Get High With Me

.

.

"Aku cuma dapat bahagia dari situ,"

"Kamu cuma buang-buang waktu hisap ini, melayang-layang gak jelas karena khayalanmu sendiri.."

.

.

Raafi melangkahkan kakinya masuk ke sebuah warung kopi yang sudah berada tepat di hadapannya. Ia menghembuskan napas berat karena dinginnya malam yang semakin meremukkan tulang. Didudukkannya bokong kakunya di sebuah kursi plastik warung itu, mata memandang ke sekeliling tempat asing yang ia tempati sekarang. Ia membuka perlahan kacamata yang telah me'nyantel' seharian di hidungnya, mengerjap-ngerjap membiasakan buram yang menyerang indera penglihatan. Kepalanya menoleh otomatis ketika hidungnya menangkap harum makanan ringan yang baru matang dari dalam warung. Ia melihat seorang wanita paruh baya dengan tudung hijau tua dan daster batik menata nampan berisi penuh makanan berminyak itu di depan warungnya.

Sang wania tersenyum sangat ramah dan menunduk sedikit ketika menyadari keberadaan Raafi. "Mangga, nak. Mau makan apa?" tanyanya dengan medok. "Apa minum kopi saja?" ia kembali tersenyum, jari telunjuknya menunjuk rencengan kopi instant yang tergantung.

Senyum juga merangkap di bibir tipis Raafi yang sedikit menggigil. Ia meremas jaket tipis hitamnya yang terselempang di pundak. "Ehm.. minum kopi saja, bu," jawabnya lembut. Niat hanya ingin minum kopi langsung sirna ketika harumnya gorengan membuatnya goyah. Jemarinya menyomot sebuah pisang goreng berbentuk kipas dengan warnanya yang keemasan. "Saya ambil ini juga deh, bu," ia tersenyum malu dengan gigi kelinci besar dan lesung pipinya yang nampak.

"Ok," sang wanita berkata dengan gaul. Dengan telaten ia menggunting kemasan kopi yang tergantung lalu berjalan masuk ke warung. Tak lama kemudian, ia kembali dengan teko yang sepertinya berisi air panas. Kembali sang ibu tersenyum, "Ibu lihat kamu keluar dari sana," kata ibu itu seraya menunjuk bangunan sederhana yang baru selesai di bangun, tangannya menurunkan teko itu. "Rumah kamu itu?"

Raafi menggeleng. Matanya menatap lekat tangan terampil yang sedang menyeduh kopi. "Bukan. Itu.. saya mau buka butik di situ,"

Mulut si ibu membulat. "Kamu kerja apa? Penjahit?"

"Saya designer. Lulusan kampus dekat sini, bu,"

"Oh, begitu," sang ibu dengan tangannya yang agak gemetar memberikan secangkir kopi panas di meja kecil depan Raafi. "Kalau begitu sering-sering ya nak, kesini," ia tersenyum lagi.

Hati Raafi agak melembut ketika melihat senyuman sang ibu yang tulus tanpa dosa. "Iya, bu. Saya usahakan,"

Sang ibu membenarkan tudung kepalanya. "Saya Ibu Dini, nak ini siapa?"

Raafi mengulurkan tangannya. "Raafi,"

Ibu Dini nampak agak terkejut dengan uluran tangan Raafi, namun setelahnya ia segera mengelap tangan kanannya di daster yang ia kenakan, lalu menyambut tangan Raafi dengan lembut. Ia tersenyum kecil lalu melepaskan tangannya. "Silahkan nak, dinikmati. Ibu mau ke dalam dulu. Ada urusan. Permisi," dengan kata itu, Ibu Dini masuk ke dalam warung yang sepertinya rumah wanita itu, lalu menghilang di telan pintu kayu.

Asap yang mengepul di atas cangkir Raafi gunakan untuk menghangatkan tangannya. Ia menggigit bibir ketika melihat tak ada orang selain dirinya di warung ini. Mungkin ini belum saatnya warga berkumpul. Melihat begitu banyaknya jajanan dan camilan serta gorengan yang tersaji, mungkin ini memang tempat warga sering berkumpul. Ia mengunyah pisang gorengnya yang masih hangat, menikmati rasa manis gurih yang renyah di lidahnya. Ia tersenyum menyadari rasa makanan ringan ini yang ternyata sangat lezat. Kemudian ia beralih ke kopinya, menyesap sang kopi dengan perlahan lalu mendesah nikmat. Saat ia meletakkan cangkirnya di meja, tiba-tiba saja suara kursi plastik di geser mengejutkannya dari samping.

Seseorang yang nampaknya pria tengah duduk di kursi samping Raafi. Di balik jaket kulitnya, nampak sekelebat pakaian formal lengkap dengan tas mahal yang sungguh menarik perhatian Raafi. Ia memerhatikan pria itu dengan seksama. Dapat di simpulkan pria ini adalah seorang pekerja dengan jabatan tinggi. Dilihat sekilas, usia sang pria nampaknya lebih tua sedikit dari Raafi. Pria itu meletakkan tasnya di atas meja. Ia membuka jaket kulitnya dengan cepat, aroma cologne pria yang sangat pekat menyerang hidung Raafi, membuatnya menjauh sebentar, dan mendekat lagi karena ia menyukai harum yang menguar dari tubuh atletis berbalut kemeja putih dengan lengan tergulung sesiku dan dasi merah marun yang menggantung malas di lehernya. Alis Raafi berkerut ketika sang pria dengan gerakan menggoda merapikan rambutnya yang terpangkas rapi, menampilkan wajah tampannya yang tadi tertutup rambut.

"Lihat Ibu Dini?" tanya sang pria.

Suara berat itu membuat Raafi mengerjap. Jantungnya berdebar ketika mata sang pria tampan itu terarah padanya. Ia tersenyum gugup. "O..oh.. tadi.. t-tadi ke dalam," jawabnya gugup. Sepertinya sang pria kenal dekat dengan ibu pemilik warung kopi ini.

Senyuman kecil terlukis di bibir penuh merah jambu si pria. "Oke.." ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Mhm.." ia menggumam.

Raafi hanya bisa mengalihkan pandangan dari pria itu. Ia menyesap kopinya yang sudah mendingin namun tetap hangat. Dihabiskannya pisang goreng lezatnya dengan sekali gigit.

"Kamu.. anak kampus sebelah ya?" sang pria kembali bertanya.

"Kok tahu?" Raafi agak terkejut dan dengan bodoh balas bertanya dengan mulut penuh. Ia merutuki kebodohannya karena sudah menghancurkan image-nya di hadapan sang pria. Ia mengelap bibirnya yang penuh minyak dengan tissue yang tersedia.

Sang pria tertawa kecil. "Pernah lihat saja.." ia mengerucutkan bibir memikirkan sesuatu. "Sering pulang sama Adho kalau gak salah?" tanyanya lagi.

Lagi-lagi Raafi terkejut sampai hampir tersedak. "Kok tahu Adho?"

"Ehm.. dia satu SMP sama aku, seangkatan, tapi beda kelas. Tapi kayaknya dia gak kenal aku. Aku kenal dia karena dia OSIS sih.. jadi.. yah.." sang pria membersihkan tenggorokannya. "By the way.. namaku Rully," sang pria mengulurkan tangannya.

Raafi membersihkan tenggorokannya juga, berharap suaranya tak serak. Ia menyambut tangan Rully dengan tangannya yang sedikit berminyak. "Raafi,"

Rully tersenyum miring. "..kalau boleh tahu.." ia melepaskan genggaman tangannya dengan Raafi yang akhirnya ia sesali. "Tinggal dimana?" digaruknya rahang bawahnya yang memang gatal.

Rasa dingin dari tangan Rully hilang begitu saja. Raafi kembali membersihkan tenggorokannya. Ia menggigit bibir sejenak. "Dekat sini. Eum.. mungkin agak jauh. Tapi aku baru buka butik di sana.. sekaligus buat itu kayak ruko, jadi mungkin sering menetap di sini," ia menunjuk bangunan yang sama seperti Ibu Dini tunjuk. "Oh iya. Tadi katanya satu SMP sama Adho? Seangkatan? Berarti umur kita sama?" tanyanya. Ia merasa bersalah sempat mengira Rully lebih tua darinya.

"Ya.. begitu sepertinya.." Rully menjawab datar. Ia mengambil tempe goreng di hadapannya. "Mau ngobrol? Biasanya Ibu Dini jam segini suka telepon anaknya di luar kota. Jadi mungkin dia lama. Dan aku bosan," tawar Rully, menggigit makanannya dan mengunyah dengan bunyi nyaring.

Raafi mengangguk dan tersenyum. Ia merasakan wajahnya memanas dan dadanya bersedir sedari tadi. Ia mencoba menghalau namun rasa itu muncul lagi ketika matanya beradu dengan mata Rully. "Oke,"

.

.

"Sudah?"

"Hmm.."

"Mau aku antar pulang?"

Raafi menegang. "Eh.. gak usah. Aku mau ke butik saja," ia menunduk dengan seulas senyum sembunyi.

"Oh.." kedua tangan Rully masuk ke dalam kantung celananya. Ia menatap aspal jalanan yang sudah agak rusak, menendang-nendang kecil remah aspal yang langsung terlontar entah kemana. Digigitnya bibirnya yang mengering, otaknya berusaha mengolah kata. Ia benci kecanggungan.

"Eum.. Rull, aku duluan ya," Raafi menepuk-nepuk kecil lengan atas Rully, sudut bibirnya terangkat sebelah.

Rully menatap Raafi dengan alis yang terangkat. "Okay.." ia mengeluarkan tangan kanannya dari kantung celana, kini menuju kantung kemeja putihnya yang sudah lusuh. Dikeluarkannya sebatang ballpoint dengan merk sebuah perusahaan swasta. Ia menggaet tangan Raafi, membuat pria berkacamata itu terkejut. Kikikkan geli pun keluar ketika Rully menuliskan sesuatu di pergelangan tangan Raafi.

"Buat apa?" tanya Raafi sambil terkikik. Ia menarik-narik tangannya, mencoba melepaskan genggaman hangat Rully.

"Ssshh.. nomor telepon," jawab Rully dengan seringai yang tak nampak karena gelapnya jalanan kala itu.

Alis Raafi terangkat. Ia menghentikan pergerakan tangannya. Hatinya menghangat, membuat tubuhnya yang menggigil sejak tadi pun juga menghangat. Ia hanya diam setelah Rully menjawab, memerhatikan pria tampan itu yang sepertinya membutuhkan waktu beberapa menit hanya untuk menuliskan sebaris kalimat berupa angka. Tak bisa ia pungkiri, ia tak bisa protes, karena ia tak ingin hangat dan lembut telapak Rully menjauh dari pergelangannya.

"Yup!" pekik Rully ketika angka-angka itu sudah tertulis rapi. Ia melepaskan dengan enggan pergelangan Raafi dengan kulitnya yang sangat halus. Ia mengambil kesempatan mengelus kulit itu, merasakan setruman yang membuatnya ingin merasakan itu lagi.

"Oke.." Raafi menggenggam pergelangannya. Dengan wajah merah, ia menatap wajah Rully, mengagumi setiap inchi-nya yang terkena terpaan rembulan. "Aku.. pergi.." ia mengambil langkah. "Jangan lupa datang ya kalau mau pesan baju," ia tersenyum miring sambil menggigit bibir gugup, lalu membalik badan dan langsung melangkah pergi.

Rully menatap tubuh bagian belakang Raafi yang perlahan menjauh sampai menghilang di balik pintu sebuah bangunan. Sebelum menutup pintunya, sebenarnya ia melihat Raafi tersenyum walau jauh sekali. Ia pun balas tersenyum, entah Raafi melihat atau tidak. Setelah memastikan Raafi pulang dengan selamat, Rully berjalan masuk ke mobilnya. Ia menyalakan mesin dan menyandar. Sekelebat wajah Raafi muncul di otaknya. Sebentar saja. Ia tak akan membiarkan pria itu mengontrol pikirannya. "Apa itu.. cinta pandangan pertama?" bisiknya dengan tawa perih. Ia memacu mobilnya, pergi menjauh dari warung kopi yang sekarang tengah ramai mendapat pelanggan.

.

.

Di kamar kecil dengan penerangan redup itu Raafi tengah berbaring. Sudah satu jam sejak pertemuan kecilnya dengan Rully. Ia tersenyum pada langit-langit. Sedetik kemudian tersadar dan senyum pun pudar. Ia seperti orang gila. Daritadi yang ia lakukan hanya tersenyum dengan wajah semerah tomat. Dan parahnya, yang membuatnya tersenyum adalah otaknya yang selalu menayangkan wajah Rully yang sedang tertawa. Ia mengusap wajah, dan nampaknya langsung menyesali apa yang ia lakukan, karena matanya langsung menangkap sekelebat angka yang berbaris. Ia langsung bangkit duduk, menatap pergelangannya yang ternoda tinda hitam.

"Lupa.." gumamnya kecil. Ia meraih telepon genggamnya di atas meja samping ranjangnya, menyalakan benda kecil itu dengan ragu. Setelah kunci di handphone-nya terbuka, ia hanya menatap dengan sendu. Entah apa yang akan ia lakukan. Apa ia akan menyimpan nomor telepon Rully, yang notabene hanya teman ngobrol singkatnya di warung kopi sebelah, atau tidak menyimpannya. Ia memutar mata, menyadari sekarang ia bertingkah seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Demi apapun sekarang ia adalah pria dewasa yang sudah berkali-kali gagal dalam cinta.

Raafi menggerakan jemarinya, mengetik nomor-nomor itu lalu menyimpannya. Ia mengirim sebuah pesan singkat untuk nomor itu lalu dengan cepat mematikan handphone-nya, meletakkan dengan lembut ke tempat semula. Ia menarik tali lampunya, membuat sumber penerangan itu mati. Dibaringkannya seluruh tubuhnya di ranjang. Ia menatap bulan yang bersinar terang dan berdoa. Lalu matanya tertutup karena kantuk yang menyerang. Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia menginginkan Rully hadir dalam mimpinya.

.

.

Suara benda elektronik menghancurkan euphoria yang sedang Rully alami. Ia mengerang frustasi, mematikan handphone itu secara paksa lalu melemparnya ke ranjang. Ia kembali terduduk. Terduduk di pojok kamarnya yang masih menyala sangat terang. Dibibirnya terhimpit selinting ganja yang sudah tersulut api ujungnya. Ia menghisap zat terlarang itu dengan nikmat, merasakan efeknya yang sangat-sangat membuatnya seperti terbang melayang.

Sungguh ia sedang bertanya-tanya. Mungkinkah ia sekarang berada di surga? Dengan seorang bidadara manis yang sedang menemaninya. Juga banyak burung-burung cantik yang terbang di kamarnya. Ia ada di dalam kamarnya, namun rasanya seperti di surga.

Sang bidadara dengan tubuh polos namun mengenakan kacamata di hadapannya selalu diam. Ia ingin meraih pria cantik itu, namun setiap ia mengulurkan tangan, sosok itu tak pernah dapat ia genggam. Ia ingin membawa makhluk itu ke dalam pelukannya, membelai tubuhnya, mengelus kepala dengan surai hitam yang nampak sangat halus itu, namun ia tak bisa. Tak akan pernah bisa karena itu hanyalah halusinasi. Khayalannya yang terlihat sangat nyata.

Ia mengerang lagi, menghisap ganjanya lebih kuat, ingin menguatkan halusinasi indahnya yang lebih indah dari kenyataan. Ia menghembuskan asap yang tadi ia hirup dengan perlahan, sangat perlahan. Asap itu begitu nikmatnya sampai ia tak rela membuatnya pergi dari tubuhnya. Asap yang indah. Asap yang cantik. Asap yang dengan gemulai terbang melayang, membentuk wajah ibu-nya yang perlahan memudar lalu menghilang. Ia tersenyum, lagi-lagi mencoba meraih halusinasinya yang semakin menjadi.

Ia menyandarkan kepalanya ke dinding kamar yang dingin, membayangkan dinding itu adalah sebuah ranjang yang empuk dan sangat nyaman. Di hadapannya penuh dengan wajah-wajah orang yang ia cintai. Ada beberapa yang ia benci, namun ia hanya perlu mengusap wajah itu, dan mereka pun akan menghilang. Di setiap khayalannya, pasti orang yang ia benci selalu muncul. Dan orang yang ia cintai tetap dengan jumlah yang sama setiap waktu. Namun kini sepertinya wajah baru muncul dalam list orang yang ia cintai. Tepat di samping wajah ibu-nya, muncul wajah Raafi. Ia membawa kedua sudut bibirnya turun. Lalu ia membawa tangannya pada wajah Raafi, mencoba mengelus sebentar, merasakan jemarinya menyentuh asap yang mengitarinya. Kemudian dengan segera ia menghapus wajah Raafi. Ia tak mencintai orang itu. Seorang sepertinya tak akan jatuh pada pandangan pertama.

Rully mencoba berdiri, dengan tangan yang meraba dinding, menuju ke ranjang lalu menghempaskan badannya pada ranjang yang lebih nyaman dan empuk dari dinding. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal berisi bulu angsa, mengendus aromanya sendiri yang menempel pada bantal itu. Setelahnya, ia berbalik, menghisap lintingnya sekali hisap sampai habis. Setelah habis, ia mematikan api itu di asbak atas meja kamarnya. Ia kembali berbaring, menatap langit-langit sambil menghembuskan asap, kali ini cepat karena ia sangat mengantuk tiba-tiba, ingin segera menyelesaikan kegiatan kurang kerjaannya ini. Tak biasanya ia mengantuk sehabis mabuk ganja, karena efek sampingnya yang membuat insomnia.

Ketika matanya tertutup, efek ganja masih menempel di otaknya. Ia harus rela membiarkan wajah-wajah serta tempat-tempat dan hal indah terus menerus memutar di otaknya, membuat ia sulit menutup mata. Dan ia sangat kesal namun juga senang ketika adegan-adegan Raafi dengannya di warung kopi tadi sering terputar.

Apakah ia benar-benar jatuh? Ia pun tak tahu. Biarkanlah ganja ini yang mengambil alih otak dan kewarasannya.

.

.

"Terima kasih, cantik. Datang lagi ya,"

Seorang wanita dengan tubuh indah bak supermodel mengangkat senyumnya. Ia melambai pada Raafi yang tersenyum lalu keluar dari butik sederhana Raafi yang sudah terisi dengan baju-baju formal maupun informal yang sangat menarik mata. Raafi mendengus, mendudukkan diri pada Sofa mini yang sangat nyaman, memijat pelipisnya yang terasa pening. Ia melirik handphone-nya, membuang napas kecewa karena tak ada pemberitahuan pesan. Ia masih memikirkan Rully ternyata. Berharap pria itu membalas pesannya. Tak terasa sudah sehari ia lewati dengan melirik handphone-nya setiap waktu. Bodoh sekali dirinya, lagi-lagi ia tertipu dengan pria.

Ia harus terpaksa berdiri ketika pintu kaca-nya dibuka dari luar. Dengan malas ia berjalan menuju pintu masuk, membungkuk sebentar memersilahkan tamu yang baru datang. "Selamat datang.. silahkan masuk," sapanya dengan ramah. Senyumannya agak pudar ketika melihat wajah tamunya. Wajah tampan Rully yang ia kenal semalam. "R-Rully..?" tanyanya ragu, meneliti wajah itu sekali lagi.

Rully menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, menunduk, kemudian menatap bibir Raafi yang menganga. Ia menyeringai, membawa tangannya untuk menutup mulut itu. "Tutup mulut kamu. Jangan kaget gitu dong," katanya yang mengundang pekikan dari mulut yang ia tutup. Ia tertawa ketika melihat warna merah menyebar di wajah Raafi.

Tangan Raafi menepis tangan Rully di mulutnya. "Hish.." ia memajukan bibir kesal, kemudian menggigit bibir. "Huft.. eh, ayo duduk," akhirnya ia menarik tangan Rully lembut, memersilahkan pria itu duduk di Sofa tamu-nya. "Mau apa ke sini? Pesan baju kah?" ia berjalan ke meja kecil, menuangkan teh di cangkir kecil lalu kembali ke Sofa, meletakkan cangkir itu di meja hadapan Rully.

Bibir Rully bergerak aneh. "Yaaa.. Ehm, nggak sih.. m-maksudku.. iya. Mau.. pesan baju," ia tersenyum gugup. 'Ya, aku kangen kamu. Mau lihat mukamu lagi. Brengsek,' ia membuang wajah, menatap hanger baju perak yang tergantung di sebuah patung manusia.

"O.. okay," Raafi duduk di Sofa-nya. "Untuk?"

"Eum.. ada pesta pernikahan. Kakakku," ia tidak bohong.

"Oh.. kapan?"

"Minggu depan. Bisa kan?"

Raafi mengangguk. "Bisa saja,"

"Hmm.."

"Mau pesan atau langsung beli saja? Mungkin mau sewa? Aku.. aku ada kok," Raafi berdiri. "Mau lihat?" tawarnya.

Rully menyeringai lalu ikut berdiri. "Okay.."

.

.

"Kamu yakin gak mau yang ini?"

"Nope. Aku gak suka warnanya,"

Raafi mendengus, mengembalikan Tuxedo merah itu pada tempatnya. "Kenapa? Padahal bagus, kok. aku suka.." ia menatap pakaian itu dengan sendu. Ingin sekali ia memakai baju itu. "Kamu juga kayaknya cocok pakai itu,"

Gelengan kuat tercipta. "Aku gak suka warnanya. Mencolok,"

Raafi mengangguk mengerti. Kemudian ia meraih Tuxedo itu lagi, mencoba mencocokkan badannya dengan pakaian itu. Tersenyum bahagia seakan ia benar-benar mengenakannya.

Mata Rully menatap takjub pada makhluk di hadapannya. Menurutnya dan mungkin, menurut semua orang yang melihat ini, Raafi terlihat sangat indah memakai Tuxedo yang bahkan kalah indah dengan dirinya. "Kamu.. cantik," ucap Rully tiba-tiba.

"Huh?" Raafi mengangkat kepala, menatap Rully bingung. Ia menangkap kata 'Kamu' dan 'Cantik', tapi ia tak mengerti maknanya.

Rully terbatuk. "Eum.. kamu.. bajunya.. kamu yang buat, kan? Hehe.. bagus. Cantik!"

Raafi tersenyum malu, bangga akan dirinya yang dipuji oleh pria setampan Rully. Ah.. ia benar-benar jatuh lagi. Dengan perlahan, ia meletakkan Tuxedo cantik itu di tempat semulanyai. "Terima kasih," ia membenarkan kacamatanya. "Jadi kamu mau yang apa?"

'Aku mau kamu. Ya ampun. Shut up,' Rully membatin. Matanya berkeliling, mencari Tuxedo yang menurutnya akan cocok saat ia mendatangi pesta pernikahan kakaknya. Saat ia melirik ke sudut ruangan, di sana tergantung Blazer berwarna coklat tanah liat yang menarik matanya. Ia terseyum kecil. "Itu saja. Boleh?"

Mata Raafi otomatis bergerak ke sana. Ia pun tersenyum. "Perfect!"

.

.

"Jadi.. pakai Blazer ini dengan kaos hitam polos dan.. celana panjang hitam, mungkin? Denim juga bisa. Tapi celana hitam supaya formal,"

"Ya.." mungkin telinga Rully sudah tuli dan mulutnya berkata reflek saja. Ia tak mendengar apa yang telah Raafi katakan sedari tadi karena fokus matanya hanya ke wajah Raafi, terutama bibirnya merah mudanya yang bergerak menggoda. Ia menggigit bibir, menahan diri untuk tak melahap sepasang benda lembut itu dan mencumbunya sampai bengkak.

"Rull..?" Raafi menjentikkan jari di depan wajah Rully.

"Oh.. iya!" pekik Rully langsung tersadar.

Mata Raafi memutar. Ia balik melanjutkan kegiatannya membungkus Blazer pesanan Rully dalam diam. Sesungguhnya ada satu pertanyaan yang sejak tadi ingin ia utarakan. "Kemarin gak balas SMS-ku, ya," ia menunduk setelah pertanyaan itu meleset dari lidahnya.

Rully terkejut. Ia segera merogoh sakunya, mengeluarkan handphone-nya yang dari tadi pagi tak ia sentuh sama sekali, menyalakan benda itu dan akhirnya melihat satu pesan masuk. Waktunya menunjukkan jam dimana ia sedang 'bersenang-senang'. Ia memukul dahi. "Maaf. Aku gak lihat," ia menggumam. "Maaf ya," kali ini lebih keras. Ia langsung menyimpan nomor di pesan itu dan mematikan handphone-nya. "Nanti aku telepon kamu,"

Senyum kecil namun penuh makna tercipta di bibir Raafi. Rasanya semua beban yang memberatkan dadanya kini terbang entah kemana. Ia melebarkan senyumnya sembari memberikan satu bungkusan ke gendongan Rully. "Pesananmu. Tadi sudah bayar. Terima kasih,"

Rully pun ikut tersenyum karena melihat kebahagiaan di wajah Raafi yang entah disebabkan oleh apa. "Ya. Sama-sama," ia berjalan mendekati sang pujaan hati. Ditatapnya wajah manis dengan frame kacamatanya yang memiring lucu. Tangannya bergerak sendiri, mengusap rambut halus Raafi, menghilangkan benang-benang yang tak disengaja menempel. Ia menyeringai ketika melihat merahnya wajah pria itu sekarang. "Nanti aku kemari lagi. Kalau ada meeting atau acara lain. Oke?"

Raafi mengangguk dengan napas tertahan. Jaraknya dan Rully sangat tipis.

"See you,"

Raafi merasakan nyawanya seakan terhisap habis oleh bibir Rully yang mengecup bibirnya dengan durasi hanya satu detik.

.

.

Rully sangat membenci dirinya. Sangat benci. Ia membenci dirinya yang selalu mengulangi kebiasaan buruknya ini. Menghisap ganja. Mungkin sekarang bukan kebiasaan lagi, melainkan gaya hidupnya sehari-hari. Tidak setiap hari juga, namun sangat sering. Sungguh ia tak tahu apa yang akan membuatnya menghentikan kegiatannya ini. Ia bahkan tak kapok setelah dimarahi Ibu Dini beberapa kali. Well, Ibu Dini sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ia setiap pulang kerja selalu bersantai di warung kopinya, curhat sana-sini mengenai kepenatannya akan kerja dan kehidupan.

Ia menghisap ganja itu dengan kuat. Matanya menatap rembulan yang sangat indah memantulkan sinar dari sang mentari. Lebih indah lagi saat halusinasi menemani. Untungnya ia cukup sadar untuk tidak melompat dari jendelanya dan menjemput sang rembulan lalu membawanya pulang.

Ia menghisap lagi, lagi, dan lagi. Ia tak pernah puas. Namun ia sudah membatasi dalam sehari hanya satu linting dan sudah cukup. Ia tak mau membuat hidupnya yang sudah hancur semakin hancur. Walau ia pun tak tahu apa salah ganja yang telah membuatnya bahagia. Ia tak tahu kenapa benda bermanfaat itu harus illegal. Biarkanlah. Benda haram tetaplah haram.

Suara handphone kembali menginterupsi halusinasi-nya. Otaknya terus-menerus memerintahkannya untuk mengangkat, namun ganja memerintahkan untuk tetap menghisap. Akhirnya otaknya kalah oleh ganja. Ia tahu siapa yang menghubunginya. Namun mungkin ganja akan membuatnya lebih bahagia.

Mungkin.

.

.

Raafi hanya terdiam dengan handphone di telinga. Ia menunggu suara 'tuut' menyebalkan itu berakhir, terganti dengan suara berat merdu yang ia rindu. Benar sekali, ia sedang menelpon pujaan hatinya yang baru. Rully.

Ketika lama 'tuut' itu tak terganti, ia akhirnya menyerah. Dilemparnya benda dengan harga mahal itu ke ranjangnya, mendengus kecewa karena merasa tertipu sekali lagi. Ia bodoh. Ia sangat bodoh. Mungkin saja Rully hanya seorang biseks yang playboy. Sangat playboy.

Dengan sakit hati, Raafi duduk di ranjangnya, memeluk lututnya dengan erat. Mencoba menghilangkan wajah Rully dari kepalanya. Mencoba menghilangkan adegan tadi sore dari ingatannya.

Ia menyentuh bibirnya perlahan. Tekanan lembut itu masih terasa. Bahkan suaranya masih terdengar. Bodoh. Ia bodoh. Entah sudah keberapa kali ia mengatai dirinya sendiri dengan sebutan itu. Ia mungkin akan mencoba melupakan cinta sesaatnya itu.

Mungkin.

.

..

..

.

"R-Rully! A-apa-apaan?!"

"Ssshhtt.."

"Kamu ngapain.. itu apa?"

Rully menatap Raafi yang berdiri di hadapannya yang terduduk lemas. Ia mencoba tenggelam dalam gelapnya mata kekasihnya yang menatap tajam. Ia memijat pelipisnya. Kenangan saat pertama ia bertemu Raafi mulai berputar. Ia menggeleng. Saat itu sangat canggung. Ia ingin saat ini. Hey, ia sudah memiliki Raafi seutuhnya.

Dengan kasar Raafi menjatuhnya barang-barang yang tadi ia pegang. Lututnya jatuh ke lantai. Ia merenggut beberapa linting benda yang ia tak tahu apa itu dan apa gunanya. Seperti rokok, tapi sepertinya bukan. "Ini apa?" tanyanya dengan wajah bingung sekaligus khawatir. Ia memerhatikan ekspresi wajah Rully yang sangat tak beraturan.

"..ganja," jawab Rully pasrah. Ia tak akan menyembunyikan kebiasaan buruknya pada orang yang ia cintai. Dan sangat ia percaya.

Raafi memekik terkejut. Ia menatap lintingan itu, lalu menatap Rully bergantian. "G-ganja?"

Rully hanya menjawab dengan anggukan. Ia mencoba menyeimbangkan kesadarannya dengan halusinasi-nya.

Sekarang Raafi hanya berharap ini hanya mimpi buruk. "A-astaga. Sejak kapan..?"

Kepala Rully terasa ingin meledak sekarang. Enggan menjawab pertanyaan bodoh Raafi, ia menarik lengan kekasihnya itu, membawa si pria manis ke dalam pelukan hangatnya yang bau asap. Geliatan tak nyaman Raafi tak ia indahkan. Ia semakin erat merengkuh bidadara-nya, memainkan jemari pada helaian legam terawat milik Raafi.

"Rully.." sesungguhnya Raafi ingin menangis. Tak disangka lelaki pujaannya ini berkelakuan seperti ini. Ia terus memberontak namun segera melemah karena ia tak sanggup menghalau kehangatan yang disuguhkan Rully. Ia akhirnya balas merengkuh, merasakan tubuh Rully yang ternyata sangat rapuh. "Kamu kenapa, sayang..?" bisiknya lemah di dada bidang Rully.

"Aku gak apa-apa," tenggorokan Rully terasa kering, namun ia terus menghisap ganjanya. "Cuma ingin bahagia,"

Jantung Raafi berdegup. "Bahagia?" ia mengangkat kepala untuk menatap mata sang kekasih.

"Kamu nggak tahu apa-apa," Rully mengalihkan pandangan dari pandangan mengintimidasi Raafi. "Hidupku hancur, babe,"

Raafi menggigit bibir, menahan emosinya. Ia tak mengerti bagaimana pria sesempurna Rully mengatakan kalau 'hidupnya hancur'. "Bukan begini caranya kamu bahagia," ia berniat merampas benda haram itu dari tangan Rully, namun tangan itu malah bergerak menuju mulutnya, dengan paksa membuat ujung linting yang tak terbakar menyelip masuk ke bibirnya. Ia yang kaget hanya mampu menahan napas.

"Get high with me.." bisik Rully, menghembuskan asap bakaran ganja dari mulutnya ke wajah Raafi.

Ingin Raafi merutuki dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menghisap batang ganja yang menempel di bibirnya, membiarkan asapnya masuk ke pernapasan dan menuju otak, memerangkap kesadarannya dengan halusinasi menakjubkan.

.

.

Suara kecupan mungkin satu-satunya yang terdengar dari kamar dengan pencahayaan temaram itu. Disertai dengan lenguhan manja, dua pria tanpa memakai atasan apapun sedang bergulat lidah di atas ranjang yang berderit ngilu. Dengan begitu semangat tanpa lelah, mereka menikmati setiap pergerakan yang tercipta, menghasilkan friksi yang rasanya tak berbanding dengan apapun di dunia. Salah seorang dengan kulit pucat namun warna merah memenuhi wajah, meremas rambut seorang lagi dengan kulit putih susu yang sedang mengungkung tubuh si pria pucat. Sang pria dengan kulit pucat membiarkan mulutnya di telusuri oleh pria yang amat sangat ia cintai itu.

"You're mine.." bisik Rully, pria yang berada 'di atas' dengan nada menggoda penuh keposesif-an. Ia mengecup hidung pria di bawahnya dengan penuh kasih, lalu menatap mata sang kekasih dengan datar.

Raafi, pria satunya lagi hanya mengangguk dengan senyum puas di bibir. Ia menggerakkan tangannya, sebatang ganja terselip di antara jemari lentiknya. Ia menggigit bibir, hendak menahan tangannya untuk memasukkan benda itu ke mulutnya, namun ia tak mampu. Benda itu pun akhirnya masuk dengan luwes. Ia menghisap nikmat benda itu, membenamkan kepala lebih dalam pada bantal ketika ia merasa banyak merpati putih yang terbang dari kepalanya.

Rully tertawa kecil melihat Raafi. Ia menutup mata ketika asap dari mulut Raafi menerpa wajahnya. Ia ikut menghirup asap itu. "I love you.." ia menggumam kecil, namun bisa membuat sang kekasih tersenyum lebar. Ia menundukkan kepala, meraih bibir Raafi sekali lagi, memagutnya sampai pria yang tengah 'terbang' itu kehabisan napasnya.

"Huft.." tangan Raafi melingkar di leher Rully, erat sekali sampai tak ada jarak di antara mereka. "Aku cuma mau hisap ini sekali seumur hidup, Rull.." bisiknya, tak percaya kalau ia sekarang tengah berpesta ganja dengan kekasihnya sendiri.

Rully mengangguk mengerti. "Sekarang hisap saja sampai kamu puas, sayang," ia mengulas senyum di bahu Raafi, menggigit-gigit kecil bahu polos itu sampai memerah.

"Dan aku mau kamu juga berhenti.." Raafi berbisik.

"Aku gak bisa berhenti.."

"Bisa,"

"Nggak akan, sayang," Rully melepaskan tangan Raafi yang melingkar di lehernya. Ia menyatukan keningnya dengan kening Raafi, menatap mata kelamnya dengan dalam. "Aku sudah bertahun-tahun bersahabat dengan dia," ia menunjuk lintingan di jemari Raafi yang masih mengeluarkan asap.

"I'll help you," Raafi menggenggam bahu Rully dengan tangannya yang tak memegang ganja, meremas dengan penuh dukungan. "Aku tahu hidup kamu rumit. Tapi aku gak pernah sangka pria se-kuat kamu kalah sama kebahagiaan sementara," ia menoleh untuk menghisap ganja itu, sampai habis. Rully sudah menceritakan bagaimana hancurnya kehidupan sang pria saat ia mulai mengakui orientasi seksualnya pada keluarganya. Ia prihatin, Rully memilih jalan yang salah untuk merasakan 'kebahagiaan'.

Ekor mata Rully menatap wajah cantik Raafi yang sedang menghisap ganja dengan takjub. Ia menemukan wajah sang kekasih yang sedang menghirup benda itu lalu melayang tinggi adalah sesuatu yang sangat 'sexy'. "Aku tahu," ia melepas keningnya dari kening Raafi. Membiarkan Raafi melayang sebentar, ia bangkit, lalu berbaring di samping pria itu. "Aku cuma dapat bahagia dari situ,"

"Ini.." Raafi menunjukkan sisa ganjanya di hadapan Rully. "Seperti kamu bakar kebahagiaanmu sendiri, Rull," kemudian dengan santai mencelupkannya di segelas air putih yang terdiam sedari tadi di atas meja. "Kamu cuma buang-buang waktu hisap ini, melayang-layang gak jelas karena khayalanmu sendiri. Dan sebenarnya waktunya itu bisa kamu pergunakan untuk meraih kebahagiaanmu sendiri. Contohnya.. jalan-jalan, atau telepon kakakmu itu.. Kamu selalu bilang dia yang bisa buat kamu bahagia setelah ibumu meninggal, kan?"

"..Atau kencan sama kamu.. hmm?"

Wajah Raafi memerah. "Kalau itu bisa buat kamu bahagia.. iya, mungkin," ia tersenyum sembunyi.

"Tentu," Rully tertawa. "Lanjutkan, my cute designer. Aku suka saat kamu ceramah gitu,"

"Ya.. ya.. kamu tahu kan itu bodoh? Gila. Kamu bahagia karena sesuatu yang gak nyata. Dan.. kebahagiaan kamu pun rusak dan hilang pas puntung ganja itu terbakar semua. Kamu beli lagi dan lagi sampai uangmu ikut terbakar, sayang,"

Rully terdiam. Ia tahu. Ia tahu semua itu. Hanya saja.. "Aku kesepian," ia menatap langit-langit kamar Raafi, halusinasinya memberikan gambaran bagaimana satu persatu orang yang ia kasihi hilang dari dekapannya. "Aku gay. Aku benci. Aku dijauhi. Aku pun dibenci,"

"Hey!" Raafi bangkit dari posisinya yang semula, kini ia merangkak, menjadikan dirinya tepat di atas tubuh Rully. "Aku juga. Kamu benci aku..?"

"Nope. Aku cuma benci diriku sendiri,"

"Tapi aku cinta kamu dan dirimu sendiri,"

"Karena kita sama-sama gay, sayang,"

Raafi memutar bola mata. "Bukan,"

"Kita beda. Kamu bisa terus jalani apa yang kamu suka walau ada tatapan benci dari sekeliling. Tapi aku? Aku terus dibenci dan terpaksa ngelakuin apa yang aku gak suka. Aku cuma bisa duduk di kamar setelah penat, lalu terbang bersama lintingan ganja yang sama sekali belum terasa cukup, walau mereka buat aku 40% bahagia.. apa aku harus coba yang lain..?"

Dengan pelan Raafi menyentil pelipis Rully. "Jangan nakal. Jangan coba-coba,"

"Hey.. kamu bukan ibuku. Dan kita baru seminggu pacaran, sayang,"

Raafi terdiam. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rully, mencoba menangkap tatapan mata sang belahan hati dengan bibirnya yang menempel seperti pasangan puzzle di bibir Rully. Ia menutup mata, namun bibirnya tak bergerak. Seakan ia hanya menempel di sana seperti anggrek pada inangnya, tak menyerap apa-apa, hanya menemani inangnya yang kesepian. Setelah cukup, ia melepaskan ciumannya, kembali menatap mata sipit itu yang selalu menjadi magnet bagi matanya. "Kamu mau coba yang lain..? Untuk buat kamu bahagia, kan..?" ia memberi jeda. "Kamu mau coba 'aku'?"

"Hmm..?" alis Rully menyatu.

"Kamu bisa buat aku bahagia dan terus buat jantungku tetap terasa hidup," Raafi menyatukan jemarinya dengan jemari Rully. "Kalau kamu bisa, kenapa aku nggak? Aku bisa buat kamu bahagia. Aku akan buat kamu lepas dari 'dia'. Aku janji,"

Senyum terukir di bibir penuh Rully. Walau ia tahu lepas dari zat terlarang itu tak semudah membalik telapak tangan, namun ia tertawa kencang pada akhirnya, walau dengan susah payah karena tubuh Raafi di atasnya yang membuat perutnya sulit bergerak. Ia tertawa sampai air matanya keluar. Kali ini tanpa efek ganja. Ia hanya.. merasa bahagia dan merasa ada yang menemaninya dalam kehidupannya.

"Kenapa ketawa begitu? Aku serius," kata Raafi yang bingung kenapa Rully menertawainya di saat serius seperti ini. Ia agak terkejut ketika Rully berhenti tertawa dan membalik posisi mereka seperti awal. Rully dengan senyum lebar di atasnya, berbisik 'I love you' dan kata-kata romantis lainnya. Saat satu kecupan hangat mendarat di keningnya, ia merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang terpancar. Bibirnya reflek membentuk senyuman, juga membalas kata-kata Rully dengan kata singkat 'I love you too'.

"Ibu Dini selalu benar. Hey.. bahkan dia yang comblangin kita, Fi. Dari awal kita ketemu di warung dia. Mungkin dia tahu kamu bisa buat aku berhenti dari ganja itu. Haha.. dia sudah muak lihat mukaku yang benar-benar kayak pecandu,"

Raafi mengerutkan kening. "Maksudnya..?"

Rully hanya mendengus. Ia mengedipkan mata, menelusuri punggung tangannya di permukaan kulit Raafi sampai turun ke bagian depan celana Raafi yang pria itu design sendiri, menggoda resletingnya yang sedari tadi sudah agak turun. "Mungkin aku mau coba 'kamu'. Gratis, kan?" ia menyeringai.

"Dasar!"

.

.

_SELESAI_