CEWEK KE-1001 © kaoruishinomori

summary:

Yang satu Tuan-Akulah-Tukang-Mainin-Cewek-Nomor-Satu. Lainnya Si Cupu-Pembawa-Modul-Kimia. Hanya saja karena jarak dan waktu menginginkan mereka bersama, jadilah mereka berdua, setelah sepuluh tahun lamanya.

.

.


[pov: Rika]

"Hei, cewek," dengan nada sok manis, Rei memanggil cewek populer di sekolah yang baru saja lewat. Aku yang berada di sebelah Rei menelan ludah. Bisa-bisanya dia mengajak ngobrol seseorang yang aku saja sungkan kepadanya, dengan semudah itu.

"Apa?" menjunjung tinggi harga dirinya, cewek yang eksis karena mengikuti cheerleaders itu memandangi Rei dari atas ke bawah. Oke, aku tidak bodoh. Bagaimanapun, Rei itu juga merupakan cowok yang eksis karena dia saja kapten basket—tetapi aku tidak mau mengakuinya, tentu saja. Jelas cewek itu, Nana, senang bukan main karena dirayu oleh Rei, namun— yah, kalian tahulah sifat cewek itu bagaimana— dia justru bersikap sok tidak peduli.

Sok manis dibalas dengan sok tidak peduli. Aku membuang muka, mencibir diam-diam. Rei adalah sahabatku sejak SD, dan Rei selalu berkembang sebagai cowok populer, sementara aku tetap setia pada karakter cewek culun berkacamata yang membawa modul sains ke mana-mana. Meskipun Rei selalu digilai setiap insan berkelamin perempuan ke mana pun dia pergi, namun aku sama sekali tidak meliriknya.

Itu karena aku tahu bahwa dia adalah cowok menyebalkan yang tebar pesona di mana-mana. Selalu berpenampilan necis dan bersikap norak merupakan suatu tatakrama di kamus yang melekat dalam setiap tetes darah di nadinya. Entah mengapa, Rei selalu bisa menyembunyikan sifat buruknya itu dan tetap dalam pembawaan sempurna setiap waktu.

Rei berdehem. "Aku ada cerita," kata Rei dengan gaya profesional. Membuat Nana mau tak mau—aku tidak bodoh, oke, aku tahu dia sesungguhnya mau—mendekat untuk menyimak. "Pada suatu ketika, tinggallah lima bersaudara."

"Kau ingin mengganti sudut pandang cerita Putri Kaguya menjadi sudut pandang lima bersaudara yang datang ke rumahnya itu?" Nana memotong cerita dengan memasang senyuman sinis.

Rei membalasnya dengan senyuman setimpal. "Bukan seperti itu," tukasnya. Melihat reaksi Nana yang mulai terdiam, Rei melanjutkan kalimatnya. "Lima orang itu bernama Aka, Aki, Ake, dan Ako. Mereka..."

"Tunggu dulu," potong Nana, tampangnya siap untuk meremehkan. "Kau terlalu tegang ketika berbicara denganku atau apa? Lima orang yang kau sebut itu hanya empat orang, tahu. Kau melewatkan satu."

Aku terbatuk—sengaja. Astaga, Nana tidak boleh tahu bahwa ini adalah cerita terfavorit Rei yang sudah dia ceritakan ke duabelas cewek. Bisa-bisa tamatlah riwayat Rei, apabila aku langsung mengacaukan suasana dengan mengatakan, "Hei, Nana, Rei menjadikanmu cewek ke tigabelas yang mendengarkan kisah remeh-temeh ini." Oh, bahkan mungkin tamatlah riwayatku juga.

Rei, sesuai skenarionya, mengerutkan kening. "Maaf? Apa katamu?" tanyanya, terdengar antara sedikit menantang dan sedikit tidak terima.

Nana berkacak pinggang, menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau melupakan Aku."

Terjebak—aku menarik napas kesal karena lagi-lagi rekor gombal-tak-terpatahkan Rei merambat naik. "Tidak akan pernah, Sayang," Rei mengulum senyum menggoda, senyum keahliannya.

Nana terdiam sejenak. Hanya butuh sepersekian detik untuk membuatnya paham betapa mudahnya ia terjebak ke dalam perangkap rayuan cowok di hadapannya ini. Semburat merah tidak bisa disembunyikan olehnya, yang membuat Nana tersenyum malu-malu, kemudian pergi, membenarkan headset yang dia pasang di kedua telinganya.

"Tunggu dulu, kau mendengarkan lagu apa?" Rei tidak patah semangat, ia memanggil Nana lagi. Aku terbatuk sekali lagi. Skenario lain yang dia gunakan. Skenario ini merupakan skenario kesukaan Rei juga, hanya saja dia jarang sekali menggunakannya karena keadaan tidak pernah dengan mudah membiarkan ia memakai skenario ini.

Nana menoleh, mulai kikuk. "Belum," jawabnya pendek.

"Kau suka sekali memakai headset tanpa mendengarkan lagu," sambung Rei sok tahu. Ia mengibaskan rambutnya dengan berlebihan—aku menghindar sekuat tenaga supaya kutu-kutu yang bersarang di dalamnya tidak melompat keluar dan menulari rambutku. "Memangnya seberapa kuat getarannya, musik yang mengalun di hatimu?"

Muka Nana sudah panas-dingin tidak keruan, aku bisa menjamin dia ingin sekali terbang melayang. Aku sendiri sudah mau muntah.

"Kapan-kapan biarkan aku mendengarnya, oke?" Rei melambaikan tangan, kemudian berbalik arah. Nana hanya mesem tidak jelas, kemudian ikut berbalik—mengambil arah berlawanan, dan aku yang masih memandang punggungnya tahu bahwa begitu sampai rumah dia akan salto.

"Rika? Sampai kapan kamu mau terus diam seperti itu? Ayo, pulang," Rei memanggilku.

Aku menoleh, memasang tatapan membunuh kepadanya. "Lebih baik aku ambil arah pulang yang melewati kuburan tetapi sendirian dibandingkan melintasi taman bermain yang indah tetapi bersamamu," tukasku pedas. Aku memang berniat mengambil jalan pintas, dibandingkan dengan Rei yang seringkali memaksaku pulang dengan jalan memutar—supaya bisa menemukan cewek lebih banyak.

"Oh, waw, dasar mulut tajam," Rei tertawa. "Yah, bertemu Nana dan melancarkan seranganku kepadanya merupakan suatu prestasi besar dan membuatku kenyang selama beberapa hari ke depan, jadi mungkin aku akan mengambil jalan pintas juga," katanya dan akhirnya mengikutiku. Memangnya dia pikir cewek itu makanan, pakai istilah 'kenyang' segala?

Aku membiarkannya berjalan di sampingku. Memang, sih, rumahku dan rumah Rei itu dekat, hanya terpisah beberapa rumah saja, sehingga hampir setiap hari kami pulang bersama—kalau Rei tidak sedang ekskul atau nongkrong bersama cewek-cewek lain. Banyak cewek yang iri kepadaku karena dekat dengan Rei, namun sungguh, aku justru menganggap ini adalah kutukan!

"Hei, Rika," Rei menyapaku dengan sapaan yang persis dengan 'hei, cewek' kepada Nana tadi. Aku sudah tahu apa yang selanjutnya akan dia katakan. "Apakah ayah kamu seorang nahkoda?"

Tuh, kan. Aku menoleh kepadanya. Rayuan sepele. "Tidak, dan aku tidak akan membiarkanmu berlabuh di hatiku, oh tuan-akulah-tukang-mainin-cewek-nomor-satu," balasku sengit.

"Sudah kuduga kalau denganmu pasti tidak akan berhasil," Rei balas mencibir. "Sungguh, mengapa aku harus dekat dengan cewek yang mempunyai tabiat sepertimu, sih? Di saat cewek-cewek lain memujaku dan aku berkuasa di atas mereka semua, kamu justru jutek."

"Maaf saja, ya, aku juga tidak terima dekat dengan cowok norak yang sok sempurna seperti kamu," tukasku. "Lagipula, bagaimana bisa kamu ingin gombalanmu padaku berhasil, apabila gombalanmu selalu membuatku ingin buang angin?"

"Siapa yang tahu kalau buang anginmu adalah aroma-aroma cinta darimu kepadaku—"

"Tutup mulutmu, Rei, kamu tidak mau aku bunuh, kan?"


[pov: Rei]

"Rik, jangan khawatir kalau kamarmu gelap, karena aku—"

"Aku lebih memilih kamarku gelap, bahkan seisi rumahku gelap, dibandingkan diterangi dengan cintamu, Rei," Rika mengatakan hal itu dengan ganas, tanpa menghentikan langkahnya.

"Oke," aku menganggukan kepala kesal. Aku sudah tahu bahwa gombalanku kepadanya tidak akan pernah berhasil. Jelas saja, karena setiap kali aku melancarkan rayuanku yang mampu menaklukan cewek seperti apapun, Rika selalu ada di sebelahku. Tanpa sadar, sudah tentu Rika hapal luar-dalam bagaimana kosakataku dalam merayu. "Setidaknya, kamu tidak perlu sok berahasia dan membuatku bingung kau mau ke mana."

Rika terdiam terus. Hari ini, seharusnya aku dan dia pulang bersama, namun tiba-tiba dia berbelok arah dan mengatakan 'akan ke suatu tempat'. Yang benar saja, Rika mencoba bermain rahasia denganku? Dia seharusnya tahu bahwa aku tidak akan pernah menerima hal itu dengan mengatakan 'oh, begitu, oke, sudah, ya' begitu saja!

Bukan mauku, kami terus ada di sekolah yang sama sejak SD hingga sekarang, SMA. Tetapi sepertinya keluarga kami sepaham, bahwa lebih baik kami di sekolahkan di sekolah yang dekat dengan rumah. Kebetulan saja rumahku dan Rika berdekatan sehingga kami ada di sekolah yang sama.

Sungguh, benar-benar bosan. Kenapa harus cewek macam dia, sih? Di saat cewek-cewek lain asyik dengan gadget mereka, Rika bisa tanpa bosan tenggelam dalam bacaan modul kimia, atau kamus ensiklopedia. Bersamanya membuatku selalu berpikir bahwa jangan-jangan Rika adalah reinkarnasi dari seorang yang jenius di masa lalu.

"Kalau kukatakan, pasti kamu akan ikut," Rika membuang muka.

"Astaga," aku membalasnya dengan cepat. "Kamu katakan atau tidakpun, sudah jelas aku akan ikut. Lihat? Kamu tidak mengatakan dengan segera ke mana kamu akan pergi, dan aku masih saja mengikutimu!"

"Bukan urusanku."

"Apanya yang bukan urusanmu?" aku membuang muka, menghela napas, mencoba menenangkan diri. Sesaat hening, sebelum kemudian aku menyambung lagi. "Rik, kamu tahu tidak perbedaan kamu dengan daun—"

"Jika daun tidak jatuh ke tanah dan justru terbang ke langitpun, aku tidak sudi jatuh ke hatimu, tuan-akulah-tukang-mainin-cewek-nomor-satu," Rika memotong kalimatku, membuatku kesal sendiri. Aku juga tahu bahwa dia tidak akan membiarkan gombalanku berlangsung dengan mulus, hanya saja aku tidak mempunyai bahan pembicaraan yang harus kuperbincangkan.

Aku menghela napas. Karena masih kelas 1 SMA, aku belum menentukan target-target yang harus kutaklukan. Selama di SMP, aku sudah bisa menaklukan Nana dan berpacaran dengannya beberapa bulan, dan itu merupakan prestasi terbesarku, sebelum kemudian aku putus dengannya karena tidak tahan dengan sikapnya yang sensitif dan boros. Sebenarnya aku juga tahu, sih, bahwa selama aku mendekati cewek dan berhasil, masalah berikutnya adalah satu; Rika.

Nana dan aku sempat renggang hanya karena Rika. Bukan salah Rika, hanya saja aku dan Rika selalu berdebat setiap kali bertemu, dan Nana jelas cemburu dengan kenyataan itu karena hal itu membuktikan bahwa aku lebih akrab dengan Rika. Mau bagaimana lagi? Nana harus tahu bahwa bukan mauku juga aku akrab dengan Rika, dan bahkan dia harus tahu apabila aku tidak sudi dianggap 'akrab' dengan cewek membosankan itu!

"Aku mau ke perpustakaan," akhirnya Rika menjawab, tidak sabaran juga menghadapiku yang dengan gigih mengikutinya. Bukan karena aku mau mengikutinya juga, sih, hanya saja jika rumahku harus melewati rumah Rika terlebih dahulu. Apabila ibu Rika sedang menyapu halaman dan melihatku pulang tanpa Rika, aku bisa dianggap bukan cowok yang baik karena membiarkan cewek pulang sendirian, dan aku tidak mau repurtasiku hancur!

Cukup repurtasiku hancur di mata Rika saja—karena biar bagaimanapun, Rika hanya punya aku sebagai temannya, sehingga Rika tidak akan mungkin membocorkan sifat asliku yang main tempel cewek begitu saja.

"Oh," sorot mataku langsung berbinar-binar. "Kalau begitu aku ikut—"

"Tidak boleh kalau hanya untuk mencari buku gombal atau apapun Rei. Aku tidak mau menanggung dosa," tukas Rika— dia tahu saja apa yang mau aku lakukan.

"Memangnya gombal adalah suatu perbuatan terlarang?!" aku syok, memandangnya tidak terima karena Rika seolah mengatakan bahwa ajaran dalam buku gombal yang kuteladani membuatku seolah-olah menjadi pengikut aliran sesat.

"Bukan gombalnya! Tapi apa yang kauterapkan dalam gombal itu—memberi harapan palsu kepada setiap cewek," balas Rika.

"Bukan salahku kalau mereka membosankan," aku berkilah.

"Salahmu karena kamu cepat bosan," Rika tidak kehabisan kata-kata dengan mudah apabila sudah masuk dalam urusannya berdebat denganku, padahal dia selalu hemat bicara dan menjadi anak perpustakaan kalau di sekolah. Aku ingin membantahnya, tetapi kami sudah sampai di depan perpustakaan kota.

"Bagaimana, kamu mau masuk atau pulang?" Rika bertanya seolah menantangku.

Aku mengangkat sebelah tangan. "Aku masuk," kataku akhirnya. "Tapi aku hanya duduk. Kalau begitu saja tidak masalah, kan?"

Rika mengangguk-anggukan kepala. "Baguslah. Awas saja kalau kamu menggombali setiap cewek yang ada di perpustakaan—karena aku akan menendangmu keluar saat itu juga."

Aku tidak mempunyai pilihan selain menganggukan kepala. Akhirnya, Rika membuka pintu perpustakaan. Selama SMP, aku sudah beberapa kali memasuki perpustakaan ini, mengikuti jejak Rika. Jika Rika mencari buku ilmu pengetahuan atau buku penunjang pelajaran, mata aku akan asyik dengan buku gombal atau apapun yang berkaitan dengan hal itu. Awalnya Rika tidak menganggapnya penting, tetapi semenjak dia menarik kesimpulan bahwa yang aku lakukan itu merupakan suatu tindakan tak termaafkan, dia mulai melarangku mengikutinya ke perpustakaan.

Banyak sekali mahasiswa yang memenuhi perpustakaan, membuatku tidak bisa duduk di manapun karena semua kursi sudah terisi penuh. Rika juga menyadari hal itu.

"Bagaimana kalau tidak ada kursi seperti sekarang?" tanyaku.

"Kalau begitu, kamu mengikutiku saja," jawab Rika dengan enteng.

Yang benar saja. Aku menurutinya tidak terima, mengikuti Rika yang sedang berjalan menuju komputer perpustakaan untuk mencari suatu buku. "Rik, kamu tahu tidak apa persamaan bersin dengan kekesalanku kepadamu?" tanyaku tiba-tiba.

Rika mengangkat kedua alisnya, sedikit terkejut dengan jenis gombalan-yang-sama-sekali-bukan-gombalanku kali ini, karena jelas hanya akan kutujukan kepadanya dan baru kali ini dia mendengarnya. Sedikit tertarik, Rika mencoba mengikuti iramaku. "Memangnya apa?" tanyanya, memulai memainkan mouse komputer perpustakaan itu, mengeklik bagian pencarian buku.

"Sama-sama tidak bisa kutahan," jawabku mengangkat bahu.

Rika menatapku sebentar, kemudian memfokuskan pandangan pada layar monitor kembali. "Oh. Tumben kamu melakukan gombalan yang bermutu, Rei," komentarnya. Rika mengetikkan sebaris kalimat 'Ensiklopedia Unsur-unsur Kimia' di dalam kolom pencarian, dan menekan tombol 'Enter'.

Sebaris kalimat selanjutnya menyatakan bahwa buku itu tidak ada di perpustakaan. Rika mengerutkan kening. Ia menutup laman itu, tidak berniat mencari buku yang lain.

"Buku yang kamu cari tidak ada? Bagus, kita pulang," aku angkat bicara.

"Tidak boleh, buku itu harus ada," tukas Rika.

"Sejak kapan kamu jadi keras kepala?" aku menatapnya tidak percaya. Rika mengabaikanku, ia berjalan menuju meja di mana ada seorang pustakawan di sana.

Tanpa sempat pustakawan tersebut bertanya 'ada yang bisa saya bantu', Rika langsung bertanya tanpa basa-basi. "Bagaimana jika saya ingin merekomendasikan sebuah buku yang belum ada di dalam perpustakaan ini?" tanya Rika dengan bahasa yang sopan namun tidak ada keraguan sedikitpun—sangat di luar karakternya yang pemalu apabila di sekolah.

Pustakawan itu berkedip dua kali sebelum mengambil sebuah catatan. "Kalau begitu, bisakah dicatat apa buku yang adik rekomendasikan, dan apa keunggulannya?"

Rika mengangguk, dan menerima secarik kertas dan sebuah bolpoin, kemudian menyodorkannya—tunggu dulu. Menyodorkannya kepadaku?

"Apa?" tagihku.

"Tulis," suruh Rika.

Aku jelas tidak terima. Selama di SMP dan di SMA, cewek-cewek saja sampai mengantri untuk mengambilkanku sebuah buku, menggantikanku piket, mencucikan sepeda motor, dan lain sebagainya, tetapi di sini, aku harus menuruti keinginan cewek yang satu ini? Bukan karena aku mau menerimanya, tetapi karena aku ingin cepat-cepat pulang, maka kuterima saja suruhannya. Aku menerima kertas dan bolpoin itu.

"Judulnya, Ensiklopedia Unsur-unsur Kimia," Rika mendiktekannya.

Aku menuliskan, tulisanku rapi untungnya—karena jika hanya dengan modal tampang dan kemampuan komunikasi saja tidak cukup untuk merayu segala macam cewek.

"Lalu, aku saja yang menulis keunggulannya," Rika merebut bolpen dan mengambil alih posisiku, kemudian menuliskan apa yang ia anggap itu adalah suatu keunggulan. Aku hanya membacanya karena iseng dan siapa tahu ada yang salah ia tuliskan, tetapi kemudian giliran aku yang dibuatnya terpaku.

Buku praktis penunjang kimia untuk SD, SMP, SMA, mahasiswa. Berisi daftar nama dan uraian data unsur-unsur kimia dalam tabel periodik unsur, mulai dari data tentang periode dan golongan, data karakteristik unsur, seperti titik didih, titik lebur, dan stuktur kristalnya, sampai pemanfaatannya. Mencakup 118 unsur kimia, termasuk unsur yang baru ditemukan sesuai dengan rekomendasi The International Union of Pure and Applied Chemistry atau IUPAC.

Kemudian Rika membubuhi nama dan nomor teleponnya, dan memberikan kertas itu kepada pustakawan yang membacanya sedikit terbengong. Aku sendiri masih ternganga sampai mengikutinya keluar dari perpustakaan. "Dari mana kamu dapat sumber itu?" tanyaku tidak habis pikir, begitu aku dan dia keluar dari perpustakaan.

"Direkomendasikan oleh guru kimia kita," jawab Rika tak acuh.

Aku masih memandangnya—antara kagum dan tidak ingin mengakui hal itu. Maksudku, Rika adalah perempuan pertama yang aku kenal selain ibuku, dan Rika adalah satu-satunya perempuan yang masih tetap bertahan di sampingku sampai sekarang—meskipun dia tidak menginginkan hal itu.

Selama ini aku menganggapnya sebagai si cupu-pembawa-modul-kimia. Tetapi, pada hari itu, aku mulai memikirkan akan sesuatu tentang dia, yang jauh di masa depan.


[pov: Rika]

Selama SMA, Rei agak aneh. SD adalah masa kejayaannya, dan SMP adalah puncak di mana dia diagungkan. Kini, di SMA—Rei masih tetap Rei, dengan keahlian basketnya dan aura yang membuatnya digilai cewek-cewek, hanya saja, ia jarang sekali menggoda cewek. Yah, mungkin karena cewek-cewek yang mulai agresif mengajaknya mengobrol, sih.

"Rika, Rei itu orangnya bagaimana, sih? Dia keren, ya!?"

Aku menoleh. Salah satu cewek yang aku lupa namanya—menggangguku yang sedang sibuk membaca modul kimia. Sekarang, nama Rei sedang tenar-tenarnya karena perlombaan olahraga basket antar SMA sudah dimulai, dan Rei menjadi kapten basket tim SMA ini. Kabarnya, sih, kemampuan basketnya hebat—kabarnya.

"Masa'?" tanyaku apa adanya. Bagiku, sih, tidak sama sekali.

"Iya! Dia mencetak 16 poin ketika pertandingan basket kemarin, keren, deh!" salah satu cewek ikut nimbrung, dan sekejap saja mereka heboh. Aku ingin sekali menggeleng-gelengkan kepala. Astaga. Mereka tidak mengerti kenyataan yang sebenarnya.

Aku beranjak, sudah menggendong tas ranselku. "Aku pulang, ya," pamitku. Tidak ada yang membalas tentu saja, mereka lebih menyukai pembicaraan seputar seorang Rei, dibandingkan membalas pamitku.

"Kyaa, itu dia!"

"Oh, lewat sini!"

Aku baru akan menggapai pintu dan mendorongnya, ketika pintu itu tertarik dan seseorang dari luar sudah membukanya. Aku mengangkat kepala. Rei. Rei juga mengangkat alis, terkejut melihatku—apalagi dengan kondisiku sudah menggendong tas dan bersiap-siap untuk pulang.

"Kamu sudah ingin pulang, Rik?" tanyanya retoris.

Aku menanggapi pertanyaannya enteng. "Begitulah," jawabku apa adanya. "Sedang persiapan lomba basket, kan?"

"Pada dasarnya, persiapannya sudah beres, sih, latihan fisik terus-menerus juga tidak ada gunanya, kan," Rei mengangkat bahu.

"Rei, selamat berjuang pertandingan basketnya!" jerit salah seorang cewek teman sekelasku yang nekat berteriak.

"Iya, jangan sampai kecapekan!" tidak mau kalah, cewek lainnya ikut menjerit.

Rei hanya menganggukan kepala, kemudian memandangku lagi. "Aku juga ikut pulang. Kamu tunggu di gerbang, ya."

"Eeeh, pulang bersamaa?"

"Aku juga mau!"

Tidak dapat dibendung lagi, sikap Rei yang dengan tumbennya mengajakku dengan nada dan sikap yang sangat ramah, seolah-olah aku bagaikan seseorang yang mempunyai hubungan dekat dengannya saja, menimbulkan kontra yang teramat besar. Aku terlalu terkejut dengan kejadian itu, sehingga tidak bisa berbicara selama beberapa saat. Hingga akhirnya aku memalingkan muka. "Asal tidak lama saja," kataku ketus, membawa iramaku kembali.

Rei menganggukan kepala, dan langsung menghilang dari pandanganku, dan pandangan cewek-cewek lainnya yang langsung mengerubungiku.

"Ternyata benar, ya, bahwa kamu dan Rei itu setiap hari pulang bersama?!"

"Walaupun hanya teman kecil, tetapi kenapa kalian akrab sekali, sih?"

Aku hanya memasang senyum datar dan keluar dari kelas. Sudah banyak cewek yang datang kepadaku hanya untuk menyuarakan bentuk protes mereka bahwa mereka tidak suka seorang aku yang biasa-biasa saja, dekat dengan Rei yang itu. Aku menyuarakan hal itu ketika melihat Rei dari kejauhan, mendekat, dan perlahan-lahan semakin dekat.

"Sebaiknya kamu tidak melakukan itu lagi, repurtasimu bisa hancur," sambutku.

"Kenapa?" tanya Rei, entah dia sungguh tidak tahu, atau hanya berpura-pura tidak tahu.

Aku menghela napas, mulai mengambil langkah, dan dia mengikutiku. Tanpa sadar, ensiklopedia unsur-unsur kimia yang kupegang di tangan, yang sekarang sudah ada di perpustakaan kota karena rekomendasiku, kupegang erat-erat. "Jangan bersikap bodoh, tuan-akulah-tukang-mainin-cewek-nomor-satu," tukasku.

Rei mulai menggunakan otaknya. "Maksudmu, cewek-cewek akan menganggap kita pacaran dan repurtasiku akan hancur karena aku mau-maunya jalan bersama si cupu-pembawa-modul-kimia yang culun ini?"

"Ya," jawabku tanpa pikir panjang. Meskipun aku tidak mau menerima bahwa aku adalah si cupu atau apapun yang dia katakan, tetapi aku sungguh ingin mendengar jawabannya.

"Kau tahu, itu kan wajar," sama sekali bukan dugaanku, bahwa Rei membalas dengan jawaban yang cepat pula, dengan enteng seolah dia menjawab bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. "Kita sudah sering melakukan ini sejak kelas 1 SD. Sekarang kita sudah kelas 2 SMA, sudah sepuluh tahun, tahu. Memangnya aneh, kalau mendadak kita berpacara—"

"..."

"..."

Tunggu, apa yang dia katakan tadi?! Aku mengulang apa yang dia katakan itu di kepala. Memangnya aneh, kalau mendadak kita berpacara—maksudnya, berpacaran? Berpacaran yang itu? Kenapa tiba-tiba? Apakah faktor bahwa Rei mengucapkan hal itu dengan cepat, sehingga tanpa sadar ia mengatakannya?

"Ya?" aku memberanikan diri, menyuruhnya mengulang apa yang ia katakan.

Tetapi Rei masih terdiam, membuatku melakukan hal yang sama. Canggung.


[pov: Rika&Rei]

Sebenarnya, biasanya itu kami bagaimana, sih?

Kenapa kami tidak bisa berbicara dengan normal?

Sepertinya aku lupa mendadak bagaimana biasanya kami bercakap-cakap! Ini gawat.

Tiba-tiba aku jadi... entahlah. Sudah sejak SD kami pulang bersama dan berdebat kapanpun di manapun, tetapi kenapa... kenapa sekarang...

Aku mendengar suara degup jantung. Berdebar begitu kencang, membuatku harus berhenti melangkah untuk menajamkan pendengaran. Ya, detak jantungnya benar-benar semakin keras. Semakin kencang. Membuatku berpikir apa yang salah dengan badanku, membuatku menggigil hebat begini. Astaga—

Suara detak jantung ini...

.

.

...milik siapa..

Aku memandang, dan kami saling memandang.


[pov: Rei]

Aku berdehem, mencoba mengkondisikan tubuhku yang sudah tidak beraturan. Aku sudah berbanyak-banyak kali menembak cewek sebelumnya, dengan berbagai macam gombalan, berbagai versi, yang selalu saja berhasil. Namun aku tidak mungkin melakukan hal itu kepada cewek di hadapanku ini—bukannya aku tahu akan gagal. Tetapi aku merasa, bahwa aku tidak pantas bersanding dengannya jika hanya dengan modal gombalan.

"Oke," aku mulai berbicara. "Kau tahu berapa cewek yang kugombali, Rik?"

"Seribu," jawab Rika sekenanya. Aku tahu sebenarnya dia juga merasakan ketegangan yang kurasakan, namun hebat juga dia mampu bersikap seolah-olah tidak ada kejadian yang menimpa dirinya. "Dan semuanya berhasil—meskipun aku tidak mau mengakuinya."

Aku menganggukan kepala. "Tepat," tanggapku pendek, mencoba bersikap natural. "Bagaimana menurutmu apabila cewek yang ke seribu satu ini, kutaklukan dengan penuh perjuangan, tanpa spontanitas, tanpa gombal, hanya apa adanya saja? Bukan apa adanya dalam arti seadanya, tetapi sebagaimana mestinya. Aku, ya, aku—begitulah."

Rika memandangiku dari atas ke bawah. "Sudah kuduga, Rei, kamu mulai berubah. Untunglah untukmu," komentarnya. "Itu sangat bagus. Lalu, apakah kamu punya target siapa yang akan mau dengan mudahnya menerima kamu sebagaimana mestinya?"

"Kamu, tentu saja."

"..."

Sikapnya yang tiba-tiba membatu itu sudah bisa kutebak—bukannya sudah aku skenariokan. Hanya saja, aku hanya menebaknya.

"...YA?"

Aku mengangkat bahu, memandangnya lurus-lurus. "Kau tahu, aku ingin mengatakan dengan dramatis, tetapi itu nanti masuk ke dalam kategori menggombal jadinya," kataku berputar-putar. "Jadi, aku mengatakannya saja. Begitulah."

"Kenapa kamu harus dengan seseorang seperti aku?"

Aku mengangkat kedua alisku. Kalimat itu agak aneh. "Maksudnya?"

"Astaga, lihat kamu, lihat aku. Lihat kamu yang eksis dan populer, sementara aku adalah anak cupu dan culun. Memangnya apa yang membuat kita cocok satu sama lain?" Rika kelihatan jelas bahwa dia bingung. Tetapi melihat reaksinya, aku justru makin menyukainya. Oke, dia benar-benar tidak seperti cewek lain yang mengharapkan suatu adegan manis dan romantis. Kejadian ini sangat tidak romantis, tetapi ini menyenangkan.

"Apakah kamu percaya apabila jarak dan waktu memang menginginkan kita?" aku memutuskan untuk mengatakan itu dengan tandas. "Kita sudah sepuluh tahun bersama-sama. Apa yang kurang dari itu?"

Aku membiarkan Rika mencari jawabannya. Rika tidak berani memandangku, sampai akhirnya ia menggelengkan kepala. "Tidak ada... mungkin," ia menjawab juga akhirnya.

"Jadi, biarkan aku mengantarmu pulang sampai rumah, hai cewek-ke-seribu-satu?" aku memasang senyum kepadanya. Pada dasarnya, itu adalah senyum meledek, sih—entah mengapa aku tidak bisa menahannya. Rika memandangku, dan dia salah tingkah.

"Begitu saja?" Rika mencoba memprotes, mulai mengambil langkah.

"Begitu juga cukup," aku menganggukan kepala, mengikutinya, seperti biasa.

"Kamu tahu, ini sangat tidak romantis."

"Ini yang kamu inginkan, kan?"


TAMAT


A/N: Pada dasarnya, ini nggak romantis sama sekali. Oke, aku sebenernya ada lomba nulis cerpen yang deadline nya hari ini, tapi tiba-tiba aku kena writer blockitis sama ideku itu. Aku nonton anime biar ada ide lagi (biasanya sih ini nggak membantu, dan aku benar) lalu tiba-tiba muncullah ide yang justru membuatku... nulis cerpen baru-_- Jadilah cerpen ini. Karena nggak tau mau buat apa, jadi kupakai sebagai fict pertamaku di fictionpress ini, ya. Mohon bantuannya, para author yang sudah menghuni sekalian.

Kritik dan sarannya ditunggu. Terimakasih^^

©Kaori

.

start 23/04/2015 20:02

finish 24/05/2015 00:34