnya. Ada gambar dewa Kresna di depannya, denga desain yang sangat sederhana. Sukma berpesan untuk membaca pengantarnya dahulu. By the way, ini sangat mirip dengan nasehat salah satu gurunya, Seunov, bahwa kalau ingin mengetahui isi sebuah buku, maka baca awal dan kata pengantarnya dahulu. Di daftar isi, kau akan tahu bagaimana anatomi sebuah buku, dan mungkin memilah mana yang harus dibaca lebih dulu. Di kata pengantar, terdapat tujuan mengapa buku itu ditulis, membahas tentang apa, dan terkadang menggambarkan pembagian babnya. Sukmatama hanya menyuruhnya memahami kata pengantar dan bab pertama saja. Jangan melangkah lebih dulu.

Tapi, Bhagawad-Gita di tangannya bukan sebuah buku yang ditulis. Ini adalah terjemahan dari syair Bhagavad-Gita, salah satu babak dalam kisah Mahabarata yang ditulis oleh Begawan Vyasa, tentang peperangan Pandawa dan Kurawa. Syair Gita adalah dialog filsafat antara Arjuna dengan Kresna, kusirnya sebelum peperangan di padang Kurusetra dimulai.

Jadi, Kay akan memulainya dengan pertanyaan. Apa yang akan ditulis dalam kata pengantar sebuah buku terjemahan?

Dan pikirannya memberikan informasi tambahan: Terjemahan adalah sebuah proses menginformasikan sesuatu ke dalam bahasa yang berbeda. Artinya, teks ini telah melewati alam pemikiran seseorang yang memahami kedua budaya. Budaya bahasa asli dengan budaya bahasa terjemahannya. Karena, Kay yang pernah hidup lintas benua itu juga tahu, kalau memahami bahasa berarti juga harus memahami budaya. Sama seperti kata "dengkulmu" atau "batukmu" atau "ndasmu" yang bisa diterjemahkan jadi "your ass", atau "kiss my ass". Kenapa dengkul bisa diterjemahkan menjadi bokong, hanya bisa dipahami mereka yang paham dua budaya.

Jadi, alam pikiran yang bagaimana si Amir Hamzah ini? Kay mulai membuka lembaran pertama. Ia berarap akan bertemu dengan tulisan pak atau professor Amir, namun ternyata keliru. Ia menemukan kata pengantar dari seorang pria bernama S. Takdir Alisyahbana (STA). Siapa itu, anggap saja sebuah nama. Karena kalau Kay mengenalinya sebagai… misalnya, seorang presiden, itu akan mempengaruhi penilaiannya. Kay agak kecewa ketika ia menemukan penyebutan yang tidak konsisten dari STA, Amir Hamzah, Dr. Amir, lalu balik Amir Hamzah lai. Heck, lalu dua orang yang disebut ini sama atau beda? Karena bisa saja pak Amir Hamzah menyerahkan naskahnya untuk dinilai seorang doctor bernama sama, atau pak Amir Hamzah menggunakan pengetahuan dan titel doktoralnya untuk menilai tulisannya sendiri.

Kay megacuhkan detail itu dan melanjutkan. Ternyata isi buku itu pernah dibuat di majalah Pujangga Baru, tentunya sebelum terbit juga pernah melewati proses editing dan mungkin editing kesekian kalinya. Kay tersenyum mengingat kemungkinan teks Bhagawad-Gita ini telah disentuh oleh berbagai cerna pikir. "Maka, terberkatilah orang yang suka membaca buku, " Rakai, temannya sering mengatakan begitu (Rakai 'kan mahasiswa doctoral, dia lebih memikirkan buku daripada pacarnya!).

Amir Hamzah adalah seorang Islam yang saleh. Kay sedikit berhenti di kalimat itu. Orang yang menulis terjemahan ini adalah seorang Muslim seperti Rakai, dan juga dirinya. Tetapi ini adalah teks filsafat Hindu. Orang ini luas, dan open minded. Adakah dia mengalami konflik batin ketika menerjemahkannya? Entahlah. Tapi, ia berhasil, buktinya buku ini sekarang dipegangnya. Dan ternyata sepertinya Amir Hamzah berpikiran terbuka, ia pernah menerjemahkan syair dalam bahasa lainnya. Hell, lalu berapa banyak bahasa yang ia kuasai?

Tapi paragraf terakhir kata pengantar itu membuat Kay kesal. STA sepertinya terlalu memuja Amir Hamzah. "Saya yakin bahwa buku ini akan sangat berguna bagi orang yang hendak mengaji dan menyelidiki bahasa Air Hamzah yang padat dan berpuisi, di samping orang yang hendak mempelajari dan menikmati Bhagawad-Gita". Jadi, Amir Hamzah ini gurunya STA, temannya, atau malah muridnya? STA telah melemparkan sebuah janji kepada pembaca tentang buku ini, tentang Amir Hamzah ini, dan Kay berharap kampanye itu akan benar-benar memuaskan ketika ia membuka lembaran berikutnya.

Kay jadi berpikir mungkin di pasaran ada banyak buku terjemahan Bhagawad-Gita versi bahasa Indonesia, sehingga STA merasa perlu menyebut Amir Hamzah di paragraph terakhir mendahului Bhagawad-Gita-nya. Sehingga Amir Hamzah-lah yang membuat buku ini spesial, diantara buku-buku terjemahan lainnya. STA sendiri mengatakannya "khas".

Tetapi, Kay lalu menertawakan dirinya sendiri. Ia mulai meraba maksud Sukma memberikan buku ini. Sukma sedang menertawakan kesombongan Kay. Kay, mungkin menganggap dirinya berpengalaman, namun mempelajari sesuatu yang memanjang mulai dari tanah Sumatera hingga pulau Jawa membuatnya terus menerus berpikir. Ia memang tak asing dengan syair Bhagawad-Gita, dan baru pertama kali ini ia benar-benar berusaha membacanya. Catat, membaca. Menjalin pikiran dengan diri sendiri.

Penyakit rasa bersalah yang akhir-akhir ini menderanya memang seringkali menghambatnya untuk melakukan apapun. Rasanya itu tak bereda dengan Arjuna yang nglokro sebelum perang. Rasanya Kay memang belum punya keberanian untuk dealing dengan rasa bersalah, mengingat ia masih menggunakan rasa bersalah itu sebagai salah satu kompas untuk hati nuraninya. Namun, masalah hati nurani, rasa-rasanya Sukmatama mau menunjukkan bahwa bukan hanya itu saja yang perlu dipahami. Ada yang lebih rumit, ada yang mungkin perlu diketahui dibalik sesuatu yang bernama rasa bersalah itu. Kadang ia memang berpikir, rasa bersalah itu membuatnya seperti hampir berada di batas kegilaan. Ia memang tipe orang berotak kiri yang sangat rasional, kalau bukan berdarah dingin. Maka mungkin jiwanya menciptakan satu mekanisme penyeimbang bernama rasa bersalah. Tetapi, dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya sekarang, rasa bersalah justru menjadi penghambat. Ia perlu mendalami kebenaran dengan murni, mendalam, bebas dari kungkungan rangka dan suasana. Rasa bersalah itu, diciptakan masih terbingkai dalam rangka dan suasana. Rasa bersalah itu terkait dengan etika, budaya, dan kebiasaan. Mungkin, rasa bersalah yang ia ketahui selama ini bukanlah rasa bersalah yang sebenarnya.

Dan mungkin, untuk memahaminya, ia perlu untuk bergulat dengan rasa bersalah itu. Menyadari, memahami dan mengetahui sakitnya, siksaannya dan serangannya secara mendalam. Ia harus merengkuhnya untuk mengenalinya, tanpa kehilangan kompas hati nurani yang sebenarnya. Mungkin ini adalah tabir yang berikutnya yang harus ia sibak.

Mungkin, Kay akan membuka kembali buku-buku filsafatnya. Juga kitab suci.

Dan juga mencari informasi tentang karya lain Amir Hamzah, Setanggi Timur.

Menarik.

;

;

bersambung