Chapter V

Entwined Fate

Selama beberapa minggu kembali pada rutinitasku sebelumnya – sebagai seorang daemon yang punya terlalu banyak waktu luang. Tahun telah berganti. Perayaan tahun baru yang demikian heboh berlalu, sementara satu perayaan lagi menjelang. Belakangan ini sepertinya banyak warna merah muda yang mendominasi, aku nyaris bisa menemukannya dimana-mana; toko-toko yang menghiasi etalase mereka dengan pernak-pernik warna merah muda, produk-produk dengan warna yang sama, bahkan bianglala besar di London pun menyala merah muda. Melihat warna itu ada dimana-mana sampai membuatku pusing, meski aku tak keberatan dengan aroma mawar.

Seorang gadis muda menatapku dari kejauhan di bawah Nelson's Column. Ia sedang bersama dua orang temannya, cekikikan dan kasak-kusuk mencurigakan. Penampilan mereka yang menor terlihat sangat tidak sesuai. Rok yang mereka pakai begitu pendek hingga menurutku pakaian itu tak bisa disebut dengan sebutan rok, memamerkan kaki jenjang yang terbalut sepatu boot. Sejenak aku terheran-heran mereka tidak kedinginan dengan baju seperti itu, tapi kemudian aku kembali mengingat satu hal; meski masa berganti, manusia akan tetap memiliki segala keunikan mereka, dengan segala parameter mengenai apa yang pantas dan tidak, juga dengan segala pendapat bertentangan dari golongan yang termarginalkan.

Aku menebak usia gadis-gadis itu hanya lebih tua paling banyak dua tahun dari Moira – oh, sial, mengapa aku jadi teringat padanya lagi. Meskipun pada masaku, gadis seusia itu telah cukup umur untuk dinikahkan, tapi penampilan ketiga gadis itu membuat mereka seolah menua sebelum waktunya. Anak muda jaman sekarang, pikirku sembari memutar mata dengan bosan. Aku baru saja berniat pergi, ketika seseorang duduk disampingku.

"Mereka merayakan malam penuh cinta ini. Sedangkan kau duduk sendirian disini, menatap hampa pada keriuhan manusia di Trafalgar Square."

Aku menoleh dan mendapati Leviathan memamerkan senyum flamboyannya. "Ck," decakku dengan jijik. "Kau lagi…"

Leviathan memasang raut cemberut – itu ekspresi palsu, tentu saja. "Lagi-lagi wajah ketusmu itu yang kautunjukkan."

"Setidaknya aku jujur dan tidak berusaha menipu orang dengan licik."

"Kau murung karena tidak mendapatkan cokelat?"

"Ap….? Aku apa?"

Saat melihat seringai jahil di wajah Leviathan, ingin rasanya kupukul dia dan membuatnya tercebur ke kolam di belakang kami. Well, aku pernah melakukannya – meski tidak sama persis seperti yang kubayangkan tadi; dia mendatangiku saat kebetulan aku sedang diminta 'membantu' seseorang di HMS Hermione tahun 1911, kami bertengkar soal pengakuannya tentang 'ramuan cinta' yang dia berikan pada pelayan Isolde berabad-abad silam. Murka sekali, aku menerjang dan melemparnya ke Laut Arab, yang kemudian muncul badai – nyaris membuat awak kapal itu habis – untungnya sebagian besar dari awak kapal bisa bertahan.

"Cukup sudah. Kau punya selera humor yang buruk, Tuan."

Sambil menahan geram, beranjak dari tepi kolam. Namun Leviathan menyambar pergelangan tanganku, menariknya, dan mendudukkanku lagi. Meski dengan wujud yang sedang dia pakai, aku punya badan yang lebih tinggi darinya, tapi dengan badan pendeknya itu ia masih tidak segan untuk menunjukkan kalau ia lebih kuat dari yang dikira manusia.

"Terburu-buru sekali. Astaga, Tristan, kau masih tak punya selera humor. Nikmatilah hidup ini, Nak."

"Seandainya neraka punya penghargaan untuk daemon paling brengsek, ingatkan aku untuk memberimu suara."

"Baiklah, kau punya selera humor. Kalau sarkasme kau sebut dengan humor," sahut Leviathan.

Mataku kembali tertuju pada tiga gadis tadi. Mereka masih memandangku, tapi dengan raut wajah yang berbeda, mereka melongo dengan ekspresi tiga ekor kukang yang baru saja ditampar.

"Tampaknya aku baru saja menyelamatkanmu dari sekelompok singa betina," celetuk Leviathan.

"Oh, ayolah… Mereka bahkan tidak semanis kucing. Yang benar saja," sahutku.

"Hooo… Begitu ya. Mereka memang tidak semanis kucingmu."

Aku menghela napas, lalu menggeram frustasi. "Aku hanya sedang ingin sendirian, dan kuharap kau tidak ada disini, Levi. Kau benar-benar makin membuatku stress," keluhku, membungkuk sambil bertumpu pada kedua lutut, mencoba mengabaikan beberapa orang yang melihat kearah kami. Lalu aku mendadak menangkap maksud tersirat dalam kata-kata Leviathan. "Apa maksudmu barusan?"

"Keponakan bangsawan itu? Gadis berambut pirang yang biasa kautemani jalan-jalan saat akhir pekan? Dia terlihat mirip Isolde…. Oh, Tristan…," dalam jeda diantara ucapannya, Leviathan menoleh padaku dengan mata membelalak, "kau…."

"Tidak," tukasku. "Apapun yang kaupikirkan itu tidak benar."

"Menyangkal lagi. Aku sudah hafal dengan perangai yang satu itu."

"Kau yang salah sangka. Aku tidak berniat melakukan apapun seperti spekulasimu," kilahku.

"Baiklah, kau tidak menyangkal. Hanya saja kau melakukannya demi apa yang menurutmu benar untuk dilakukan."

"Wah, wah, wah, lihat, siapa yang sekarang sarkastis," sahutku.

"Dengan sepak terjangmu yang seperti itu, kau tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Sekali-sekali kau perlu melakukan apa yang ingin kau lakukan. Berikanlah dirimu sendiri sedikit penghargaan, setidaknya agar kau tidak jadi martir demi prinsip yang kaupegang teguh selama ini. Dan ngomong-ngomong, kalau kau ingin sendirian, kau memilih tempat yang salah. Mestinya kau memilih tempat yang benar-benar sepi, secara harfiah, bukan tempat yang penuh manusia begini dan menunjukkan dirimu pada mereka. Tapi tunggu… Ah ya, aku hampir lupa. Kau dulu pernah menjadi bagian dari mereka. Kau ingin bernostalgia? Mengamati dan berpikir tentang bagaimana rasanya menjadi bagian dari mereka lagi. Aku tahu kau masih menyimpan kerinduan semacam itu."

Kali ini ia tidak bercanda. Aku selalu merasa jengkel dengan candaannya yang seringkali kelewatan, atau kelicikannya yang membuatku memendam rasa benci selama berabad-abad. Tetapi ketika ia berkata sesuatu yang terlepas dari keburukan yang ia pamerkan tanpa sungkan, seperti saat ini, rasanya tetap terasa menusuk.

Leviathan menoleh sekilas ke arahku. Ia mendengus geli. "Kau bahkan memakai syal rajutannya." Ia menggeleng heran.

"Bagaimana kau tahu?" tanyaku serta merta. Seingatku Leviathan tidak pernah mendengar cerita soal hadiah dari Moira – setidaknya tidak dariku, tetapi Hodain jarang sekali keluar, kecuali bersamaku. Aku takkan mencurigai Alfred, meskipun dia tampaknya mudah memberikan informasi, dia takkan bicara terlalu banyak pada seseorang yang tidak dikenalnya atau orang yang menurutnya mencurigakan.

"Hanya tebakan beruntung saja," jawab Leviathan. "Sebelum tahun baru, aku melihatmu berjalan-jalan dengan Hodain dengan syal kelabu yang sebelumnya tidak pernah kau pakai. Memang alasan yang tidak tepat, kan. Tapi dilihat dari responmu barusan, sepertinya tebakanku tepat."

"Aku menyimpan dan memakainya untuk menghargai apa yang telah ia lakukan," gumamku. "Sekarang aku tak perlu mencemaskannya. Dia akan baik-baik saja."

Lagi-lagi Leviathan menghela napas panjang. "Kau memaksanya menerima prinsipmu? Ah, lagi-lagi… Sifat keras kepalamu itulah yang sejak awal sangat merugikanku. Kuharap kau juga mengerti kalau sifat itu akan merugikanmu juga."

"Memangnya apa yang salah dari bertindak benar?" sahutku jengkel, merasa dihakimi oleh seseorang yang selama ini cenderung banyak bersikap licik demi mendapatkan kepentingannya daripada berbuat benar untuk suatu kebaikan. "Dia mengharapkan sesuatu yang tak bisa kuberikan."

Aku tidak mengatakan apapun mengenai permintaan Moira untuk berteman, sementara di sisi lain dia mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar teman. Leviathan pasti telah menebak soal hubungan yang diharapkan oleh Moira, tapi tidak dengan dalihnya untuk mengusahakan agar harapannya itu terwujud.

Leviathan menggeleng lelah, sembari berdecak-decak seolah orang tua yang lelah dengan sikap bandel anaknya – well, itu hanya perumpamaan, karena aku bukanlah anaknya. "Sulit dipercaya, sifatmu yang enggan menerima kesenangan hidup itu masih kaubawa hingga saat ini. Bahkan di hidupmu yang sekarang. Mungkin kau lebih suka menanggung perasaan terhadap seseorang yang tidak akan pernah kaudekati secara terang-terangan, itu akan merepotkanmu, Tristan."

"Aku tak punya perasaan apapun pada gadis itu. Dia memang mirip dengan Isolde, bukan berarti aku akan punya perasaan yang sama untuknya."

"Tapi tampaknya dia punya perasaan khusus padamu," ucap Leviathan. Ia memamerkan senyuman liciknya yang familiar.

Aku terdiam, sejenak menimbang-nimbang jawaban yang akan kuucapkan. Percuma saja mengatakan kebohongan pada Leviathan. Entah karena aku payah dalam berbohong ataukah karena daemon itu bisa menebak apa yang kupikirkan – dia pernah berkata siapapun yang telah memiliki banyak pengetahuan dan mengambil pelajaran dalam hidupnya pasti bisa meraba pikiran orang lain. Ia jauh lebih tua dariku. Barangkali itulah sebabnya ia selalu tahu.

"Ya," jawabku kemudian.

Leviathan menepukkan tangannya sekali. Ia menoleh padaku dengan raut ceria yang terlihat mengerikan. "Nah, mengapa kau tidak mengambil kesempatan itu? Seperti apa sifatnya?"

Aku menatapnya sekilas, dan memberinya tatapan tajam. "Tidak. Jangan samakan aku denganmu. Kau tahu kita punya prinsip yang sangat berbeda soal hal ini."

"Ah ya, benar. Aku lupa lagi. Kau lebih suka diperbudak manusia dan hanya memangsa mereka yang memiliki jiwa hitam," kata Leviathan dengan nada seolah ia membicarakan aib orang lain.

"Aku tidak memilih untuk diperbudak!" serta merta aku berdiri dan berkata ketus. "Bahkan Dominic Van Garret tak pernah memperlakukanku sebagai budak – meski dia memang mengunciku pada pedang itu, tapi aku tahu ia sama sekali tidak bermaksud mengikatku. Ia pergi sebelum sempat melepasku. Kau yang memang terlahir dengan jiwa hitam itu, takkan pernah memahami ini. Aku tidak akan…."

Mendadak aku merasakan ada yang tidak beres, dan itu bukan karena dentuman bertubi-tubi kembang api yang mekar di langit dan membumbui udara dengan asap dan bau mesiu. Ada tarikan kuat yang seolah berusaha menyeretku pergi dari tempat itu. Keberadaanku seolah dilubangi dan terhisap ke dalam suatu wadah secara perlahan, seperti halnya air yang mengalir tanpa daya ke sebuah lubang yang akan memaksanya mengarah ke tempat lain. Ini…..

Aku menatap Leviathan dengan tatapan ngeri. Kami saling bertatapan. Hanya saja yang kulihat di sosoknya yang mulai kabur – atau lebih tepatnya pandanganku lah yang mengabur – adalah sorot mata jahat dan seulas senyum kemenangan. "Borgol dan rantai telah disiapkan…."

Ketika tarikan itu semakin kuat, semuanya memudar dan bercampur menjadi satu. Dari telingaku, terdengar sayup-sayup sebuah suara.

"Aku memanggilmu…. Kau yang terlahir dalam duka, wahai Sang Ksaria bersayap hitam, tinggalkanlah kehampaan tanpa batas tempatmu bersemayam. Dengan Tetragrammaton, kuperintahkan kau, jawablah panggilanku…. Abdia. Soluzen. Halliza. Ballaton. Bellony. Hallii….."

Gestur anggun Leviathan dan senyumnya yang congkak, keramaian Trafalgar Square, tiga gadis menor di bawah Nelson's Column yang berdiri gagah, dan warna mencolok kembang api. Semua menghilang.

Sesaat kemudian, ketika semuanya kembali berbentuk, yang pertama tercium olehku adalah bau apak dan debu yang bercampur dengan wangi dupa. Tarikan yang mendadak tadi membuatku sesaat tak bisa mengendalikan wujud. Salah satu sayapku menyenggol sesuatu yang menimbulkan rasa seperti tersengat listrik, tampaknya itu adalah penghalang yang timbul oleh pentakel – siapapun yang memanggilku, tampaknya ia tidak memperkirakan ukuran wujud entitas yang dia panggil. Aku terpaksa menekuk sayapku sedemikian rupa sehingga si pemanggil tak bisa melihat sosokku sepenuhnya, dan begitu juga sebaliknya.

Ketika aku membuka mulut, hendak mengucapkan kata pertanyaan yang sudah demikian umum kuucapkan ketika seseorang memanggilku dengan ritual semacam ini – biasanya aku akan menanyakan apa kepentingan si pemanggil, atau dengan kata lain apa sebenarnya yang dia inginkan dariku. Tetapi aku keduluan.

"Selamat datang, Tristan Leonois," ucap sebuah suara.

Suara itu demikian familiar. Aku masih ingat siapa pemilik suara itu. Tetapi yang membuatku tersentak terkejut adalah aku tak pernah mengira suara itu akan muncul saat ini, dan dalam ritual ini. Aku tahu ia punya kemampuan lebih dibandingkan manusia lain, banyak manusia yang juga memiliki kemampuan yang sama seperti dia, tapi aku sama sekali tak menyangka ia mampu melakukan ini.

Buru-buru aku membenahi wujudku dan menyimpan kembali sayapku – meski agak terburu-buru melakukannya dan membuatku kembali tersengat oleh penghalang pentakel.

"Apa yang kaulakukan?" raungku pada si pemanggil.

Moira Ashcroft bersedekap dengan sikap berkuasa. "Diam kau, Daemon!"

"Apa-apaan….?"

"Sudah kubilang, diam!"

Dia terlihat jengkel dan frustasi. Maka aku memutuskan untuk diam, sesuai yang ia perintahkan. Well, apapun yang direncanakannya, ia tak bisa mengendalikanku. Perintahnya juga bukan sesuatu yang mutlak, kecuali sebatas apa yang barusan ia rapal dalam pemanggilan. Ini bukanlah suatu kontrak – atau mungkin yang terburuk belum menghampiriku. Mari kita dengarkan apa sebenarnya alasan tindakan gadis ini.

Moira menarik napas dengan sikap seperti ia hendak berkata dengan lantang, dan memang begitulah maksudnya. "Aku me…."

"Stop!" potongku.

Moira melongo sejenak. Lalu alisnya berkerut dengan jengkel dan mulutnya menyemburkan kata-kata yang mewakili ketidaksetujuannya dihentikan oleh entitas yang ia panggil. Reaksi yang sangat wajar. Tapi aku belum mendapatkan yang kuinginkan; alasan masuk akal mengapa dia melakukan ini. "Apa-apaan kau?"

"Aku yang mestinya bertanya begitu," sahutku. "Kau yang memanggilku kemari – dan dengan cara seperti ini. Ini bisa dikatakan sebagai tindakan pemaksaan, Nona. Apa kau tak pernah mendengar sesuatu tentang hak asasi? Aku berhak mendengar penjelasanmu."

"Apa? Jangan bertingkah seolah kau manusia. Kau sendiri yang dengan suka rela mengakui dirimu bukan manusia."

"Apa kau sedang dalam masa-masa suasana hati buruk? Kau seorang gadis," ujarku tak acuh.

"Aku apa?" sembur Moira.

Tanpa menghiraukan Moira, aku meneliti pentakel yang dia buat. Kuakui, hasil kerjanya cukup rapi untuk seorang pemula. Sebagian lilin yang ia letakkan padam, mungkin karena kibasan sayapku. Lalu di tepi pentakel, di sisi terluarnya, berada tepat di depanku, terdapat sehelai sayap hitam dalam sebuah wadah. Bulu sayapku yang dicabut oleh Moira waktu itu. Jadi itulah yang membuatnya dengan mudah bisa memanggilku. Ini adalah suatu kecerobohan – kecerobohanku yang tak mengira ia mampu melakukan ini.

Moira mengikuti arah pandanganku. "Kau tak mengira aku bisa melakukan ini, kan? Anggap saja aku beruntung telah menyimpan sehelai bulu sayapmu, awalnya aku hanya berpikir untuk menjadikannya kenang-kenangan, hanya untuk sekedar mengingat bahwa pertemuan kita dan dirimu itu adalah nyata."

"Tidak semua orang mampu melakukan ini, Moira. Anggap saja dirimu beruntung karena yang kaupanggil adalah aku. Ide yang sangat buruk bila kau memanggil entitas yang tidak kau ketahui sebelumnya, sebelum kau punya kemampuan yang sesuai untuk menghadapi entitas itu."

"Jadi kau menganggap aku punya kemampuan untuk menghadapimu?" Ia menatapku dengan sorot mata tertarik.

Aku menghela napas panjang. Ini pertanyaan jebakan. Sampai sejauh ini, banyak hal tak terduga dalam diri gadis ini.

"Kau hanya beruntung kita sebelumnya pernah bertemu," sahutku sambil mengangkat bahu dengan tak acuh.

Moira menunjukkan raut wajah tidak senang. Ia mendengus dan cemberut. Pujian yang ia harapkan atas hasil kerjanya ini digantikan oleh komentar sinis.

"Lalu apa yang terjadi kali ini? Kuharap kau punya alasan masuk akal," ujarku sambil duduk bersila di lantai, menunggu penjelasannya.

Moira bergerak-gerak gelisah dalam pentakelnya sendiri, persis seperti kucing peliharaan yang baru saja dimasukkan ke kandangnya. "Rumit."

"Aku akan mendengarkan."

Moira kembali menatapku, kali ini dengan bimbang, sebelum ia mengalihkan pandang ke arah lain. Ia berhenti mondar-mandir dalam pentakelnya. Gerakan teratur itu tergantikan oleh gerakan lain. Kali ini ia mengetuk-ngetukkan tumit sepatunya.

"Aku mendapat tawaran masuk ke sebuah sekolah asrama, St. Lucian, pamanku telah menyetujuinya."

"Apa yang terjadi dengan sekolahmu sebelumnya?" tanyaku.

"Aku…. Aku dikeluarkan," jawabnya. Lalu ia menambahkan dengan terburu-buru, "Tolong jangan menghakimiku dulu. Aku sudah lelah dengan komentar orang-orang yang hanya bisa bersuara tanpa mau memahami posisiku."

"Lanjutkan saja penjelasanmu. Aku mendengarkan."

"Victoria Lady's School memutuskan untuk mengeluarkanku karena menganggap perilakuku tidak sesuai untuk standar etika mereka." Ia kembali mondar-mandir di dalam pentakelnya. "Aku… Ehm, aku berkelahi dengan teman saat jam makan siang."

"Apa?"

"Ssshhh… Diamlah! Kau janji mau mendengarku," bentaknya.

Aku melambaikan tangan. "Baiklah, baiklah. Lanjutkan."

"Ehm… Dia mengejekku, menyebutku pembual. Aku tak yakin apa yang selanjutnya kulakukan. Aku merasa muak dan jengkel luar biasa. Kuterjang dia, kurasa aku memukulnya, tahu-tahu kami telah bergumul di lantai kafetaria. Suara-suara begitu riuh. Lalu kaca jendela disana mendadak pecah. Pecah begitu saja seolah diledakkan. Semua ketakutan, termasuk diriku."

Baiklah, ternyata gadis ini memang punya bakat sihir. Kalau dilihat dari ceritanya, kaca yang pecah begitu saja bukanlah hal yang wajar. Waktu itu dia juga dalam kondisi emosi tidak stabil.

"Lalu kau tahu darimana cara melakukan ritual ini?" tanyaku.

"Oh, itu….." Moira menghela napas dan duduk bersila di pentakelnya, menghadap ke arahku. "Aku menemukan buku aneh di perpustakaan pamanku. Buku itu bukan ketemukan baru-baru ini, aku menemukannya di tahun-tahun pertamaku tinggal disini – well, sekarang kita ada di basement, itu kalau kau mau tahu tempat kita berada. Ah iya, buku itu, buku yang menyimpan informasi untuk melakukan ritual pemanggilan ini, terlihat kuno dan rapuh. Tapi karena banyak gambar di dalamnya, aku tertarik dan menyimpannya di kamar. Sejak saat itu, aku tidak mengembalikannya lagi ke rak tempat aku menemukannya dulu."

"Kau tahu kalau itu grimoire?"

"Apa?"

"Grimoire," ulangku. Beginilah kalau berurusan dengan seorang pemanggil yang amatir. Seorang amatir yang sangat beruntung. "Buku tentang sihir. Semacam buku panduan bagi para penyihir."

"Tidak. Aku tak tahu. Waktu itu aku hanya berpikir buku itu berisi puisi. Aku lebih suka melihat ornamen indah di setiap lembar bukunya, dan warna-warnanya yang menarik. Tidak sedikitpun terlintas di pikiranku kalau itu buku sihir. Tak pernah terjadi apapun, mungkin karena aku tak pernah membacanya dengan bersuara. Aku pun tak pernah berpikir akan bisa melakukan hal seperti ini."

Lalu Moira terdiam. Ia menunduk menatap lantai dan pentakelnya. Satu menit berlalu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar dentang jam. Sudah tengah malam.

"Lantas apa kepentinganmu memanggilku?"

"Apa?" tanya Moira, terlihat bingung.

"Tujuanmu memanggilku. Atau dengan kata lain, apa maumu, Moira Ashcroft?"

Namun sayang, bukan jawaban yang kudapat, hanya seraut wajah gadis itu yang terbengong-bengong. Aku merasa dipermainkan, lagi-lagi. Cukup mengagumkan sebenarnya – terlepas dari fakta ia memiliki bakat seorang penyihir – ia telah menyiapkan segalanya dengan baik, termasuk dengan kostum yang sedang dikenakannya; ia memakai gaun abad pertengahan. Entah apa maksud dari penampilannya itu.

"Astaga," keluhku. "Lalu untuk apa kau melakukan ini semua? Mengapa kau berdandan seperti itu juga?"

"Ini?" mendadak Moira tersenyum sumringah. Serta merta ia berdiri dan berputar dengan hati-hati dalam pentakelnya untuk memamerkan gaunnya. "Bagaimana menurutmu? Apa bagus? Kupikir akan menarik kalau aku melakukan ritual ini dengan kostum yang sesuai."

"Itu tidak relevan," tukasku.

Moira merengut. "Pria dimana-mana sama saja," gerutunya.

"Pendapatmu barusan juga tidak relevan, kau siswi sekolah putri. Hal apa yang kau tahu soal pria?" aku mendengus.

"Mantan siswi," koreksi Moira tajam.

Aku bangkit dari lantai, berdiri dengan sikap seformal mungkin. "Baiklah, Nona mantan-siswi-sekolah-putri, ucapkan kata pembebasannya – tidak, jangan melongo begitu, kau tahu apa yang kumaksud. Kau berhasil memanggilku, kuucapkan selamat atas keberhasilan eksperimenmu. Pesanku hanya satu, jangan sembarangan dalam bertindak. Pemanggilan yang ceroboh bisa saja membuat nyawamu melayang. Nah, akhiri permainan ini sekarang…"

"Aku ingin kau menjawab pertanyaanku," potong Moira.

"Pertanyaan apa? Ah ya, aku lupa. Perintah dasar, 'jawablah semua pertanyaan tanpa keraguan'. Baiklah, ajukan pertanyaanmu dan selesaikan ini," aku mulai kehilangan kesabaran.

"Apakah kau kenal dengan seseorang bernama Douglas Bartholomew? Atau kau pernah mendengar seseorang dengan nama itu?"

"Tidak."

Aku tidak mengenal seorang manusia pun, atau daemon yang memakai nama itu. Tetapi nama itu sepertinya pernah kudengar, entah dimana dan entah dari siapa. Aku lupa.

"Oh," sahut Moira. Sekilas aku melihat ia menarik napas lega.

"Tunggu," sambungku.

"Ya?" Raut wajah Moira langsung berubah. Sepertinya aku baru saja memusnahkan ekspresi lega barusan hanya dengan satu kata.

"Sebentar, aku berusaha mengingat sesuatu."

"Orang itu, Douglas Bartholomew, beberapa hari lalu menemui pamanku dengan sebuah penawaran untuk memasukkanku dalam sekolah asrama. Pamanku sangat cemas mengenai sebab aku keluar dari Victoria Lady's School. Awalnya ia berpikir akan memanggil seorang guru untuk mengajar dan membantu melanjutkan pendidikanku di rumah. Kupikir itu juga pilihan yang baik. Tapi kemudian orang itu datang, sekretaris paman yang mengenalkannya. Pamanku tertarik dengan tawaran itu dan menerimanya."

"Bagaimana denganmu? Apa kau mau?" tanyaku, masih sambil mengingat-ingat.

Moira mengangguk. "Tinggal di rumah besar bukan berarti kau bisa mendapatkan apapun yang kauharapkan. Kupikir kau pasti memahami itu, Tuan mantan-ksatria."

"Ya, tentu. Aku tahu," aku mengangguk setuju, dan mengabaikan sindirannya.

Saat kupikir telah mengalami jalan buntu dengan pertanyaan yang diajukan Moira, berpikir bahwa mungkin aku hanya sekedar pernah membaca nama itu entah dimana, tiba-tiba aku ingat apa yang pernah dikatakan Leviathan saat menemuiku di atas HMS Hermione, sebelum ia membuat pengakuan dosanya dan membuatku melemparnya ke laut.

"Manusia dan budaya perangnya. Tak peduli seberapa lama waktu berjalan dan masa berganti, mereka tak pernah bosan dengan hal ini. Sifat mereka yang cenderung merasa tidak pernah puas, begitu mudah menyeret mereka pada kedengkian. Semua hal sah dilakukan dalam cinta dan perang, bukan begitu, Tristan? Ah, ya, aku tahu kau lebih suka melewati waktu panjangmu dengan menyendiri atau membantu manusia. Sungguh prinsip yang tak bisa diubah ya. Tapi kalaupun kelak kau merasa bosan dengan hidupmu, karena kau demikian cinta pada makhluk fana dan kehidupannya, mungkin kau bisa melewatkan waktu di tempat salah seorang kenalanku. Kudengar dia mendirikan sebuah sekolah. Cari saja Mr. Bartholomew, dia akan membantumu. Hmph, tentu saja, daemon seperti dia tidak akan membuat keputusan yang menguntungkan bagi manusia. Dia membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin melewatkan keabadian yang monoton dengan sesuatu yang berbeda; untuk membaur di antara manusia, mungkin juga sekalian menebar umpan," itu yang dikatakan Leviathan waktu itu.

Leviathan tidak mengatakan siapa tepatnya kenalannya itu. Tidak banyak yang kukenal dari kalangan daemon, tentu saja, kau tak bisa mengharapkan bisa mengenal semua orang dari seluruh penjuru dunia kan – itu sangat mustahil, apalagi jumlah daemon lebih banyak dari manusia. Tapi aku tahu daemon kalangan atas, sebagian besar dari mereka, yang dikenal Leviathan.

"Seperti apa penampilan orang bernama Douglas Bartholomew itu?" tanyaku.

Meski daemon bisa mengubah wujud mereka, tapi kebanyakan dari mereka punya ciri khas yang bisa dikenali – yang hanya kaum mereka sendiri yang tahu.

"Dia jangkung sekali. Lebih jangkung darimu. Dia punya rambut dan mata yang gelap, dan menurutku dia cukup tampan – meski agak menakutkan. Usianya mungkin sekitar pertengahan tiga puluhan, kurasa tidak sampai empat puluh," papar Moira.

"Apa tak ada hal yang mencurigakan darinya?"

Paparan yang dikatakan oleh Moira tidak cukup memberikan petunjuk siapa orang itu. Tentu saja tak bisa mengharap orang ini menunjukkan taring, sayap, tanduk, cakar, atau mungkin ekor di depan manusia – itu kalau orang yang dimaksud Moira memang daemon.

Moira menggeleng. "Kalau yang kau maksud adalah dia punya sayap atau semacamnya, well, tidak. Dia terlihat sangat normal. Hanya saja agak seram. Aku merasa agak tak nyaman ketika bicara dengannya. Entah itu hanya prasangka saja, tapi yang jelas aku punya firasat tak baik padanya."

"Jadi kau hanya ingin aku memastikan keselamatanmu?"

"Aku hanya merasa cemas," kata Moira. Kemudian dia menambahkan dengan bergumam, "Mungkin aku juga sedikit takut."

"Tapi kalau begini kita tidak tahu sampai kapan masalah ini akan selesai," kataku.

"Kumohon," kata Moira lirih. Wajahnya memerah, tapi bukan karena tersipu, tapi karena malu – seperti orang yang mengesampingkan gengsinya demi sesuatu yang tidak biasa ia lakukan.

"Seorang master tidak memohon, Moira," kataku. "Aku akan memakluminya, kali ini."

Moira mengangguk. "Aku akan memberimu nama, kau tidak keberatan?" tanya Moira.

Serta merta aku mendengus geli. Sungguh tipikal. Tak peduli seberapa terbuka sifat gadis ini terhadapku, ia masih bisa bersikap skeptis. "Kau tidak mempercayaiku?"

"Aku tidak mempercayai siapapun, bahkan dirimu. Setidaknya aku tidak akan dengan mudah percaya seperti menyerahkan diri begitu saja dengan sukarela," jawab Moira. "Setiap orang begitu mudah untuk berkhianat. Kita tak pernah bisa yakin mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Dan kalau memang daemon selicik yang dikatakan kebanyakan manusia, tak ada salahnya aku membuat beberapa pencegahan kan."

Aku tak kuasa menahan kekeh geli. Tak menyangka ia akan berubah pikiran secepat ini. Atau mungkin aku hanya tak mengetahui sisi lain dari gadis itu. "Padahal beberapa minggu lalu kau bergelimang tangis karena merasa tertolak."

"Aku tidak merasa demikian. Kau memang menolakku, kan?"

Itu benar. Aku memang menolaknya.

"Seperti yang kubilang, meskipun dengan secuil perasaan padamu, walau dengan secercah harapan yang kumiliki, terlepas dari fakta kau pernah menyelamatkan nyawaku sebelumnya, aku tetap tak bisa seratus persen mempercayaimu."

Aku mengangguk. "Baiklah. Selesaikanlah apa yang harus kau selesaikan, Moira." Lebih cepat hal ini berakhir akan lebih baik. Meskipun untuk beberapa saat kedepan aku harus terikat pada gadis ini, tapi pada akhirnya urusanku dengannya pasti selesai. "Telah kudengar panggilanmu. Kuharap kau memahami hubungan ini. Kesepakatan kita tidak akan berakhir, setidaknya hingga kau memutuskan untuk melepaskannya atau maut menjemputmu. Ucapkan perintahmu, dan aku tidak akan ragu untuk melaksanakannya, Master."

Moira mengangguk. Dengan satu jentikan jariku, kedua lilin yang tadi padam kembali menyala. Sementara itu, Moira menarik napas, bersiap dengan rapalannya. Kemudian saat kata pertama meluncur dari mulutnya, pentakel kami bersinar. "Palifasta Firmis Demecha Haim. Wahai Tristan Leonois, dengan kuasa Sang Pencipta Langit dan Bumi yang telah memisahkan Siang dan Malam, kuikat kau dengan nama Alexavier Hildebrand. Tunduklah pada setiap perintah dan kehendakku, master yang memegang rantai pakta ini….."

Moira mengangkat tangan kanannya ke arahku. Lalu tanpa bisa kukendalikan, tangan kiriku mengikuti gerakan gadis itu. Pentakel kami bersinar merah seolah membara. Kemudian ujung jari kiriku mulai merasakan aliran energi yang tak kasat mata, merayap pada lenganku dan berlanjut menyebar ke seluruh tubuh. Untuk sesaat, aku merasa seperti terikat, kebas, dan tak mampu bergerak kecuali menatap Moira. Detik berikutnya, punggung tangan kiriku terasa seolah terbakar, muncul sebentuk tanda pentagram disana. Sementara disisi lain, Moira merintih menahan sakit, ia akan mendapatkan tandanya juga. Sigilku perlahan muncul di tangannya.

Ketika semua tanda yang mengesahkan perjanjian kami muncul, ruangan itu menjadi lebih redup. Sinar dari pentakel kami telah hilang. Satu-satunya cahaya yang ada hanya lilin-lilin yang ada di sisi pentakel itu.

Ketika perlahan tanda perjanjian kami memudar, Moira berkomentar panik "Eh, tandanya hilang. Apa aku gagal?"

"Tidak. Kau tidak gagal. Tanda itu akan muncul lagi saat kau mengucapkan perintahmu. Apa kau lebih suka memperlihatkannya terus pada orang-orang?"

"Tentu tidak. Paman akan kena stroke kalau tahu keponakan gadisnya punya tato. Lalu masyarakat akan mengecapku sebagai anak nakal. Itu cukup bisa jadi aib di keluarga paman," gumam Moira.

Aku tergelak. Rasanya tak tahan untuk tidak menertawai pernyataannya barusan. Selain itu, ekspresi cemas dan cara dia mengatakannya menurutku cukup lucu.

"Apa yang kautertawakan?"

"Maaf. Tapi yang kaukatakan ironis sekali. Coba kaupikir, gadis baik-baik mana yang mensummon daemon, Nona Penyihir?" Melihat raut wajah Moira yang berubah, aku jadi ingin mengganggunya lagi – hanya sekedar untuk melampiaskan kekesalanku karena dia telah melakukan ini semua. Tapi toh hanya kata-kata sindiran yang bisa kuucapkan, karena sekarang – dalam hubungan kami – aku bukanlah seseorang yang berhak untuk memprotesnya. "Apa yang akan kaulakukan? Mau menghukumku? Aku ragu kau sudah mempelajari soal mantera hukuman. Aha! Aku benar ternyata."

"Anggap saja kali ini kau beruntung, Daemon," ucap Moira geram.

"Anggap kau beruntung karena tidak hidup di masa dimana penyihir diburu dan dipanggang dalam api unggun raksasa," balasku. "Nah, apa kita sudah selesai? Mari kita keluar. Disini sempit sekali."

"Kaukira aku sebodoh itu? Aku memang amatir, tapi aku takkan keluar dari pentakel ini sebelum aku menyelesaikan perintah pertamaku. Kita memang sudah beberapa saat mengenal – meski kau sudah pernah menolongku – aku punya firasat kalau kau akan melakukan hal yang tidak baik saat aku lengah."

Benar sekali tebakannya. Aku memang tidak berniat memangsanya – aku takkan menuruti saran Leviathan – tapi mungkin aku bisa sedikit memberinya pelajaran agar tidak sembarangan dalam bertindak. Aku bisa sedikit menakutinya sambil berpura-pura menyerangnya, barangkali dia akan kapok bersikap sembrono.

"Alexavier Hildebrand, kuperintahkan kau untuk jadi pedang sekaligus perisaiku. Ungkaplah bahaya yang ada di depan kita dan hancurkanlah."

"Baik, Master."

"Aku akan segera melepasmu begitu urusan ini selesai," janji Moira.

Selayaknya janji semua penyihir, janji yang mereka berikan seringkali tidak ditepati. Para penyihir seringkali melanggar janji mereka secara sepihak, sementara mereka mengharapkan kepatuhan dari daemon yang mereka panggil. Tapi tidak sedikit pula daemon yang dengan licik berusaha memangsa master mereka sendiri.

Aku tidak seperti itu. Selama ini aku berhasil menunjukkan pada Leviathan dan teman-temannya kalau aku tidak akan terpengaruh dengan kebiasaan buruk mereka, tak peduli seberapa menarik manusia sebagai mangsa kami. Setiap orang, siapapun itu, mestinya mampu mengendalikan diri mereka sendiri.

Demikianlah, aku terikat pada Moira Ashcroft. Sehelai bulu sayap hitam itu yang kembali menghubungkanku pada gadis itu, menjalin takdir kami dalam ikatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bisa dikatakan aku cukup beruntung dia bukan tipikal penyihir yang hanya ingin mengeksploitasi servantnya, meski seringkali sikap dan perilakunya membuat secuil sisi jahatku ingin mengunyah jiwanya yang demikian menggiurkan. Begitu banyak pertengkaran, yang seringkali terjadi karena hal yang teramat sepele. Tapi dialah orang yang menarikku dari gelap dan merengkuhku dalam cahaya. Moira mengingat janjinya, dan kelak menepatinya. Janji untuk membebaskanku di kala dia merasa urusannya sudah selesai.

Namun satu hal yang tidak kuperkirakan sebelumnya, adalah diriku yang menyerah pada dirinya. Dia lah sang Takdir. Jiwanya yang berbeda dengan Isolde, memaksaku untuk bergerak meski harus mempertaruhkan seluruh keberadaanku dengan berpegang teguh pada nama yang diberikannya.[]