I've Lost You

.

Litte Yagami Osanowa

.


Kehilangan dirimu adalah sesuatu yang tak terduga olehku. Begitu cepat juga menyakitkan. Aku berpikir 'bukankah waktu itu aku melihatmu tersenyum kala kita bertemu di depan Sekolah lama kita', Ku ingat kau menceritakanku tentang kehidupanmu beberapa bulan belakangan ini dengan penuh semangat dan tak akan pernah kulupakan kau juga mengajakku untuk menghabiskan libur bersama-sama—melakukan sesuatu yang sering kita lakukan berdua—Tak kusangka, semua itu hanyalah sandiwara belaka. Tidak dapat terlihat olehku bahwa dirimu tengah tersiksa… Aku tak pernah menduga akan mengunjungimu malam dini hari di kediamanmu hanya untuk melihat dirimu kini tengah terbaring begitu rapuh.

Apa yang terjadi?

Bukankah kau yang ku kenal tidak seperti ini?

Kemanakah perginya tawa dan senyuman itu?

Semuanya telah sirna—hilang tak berbekas… meninggalkan ribuan tanda tanya besar…

Aku hanya bias memandangimu dari tempatku berdiri—berdiri layaknya batu karang yang kokoh meskipun deburan ombak mencoba untuk membuatnya goyah. Tetapi kau tahu aku tidaklah sekuat batu karang itu—cepat atau lambat, diriku akan jatuh… pikiranku masih terus berdebat antara mempercayai atau tidak dengan apa yang kulihat di depan mataku saat ini.

Apakah ini benar-benar dirimu hei, kawan?

Aku bisa mendengar dengan jelas tangisan Ivy di pintu masuk ruangan. Tangis menggelegar di dalam tempat berkabung yang sunyi ini. Aku dapat melihatnya melalui ekor mataku, Ia menggenggam erat bunga yang sejak tadi dibawanya dari rumah. Tubuhnya meronta sambil merancau tidak jelas tentang kejadian yang ia lihat—beberapa kerabat maupun teman-teman berusaha menenangkannya. Bahkan penjelasan dari Lynn—seseorang yang bijaksana diantara kami—tidak dapat menenangkan kekalutan dalam hati Ivy yang tetap meraung tidak terima.

Dimana ada pertemuan disana juga ada perpisahan—Lebih mudah mengucapkan 'Hai, siapa namamu' dibandingkan mengucapkan 'Selamat Tinggal'.

Semua orang tahu itu…

Sekian lamanya Ivy meluapkan segala perasaannya dengan memeluk para teman-teman yang mengelilinginya saat itu. Gadis bertubuh perkasa itu segera memberanikan dirinya untuk berjalan menuju tempat sahabat 'terbaiknya' itu menanti. Tangannya masih menggenggam sehelai bunga mawar pekat yang indah tak ternoda itu ditangannya—berusaha memanggil seluruh kekuatan yang tersisa dalam tubuhnya ia menghela napas pelan dan berdiri tepat di sampingku.

Aku tahu ia menoleh sesaat untuk melihat keadaanku—Aku tahu tatapan yang ia tujukan kepadaku, tetapi aku tidak bisa membalasnya. Bibir ini terasa kaku hanya untuk berkata-kata.

"…Hei…" gumamnya padaku "Aku—sudah melakukan hal yang berlebihan ya…" tambahnya

Tetapi aku hanya diam tak menjawabnya, aku tetap berdiri disana dan tak melakukan apapun. Bahkan aku merasa kakiku sudah tertanam diatas tanah yang kupijak—tak bisa kugerakan kemana-mana.

"…Aku ingin mengucapkan selamat tinggal…Selamat tinggal untuk selamanya…" lirih Ivy memandangi sosok rapuh itu, suaranya serak akibat terlalu banyak menangis tadi "Aku ingin kau selalu bahagia—Karena kau adalah bagian dari kami… selalu… teman kami semua—Kami selalu mendoakan yang terbaik…selalu yang terbaik…Maaf, aku hanya bisa memberikan ini untukmu. Aku harap kau menyukainya… pemberianku untuk terakhir kalinya…" Ia meletakan bunga mawar itu bersama dengan bunga pemberian yang lainnya, air mata mulai kembali membasai wajahnya meskipun ia berusaha untuk menahannya.

Hening untuk beberapa saat—hingga aku merasakan tangan gemetar itu di bahuku.

"Kau… juga harus mengucapkan itu padanya…" ucapnya pelan sebelum berlalu meninggalkanku.

Beragam bunga menghiasi tidurmu yang cantik—wajahmu yang kini bagaikan boneka dengan kulit seputih salju. Begitu kaku dan rapuh hingga aku takut melukaimu dengan sentuhanku.

Tidak bisakah kau membuka mata itu untuk melihatku—untuk mendengarkan apa yang akan ku katakan padamu…

Aku menarik napas dalam-dalam dan mengepalkan tanganku dengan erat—seerat mungkin hingga bisa kurasakan kuku-kuku itu melukai telapak tanganku. Sebisa mungkin aku berusaha untuk bertahan dari gejolak perasaan yang dahsyat ini—Percayalah aku berusaha meredamnya hingga saat terakhirku nanti…

"Hai…" Pada akhirnya aku bisa menggerakkan bibirku hanya untuk menyapamu, gigiku bergemerutukan tak kunjung berhenti—sesekali aku menyeka mataku mencoba menghalangi air mata yang akan menghalangi pemandanganku tentang dirimu "Aku… Tidak tahu harus mulai dari mana… Tapi aku juga sama dengan Ivy… Kau tahu… Tidak mempercayai semua ini dan berpikir ini hanya mimpi atau lebih tepatnya sebuah lelucon—Tapi karena aku sudah menampar pipiku sendiri sebelum masuk kemari hanya untuk membuktikan ini bukanlah mimpi… Aku tahu ini nyata… Kenyataan yang mengerikan kalau aku harus menambahkannya…"

Jemariku kini bergerak menyentuh pinggiran kayu oak yang telah terukir indah itu dan menggenggamnya dengan erat. "Ironis sekali… Saat aku melihatmu… Aku merasa kau hanya sedang tertidur pulas sama seperti saat kita menginap—tapi bedanya, sekarang kau tidak akan membuka kelopak mata itu lagi untuk melihat sekelilingmu dan mengucapkan selamat pagi… Kau akan tertidur… seperti Putri Aurora…"

Aku tertawa pelan memandanginya "Ah—Mungkin aku juga harus mencarikan seorang Pangeran untukmu. Siapa tahu mungkin kau bisa bangun kembali seperti apa yang dikatakan dongeng…" kicauku

Hening.

"Seharusnya aku tahu… Tapi aku tidak menghetahuinya sampai sekarang—Dan ketika aku bisa mengetahuinya… semuanya justru sudah terlambat. Aku tidak pernah berpikir suatu saat ini akan terjadi… Aku merasa gagal menjadi temanmu…" lirihku kemudian meletakan rangakaian bunga Lily yang kubawa itu di genggaman tangan yang kin terbalut sarung tangan putih itu. "Aku tahu kau sangan menyukai bunga Lily—Kau pasti senang karena aku khusus membelikannya untukmu. Anggaplah ini hadiah yang terakhir dariku—Jadi kau harus menjaganya baik-baik karena seluruh tabunganku sudah ku keluarkan demi membeli satu rangkaian penuh." celotehku lemah kemudian tersenyum tipis.

"Kau adalah sahabatku…" bibirku kini sudah bergetar tak karuan dan aku tak bisa lagi membendung air mata yang kini sudah jatuh membanjiri kedua pipiku "Aku tahu kau selalu bilang aku terlihat jelek kalau menangis—Kau… Jangan mengejekku… Aku hanya akan menangis untuk hari ini saja… tidak lebih... Bodoh… Dasar bodoh… Kau bodoh Angie—Kau teman yang bodoh… hiks… hiks…" isakku pada akhirnya "…Valerie bodoh… Kenapa… Kenapa kau tidak pernah memberitahuku… Kenapa!..."

Dan aku tahu—yang aku dapat hanya keheningan tanpa jawaban di dalamnya…

Tidak akan ada yang bisa menjawab…

Kenapa dan Bagaimana bisa ini terjadi…


Author Note:

Setelah sekian lama akhirnya kembali lagi ke Fictionpress *cium akun* hampir terlupakan memang tapi setidaknya masih ingat sama aku yang satu ini~ Cerita ini didasarkan dengan pengalaman pribadi, begitu juga dengan nama para tokoh dalam karya fiksi original ini. Cerita ini juga ditulis sambil tune up song Ayak soundtracknya Doraemon Trust me! It's a sad song :(

Anyway thank you for enjoying the story, Mind review?