Nocturne Sanctuary Saga

VASSALUS NOCTEM


Kala bintang-gemintang bersembunyi

Tiada bisa kuhitung berapa lama

Jiwaku terikat di bumi

Terpenjara resah

Lelah ini tiada terdengar oleh kehidupan

Keputusasaan memanggil rindu pada kedamaian

Namun padamu akan kuserahkan

Pengabdian walau sepanjang keabadian

(The Ode of The Servants)


Betrayed Faith

~~ A Prolog ~~

Ketika satu kehidupan lahir, sebuah nama atas kehidupan itu disebut dengan teriring doa. Detik itu juga kisahnya akan mulai ditulis dalam buku takdir. Alur kisah yang diawali oleh seuntai harapan akan masa depan, demikianlah biasanya satu kehidupan bermula.

Aku tak tahu apa kiranya harapan yang dilekatkan padaku saat lahir ke dunia ini. Jika benar bahwa sebuah kata memiliki sihirnya sendiri – begitu juga dengan sebuah nama yang memiliki harapannya sendiri – kata yang melekat padaku adalah duka nestapa. Meskipun demikian, tidak sedikitpun muncul rasa menyalahkan wanita yang telah membawaku ke dunia dengan nyawanya, aku hanya menyesalkan takdir buruk yang menimpanya dan menyayangkan ia tidak hidup cukup lama agar aku bisa mendapatkan kesempatan untuk menghibur duka yang ditanggungnya.

Saat itu, keputusasaan belum menghampiriku. Aku masih seorang bocah naif yang optimis dan memiliki harapannya sendiri. Satu harapan yang banyak diharapkan oleh umumnya bocah di masa itu; aku berharap untuk jadi seorang ksatria hebat yang mampu menolong banyak orang. Tidak sulit untuk memulai titian terwujudnya harapan itu, meskipun hidup dalam pelarian, aku cukup beruntung memiliki seorang ksatria sungguhan yang membimbing – atau aku hanya beruntung memiliki mendiang orang tua aristokrat.

Pada mulanya, aku terus berusaha berpegang teguh pada prinsip kode kehormatan, bahkan setelah aku kehilangan status sebagai manusia. Namun seiring berjalannya waktu, seiring bergantinya zaman, aku melihat dan terlibat dalam lebih banyak pertempuran dan perjuangan, dan aku pun mulai mempertanyakan harapan dan prinsip yang kugenggam selama ini. Peperangan tak pernah menjadi hal yang sama menakjubkan sebagaimana yang diceritakan dalam kisah-kisah kepahlawanan. Yang akan kau lihat dalam sebuah peperangan adalah berbagai campuran tragedi yang dilukis oleh tangan seniman neraka, penuh dengan warna merah dan hitam. Begitu getirnya sensasi saat melihatnya hingga takkan tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Sumpahmu akan dipertanyakan. Nuranimu akan diguncang. Prinsip dan akal sehatmu akan terkikis perlahan.

Dulu aku berpikir bahwa dengan jadi ksatria yang mampu menolong banyak orang, pada akhirnya akan muncul perdamaian dimana manusia akan mampu hidup berdampingan dan saling memahami bahwa setiap nyawa makhluk hidup sangat berarti. Namun aku salah. Meskipun zaman berubah, manusia tidak benar-benar berubah. Peperangan tidak pernah berakhir. Dalam peperangan itu banyak dari mereka yang tidak lagi menghargai nilai-nilai kehormatan. Mereka mengkhianati nurani mereka sendiri atas nama ambisi – yang harus dicapai meski dengan mengorbankan orang lain, tak peduli berapapun jumlah korban yang harus jatuh. Tirani tak pernah mati, mereka hanya mengubah penampilannya dan merias diri dengan topeng kemunafikan yang disandang dengan angkuh.

Setelah semua yang telah terjadi dan kulihat berabad-abad lamanya, aku merasa kehilangan arah. Aku terus menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri, apakah aku telah melakukan hal yang benar? Apakah aku telah berjuang di sisi yang semestinya? Apa yang kupercayai selama berabad-abad seolah memudar begitu saja, terseret-seret oleh masa, dan hanya menyisakan segumpal kekecewaan yang terus berlarut-larut. Apa yang telah kuharapkan dan kuperjuangkan barangkali tak lebih dari sebuah dongeng anak-anak. Aku tak melihat sisi gelap dari dongeng itu, atau setidaknya berusaha mengabaikannya. Namun saat tangan-tangan kenyataan menamparku dengan teramat keras, aku terbangun dari lamunan utopis. Lalu aku pun mulai mempertanyakan dan berpikir mengenai sesuatu yang jawabannya tak bisa kurangkai dalam kata-kata, meski aku telah menyaksikan sebentuk jawaban itu sendiri nyaris dalam setiap hari yang berlalu.

Pada akhirnya, aku seringkali bertanya-tanya apa arti hidup dan kehidupan, juga apa arti kemanusiaan dan sifat manusiawi. Apa yang membuat seseorang disebut sebagai manusia? Apakah naluri mereka untuk bertahan dan saling melindungi? Ataukah kecenderungan mereka untuk melupakan dan menghancurkan? Aku tak pernah mampu merangkaikan seluruh jawaban pertanyaan itu. Sementara aku menanti uluran takdir untuk memutuskan apakah aku akan tetap hilang dalam kekecewaan pada kebobrokan dunia ini, karena manusia semakin tergelincir dan menghilangkan kelayakan mereka untuk dibela, ataukah aku harus bertahan dalam harapan masa lalu.

Sang Takdir memang kelak menghampiri, dan aku pun memutuskan untuk mengabdikan waktuku padanya – untuk membantunya mempertahankan dunia dimana orang-orang yang disayanginya berada. Diantara begitu banyak kekejian dan kebobrokan moral yang menjadikan bumi menjadi tempat yang demikian buruk, aku menemukan mereka yang masih bertahan dengan nuraninya. Itulah yang membuatku memutuskan untuk kembali berjuang, bukan hanya sebagai upaya penebusan kesalahan yang telah kulakukan jauh di masa lampau, tetapi juga satu kesempatan untuk mengambil keputusan yang berbeda dan mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi manusia.

Kadangkala aku merindukan bagaimana rasanya menjadi manusia, mengenang masa ketika aku mencintai – tak peduli betapapun pedihnya rasa itu. Namun adakalanya yang paling kuridukan dari hidup sebagai manusia adalah kematian. Sebuah kematian adalah akhir dari sebuah fase kehidupan, sedangkan kini aku hanya bisa berandai-andai sebuah akhir yang berbeda dibandingkan kutukan yang kujalani selama berabad-abad. Ya, ini adalah sebuah kutukan. Bayangan dari kutukan ini telah mencapaiku beberapa tahun sebelum aku mati. Keputusasaan yang kurasakan pada hari itu telah memanggil sesuatu dari dalam gelap, dan sebuah perjanjian yang memberiku sepasang sayap kelam. Sepasang sayap kelam yang kelak membawaku pada sang Takdir.