dansar med stjärnorna

oleh Lady Drosavera


en

Ia sadar.

Ia berhasil melewatinya. Ia telah menghadapi semua rintangan yang senantiasa menghalanginya, dan sekarang, ia ada di sini.

Di sini?

Ya, di sini.

Jika dunia adalah gabungan jarak, ruang, dan waktu, maka sini adalah ruang keseluruhan. Arlojinya beku. Tak satu pun benda berpacu dengan seru. Sini tidak meliputi apa-apa; semua yang berada di sini secara langsung akan menjadi bagian darinya.

Kini, ia bagian dari sini. Masih dapat ia rasakan tubuhnya yang berat, namun raganya itu makin lama makin terasa samar, makin tak merasa dirinya. Ia mulai mengambil wujud sini. Sini tak menyerap cahaya, maka kini ia gelap, hitam. Sini tak bermassa lagi berjarak, maka dirinya pun menjadi lebih dari seratus juta eksa dan kurang dari seratus juta yokto sekaligus. Raga fananya segera lenyap ditelan ketiadaan.

Kini, ia bagian dari sini.

Dan ia akan menunggu sampai waktunya tiba.


två

Waktu tak eksis di sini, namun jiwanya yang masih terlalu familiar dengan kemanusiaan dan dunia merasa sudah terlalu lama ia berdiam diri. Detik, menit, jam, hari, datang dan pergi begitu saja. Kapan siang, kapan malam, sebagai bagian dari sini, ia tak pernah tahu. Jiwa manusianya berusaha untuk mencari informasi, namun arlojinya sudah pergi entah ke mana.

'Waktu' terus berjalan.

Jenuh ia berada di sini.

Kapan waktunya akan tiba?


tre.

"Kembalilah," bisiknya. "Kembalilah ke rangkulanku."


fyra

Di sini mulai mengalami kejadian. Bukan, bukan kejadian muluk-muluk. Hanya gelombang-gelombang kecil, sesekali bunyi ledakan.

Bum. Bum. Bum.

Sepertinya, sesuatu akan segera pergi dari sini.

Sebagian dari sini sekilas terlihat membengkak, kemudian memisahkan diri bak anak hydra meninggalkan inangnya.

Sesuatu terlihat seperti hendak meninggalkan ketenangan di sini.

Kembali ke hiruk-pikuk dan kaos dunia yang semestinya akan binasa.

Tidak seperti di sini.

Apa yang ia pikirkan?


fem.

"Jangan khawatir. Dia bisa melewatinya. Semua akan baik-baik saja." beliau berkata dengan wajah sumringah.


sex

Ia kembali bangun dari tidur panjangnya.

Tubuhnya dapat ia rasa sekarang, dan ia seringan kapas, melayang-layang tanpa tanah untuk dipijak.

Saudara-saudara barunya juga bernasib sama; kecil, penasaran.. Jumlah mereka sangat banyak; bermilyaran insan seperti dirinya tersebar di sekujur cakrawala. Dan mereka punya tempat tinggal baru. Sebuah kanvas hitam dengan percikan merah muda, ungu, dan hijau di sana-sini.

Wah, ia terkagum-kagum. Indah sekali.

Sayangnya, ia tak berani melangkahkan kaki.

Kemudian, sebuah tangan selembut sutra menyentuhnya.

"Bermainlah, Anak-anakku. Selamat datang di rumah baru kalian."

Ia tersenyum. Ditinggalkannya tempat beradu.


sju

Ia terbang.

Tubuhnya benar-benar melayang.

Ia kira terbang tak akan pernah dialami langsung oleh dirinya, namun sekarang lihatlah ia, menyusuri langit tak berbatas tanpa kaki. Kilauan langit menari-nari di sekitarnya. Saudara-saudara barunya memberinya ucapan selamat datang tanpa henti.

Euforia membanjiri dirinya amat sangat banyak. Tak pernah terbayang sebelumnya, hidupnya akan berubah seperti ini. Tak pernah disangka, di luar dunia tidur ia akan dihempaskan ke nirvana sesungguhnya di alam semesta.

.

.

.

.

åtta.

"Ada kabar buruk dan kabar baik."

"Kabar buruk...," wajah sang dokter terlihat capai; ada yang lelaki tua itu sembunyikan darinya. "...Maafkan aku, Nyonya Lindberg. Ia sudah pergi."

Kabar itu, ia tahu pasti. "Kabar baiknya?"

Sang dokter tersenyum, kedua matanya menatap langit yang kala itu dihiasi gemerlap bintang.

"Ia pergi dengan bahagia, menari dengan bintang-bintang."

fin