Chapter 1

Di dunia ini, nyawa tidak berharga lagi. Bahkan fisik manusia hanya senjata belaka. Yang terpenting adalah otak dan akal, sesuatu yang harus dilindungi lebih penting dari nyawa. Tidak semua memiliki cukup potensi untuk melindungi akal mereka. Maka orang-orang sepertinya, terpilih oleh 'takdir' untuk mengemban tugas berat.

"Kemarilah, kau harus bertanggungjawab." Miine berbicara di keheningan, menimbulkan gema dalam gema. "Kau yang telah memberikanku mata ini."

"Bukan aku, Mii, bukan aku. Tetapi pencipta kita."

"Lalu siapakah pencipta kita?"

Orang yang berdiri di depan Miine adalah seorang gadis berfisik relatif mirip dengannya. Yang membedakan hanyalah orang itu benar-benar gadis, dengan paras cantik dan tubuh molek. Berbeda dengan Miine yang lebih condong ke tampan dan manis di saat bersamaan. Tetapi dari wajah, nyaris tidak ada perbedaan.

Ia menggunakan pakaian bermodel aneh, perpaduan antara gothic dan pakaian tempur China kuno, seperti karakter dalam game. Tetapi dalam era kini, hal seperti itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan.

Gadis cantik itu menyeringai, memilih tidak menjawab sepertinya. Ia merogoh sesuatu dari balik saku mantelnya. Tangannya sudah menggenggam dua buah benda bulat bergaris-garis cahaya merah menyala. Granat.

Dengan sekuat tenaga dilemparkannya benda itu, menimbulkan suara 'BOOM' ketika menyentuh lantai. Kepulan asap membumbung dalam beberapa detik. Miine harus menutupi sebagian wajahnya agar tidak kemasukan asap. Begitu asap berangsur-angsur hilang, Miine tinggal seorang diri di tengah bangunan runtuh tersebut.

"Kubiarkan kali ini kau lolos. Tetapi pertemuan selanjutnya, tidak ada ampun bagimu."


Antivir Heroes

Presented by Eternal Thunder

Chapter 1: Mirell Alessia


Sachi datang membawa wadah berisi air hangat dan handuk kecil yang disampirkan di bahu. Ia duduk di sofa. Miine tengah menyandarkan punggungnya, sebelah tangannya menutupi kedua mata dan tangan yang lain menggenggam perban berbercak merah.

"Apa terasa sakit?"

"Tidak. Sama sekali tidak terasa."

Sachi mengerutkan dahi. Ia mencelupkan handuk pada air hangat. Miine memajukan wajahnya kemudian, memperlihatkan mata kirinya yang berdarah. Dengan penuh kehati-hatian Sachi membersihkan aliran darah.

"Lalu, apa sebenarnya pemicu dari hal ini?"

"`Orang itu` pastinya. Dia yang telah mengarahkan lasernya pada mataku. Mungkin medan sihirnya beresonasi terlalu kuat."

"Akan kuteliti lebih jauh." Sachi fokus memandang bola mata dengan pupil berbentuk pedang, mata abnormal pemberian 'orang itu'.

"Terimakasih, aku mengandalkanmu. Kau yang paling jenius di antara mereka." Sachi tersenyum simpul mendengarnya. "Omong-omong, maaf aku tidak bisa mengingatnya."

"Mengingat apa?"

"Dengar ini, Sachi. Kau adalah orang pertama yang kutemui sangat mirip denganku. Kau bilang adalah kembaranku, dan aku menerimanya. Semua masuk akal kurasa. Dan ketika kau menceritakan semua kenangan dalam kepalamu, aku sama sekali tidak mengingatnya. Bukan hanya aku, tetapi Fumito juga. Tidak ada di antara kami yang merasa melupakannya."

"Lalu beberapa minggu kemudian, kutemukan Gress, orang kedua yang memiliki fisik mirip denganku. Apa aku memang memiliki dua orang kembaran? Apa Ibu melahirkan banyak anak dalam satu waktu? Atau bahkan kita sebenarnya tidak memiliki seorang Ibu yang melahirkan kita? Tidak ada yang mengetahuinya, Sachi. Semua terlupakan begitu saja. Dan ingatanku semakin buram ketika aku mendapatkan mata ini."

Sachi baru saja selesai melakukan pekerjaannya ketika Miine meneguk ludahnya setelah selesai bicara. Ia memasukkan handuk itu ke dalam wadah, dan beranjak menuju dapur. Senandung riangnya terdengar tak lama kemudian. Ia menghampiri Miine dengan wajah tenang dan senyuman simpul.

"Semua yang ada di dunia ini adalah misteri. Dari hal yang dapat kau lihat, hingga yang tersirat sekali pun, masing-masing memiliki makna khusus. Begitu banyak hal tersembunyi yang belum diketahui manusia, dan semua itu adalah misteri yang menarik untuk dipecahkan. Kita di sini untuk mencari tahu kebenarannya."

Miine ikut tersenyum. Rasanya lega sudah menumpahkan apa yang ada di dalam kepalanya. Sachi memang orang yang tepat, sesuai dengan perkiraannya. Mereka sudah hidup bersama 5 tahun terakhir ini, dan waktu selama itu mereka habiskan untuk memahami satu sama lain.

Sebuah jam tangan persegi dengan screen touch mengedipkan sinyal kehijauan. Kecil dan berulang-ulang. Sachi menyentuh layarnya sekali dengan jari telunjuknya yang lentik, dan benda itu langsung menampilkan layar virtual yang menggantung di udara bebas.

Apa yang dilihat Sachi adalah wajah seorang pemuda bersurai coklat dari layar virtual. Pemuda dengan garis rahang yang kuat, mencerminkan bentuk sejati seorang pria. Di samping penampang pria itu terdapat spectrum analyzer berbentuk dots.

"Miine disana?" Pria di seberang tampak berusaha menatap ke samping Sachi, membuat wajahnya dekat dengan kamera.

"Ya."

"Aku ingin berbicara langsung dengannya. Aku tahu dia harus beristirahat, tapi ini penting."

"Kau dengar itu Mikkun?" Sachi menatap Miine yang mengangguk dengan mata terpejam. "Ya, tentu. Kau bisa kesini secepatnya. Aku akan menyiapkan makan malam. Kau harus ikut bersama kami."

"Ah, tentu. Aku rindu saat-saat dimana kita makan malam bersama. Tunggulah, aku akan sampai dalam satu menit."

Layar virtual milik Sachi lenyap. Matanya langsung bertatapan dengan mata kanan Miine. Dilihatnya mata kiri yang mengeluarkan darah sudah diperban dengan rapi.

"Aku heran dengan bagaimana kalian menggunakan teknologi. Dari jarak berpuluh-puluh meter bisa ditempuh hanya dengan satu menit."

"Well, kami mengolaborasikan sihir dengan teknologi, Sachi. Sesuatu yang wajar untuk seorang Antivir seperti kami. Bukankah seharusnya kau lebih mengetahuinya?"

Sachi mendesah, wajahnya menengadah. "Seandainya aku bisa menggunakan sihir juga. Nah, sekarang aku akan pergi memasak. Fumito pasti segera tiba di depan pintu. Sebaiknya kau pergi menyambutnya."

Miine menunggu hingga Sachi masuk ke dapur, dan ketika itulah bel berbunyi. Ia berjalan ke depan pintu dan menatap wajah Fumito yang tampak pada layar pemindai yang dipasang di dekat sana. Maka ia lekas membukanya, dan mendapati Fumito tengah mengamati penampilannya secara kesuluruhan.

"Hanya sebuah celana seperempat dan kemeja putih dengan ukuran yang sama denganku,. Orang akan sulit mengenalimu sebagai gadis, Miine. Terutama dengan dadamu yang seperti papan itu."

"Apa peduliku tentang pendapat orang-orang?" Fumito masuk dan melepas sepatu yang ia gunakan di dekat rak. Seperti kebiasaannya, ditaruh begitu saja di lantai. "Sudah kubilang, aku ini laki-laki yang terjebak dalam tubuh perempuan."

"Hahaha.." Fumito tertawa geli. Ia sudah menyusuri rumah terlebih dahulu ketika Miine membungkuk untuk menaruh sepatunya ke dalam rak. "Itu candaan yang garing, tapi kau berhasil membuatku terawa, Mii. Hubungan sahabat sejak kecil memang sedikit unik. Tetapi Mii, kau seharusnya mencoba sesuatu yang girly sesekali. Seperti menggunakan dress merah muda atau mungkin mengenakan bandana. Paling tidak kau harus memikirkan jodohmu di masa depan."

"Dunia ini medan pertempuran, Fumito. Aku tidak tertarik pada hal seperti itu. Dan takdirku adalah hidup sebagai senjata, bukan manusia. Menghasilkan keturunan hanya akan mempurburuk keadaan."

"Sungguh pemikiran yang buruk." Fumito mengejek. "Minimal kau herus mengetahui tentang cinta."

Miine diam di ambang pintu. Fumito menatapnya penuh tanya dari sofa. Keduanya hanya bertukar pandangan selama beberapa detik. Miine akhirnya duduk di samping Fumito. "Sebenarnya apa itu cinta? Jenis teknologi yang baru? Bagaimana kualitas fiturnya? Aku akan menggunakan lisensiku kembali jika itu memang berguna untuk pertempuran."

Rasanya Fumito ingin menampar wajahnya sendiri. Sejak awal ia memang bodoh membahas hal seperti itu. Hidup Miine hanya untuk memburu dan diburu. Tidak untuk cinta, tidak untuk kehidupan normal. Dia penyuka hal-hal yang memacu adrenalin, Fumito paham.

"Jadi, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"

Fumito menyentuh jam tangannya. Omong-omong, benda itu dinamakan fanscreen, terobosan terbaru pengganti ponsel, komputer, atau segala jenis teknologi di masa lalu. Dengan lahirnya penemuan layar virtual yang serba guna, penggunaan komputer hasil revolusi hanya dipusatkan pada perusahan-perusahaan besar.

Layar virtual yang menggantung digesernya ke depan dada, agar Miine dapat menjangkaunya juga. Fumito menyentuh beberapa menu di berbagai sudut, dan muncullah potret seorang gadis yang tersenyum layaknya karakter loli dengan masker menutupi sebagian wajahnya.

"Dia.."

Gadis itu berambut keperakan, nyaris seperti putih gading. Modelnya ponytail dengan tatanan rambut depan yang agak mirip Miine. Fumito menggeser telunjuknya ke samping. Potret lain gadis itu membuat Miine tercekat.

"Orang keberapa?" Fumito bertanya

"Enam." Miine menjawab dengan wajah ditekuk. "Siapa dia?"

"Mirell Alessia, siswa pindahan dari luar negeri. Dia akan memulai sekolahnya besok." Ada sebuah kotak menu kecil dengan icon kertas yang ditumpuk di sudut layar. Ketika ditekan, sebuah data muncul dan dibaca baik-baik oleh keduanya.

Miine mengambil alih layar kemudian. Fumito membiarkannya saja. Gadis berperawakan laki-laki bishie itu sibuk mengobrak-abrik puluhan data yang sudah difolderkan. Fumito sibuk memfokuskan pandangan untuk menembus kegelapan. Ia berusaha melihat Sachi yang ada di dapur. Aroma harum masakan sudah dapat tercium dari sini. Tapi fokusnya terpecah ketika terdengar Miine meracau.

"Ada apa?"

"Ada yang kurang. Tak ada penjelasan mengapa Mirell selalu menggunakan maskernya. Aku yakin dia tidak sedang flu. Tidak ada influenza yang awet bertahun-tahun."

"Yah, kau tahu.." Fumito mematikan layar virtual. Ia menyandar dengan wajah menengadah menatap langit-langit rumah yang tinggi. "Dia juga seorang Antivir. Wajar jika dia tidak mau menunjukkan apa yang ada di dalam maskernya. Seperti halnya kau dengan mata kirimu dan Gress dengan kedua matanya. Mungkin mulutnya itu merupakan titik pangkal sihir atau sebagainya."

"Dia berbeda. Ini bukan tentang senjata rahasia atau sebagainya." Miine menyentuh perban yang melilit kepalanya. "Ada suatu saat dimana kau harus melindungi sesuatu yang sangat berharga, dan dihadapkan dengan pilihan yang berat. Pada saat-saat itu, aku maupun Gress, lebih memilih menggunakan senjata rahasia kami, sekalipun kami sangat benci akan hal itu."

"Yeah, kau tahu, itu mungkin sesuatu hal yang lain. Aku bisa mengerti kenapa kau berfikir seperti itu, Mikkun. Sepuluh terkahir ini, semenjak ia menjadi Antivir, tidak ada satupun foto yang menampakkan ia tanpa masker." Sachi masuk sembari melipat apron. Ia tersenyum pada Fumito yang menatapnya dengan seringai lelah. "Dan fotonya kebanyakan saat tersenyum. Ia murah senyum sepertinya. Kalian akan mengetahuinya besok di sekolah. Sekarang lebih baik makan malam."

. . .

Aozora High School, sekolah di atas langit yang paling elit. Yeah, sekarang ini semua sekolah terletak di atas langit. Bagaimana pun generasi muda perlu yang namanya pendidikan. Dan untuk menghindari perburuan otak yang meluas—jikalau suatu saat terjadi error programs—maka penggabungan teknologi dan sihir mampu membentuk fasilitas seperti itu.

Karena suatu hal, Miine harus berangkat bersama Karashu, si jenius di antara para jenius. Tetapi seperti rumor yang beredar, pria itu seperti mayat hidup. Tidak pernah menampilkan eskpresi apapun. Mata safirnya selalu kosong dan wajahnya terlihat dingin.

"Karashu, kita terlambat 15 menit. Aku bisa mengantarmu ke sana dalam sekejap kalau kau mau." Miine berkata. Mereka saat ini tengah 'berlari' dengan sepatu roda hasil revolusi, dimana tenaga yang digunakan adalah padatan mana di dalam selongsong, bukan lagi otot manusia.

"Tidak perlu, kau bisa berangkat lebih dulu." Jawaban Karashu datar. Pria mungil berparas manis itu meningkatkan kecepatannya tiba-tiba. Ada kilatan cahaya ketika benda itu melesat cepat.

Miine berhenti. Ia menatap Karashu yang semakin dekat dengan teleport circle, medan sihir yang akan membawamu ke atas sana. Miine tersenyum samar. Matanya masih memandang ke kejauhan. Dalam hati kecilnya, ia penasaran akan seperti apa jika sosok Karashu dihiasi kurva kecil. Mungkin akan terlihat seperti gadis yang manis.

Maka Miine kemudian menyentuh sebuah menu di layar virtual fanscreen-nya. Sebuah lingkaran sihir dengan desain lebih rumit muncul di bawah telapak kakinya. Beberapa detik setelahnya, ia sudah bisa merasakan angin yang muncul dari bawah, seolah datang dari dimensi lain. Cahaya kemerahan merambat tinggi, lurus dan menyatu, mengurungnya dalam cahaya halus nan tipis. Ketika partikel-partikel berkilauan mulai muncul, dirinya ikut menghilang bersama redupnya cahaya itu.

Satu detik kemudian, Miine sudah berada di depan sebuah pintu besar bercat putih gading. Pintu yang menggeser otomatis ketika Miine mendekatkan diri satu langkah. Semua perhatian langsung teralihkan padanya, dan Miine tahu kalau ia pasti akan kena semprot Ame-sensei seketika.

Tetapi ketika melihat ke depan kelas, Ame-sensei hanya tersenyum maklum. Tangannya tampak merangkul pundak seorang gadis muda, dengan pakaian berwarna pekat. Ah, itu pasti seragam baru. Aromanya bahkan sudah dapat tercium dalam jarak beberapa meter. Gadis itu berambut keperakan diikat ponytail. Ia tengah menulis sesuatu di papan tulis yang beberapa tahun terakhir tidak terpakai lagi. Ia sadar kalau itu adalah si anak baru yang ditunjukkan Fumito kemarin.

"Jadi Eikoniko, bisa kau jelaskan mengapa kau terlambat?"

Miine terdiam, memikirkan jawaban yang tepat. Ketiak itulah Mirell si anak baru menoleh. Matanya menutup, membentuk lengkungan mata tersenyum seperti gadis moe. Dengan penasaran Miine menatap sebagian wajahnya, yang untuk pertama kalinya tidak menggunakan masker. Dan ketika itu juga ia merasa pipinya basah.

"Mi-Miine, kau baik-baik saja?! Matamu berdarah!"

Tubuhnya kaku. Ia tidak bisa bergerak. Matanya seolah diprogram untuk terus menatap bibir Mirell. Kedua mata membola, dan ia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk menghapus aliran darah di mata kiri.

Clak. Ia bisa mendengar tetesan darah yang membentur lantai. Ame-sensei mendekatinya dengan tergesa, dan seluruh teman-temannya tampak menatap dengan ketakutan. Dalam hati ia meminta maaf, dan berjanji akan membersihkan noda darah itu ketika tubuhnya kembali normal.

Tapi apa yang ia rasakan kemudian benar-benar terasa menyiksa. Seperti ada pedang yang menusuk tengkorak belakang hingga menembus wajahnya. Ngilu benar-benar terasa. Miine menundukkan wajahnya sembari menjambak rambutnya sendiri. Rasa sakitnya bahkan lebih kuat dibangdingkan ketika ia jatuh dari lantai 20 dan hampir amnesia.

Ketika sakit, ada beberapa cara yang digunakan manusia untuk meredamnya. Pertama, memejamkan kedua mata dan memfokuskan otak agar bekerja untuk menangkal rasa sakit. Kedua, menangis dan merintih. Itu hanya dilakukan bila memang putus asa. Dan ketiga, berteriak sekeras mungkin.

"Arrrggghhhh!" Maka Miine menjerit sekeras mungkin. Wajahnya menengadah dan mulutnya terbuka lebar. Perban di kepalanya mengendur dan terlepas dengan sendirinya. Aliran darah semakin deras keluar. Ubin putih gading bercampur dengan air liur Miine, yang tak kuasa menahan rasa sakitnya.

Miine segera bangkit, dan berlari sekencang mungkin ke tempat sepi dimana ia bisa bebas berteriak tanpa membuat keributan. Sakit di kepalanya masih terasa berdenyut-denyut. Ia berlari dengan tubuh terhuyung-huyung, bahkan sempat menubruk dinding di sebelah pintu masuk.

Atmosfer kelas terselimuti oleh keheningan. Kengerian tergambar jelas di wajah mereka. Bahkan beberapa di antaranya yang memang memiliki semacam trauma dan phobia terdapat monster dan sejenisnya, sudah gemetar hebat di tempatnya. Hanya Mirell, si anak baru, yang masih mempertahankan senyumnya.

"Sensei!" Dari pertengahan, seorang gadis dengan kedua mata yang diperban bangkit dari duduknya dengan dada naik turun. "Biarkan aku mengejar Mii!"

"Ah, tentu Gress."

Gress segera berlari menuju pintu keluar. Normalnya, manusia biasa tidak akan bisa melihat dengan kedua mata diperban seperti itu. Tetapi Gress bukanlah manusia normal, paling tidak sejak 3 tahun yang lalu.

Mirell memandang kepergian Gress masih dengan senyum yang menawan. Tetapi kemudian alisnya tertekuk ke dalam. Dan dengan bibir yang melengkung abadi, Mirell tampak seperti boneka pembunuh yang menyeringai kejam.

. . .

Mengatur pernafasan selalu membuatmu merasa lebih baik. Ketika emosional, tegang, malu, atau hal yang lainnya. Menggunakan sesuatu yang dingin juga terkadang efektif. Seperti pergi ke tempat yang sunyi dan hanya kau sendiri di sana, kemudian merenungkan segala hal yang terjadi. Atau mungkin berguyuran di bawah shower atau atau hujan, menangis sejadi-jadinya dan membiarkan semua tersalurkan lebih baik dari pada memendamnya dan membuat hatimu terbebani.

Di atap dengan angin semilir yang hangat, Miine berusaha menetralkan nafasnya yang menggebu-gebu. Sakit di kepalanya berangsur-angsur hilang, tetapi darah masih mengalir. Sejak dulu, sejak beberapa tahun terakhir ketika matanya mulai menampakkan sesuatu yang tidak wajar, ia tidak pernah memecahkan cara untuk mengatasi aliran merah tersebut. Tidak ada pembuluh darah yang pecah, dan tidak menimbulkan rasa sakit, bahkan pihak medis pun tidak mengerti. Itu sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka, manusia jenius yang lebih sering berpikir logis dari pada berimajinasi.

"Mii-chan kah?"

Seorang pria dengan postur tubuh mungil dan tinggi yang hanya mencapai telinganya berdiri menyandarkan punggung pada kawat pembatas. Itu Kaito, gadis dalam tubuh pria—menurutnya—yang sepertinya tengah membolos.

"Yo."

"Apa apa? Kau seperti baru dikejar anjing galak."

"Anjing galak tidak berarti apa-apa untukku. Aku bisa menendangnya kalau aku mau." Satu tarikan nafas panjang dan Miine kemudian berjalan sembari menyentuh matanya. Aliran darahnya berhenti secara tiba-tiba. Tetapi beberapa ada yang mengenai telapak tangannya.

"Mii-chan! Matamu! Matamu!" Terkejut, gadis dengan surai pirang itu segera menghampiri Miine.

"Aku tidak apa-apa."

"Kau harus pergi ke Ruang Kesehatan!"

"Maksudmu tempat dengan bau obat menyengat itu? Tidak, terimakasih. Aku akan duduk dan menenangkan diri di sini." Aliran nafasnya masih sedikit cepat. Miine butuh istarahat untuk beberapa menit. "Kecuali kalau kau mau mengambilkanku air hangat dan handuk kecil. Ah, dan segulung perban."

"Tentu. Aku akan melakukan itu untukmu. Tunggulah disini!"

Kaito berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa sehingga menghasilkan suara yang teramat bising. Miine mengukir senyum simpul. Ia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya. Tubuhnya terasa lemah, seperti tenanganya terkuras habis. Resonasi medan sihir yang luar biasa. Sampai sekarang bahkan Sachi pun tak pernah mengetahui hal apa yang akan membuat matanya beresonasi.

Tetapi bila dipikirkan dengan cermat, mungkin ini semua berhubungan. Hanya ada beberapa hal yang tidak sinkron, tetapi itu jarang sekali terjadi. Misalnya ketika ia pulang berduel dengan gadis 'itu' kemarin, atau juga ketika ia melihat Karashu di bawah guyuran air terjun di tengah hutan 2 tahun yang lalu. Tetapi di antara dua atau lebih kejadian itu, tidak ada yang sampai membuatnya merasakan sakit.

"Ada banyak hal yang menjadi misteri. Dalam dunia dengan kemajuan teknologi dan sihir, akan sangat sulit menentukan fakta dan rekayasa. Ingatan seseorang bisa dimanipulasi, dan 'hati' bisa dibuat begitu saja. Dan yang sejak dulu aku herankan, apa aku ini memang tidak mempunyai hati manusia?"


TBC