Story By: Raze-Raze.

Rate: K

Genre: Family, Hurt/Comfort.

Warning: Typo, some mistakes EYD, no name character.

A/N: Jawaban dari fic Makna Suatu Lukisan.

xXx

Arti Suatu Lukisan

xXx

.

.

.


Kini hanya tinggal diriku sendiri, di tengah malam, aku memperhatikan kembali lukisan keluarga tersebut. Seminggu telah berlalu, tetapi tak ada yang dapat memecahkannya hingga kemarin. Ya, hingga kemarin. Hari ini, misteri lukisan tak berwarna tersebut sudah ada yang memecahkannya.

Aku tak heran, tentu saja bisa. Seseorang yang telah berhasil memecahkannya itu adalah salah satu dari model gambar lukisan ini. Beliau tentu tahu apa maknanya.

Aku memperhatikan sosok Sang Ayah. Beliau nampak tegap, begitu berwibawa, mawar di sekelilingnya menambahkan kesan elegan dan begitu dihormati. Sama halnya dengan Sang Kakak, meski terkesan lebih cuek dan kurang memperhatikan sekitarnya.

Aku mengerling, memperhatikan sosok Sang Ibu. Beliau terlihat anggun, tenang, dan lembut. Sedangkan Putrinya, masih kekanakan, polos dan centil menggemaskan layaknya anak kecil kebanyakan. Aku tersenyum geli.

Namun, tidakkah aneh?

Meski tanpa wajah, Sang Ayah terlihat bahagia, sekaligus pedih melihat anak-anaknya. Begitu pula dengan Sang Ibu, beliau juga memperhatikan anak-anaknya, tetapi lebih condong pada putri kecilnya. Sedangkan Sang Kakak, pandangannya mengarah pada ayahnya, tak sedikitpun mengarah pada adiknya. Si Bungsu sendiri, asyik bermain dan hanya memperhatikan apa yang ada di depannya.

Tidakkah itu aneh?

Aku memejamkan kedua mataku.

Jika saja saat berada di taman bunga ini, apa yang akan mereka pikirkan? Apa yang ada di pikiran mereka? Apa yang mereka rasakan?

Masing-masing dari mereka terpisah, mereka hidup seorang diri, masing-masing. Tidak, bukan, bukan berarti mereka tak bisa bersama-sama lagi. Mereka bisa, tetapi apakah isi hati mereka mampu tersampaikan?

Mungkinkah mereka bersama, karena tak ingin salah satu dari mereka pergi lagi? Berpindah ke alam sana? Ke alam yang tak dapat dilihat ataupun digapai? Ataukah karena tekanan dari sekeliling yang membuat mereka tak sudi melihat ke sekelilingnya lagi? Bisa jadi karena salah satu di antara mereka memiliki suatu kelainan, parasite yang membatasi sosial kehidupannya. Hingga mereka menyadari anggota keluarga mereka itu membutuh perhatian berlebih, karena mereka tahu ia tak dapat bertindak sendirian tanpa bantuan.

Sudahlah, tak perlu ada lagi kesedihan, itu hanyalah masa lalu. Mereka tak membutuhkan hiburan, mereka dapat berdiri sendiri, masing-masing.

Tegarkah? Tak ada yang tahu. Entah apa yang sebenarnya mereka berempat rasakan, hanya mereka sendiri yang mengetahuinya.

"Sudah waktunya bagiku untuk tidur ..." Aku membuka mataku, memandangi lukisan itu sebentar, dan berjalan pergi ke tempat tidur.


Salahkah aku?

Mengapa aku disalahkan ...?

Apa yang akan terjadi pada diriku kelak ...?

Aku hanya mencoba untuk menurut, memenuhi pesan yang sudah ditanamkan padaku ...

Aku tak mampu berbuat demikian ...

Apa yang sebenarnya harus kulakukan ...?

Semua orang begitu membingungkan ... Mereka tahu itu salah, tetapi mereka membenarkannya. Mengapa? Mengapa mereka menulikan dan membutakan diri mereka sendiri hanya agar apa yang diperbuat mereka itu adalah kebenaran?

Siapa sebenarnya yang salah?

Hidup ini ibarat sebuah koin, telur dalam suatu cangkir. Yang mana yang sebenarnya kenyataan? Yang mana yang sebenarnya khayalan? Semuanya timbal balik, tak masuk di akal. Segala hal tidak teratur, kenapa dunia harus sebegitu membingungkannya?

Tengah-tengah? Yang benar saja, dalam kenyataan tak ada yang seperti itu. Kamulase belaka, suatu hologram padat yang diciptakan oleh makhluk yang paling sempurna di permukaan bumi.

Kalaupun ada, hanya dianggap sesuatu yang berbeda. Apakah mereka yang berbeda harus terus dipinggirkan? Salahkah mereka jika berbaur? Mengapa mereka harus ada jika bagi orang-orang sama sekali tak berguna?

Tidak bisa.

Untuk apa mengatakan sesuatu yang tidak berguna? Aku tak akan memperoleh apapun.

Justru aku menyadari bahwa aku begitu bodoh ...

Karena sampai saat ini ..., aku tak dapat melihat sekeliling lebih jauh ...

Seharusnya aku fokus pada sesuatu yang ada di depanku.

Siapa yang salah?


Di kelilingi tekanan bukanlah hal mudah. Tembok batu yang sulit dihancurkan, begitu tebal dan keras. Tak jarang pula tembok itu semakin kuat ...

Apa jadinya jika ada yang menganggumu ...?

Retakan tembok itu menjadi seperti semula, seolah tak ada kerusakan sedikitpun sebelumnya ...

Tidakkah sakit hati ...?

Tidakkah kau kesal karenanya ...?

Berkali-kali, kegelapan itu nyaris memakanku ...

Menarik tubuhku, menyeretku, mencoba mengambil alih kesadaranku ...

Kegelapan yang hidup dalam diriku ...

Meski begitu, suara beliau yang lembut terus menetralkannya ...

Kegelapan itu selalu sirna ...

Seolah ada cahaya yang menyinarinya, menyingkirkannya, melenyapkannya ...

Namun, kini suara tersebut telah berkurang ...

Apa aku bisa menjaga diriku untuk tidak termakan hasutan kegelapan itu ... lagi ...?


Sebagai seorang Ibu ...

Yang telah mengandung ..., melahirkan ..., merawat ..., hingga membimbing anak-anaknya ...

Tidak akan pernah menyesal dan meratapi apapun yang akan terjadi di kemudian hari ...

Hanya doa dan restu yang selalu dipanjatkan ...

Beliau akan selalu melakukannya ...

Berharap agar anak-anaknya kelak menjadi seseorang yang begitu tangguh, mampu untuk tetap berdiri, meski rintangan seberat apapun ...

Selalu sabar dan tabah menghadapi liku-liku hidup ...

Tawa mereka adalah jawaban yang diinginkan seorang Ibu ...

Tawa yang dipenuhi kebahagiaan ...

Tanpa adanya beban yang menggerogoti kebahagiaan itu ...

Sungguh bangga seorang Ibu ketika anak-anaknya mampu mengalahkan rintangan, tanpa harus dikuasai oleh kegelapan hatinya ...

Menunjukkan kebahagiaan tersebut dengan begitu gembira ...

Pertahankanlah tawa itu, Nak ...


Anakku ...

Akan kujelaskan sesuatu padamu ...

Semua orang memiliki caranya masing-masing untuk mencapai kebahagiaan. Namun, hingga saat ini, sangat sedikit yang mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bagi seorang Ayah, kehadiran anaknya adalah hadiah yang sangat membahagiakan. Suara tangisan malaikat kecil, suara yang pertama kali dikeluarkan anaknya telah menjadi puncak kebahagiaan.

Sayangnya, tak sedikit mereka yang menjadi Ayah tak pernah menyadari kebahagiaan tersebut.

Kehidupan ini, salah dan benar ... sangat tipis perbedaannya.

Terkaang dari sisi kita benar, belum tentu orang lain mau dan sudi untuk membenarkan. Kadang-kadang, dari sisi kita yang salah, belum akan tentu disalahkan. Meski dalam kenyataan, sesuatu yang salah itu seringkali tak bisa dibenarkan. Kita tak akan tahu kita itu benar atau tidak, orang lain akan selalu menjadi penentu kebenaran.

Jadi, antara benar dan salah ... sangat tipis perbedaannya. Tak ada yang benar-benar salah, tak ada yang salah pula. Kitalah yang menganggapnya salah, kita juga yang menganggapnya benar.

Kadang-kadang, cara orangtua membahagiakan anaknya dan melindungi anaknya, lebih banyak sulit dimengerti oleh anak-anaknya sendiri ...

Padahal, jauh di hati seorang Ayah dan Ibu ... kebahagiaan anaknya yang diutamakan menjadi nomor satu ...

Seperti yang Ayah katakan, hanya sedikit orangtua yang memang menyadari hal itu. Kadangkala, mereka juga merasa bahwa tindakan mereka sudah benar. Namun, benarkah demikian?

Jadi, seorang Ayah dan Ibu, menjaga kebutuhan keluarga ... itu adalah suatu tugas yang menjadi nomor satu. Jika kalian sudah menjadi orangtua, saat itulah kalian mengerti, saat itulah kalian paham rasanya ...

Seperti inikah menjadi seorang Ayah dan Ibu?

Saat ini, kalian masihlah anak-anak yang memerlukan bimbingan orangtua. Ketika kalian sudah menjadi orangtua, saat itulah kalian menjadi dewasa sepenuhnya. Mengetahui, merasakannya, dan memahaminya ...

Kesalahan seorang Ayah adalah ... membenci anaknya sendiri ...

Itu adalah kesalahan besar ...

Terutama bagi seorang Ayah yang tidak tahu seberapa pentingnya seorang anak ...

Ayah tidak membencimu, Nak ...

Ayah tidak akan bisa ...

Ketahuilah, isi hati seorang Ayah dan Ibu ... yang menjaga dan memelihara, mencukupi dan melindungi, juga memenuhi semua yang dibutuhkan keluarga ... Hal ini akan bisa kalian mengerti ketika kalian sendiri yang sudah menjalaninya.

Nantinya, kalian akan tersenyum setelah kalian menjalaninya ...

Saat itu, hanya akan ada kata ...

Luar biasa.

Ayahku, dan Ibuku.

Janganlah hanya menangis, tak apa jika ingin menangis ...

Namun, setelah kau menangis dan menumpahkan semua rasa sakit yang kau rasakan, tertawalah ...

Tertawalah dengan gembira, tertawalah dengan kebahagiaanmu ...

Buatlah orang-orang ikut tertawa, agar kebahagiaanmu semakin besar ...

Tahukah engkau? Tawa yang dipenuhi kebahagiaan anaknyalah yang menjadi kebahagiaan yang terbesar ...

Jangan pernah marah, pada siapapun, termasuk dirimu sendiri. Ketahuilah, kemarahan adalah hal yang menjadi penyebab semua kesalahan terjadi. Ibarat suatu kegelapan, kegelapan yang selalu bersembunyi di balik bayangan yang tampak biasa dan tak pernah diperhatikan. Apa jadinya jika semakin lama semakin menumpuk? Ia akan merasukimu, mengendalikanmu, membuatmu dikuasai kegelapan tersebut. Dia membuatmu haus, membuatmu candu, mengontrolmu untuk bertindak buruk lebih banyak lagi tanpa pernah puas ...

Tak akan ada yang tahu, apa akibatnya kelak.

Namun, di balik bayangan tersebut, selalu ada setitik cahaya ...

Cahaya itulah yang akan membimbingmu kelak ...

Maukah kaumencoba untuk menggapainya ...?

Hendakkah engkau untuk meraihnya ...?

Cahaya kasih sayang dan cinta kasih.

xXx

The End

xXx