Story By: Raze-Raze.

Rate: K

Genre: Family, Hurt/Comfort.

Warning: Typo, some mistakes EYD, no name character.

A/N: Di sini disebut lukisan, tetapi sebenarnya hanya gambar biasa. Jika ingin melihatnya, silahkan PM fb saya yang bernama Razen.

xXx

Makna Suatu Lukisan

xXx

.

.

.


Tahukah kau apa lukisan itu?

Umumnya, lukisan dikenali sebagai salah satu simbolisme yang digunakan agar tercipta suasana yang indah dalam suatu ruangan. Lukisan juga mengandung makna, berbeda-beda tergantung gambarnya.

Kedua mataku terlihat redup, noda hitam di bawah mataku terlihat jelas. Apa boleh buat, aku bergadang demi menyelesaikan sesuatu. Untung saja ini hari libur, bukan masalah bagiku jika nantinya aku tertidur saat subuh.

Aku menguap lebar, pandanganku mulai buram, rasanya mataku sangat berat ingin dipejam. Tetapi aku harus tetap bangun sekarang, aku harus memasang sebuah lukisan hasil karyaku sampai bergadang tadi malam.

Aku memotong lakban jadi beberapa bagian, kurekatkan setengahnya pada kertas lukisan. Barulah siap untuk kupajang di dinding. Kali ini, lukisanku bertema 'keluarga'.

Meskipun begitu, ada yang berbeda dari semua hasil karyaku. Lukisan ini, agak berbeda dari biasanya. Tentu saja, aku sengaja melakukannya.

"Kenapa sudah ditempel?"

"Lho? Kok tidak diwarnain?"

"Bukannya yang ini belum selesai?

"Kenapa nggak dirampungkan dulu?"

Aku tersenyum misterius, tak menjawab. Membiarkan orang-orang kebingungan, bahkan ada yang menyuruhku menurunkannya dan menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum memasangnya kembali.

Aku menolak. Memang, lukisan itu hanya berupa sketsa kasar. Tetapi, bagiku lukisan itu sudah selesai.

Lukisan itu adalah lukisan keluarga. Ayah, ibu, kakak, dan adik. Empat anggota keluarga dalam taman bunga. Sengaja wajahnya tidak kugambar, hanya tubuhnya saja yang kugambar.

Sang ayah, mengenakan jubah dan coat. Beliau nampak sedang memperhatikan kedua buah hatinya. Sang ibu pun sama, sedang memperhatikan anak-anaknya. Namun, beliau mengenakan gaun panjang sederhana beserta mahkota kecil dengan cadar yang menutupi keningnya hingga bagian belakang lurus sampai lengannya. Sang kakak, laki-laki, rambutnya panjang dikuncir. Dengan bergaya kalem, penampilannya hampir menyerupai ayahnya. Terakhir, sang adik, perempuan. Berbeda dengan ibunya, bocah itu mengenakan gaun lolita yang tampak begitu manis.

Sekilas, terlihat seperti keluarga bahagia, 'kan?

"Lantas, kenapa tidak dirampungkan?"

Aku menoleh ke samping kananku, kulihat kedua sahabatku tengah memperhatikan lukisan itu. Aku tersenyum penuh misteri, membiarkan mereka menebak apa jawaban dari pertanyaannya sendiri.

"Aku menyerah. Hei, jawab dong," pinta salah satu sahabatku, dia menarik-narik tanganku meminta jawaban. Aku terkekeh geli sebelum melihat lukisan itu kembali.

"Kalian harus menemukan jawabannya sendiri. Akan kuberikan clue, yakni ... benarkah mereka benar-benar keluarga bahagia?"

The End