Kesamaan nama tokoh yang ada hanya kebetulan. Nama tempat yang tercantum sudah berdasarkan referensi yang ada.

Cerita ini hanya untuk bacaan dan hiburan semata, tanpa ada tujuan untuk menjatuhkan atau merugikan pihak manapun.

Peringatan: mengandung bahasa dan umpatan kasar.

Selamat membaca!


.All in White.

prologue


— 2010

Seorang pemuda dan seorang gadis tampak sedang berlari di tengah hujan salju pada hari kelima belas di bulan Desember. Jalanan yang cukup padat tak dipedulikan oleh sang pemuda. Ia terus menembus keramaian dengan sang gadis di gandegannya, seolah mereka saat itu sudah terlambat masuk sekolah dan berusaha untuk menggapai pintu gerbang yang masih terbuka. Saking terburu-burunya, sang pemuda nyaris membawa dirinya dan sang gadis masuk ke dalam liang kubur mereka, apabila sang pemuda pada saat itu tidak dengan gesit menghindari mobil yang datang dari arah kiri mereka.

"No, Felix! Berhenti! Bukankah sudah kubilang aku—"

"I know, I know! It's okay, Ashley! Aku dan yang lain nanti juga akan membantumu, kok! Ayo!"

"A-ah …, Fel …!"

Seiring sang pemuda berlari semakin cepat, dengan sang gadis yang, mau tak mau, juga mempercepat langkahnya, mereka pun sampai di tujuan mereka; sebuah rumah kayu di dekat sebuah toko kue. Tanpa mengetuk, pemuda bernama Felix itu membuka pintunya, menghasilkan suara bantingan keras yang membuat seorang pemuda berambut ikal cokelat di dalam rumah menengok ke arah pintu.

"Lads, look what I brought for us!" Felix berteriak dengan napas agak terengah. Gadis bernama Ashley itu masih di gandengannya, sama-sama terengah.

"Whoa, wow," ucap si pemuda brunet, membelalakkan matanya. Perhatiannya kepada gitar yang dipegangnya jadi teralihkan akan kehadiran sosok Ashley, "who's this beautiful creature here, Silverstone?"

Sudah menstabilkan napasnya, pemuda bertubuh tinggi itu menjawab,"This is our DRUMMER—Sweet Talk's Drummer; Ashley Rosenberg!"

"FELIX FUCKING SILVERSTONE! FUCKING HELL—WHY YOU'RE SO NOISY, YOU LITTLE PIECE OF BACTERIA ON THE QUEEN ELIZABETH'S CARRIAGE'S TIRE?! DON'T YOU KNOW I JUST GOT AND WROTE A NEW SONG!?"

Sebuah suara teriakan amat melengking tiba-tiba muncul dari balik pintu salah satu kamar di rumah tersebut. Lalu, tampaklah seorang gadis bermuka pucat dengan mata baby blue yang melebar marah, yang sepertinya adalah pemilik suara melengking itu.

Felix, sebagai sumber penyulut dan korban pelampiasan emosi gadis berwajah pucat itu, mengedikkan bahunya, agak terkejut mendengar suara keras si gadis. Ashley sendiri yang juga mendengarnya hanya dapat diam. Keningnya mengerut dan mata menerawang, bertanya-tanya.

Si pemuda brunet mengelus-elus telinganya. Ia mendecak kesal."For God's sake, calm the fuck down, Ivy!" gerutunya,menatap kesal gadis yang ia panggil "Ivy" itu.

Gadis bernama Ivy itu, masih tersulut emosi, menyahut, "Shut up, Lockwood! Aku berbicara pada Felix tahu!" Ia pun berjalan dengan hentakan keras ke arah Felix, belum menyadari kehadiran Ashley sampai pada akhirnya, "Fel—whoa, mamma mia! Felix, katakan padaku siapa dan dari mana kau mendapatkan Manusia Tanpa Cela ini …?"

"Well …, guess I should introduce her to y'all properly …," ujar Felix, tersenyum senang melihat respons bagus dari kedua bandmates-nya, "okay. So, Bri and Ivy, this is Ashley Rosenberg. Gadis manis ini adalah teman dekatku sewaktu SMP dulu. Ia tinggal di Russel Square. Dia bisa bermain drum, maka dari itu aku merekrutnya sebagai drummer resmi kita!" ucapnya, memperkenalkan gadis yang berdiri di sampingnya. Ashley mengulas senyumnya. "Nah, Ashley, this pink-ish blondie is Ivory Abbott, vokalis dan keyboardist Sweet Talk. Dan dia, Bryce Lockwood, adalah gitarisnya." Ashley masih tersenyum seraya memberi lambaian tangan pelan kepada Bryce—yang dibalas Bryce dengan, "why hello, Ashley,"—dan Ivory.

Ivory hanya terbelalak dan diam sebagai respons dari lambaian Ashley. Ia menujukan tatapannya pada Felix. "Whoa, whoa, hold up, Felix! Tadi kaubilang apa?! Gadis ini … kaubawa untuk … menjadi drummer band kita?!" tanyanya agak histeris, tak percaya. Wajahnya terlihat syok.

"Yep," jawab Felix tenang. "Kaukira untuk apa aku membawanya ke sini kalau bukan untuk melengkapi final line up band kita?" Ia mengangkat satu alisnya.

"Kau pasti bercanda!" seru Ivory, terkejut. Matanya beralih menatap Ashley yang terdiam, bertanya-tanya akan situasi apa yang sebenarnya terjadi. Dengan mata berbinar dan alis tertukik, Ivory berkata, "Oh, Tuhan …, bentuk alis yang indah ..., mata besar ..., tulang pipi tegas yang sempurna ..., wajah manis nan rupawan …, jemari lentik dan kulit bersih tanpa cela bagai salju …" Jemarinya menelusuri tiap anggota tubuh Ashley yang ia sebutkan, mengagumi tiap incinya. Tidak mungkin …, batinnya tak percaya. Masih menatap gadis berperawakan sempurna itu, kali ini dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, ia bertanya, "Jika yang dikatakan Felix itu benar …, apa kaupikir kau berada di tempat yang salah, Tuan Putri …?"

"U-uh ..." Ashley mengerutkan keningnya. "Kupikir …, t-tidak …," jawab Ashley ragu, merasa sedikitaneh akan pertanyaan Ivory.

Apa maksudnya dengan "tempat yang salah"? Apa ia pikir aku bisa bermain drum itu adalah lelucon? pikir Ashley. Salahkah bila seorang gadis, apalagi gadis sepertinya bermain drum untuk sebuah band yang belum mempunyai drummer?

Yah, sepertinya hal tidak menyenangkanseperti ini lagi-lagi terjadi.

Hei, ia memang berperawakan seperti ini, yang terkadang membuat orang-orang mengira ia adalah seorang top model (walau kenyataannya ia memang beberapa kali dipakai sebagai model di beberapa majalah dan fashion show. Namun, tetap saja, ia hanya model biasa, bukan top model semisalnya Kate Moss ataupun Natalia Vodianova), tapi sebenarnya ia memang seorang drummer! Terkadang Ashley agak kesal apabila orang-orang menertawakan atau meremehkan dirinya bahwa, di samping memiliki perawakan elok dipuja banyak orang, ia juga memiliki kemampuan bermain drumseperti situasi saat ini.

"Aku memang bisa bermain drum, walau tidak jago, sih," ujar Ashley melanjutkan, memasang senyumnya kembali untuk meyakinkan gadis yang sedikit lebih pendek darinya itu.

"Ah …" Ivory kemudian terdiam. Ia tampak sedang berpikir, matanya masih lengket pada sosok Ashley.

Bryce yang sedari tadi hanya mendengarkan sembari menyetem gitarnya, kini berjalan mendekati Ivory, lalu membuka mulut, "Sudahlah, berhenti melamun tidak percaya seperti itu, Ivy. Ashley sendiri yang mengatakan bahwa dia bisa main drum. Kita seharusnya senang akhirnya Sweet Talk memiliki seorang drummer." Tangan kekarnya mengelus lembut kepala Ivory dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya. "Playing with drum machine when you're occupied by your main instrument in recording session is suck and kinda depressing, y'know," tambah Bryce, mengalihkan pandangannya pada Ashley dan tersenyum, "so, Ashley Rosenberg, welcome to the band."

"Yeah, Ashley! Welcome! You're now part of this family," seru Felix menimpali, terlihat senang dan amat bersemangat. Ia tersenyum lebar kepada Ashley.

Ashley yang disambut seperti itu tentu tak dapat menolak rasa senang yang membunga di hatinya dan rona merah yang merekah di pipinya. "Ah, ya …, terima kasih!"

Ivory masih terdiam. Namun kemudian, matanya yang berkaca—sepertinya karena terharu—kembali berbinar dan senyumnya merekah, "Ya, Ashley! Welcome! You really are the MVP! Kami sangat senang mendapati kehadiranmu sebagai anggota kami. Alright. Now, everyone, let's start to become a proper group of beach-rock music ambassadors for this beautiful town!"


- prologue end -


A/N: this story is actually written on last December, but for some reasons, saya baru bisa publish di situs ini bulan ini - setelah menghadapi berbagai keraguan akan kurang matangnya ide cerita ini haha. setelah berulang kali publish-delete cerita-cerita saya di akun ini, saya harap cerita ini gak akan mengalami nasib yang sama seperti pendahulunya. soooo ... biar cerita ini survive, would you mind to share your opinion about this opening story? :)

thank you!