Nyanyian Sunyi Sang Pejuang


Sorak sorai sayup-sayup terdengar dari balik kastil batu yang menjulang di atas bukit. Namun bukanlah kebahagiaan yang sedang mereka rayakan. Melainkan sebuah kemenangan yang belum teraih – yang yakin akan mereka dapatkan esok hari. Kemenangan yang akan digenggam diatas ratusan tubuh tak bernyawa. Namun itu tak jadi soal bagi manusia, karena godaan yang ditawarkan oleh sepotong kejayaan terlampau menggiurkan untuk ditolak. Hanya manusia bodoh yang akan menampik kejayaan, begitulah yang mereka katakan.

Effeldin, sebuah kerajaan dengan kekuatan militer yang mumpuni di atas Negeri Putih yang diberkati oleh Ibu Bumi. Tangan ksatria-ksatria setia mereka yang handal telah mempersembahkan apa yang diinginkan oleh sang raja yang haus akan kekuasaan. Kerajaan-kerajaan yang bertekuk lutut dibawah panji Effeldin.

Pesan perdamaian Sang Ibu yang digemakan oleh para priestess telah dikhianati oleh putra-putranya sendiri. Tiadakah yang mengingatnya? Tiadakah yang menyadarinya? Suara kebenaran itu telah tenggelam dalam sorak-sorai mabuk. Bilamana noda ini terus berlanjut, niscaya dunia ini bakal berakhir dalam api dan es.

Hari menjelang senja. Waktu telah menggiring matahari ke balik gelap pegunungan, meninggalkan semburat warna-warni yang kontras di langit yang pucat. Angin dingin yang sepertinya berasal dari musim yang telah berlalu berhembus, seperti enggan menyerahkan tempatnya pada musim semi.

Seorang pria berdiri di atas tembok terluar kota, mengawasi matahari tenggelam. Wajahnya tidak terlihat, tertutup tudung jubah yang dikenakannya. Angin sore yang bertiup perlahan membuai hatinya yang tengah murung, menanggung sesal dan rindu pada hal-hal yang tidak teraih olehnya.

Ia rindu pada masa lalu, ketika dunia terasa lebih baik. Walau banyak sekali hal yang kala itu dikeluhkannya, namun saat ini ia menyadari bahwa saat itu ia merasa lebih bahagia. Kini ia menyesal atas hal-hal yang telah terjadi – hal-hal yang tidak bisa diubahnya.

"Sir Allen," satu suara wanita muda.

Yang disapa menoleh. "Lady Branwen," sambutnya sambil mengangguk hormat. Ia membuka tudung jubahnya, menampakkan mata biru dan rambut gelap yang membuat wajah pria itu terlihat pucat.

"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini sementara orang-orang mempersiapkan diri untuk perang besok?" tanya Branwen.

Allen tidak tahan untuk tidak mendengus. "Mereka sedang berpesta untuk merayakan perang besok."

"Mereka bersulang untuk merayakan hidup mereka. Barangkali ini adalah malam terakhir….," Branwen menelan ludah. "….. Malam terakhir bagi beberapa orang diantara mereka."

"Sang Pencabut Nyawa akan sibuk besok," timpal Allen acuh tak acuh.

"Kau tidak pernah cocok dengan sarkasme, Sepupu," sahut Branwen.

Allen hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban pada sang putri.

Cahaya terakhir hari itu meredup, menyisakan segurat warna jingga yang membakar awan ketika dunia perlahan terselubung warna biru gelap. Angin membawa serta sayup suara seorang wanita yang sedang menyenandungkan lagu tentang peperangan di pinggir sungai.

"'…..Hidup! Wahai Lasaire sang Dewi Hutan… Dione yang cantik… Fauni Sang Penguasa Savana…. Dengan kekuatanmu, tanamlah benih petaka di bumi, rengkuhlah dalam kedua lenganmu….'"

Nyanyian itu membuat hati Allen terasa semakin sakit terhimpit keputusasaan. Ia merasa kehilangan tujuan hidup. Kebaikan apapun yang ia percayai telah hancur berkeping-keping. Apa gunanya memperjuangkan sesuatu yang tak lagi diyakininya?

"'… Kami adalah keturunan Pohon Spiritual, kaum suci dari hutan. Melalui pengorbanan besar, dengan kehilangan ini, kami memanggil Kekuatan Agung….'"

"Senandung penyambut peperangan," gumam Branwen.

Allen mengepalkan tangannya, menahan gejolak di sudut hatinya.

Branwen mengamati perubahan ekspresi sepupunya. Baginya, Allen bukan hanya seorang sepupu, tapi juga seorang sahabat sekaligus seorang kakak. Ia telah melihat jalan hidup telah mengubah seorang bocah periang menjadi seorang pria muram yang kini berdiri di sampingnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Branwen, merasa tidak tahan untuk tidak bertanya.

Dalam visinya, ia melihat hal buruk tengah mendekat pada Allen. Itulah sebab ia menghampiri Allen senja itu, meninggalkan perjamuan yang diadakan di balairung istana. Branwen hanya ingin memastikan sepupunya baik-baik saja, dan alasan ketidakhadiran sang ksatria di perjamuan itu. Meskipun tidak seorang pun memusingkan ketidakhadiran Allen, karena mereka hafal perangainya yang senang menyepi.

Allen menoleh pada sepupunya, menangkap sekelebat kecemasan dalam mata Branwen. Ia memberikan seulas senyum. "Beberapa hal," jawab Allen. Lalu ia kembali memandang langit dengan tatapan sendu yang menerawang ke kejauhan.


Dua puluh lima musim dingin telah berlalu

Sepuluh malam setelah Imbolc

Sejak raga ini tiba diatas Albion pagi itu

Kini jiwaku telah merindu kedamaian Tir na nOg


"Memikirkan penyesalanmu sebagai seorang ksatria?" tanya Branwen.

Allen menoleh pada wanita itu, terkejut. Namun setelah beberapa saat, ia tersenyum. "Tak ada yang bisa disembunyikan darimu ya."

Berbagai hal yang bertentangan dengan nuraninya telah terjadi, mau tidak mau menyeret Allen dalam penyesalan. Tujuh tahun telah berlalu sejak ia mengabdikan dirinya kepada raja. Tahun-tahun berlalu dan ia merasa telah mengkhianati nuraninya sementara ia melaksanakan perintah sang raja.

"Aku mendalami apa yang bisa kupelajari, sesuai kemampuanku, dan kehendak hatiku," kata Branwen, membela diri.

Allen mengangguk. "Ya," sahut Allen seraya tersenyum. "Telah lama berselang sejak kau meninggalkan Effeldin. Tahu-tahu sekarang kau adalah seorang priestess. Jelas kau telah banyak berubah dari seorang gadis ceroboh yang dulu gaunnya belepotan buah berry."

Branwen merengut. "Itukah yang kau pikirkan tentangku?"

Allen melirik Branwen, senyum jahil tersungging di bibirnya – ekspresi yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain selain kepada adik perempuannya dan Branwen.

Branwen meninju lengan sepupunya. "Jangan bilang kau tidak menikmati setiap petualangan kita semasa kecil."

Mereka berdua terkekeh-kekeh, sejenak mengenang masa yang telah lewat. Lalu mereka menarik napas panjang setelah mengakhiri tawa.

"Kau juga banyak berubah," celetuk Branwen.

"Semua orang berubah, my lady," sahut Allen.

"Lantas apakah menjadi seorang ksatria adalah panggilan hatimu? Aku tahu apa yang diputuskan ayahku salah, meski aku tidak bisa menentangnya. Tapi bagaimana denganmu? Kau yang telah terikat sumpah seorang ksatria, yang semestinya mengabdikan pedangmu demi perdamaian, tidakkah kau merasa apa yang kau lakukan juga salah?"

Allen menunduk, menumpukan lengannya diatas tembok pembatas, memandang pada rerumputan gelap di bawah sana yang bergoyang tertiup angin. Wanita yang tadi bersenandung di dekat sungai telah pergi.

"Kau mengabaikan bakatmu yang sesungguhnya. Bakatmu untuk menjadi seorang penyihir," sambung Branwen.


Sumpah setia ksatria itu telah absah

Bahkan sebelum mengenal arti keraguan

Saat pengabdian adalah segalanya

Tak perlu lagi mengenal kemerdekaan


"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan, melalui pengabdian," kata Allen. Kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram tembok pembatas.

"Ya, dengan menjadi apa yang diinginkan orang-orang terhadapmu, bukan menjadi apa yang mestinya adalah panggilan hatimu," sahut Branwen. Ia tahu kata-katanya pastilah menusuk Allen dengan telak. Allen terlalu keras kepala untuk berbelok dari tugasnya, sekalipun ia ditodong oleh puluhan pedang. Branwen tak punya pilihan lain selain menyakiti hati sepupunya. Tidak mengapa, asalkan Allen mau mengubah keputusannya.

Allen tersenyum getir. "Tapi aku sudah mengucapkan sumpahku bertahun-tahun lalu. Waktu tak bisa diputar kembali, Sepupu."

"Benar." Branwen mengangguk. "Lalu apa yang kaupikirkan saat ini?"

Allen menoleh pada Branwen, mulutnya terbuka hendak bicara, tapi diurungkannya dan kembali menatap ke kejauhan sambil terdiam.

"Aku melihat beberapa hal tentangmu," kata Branwen.

"Apa itu?" tanya Allen. "Apa yang kau lihat?"

Branwen menatap sepupunya lekat-lekat, ke dalam biru matanya yang telah kehilangan kecemerlangan bertahun-tahun lalu – gadis itu hanya bisa menemukan keputusasaan di dalamnya. Melihat itu, kata-kata yang hendak diucapkannya tersangkut di tenggorokan.

"Kau terdiam? Katakan apa yang kau lihat," kata Allen.

Branwen menggeleng. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang sedang kau pikirkan."

Allen menghembuskan napas panjang. Alisnya berkerut. "Aku kehilangan visiku," jawabnya. "Kau tahu, aku seringkali bisa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya – seperti aku dulu mengetahui kalau aku akan menjadi seorang ksatria dan merasa goyah….."

"Tapi kau tetap mengatakan sumpahmu meski kau tahu akan merasa seperti ini," potong Branwen. "Kau orang yang mendekati masalah dengan sukarela."

Allen merengut.

"Maaf. Apa yang membuatmu gusar tadi?"

"Aku tidak bisa memperkirakan lagi apa yang selajutnya terjadi. Aku tak bisa melihat masa depanku," jawab Allen tanpa memandang sepupunya.

Branwen menatap Allen, terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan Allen.

"Apa maksudmu dengan kau tak bisa melihat masa depanmu?" tanya Branwen cemas.

Allen hanya mengangkat bahu seolah tak peduli.

Branwen meraih lengan Allen, memaksa untuk menatapnya. "Apa yang kau katakan? Itu bukan hal sepele…."

"Aku tak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya, seolah masa depanku akan terputus begitu saja," tukas Allen muram. Topeng ekspresi masa bodoh yang seringkali dipakainya terkoyak, menampakkan seraut kesedihan yang telah lama ia tahan. "Aku tak bisa merabanya seperti seseorang yang tengah terjebak di tengah kegelapan hampa."


Puluhan pertempuran telah kulalui

Pedangku tak pernah bertanya

Kemana perginya hati yang kumiliki

Saat berada dalam pelukan Agrona


Peperangan semakin meluas. Dampak dari obsesi manusia pada kekuasaan yang tak ada habisnya, meski harus mengorbankan banyak orang. Mereka yang melaksanakan tugas memiliki pemikirannya sendiri-sendiri. Sebagian menginginkan turut serta mendapatkan kemenangan dan kejayaan – meskipun kejayaan itu didapatkan pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi, yaitu sang raja. Sedangkan sebagian lagi, mati-matian berusaha menyisihkan nurani yang menggaruk kesadaran dan berusaha meraih permukaan – tidak bisa menghindar dari tugas yang telah diemban.

Sejarah ditulis oleh mereka yang berdiri diatas kejayaan – yang memiliki kuasa untuk menentukan mana pihak yang bersalah atau tidak. Mereka yang bersalah adalah mereka yang dianggap melakukan kesalahan sementara sejatinya mereka tak punya kuasa apapun untuk menampik apa yang dituduhkan. Benar atau salah ditentukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Demikianlah adanya. Lalu apakah suara-suara tanpa kuasa itu akan didengar? Tentu saja tidak.

"Mau atau tidak, aku telah turut andil dalam kehancuran yang tercipta karena peperangan ini. Baik dengan sumpah ksatria atau tidak, nurani seseorang adalah milik orang itu sendiri. Tapi apa yang telah terucapkan dan kami janjikan telah menjadi suatu hal yang abstrak di depan kekuasaan. Benar dan salah adalah hal yang bias," ucap Allen, ia telah kembali memperbaiki ekspresinya. "Kalaupun Dewa hendak menghukumku….. Kalaupun besok aku memang akan mati… Barangkali itulah mengapa aku tidak bisa merasakan keberadaan masa depan."

Branwen terdiam, memikirkan penglihatan yang telah ia lihat semalam lalu. Mimpi tentang sosok berjubah hitam yang menggenggam pedang patah dan tengah mengulurkan tangan pada langit kelabu untuk menyambut seekor gagak yang terbang mendekat. Suara-suara keputusasaan bergema di telinganya.

"Jadi takdir apa yang telah kau lihat padaku?" tanya Allen. Ia menoleh pada Branwen yang menatapnya dengan sedih. "Apakah kau melihat hal yang sama dengan yang kupikirkan?"

Branwen menatap Allen, terdiam dengan campuran ekspresi antara marah dan cemas. Lalu ia mengatakan apa yang telah dilihatnya, juga tentang suara-suara itu. Allen mendengarkannya dengan seksama tanpa memotong sekalipun. Meskipun apa yang ia dengar bukanlah hal yang akan meringankan hatinya, Allen tidak tampak gentar sedikitpun.

"Jadi….. Agrona dan Morrigan ya? Itu cukup masuk akal," gumam Allen.

"Tidak semestinya kau bersikap begitu tenang!" sergah Branwen marah.

Allen terkejut melihat reaksi sepupunya, tak menyangka ia bakal dibentak. Sementara Branwen menutup mulut dengan tangannya, menyesal telah berkata begitu keras.

"Ada lagi yang ingin kusampaikan," ujar Branwen pelan. Ia meremas tangannya, kebiasaan yang dikenali Allen sebagai isyarat ragu dan gusar sepupunya.

"Tak mengapa. Katakan saja," desak Allen.

"Kau bisa saja menghindarinya," jawab Branwen cepat, nyaris dengan menggumam.

Kedua mata Allen menyipit. "Apa kau bilang? Kau tidak menyarankanku untuk kabur dari pertempuran kan?"

"Temukanlah seorang guru. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Kau punya bakat untuk menjadi seorang yang bijak, untuk memahami siang dan malam, mempelajari masa lalu dan kehidupan," tukas Branwen.

Allen menggeleng. "Seorang ksatria tidak akan mengkhianati sumpahnya."

"Meski kau harus membuang hidupmu begitu saja demi tujuan yang bahkan tidak disepakati nuranimu?"

"Ya," jawab Allen mantap.

Satu jawaban telah diucapkan dengan tanpa keraguan. Satu penegasan pada dedikasi Allen, meskipun ia harus berpaling dari perang batin yang tak terpadamkan dan membuang egonya demi kepentingan orang lain. Branwen tidak berhasil mengubah hati Allen.


Aku telah jengah pada Bumi Tengah

Sukma kelam ini telah mengecap anggur keputusasaan

Getir memabukkan yang melenakan resah

Menghayati setiap jengkal rajah perih penderitaan


Hari baru telah dimulai. Derap-derap langkah kuda memenuhi udara pagi, berlomba dengan matahari yang perlahan naik ke cakrawala menuju tahtanya. Bilah-bilah pedang dan tombak berkilau memantulkan cahaya sang surya. Panji-panji berkibar tertiup angin.

Tak ada jalan untuk mundur. Seorang ksatria tidak akan lari dari pertempuran. Perang ini akan tetap berlanjut, sementara Allen begitu lelah dengan kehidupannya – hidup yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Oleh karenanya, kalaupun memang hidup itu harus berakhir hari ini, maka dia akan merelakannya. Tiada seorang kekasih yang akan menangisi kepergiannya. Sang ibunda pun telah berbahagia dengan pernikahan keduanya bersama seorang duke. Sedangkan adik perempuannya berada di tempat yang jauh, mengabdikan masa remajanya untuk mempelajari seni dalam keyakinan Sang Ibu Bumi.

"Hari ini kita akan berjaya lagi. Pasti," kata Kieve penuh percaya diri, rekan sesama ksatria yang berkuda di samping Allen.

"Ya," Allen mengangguk setuju. "Raja akan mendapatkan kemenangannya, lagi."

Kieve memandang rekannya dengan penasaran. "Mengapa hari ini salah satu ksatria terbaik yang dimiliki oleh Effeldin terlihat muram?"

"Hanya memikirkan sesuatu," jawab Allen datar.

Senyum di wajah Kieve pudar.

Allen tersenyum menenangkan sahabatnya. "Bukan sesuatu yang penting."

"Apa yang kaupikirkan saat pertempuran hampir menjelang, kawan? Apapun itu, jangan sampai merusak konsentrasimu pada pertempuran ini," kata Kieve. "Kita berdua bakal jadi duet tak terkalahkan seperti biasa."

Allen tidak mendengarkan apa yang dikatakan sahabatnya. "Kieve," ucapnya.

"Ya?"

Allen melepaskan kalung lambang keluarga yang selama ini tergantung di lehernya. Ia menyodorkannya pada Kieve. "Bisakah kau menyerahkan ini pada ibuku nanti? Tolong."

Alis Kieve terangkat sebelah. "Allen, apa-apaan ini? Apa kau masih mabuk gara-gara pesta semalam?"

"Setelah pertempuran ini usai, aku….. Ada yang harus kuselesaikan, di tempat lain. Kalung itu benda berharga yang kumiliki. Aku tak ingin benda itu hilang, itu saja," dusta Allen.

Kieve dengan enggan menerima kalung yang disodorkan Allen. Sejenak mulutnya terbuka hendak bertanya, namun diurungkannya. Selama ini mereka telah saling mempercayai satu sama lain. Maka dari itu ia menahan lidahnya untuk menanyakan apa kiranya urusan sahabatnya – yang tidak ingin dikatakan oleh Allen.

Allen mengangguk pada Kieve sebagai ganti ucapan terima kasih. Lalu mereka berdua melanjutkan menunggang kuda, beriringan menuju pertempuran.

Saat matahari telah berada di puncak langit. Riuh pertempuran membahana. Teriakan dan jeritan berpadu dalam keharmonisan teror. Diiringi dengan denting pedang yang beradu dan desingan anak panah yang melesat laksana hujan. Darah tumpah ke atas rerumputan – yang masih hijau berhiaskan embun saat hari itu dimulai, tegak menengadah kepada langit – kini telah menghitam dan porak-poranda.

Allen mengayunkan pedangnya dengan tangkas. Musuh-musuh tumbang oleh sabetan pedangnya. Beberapa luka yang telah mengalirkan darah di tubuhnya tidak menghentikannya untuk terus maju dan menunaikan tugasnya hari itu hingga selesai.

Di tengah kekacauan yang perlahan surut, dari sudut matanya Allen melihat sosok besar. Ia menoleh di saat yang tepat, pria bertubuh besar itu tengah mengacungkan busur yang siap menembakkan anak panah yang akan menembus baju zirah – ke arah Kieve yang tidak menyadarinya. Allen bergerak dengan cepat, memaksa kaki kirinya yang telah terluka untuk tetap bergerak. Anak panah itu berdesing meluncur, sementara Allen menghadangnya.

Allen merasakan besi itu menembus baju zirahnya. Satu luka lagi bertambah. Satu rasa nyeri menyebar di dadanya. Musuhnya menyingkirkan busur itu dan mengeluarkan sebuah kapak yang besar. Meski tubuhnya sempat goyah, Allen memegang pedangnya dengan kedua tangan sembari berlari menyongsong lawannya.

Denting logam yang saling beradu. Bilah pedang itu patah – pedang yang telah diwarisinya dari mendiang ayahnya. Terdengar teriakan Kieve yang memanggil namanya. Namun tak ada waktu untuk menyesal. Dengan kekuatan terakhirnya, Allen menghujamkan pedangnya yang telah patah ke tubuh lawannya. Darah menyembur keluar. Pria itu terhuyung, lalu sinar garang di matanya padam. Allen mencabut pedangnya, lalu tubuh lawannya roboh ke tanah.

Allen merasa semua dayanya telah terkuras. Ia tersengal sembari memandang ke sekelilingnya dengan letih, perang telah usai. Suara-suara timbul tenggelam dari mereka yang bertahan.

"Allen!" terdengar suara Kieve yang memanggil.

Kieve berlari ke arah sahabatnya. Allen menoleh padanya dan tersenyum, sebelum akhirnya ia jatuh.


Pedang patah itu tiada lagi punya kekuatan

Maka datanglah wahai Morrigan

Ulurkanlah pucat tanganmu

Kepada jiwa yang mendamba tenang dalam rengkuhmu


Saat matahari mulai turun perlahan dari singgasananya, menuju ke barat dimana tempat peraduannya berada. Riuh peperangan telah digantikan oleh koak gagak-gagak yang terbang rendah. Ratusan anak panah, puluhan tombak dan pedang yang tertancap di tanah telah menggantikan rerumputan. Ratusan tubuh tak bernyawa berserakan dan saling tumpang tindih di atas rerumputan mati.

Branwen turun dari kuda yang ditungganginya. Melangkah cepat menyisir padang rumput yang telah berubah menjadi padang kematian. Tergesa dalam cengkeraman resah. Tudung jubahnya tersingkap tertiup angin, menampakkan rambut sehitam kayu eboni saat ia menoleh dan mengedarkan pandang ke sekitar untuk mencari sepupunya.

"Allen!" panggil Branwen.

Ia mendekati seorang ksatria yang tengah tertatih-tatih. "Sir Gaerwyn, apa kau melihat sepupuku?" tanya Branwen.

Ksatria itu menggeleng pada Branwen. "Maaf. Tapi saya belum melihatnya….," jawabnya.

Branwen meninggalkan Gaerwyn, melanjutkan pencariannya. Ia memanggil sepupunya beberapa kali. Tapi tak ada satu pun jawaban. Gusar yang bercokol di hatinya semakin meradang. Tangis mulai mendesak matanya, sejenak mengaburkan pandangannya sementara ia menahan isak. Hingga akhirnya ia melihat punggung seseorang yang dikenalnya, sedang berlutut tidak jauh dari tempat Branwen berdiri. Ia mengenali rambut pirang ikal Kieve.

"Kieve!" panggil Branwen seraya tersaruk-saruk mendekat. "Kau tau dimana…..?"

Kieve menoleh ke belakang, sekilas menatap Branwen dengan wajah bingung bercampur sorot tidak berdaya di matanya. Pertanyaan Branwen yang terputus menguap di udara bersama asap-asap hitam yang membubung ke langit. Ia melihat orang yang dicarinya terbaring di tanah di depan Kieve.

Air mata Branwen berderai. Ia telah melihat hal yang sama dalam penglihatan yang didapatkannya saat memintal. Namun melihat visinya menjadi kenyataan membuat hatinya hancur.

"Allen…. Allen…. Bertahanlah," rintih Branwen. "Kieve, lakukan sesuatu. Kumohon…."

Allen bersimbah darah dan tersengal-sengal. Sedangkan Kieve terpaku, terdiam menatap sahabatnya.

"Kieve!" jerit Branwen. Didorongnya tubuh kekar pria itu.

Kieve mengeluarkan suara seperti isakan tertahan.

"Aku tidak…..bisa….melihatmu," ucap Allen terbata. Lalu ia terbatuk, tersedak oleh darahnya sendiri.

Branwen memegang tangan Allen. "Aku disini, Allen."

"Dimana…..?" ucap Allen susah payah.

"Sudah jangan bicara lagi," isak Branwen. "Kita akan pulang. Kami akan membawamu pulang dan mengobatimu. Kumohon bertahanlah…."

"Ah, kau ada…disitu….," ucap Allen. Seulas senyum mengembang di wajahnya yang pucat. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mengangkat tangan kanannya, seolah menyambut uluran tangan yang tidak tampak. "Morrigan…"

Branwen tak berdaya melihat tangan Allen jatuh terkulai. Mata Allen terpejam seolah ia telah jatuh tertidur karena lelah.

"Dia sudah pergi, my lady," kata Kieve lirih. Ia tertunduk, lalu punggungnya membungkuk selagi ia melepas tangis yang sejak tadi di tahannya. Kedua tangannya terkepal erat di atas pahanya.

Branwen menangis keras. Ia masih menggenggam tangan kiri Allen, seolah berharap sepupunya akan membuka matanya yang sebiru lautan lagi dan berkata bahwa ia hanya sedang lelah dan ingin tidur sejenak. Namun Allen sudah tidak berada di atas negeri putih lagi. Sang dewi kematian telah menjemputnya. Kini jiwanya telah berada dalam pelukan Morrigan, terlindung dalam rengkuhan sayap-sayap hitamnya.


Tiada bahasa manusia yang menyuarakan

Alunan sendu yang digemakan dingin bebatuan

Jeritan itu akan selalu terabaikan

Gugur, tenggelam, dan terlupakan


Padang itu dipenuhi tangis. Orang-orang datang mencari sanak keluarganya. Para janda dan para gadis membasuh saudara dan orang terkasih mereka dengan air mata. Tiada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan mereka yang telah pergi, kecuali melepas mereka dengan doa dan menyimpan kenangan yang telah mereka tinggalkan di waktu yang telah lalu.

Mereka yang telah tunai dalam tugasnya, jiwa-jiwa letih yang telah meniti jalan kehidupan. Mengikuti tuntunan takdir. Apakah mereka juga mengikuti tuntunan suara kecil di sudut hati yang terabaikan? Tidak. Karena saat suara itu di dengar, semua sudah terlambat.

Kejayaan tidak akan teraih tanpa pengorbanan. Namun apakah kejayaan itu diraih dengan alasan yang murni atau tidak hanyalah para dewa yang mengetahuinya. Tidak semua kebenaran terkatakan. Apa yang diucapkan oleh nurani seringkali hanyalah senandung bisu yang takkan pernah didengar. Semuanya hanya demi ambisi dan pengabdian mutlak.


[17 Februari 2014]