Tears of An Angel

.

Author © Litte Yagami Osanowa

Character © Author

Inspiration © Mariah Carey & Kajiura Yuki

.

Warning!

Shonen-Ai! Boy x Boy, Typo & Krisis EYD, Original Character.

Read for Enjoyment

.


Chapter 1: Awal Mula...


Ketika hujan turun, itu adalah sebuah pertanda bahwa seorang malaikat tengah menitikkan air matanya—Namun, pertanyaan terbesarnya adalah "Mengapa sang malaikat menangis?", "Siapakah yang ia tangisi?". Tidak ada satupun yang dapat menerka-nerka jawaban dibalik pernyataan cerita mitologi tersebut. Dahulu orang memiliki kepercayaan bahwa turunnya hujan menandakan "Kesedihan Malaikat utusan Tuhan" akan dunia yang kian lama semakin mendekati masa peleburan. Kini semua ungkapan kepercayaan tersebut dapat dengan mudah ditepis oleh Ilmu Sains yang telah membuktikan asal mula hujan tercipta. Tidak ada lagi definisi "Hujan pertanda malaikat yang tengah menangis". Namun, beberapa bagian dari kelompok masyarakat masih tetap mempercayai pernyataan mitologi tersebut dan kerap mendongengkan hal ini kepada putra ataupun cucu mereka sebagai dongeng pengantar tidur. Apakah malaikat benar-benar ada?—itulah yang selalu dipertanyakan setiap anak kecil ketika mereka mendengarkan keseluruhan dongeng tersebut. Dan jawaban yang sama akan selalu meluncur dari bibir orang tua mereka. "Kalau kau mempercayainya, maka itulah kenyataan yang sebenarnya".

Malaikat itu benar-benar ada?


Ari adalah seorang Malaikat yang bertugas untuk mengantarkan setiap jiwa manusia yang telah meninggal menuju gerbang kematian untuk diadili terlebih dahulu sebelum menempatkan jiwa mereka menuju Kerajaan Surga—tempat dimana para arwah yang telah berbuat kebaikan sepanjang hidupnya menetap disana sebelum mereka berenkarnasi kembali di dunia. Kali ini bersama dengan rekan kerjanya, Jillian, mereka tengah melaksanakan tugasnya untuk mengawasi seorang manusia yang jiwanya akan mereka antarkan menuju gerbang kematian. Berdiri diatas tiang tinggi, Ari mengawasi pergerakan manusia yang menjadi targetnya. Kali ini adalah seorang pemuda yang masih berumur kira-kira 16 tahun. Targetnya kali ini tergolong sangatlah muda bagi kalangan manusia lainnya—memikirkan dirinya masih memiliki kesempatan hidup yang lebih layak dibandingkan harus berakhir dengan kematian memang sungguh sangat disayangkan. Namun itulah hukumnya. Lagipula tidak ada seorangpun yang dapat menentang ataupun meloloskan diri dari maut.

"Namanya adalah Made Krisna…" ucap Jillian yang sudah ada disampingnya sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya yang menggenggam secarik perkamen berisikan data tentang pemuda bersurai pekat itu. "Umurnya 16 tahun dan duduk di bangku kelas dua, lahir di bulan April 1998 pada rasi bintang Aries, selain tingkah lakunya yang aneh dia sama sekali tidak memiliki banyak keahlian…" komentarnya

"Lalu apa yang akan terjadi padanya?" tanya Ari sedikit melirik ke arah partnernya sebelum kembali memperhatikan targetnya yang tengah berjalan di sekitar distrik pertokoan bersama dengan keluarga kecilnya.

"…Kematiannya hanya akan terlihat seperti kecelakaan kecil yang dilakukan orang-orang ceroboh…" jelas Jillian "Karena sifatnya yang sembrono, pada akhirnya ia akan menemui ajalnya ketika menyebrang jalan dua belas tikungan dimulai dari sekarang…" tambahnya

"Manusia memang makhluk yang sungguh aneh…" sahut Ari dengan nada tidak tertarik "Walaupun aku ingin bersimpati padanya, tidak akan ada yang bisa mengubah takdirnya untuk mati. Dan akulah yang akan mengantarkan jiwanya nanti menuju gerbang kematian. Made Krisna… Kau akan segera menemui kematianmu…"

Selama tiga jam memperhatikan pemuda bersurai pekat itu menghabiskan waktu—terakhir—bersama dengan keluarganya, Ari dan Jillian hanya bisa menjadi saksi diam setiap momen kebersamaan kelima anggota keluarga tersebut. Mereka menghabiskan waktu dengan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang yang diduga untuk kebutuhan mereka di hari esok, terlihat sang pemuda begitu menikmati setiap detik waktu berharganya dengan tertawa dan bersenda gurau di hadapan adik bungsu dan kakak tertuanya. Tepat pada pukul enam sore, keluarga kecil itu melangkahkan kaki mereka keluar dari mall dengan beberapa kantung belanja di tangan. Made, telihat begitu bersemangat melangkahkan kakinya meninggalkan keempat anggota keluarganya yang lain beberapa langkah di belakangnya. Terlihat sesekali ia menoleh kebelakang dan berjalan mundur menyusuri jalanan distrik sambil mengomentari headphone yang baru saja ia beli. Detik demi detik menuju kematiannya sudah berada di depan mata. Ari dan Jillian sudah berada di lokasi dimana target mereka akan menemui ajalnya.

"Hujan akan segera tiba…" komentar Ari mengadahkan kepalanya ke atas dan memandangi langit senja yang telah berselimutkan oleh awan tebal berwarna kelabu.

"Suasana yang cocok untuk mengantarkan kematian seseorang, bukan?" sahut Jillian

"…Ya" balas Ari singkat lalu memfokuskan kembali pandangannya pada Made. Kini targetnya sudah berada dekat di lokasi kejadian. Pemuda itu masih saja tersenyum cerah di mement paling mengerikan sepanjang hidupnya—memikirkan bahwa manusia seperti dirinya akan mengakhiri kehidupannya membuat seulas senyum getir terpasang di wajah Ari. "Ucapkanlah selamat tinggal untuk terakhir kalinya, Made Krisna…" bisiknya pelan ditengah terpaan angin kencang yang berhembus menerpa Kota. Langit telah berubah menjadi gelap gulita akibat tertutup awan yang bergemuruh kencang layaknya menyanyikan sebuah lagu pengantar untuk seorang pemuda beruntung yang akan mengakhiri segalanya saat ini.

Tap… Tap…

Langkah kaki pemuda itu tiba-tiba berhenti begitu saja, sesaat ia hanya terdiam ditempatnya berdiri sebelum mengadahkan kepalanya ke atas memandangi langit gelap. Kedua manik Onyx cemerlang nampak sedang memperhatikan sesuatu yang berada di atas sana. Surai pekatnya tengah berdansa mengikuti arah terpaan angin. Entah sudah berapa lama Ari memperhatikan sang target yang masih belum menunjukkan pergerakannya. Sebelum ia sempat memalingkan pandangannya, manik biru cerah miliknya kini bertatapan langsung dengan kedua bola mata Onyx tersebut. Kemudian ia bisa melihat sebuah senyum yang merekah di wajah pemuda itu. Sebuah senyuman aneh. Bagi para manusia, pemuda tersebut akan dianggap sebagai orang aneh karena tersenyum seperti itu padahal tidak ada apapun yang ada di depannya untuk ia senyumi—kecuali tiang telepon yang menjulang tinggi di seberang jalan sana. Tetapi berbeda dengan Ari yang sedikit terperangah melihat senyuman pemuda itu mengarah padanya.

Apa manusia itu bisa melihatku, pikir Ari dengan panik. Malaikat itu segera menggelengkan kepalanya berusaha menepis pemikiran bahwa manusia biasa bisa melihat wujudnya yang notabene tidak nampak di hadapan seorang manusia. Ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian ini hanyalah kebetulan belaka.

CRASH!?

Sesuai dengan takdir, sebuah truk besar bermuatan beton yang melintas di arus jalan kehilangan kendali karena sang supir yang mengemudikan kendaraan besar itu sebelumnya mengkonsumsi obat-obatan keras hingga membuatnya kehilangan daya kerja otaknya dan mengemudi layaknya bocah yang sedang mengikuti lomba balapan gelap. Dihadapannya, sebuah bus pariwisata tengah melaju dengan kecepatan konstan, membawa setidaknya lebih dari 150 penumpang bersamanya. Kecelakaan tidak bisa dihindari ketika truk besar itu menyerempet bus dihadapannya dan saling adu kekuatan. Supir bus yang tidak memperkirakan situasi seperti ini akan terjadi tidak bisa melakukan apa-apa dan menerima hantaman kencang menyebabkan kaca pelindung bus pecah dan berhamburan. Bus yang kehilangan kendali itu lantas tumbang dan ambruk di posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi para pelintas jalan. Truk bermuatan beton itu rupanya juga mengalami hal serupa, setelah bertabrakan membentur bus, sang supir yang kepalanya terhantam kuat diperkirakan telah kehilangan kesadarannya dan menarik stir kemudi membuat truk yang dikendarainya sempat membentur pembatas jalan sebelum tumbang melindas beberapa pelintas yang tak jauh berada di lokasi kejadian. Asap tebal mengepul keluar dari kedua mesin kendaraan yang telah tergolek diatas lajur jalan.

"…"

"…Tidak mungkin" gumam Jillian tidak percaya memandangi kejadian yang tengah terjadi di hadapannya. Memang kecelakaan ini adalah suatu peristiwa yang sudah ditetapkan berlangsung. Namun yang membuat sang malaikat tercengang adalah hasil yang diakibatkan oleh kejadian hari ini sama sekali diluar dugaan dari apa yang sudah ditetapkan. Seharusnya, Truk tadi tidak menabrak bus dan menewaskan begitu banyak pejalan kaki yang menyebrangi jalan. Semua urutan peristiwa telah berubah—dan yang mengubah alur kejadian ini tidak lain adalah pemuda yang seharusnya tewas di dalam kecelakaan ini. Manik matanya melebar kaget ketika mendapati pemuda itu masih berdiri di tempatnya berada tanpa terluka sedikitpun. Manusia itu mengubah takdir kematiannya dan sebagai akibat berubahnya alur tadir yang diterimanya, takdir manusia lain yang berada di sekitarnya berubah untuk menuntaskan alur yang sempat rusak. "...Manusia itu selamat"

"…" Ari tidak bisa mengatakan apa-apa, ia sudah cukup kaget ketika manusia itu sempat memandang tepat kearahnya dan kini manusia itu telah berhasil meloloskan dirinya dari jerat maut. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi. Sekalipun ia belum pernah mendapati hal ini terjadi kepada manusia-manusia lainnya. Mungkinkah ini kesalahannya?

"Kematian manusia itu harusnya sudah ditentukan hari ini… Tapi kejadiannya telah berubah diluar dugaan kita…" ucap Jillian sambil menggigit ibu jarinya dan mengerutkan kedua alisnya, "Aku harus kembali dan melaporkan semua ini kepada Tetuah Agung—Ari… Aku minta kau untuk mengawasi manusia itu sampai aku kembali…" perintahnya kepada sang partner yang masih terdiam di sampingnya. Baru saja ia berniat untuk meninggalkan Ari, sebuah suara menghentikannya.

"Jillian—" Ari memanggilnya

"Hmm?" Jillian hanya menoleh dan menaikan alisnya menatap partnernya tersebut.

"Berapa lama kau akan pergi?" tanyanya

"Aku tidak tahu. Mungkin sampai aku mendapat keputusan baru terkait pemuda itu. Tapi aku berjanji padamu, secepatnya aku akan kembali…" jawabnya

"…Menurutmu apa yang akan diperintahkan Tetuah Agung selanjutnya… mengenai seorang manusia yang lolos dari maut ini…" gumamnya

"Tidak ada seorang manusia yang dapat meloloskan diri dari maut, Ari…" sanggah Jillian berpaling "Mau tidak mau kita harus mencabut nyawa pemuda itu cepat atau lambat… Ini untuk menjaga keseimbangan takdir yang sudah ditetapkan" jawabnya kemudian mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh meninggalkan Ari.

Sendirian, Ari tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Ia tidak memiliki pilihan lain untuk kembali mengawasi manusia itu ditempatnya semula berada. Para manusia kini sudah berkumpul di lokasi kecelakaan berusaha membantu para korban yang selamat. Jerit tangis memenuhi sekeliling jalan. Suara sirine ambulans juga dapat terdengar setelahnya. Ari masih mengamati pemuda yang masih berdiri disana nampak kaku tak berkutik sama sekali. Ia terlihat mematung di tempatnya berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Kemudian salah seorang pria berteriak memanggi kawan-kawannya, pria itu dibantu dengan teman-temannya menarik keluar sosok korban yang terhimpit dibawah kolong truk. Tidak hanya satu, tetapi tujuh orang pelintas yang menjadi korban. Dari kejauhan, Ari dapat melihatnya dengan jelas, empat dari korban tersebut tidak lain adalah anggota keluarga sang pemuda. Sebagai ganti jiwanya, jiwa keluarganya-lah yang justru dikorbankan menggantikannya. Entah Ari harus merasa iba akan penderitaan yang dialami oleh manusia tergetnya tersebut. Setelah penemuan ketujuh mayat korban tersebut, seakan ingin berbela sungkawa, langit mulai menitikkan air matanya dan mengguyur seluruh permukaan tanah di bawahnya.

Ya, hujan memang yang paling tepat untuk mengantarkan kematian seseorang.


Lima hari telah berlalu semenjak kejadian itu. Selama lima hari pula, Ari tetap mengawasi Made dari kejauhan. Ia telah menjadi saksi buta kepedihan yang dialami oleh pemuda yang kini tinggal sebatang kara itu. Nampaknya setelah upacara kematian kedua orang tua beserta saudaranya, pemuda itu menolak untuk pindah tinggal bersama dengan keluarga Ayahnya di kampung halaman. Ia memilih untuk tetap tinggal di kediamannya seorang diri. Menurut Ari, pemuda itu telah memilih keputusan yang salah. Dengan berada jauh dari sanak saudaranya dan tidak memiliki siapapun untuk diandalkan, ia harus bisa memanajemen waktunya dengan efektif dan melakukan berbagai macam perencanaan lainnya termasuk mengurusi surat kematian kedua orang tuanya. Beruntung, sanak saudaranya selalu memberikannya bantuan keuangan setiap bulan ditambah dengan tunjangan asuransi yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.

Pemuda itu selalu berusaha bersikap layaknya tak terjadi apa-apa pada dirinya. Ia menjalani kehidupannya tanpa memikirkan nasib naas yang baru saja menimpanya. Bahkan para tetangga sekitar agaknya sedikit memaklumi sifat pemuda tersebut dan tidak menanyakan apa-apa tentang semua ini. Tetapi Ari tahu, Made hanya berpura-pura dan memendam semuanya seorang diri. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan kepedihannya dihadapan semua orang dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia terlalu memaksakan dirinya dengan berusaha tegar.

Bahkan cangkang yang tertutup rapat sekalipun akan segera retak perlahan-lahan karena tak kuasa memendam semua penderitaan itu.

Menyedihkan.

Hari ini sama seperti biasanya, Made keluar dari rumahnya dan berlarian menyusuri jalanan kompleks dengan terburu-buru. Kemeja putih yang dikenakannya tidak sempat dirapikan, sambil mempercepat langkahnya, ia juga berusaha mengunyah roti yang tengah menyumpal mulutnya.

Hal ini bukanlah suatu pemandangan yang tidak biasa bagi Ari.

Pemuda itu terlambat...lagi.

Ari hanya bisa mendengus pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah hapal betul apa yang membuat Made terlambat ke sekolah ataupun alasan-alasan aneh yang diberikannya untuk membujuk sang penjaga gerbang agar ia diperbolehkan masuk.

Ia sudah semakin terbiasa mengetahui kebiasaan pemuda tersebut. Sekecil apapun ia dapat mengetahuinya. Pemuda tersebut bagaikan sebuah buku terbuka baginya.

Tetapi entah mengapa, hari ini telihat berbeda seperti biasanya. Ari bertopang dagu sambil memandangi ke atas langit. Ia merasa melupakan sesuatu, namun pemikirannya akan hal tersebut sirna ketika ia memperhatikan keadaan cuaca saat ini.

Awan hitam tengah berkumpul memenuhi langit dan menghalangi cahaya mentari.

Hujan akan segera tiba.

"…Dia tidak membawa payung, ya" gumamnya pelan beralih memandangi Made yang kini tengah berdiri di seberang trotoar menunggu lampu merah menyala untuk menyebrang.

Pemuda tersebut juga melakukan hal yang sama sepertinya, memandangi langit di atasnya. Manik pekat itu sejenak tidak melepaskan tatapannya tersebut. Ia masih tetap berdiri diam disana walaupun semua orang di sekitarnya telah melangkah pergi menyebrangi jalan dan meninggalkannya sendiri disana.

Ari juga hanya terdiam melihat reaksi pemuda tersebut. Ia berpikir, hujan telah mengingatkannya pada kenangan buruk yang menimpanya belum lama ini. Tetapi pada menit berikutnya pemuda tersebut melepaskan pandangannya dari langit dan mulai melangkahkan kakinya—

"AWAS!"

CRASH—!


Suara tubrukan keras itu masih terdengar di telinganya.

Made hanya bisa menutup matanya rapat ketika ia merasakan tubuhnya terbentur oleh sesuatu dan mendarat di sebuah tempat yang keras. Hal aneh yang ia rasakan adalah ia tidak merasa sakit sedikitpun. Seharusnya dengan benturan sekuat itu, tubuhnya akan terpental jauh ke sisi lain jalan dan pada akhirnya ia akan mati karena pendarahan hebat di kepalanya 'kan?

Tetapi ia merasakan dirinya masih hidup.

Kedua kelopak matanya perlahan terbuka hanya untuk berhadapan langsung dengan pemilik manik Violet cerah. Dengan raut wajah yang cemas memandanginya, Made berusaha menerka-nerka siapakah pemuda asing tersebut. Pandangan matanya yang tidak terfokus hanya dapat melihat samar-samar ketika bibir tersebut terbuka dan berusaha mengatakan sesuatu kepadanya.

Tetapi ia tidak bisa mendengarnya.

"…Ta—… lah!"

Hanya potongan kalimat itu yang dapat ia dengar sebelum semuanya menjadi gelap gulita. Kelopak matanya terasa semakin berat dan berat hingga akhirnya ia kembali menutup matanya dan menyambut kehampaan. Tubuhnya terasa tertidur dalam keabadian. Made merasa mungkin ia sudah berada di alam lain saat ini. Setelah kejadian barusan yang menimpanya, tidak akan ada harapan lagi untuknya tetap hidup. Kenyataan yang sudah pasti terjadi adalah kematian.

Ia tidak tahu bagaimana rasanya kematian itu. Apakah rasanya sama seperti dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini? hampa, dingin, sunyi dan tanpa merasakan sakit.

Nyatanya kematian sama sekali tidak seburuk yang ia kira.

"…Buka matamu…" suara asing itu tiba-tiba saja mengusiknya. Membuat sebelah alisnya terangkat. Siapakah gerangan yang memanggilnya?

Made memutuskan untuk mengabaikan suara asing tersebut. Ia merasa tidak ada gunanya untuk membuka kembali matanya. Toh, apa yang akan ia lihat jika ia membukanya—tempat ini adalah lingkungannya yang baru. Ia sudah berada di dalamnya, jadi untuk apa ia pergi?

Meninggalkan tempat ini sama saja ia kembali ke dalam lingkungan lamanya—tempat dirinya sebatang kara.

"Buka matamu…" suara itu kembali mengusiknya. Ia tetap mengabaikan suara tersebut. Ia berpura-pura tuli meskipun suara itu terus menerus memanggilnya dan menggema di sekitarnya.

Tetapi suara itu masih tetap saja mengganggunya. Semakin lama, suara itu terdengar begitu keras dan menggema di sekeliling kegelapan yang menyelimutinya.

"Siapa… Siapa kau sebenarnya…"

"Buka matamu…"

"Biarkan aku tetap disini! Jangan menggangguku! Pergilah!" sekuat tenaga ia berteriak berusaha mengusir suara itu.

"Bukalah matamu… dan tetaplah hidup…"

"A—!" Ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja cahaya yang menyilaukan muncul dan menerangi seluruh bayangan gelap di sekelilingnya. Made hanya bisa menutup kedua matanya untuk menghalangi sinar yang terlalu terang itu. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Akhirnya kau sadar…" suara lembut itu menyapanya ketika kedua kelopak matanya terbuka lebar. Made melirik kea rah sumber suara itu berasal dan mendapati sosok pemuda asing yang tidak ia kenal duduk di samping ranjang tempat tidurnya. Manik violet miliknya memandanginya dengan raut cemas. "Kau tidak apa-apa? Kau terlihat bermimpi buruk tadi…" ucapnya sambil menyeka peluh di dahi Made.

"…Kau siapa?" tanya Made lemah. Ia tidak mengingat siapa pemuda asing tersebut dan mengapa ia bisa berada di kamarnya saat ini?

Pemuda bersurai pirang itu tersenyum kecil, "Kau tidak mengenalku?" ucapnya balas bertanya. Ia hanya bisa tertawa pelan begitu melihat gelengan kecil yang diberikan Made padanya. "Namaku Ari. Ari Setya—Kau… Made Krisna…" jelasnya sambil menunjuk dirinya sendiri dan Made.

Made hanya mengerutkan kedua alisnya. Ari Setya—siapa itu? Ia sama sekali tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya.

"Apa kau benar-benar melupakan sepupumu sendiri?" ucap Ari yang sepertinya mengetahui apa yang tengah ia pikirkan saat ini.

"Se—pupu?" ulang Made berusaha memastikan apa yang baru saja ia dengar.

"Ya—Aku ini sepupumu. Sepupu dari Kakak Ayahmu yang baru-baru ini pindah ke Singapura setelah sebelumnya melakukan bisnis di Australia." Ucap Ari berusaha menjelaskan kepada Made tentang dirinya, "Kita sering bermain di kampung halaman. Kau dan aku sangat suka menangkap belut di sawah Kakek. Apa kau ingat?"

Made berpikir sejenak berusaha mengingat-ingat sesuatu.

"Apa kepalamu terbentur terlalu keras?" tanya Ari meletakan telapak tangannya di atas dahi Made.

"…Aku… tidak begitu ingat…" jawab Made pada akhirnya. Ia memang tidak mengingat apapun tentang sepupunya yang bernama Ari Setya. Pada dasarnya ia memang tidak mudah mengingat wajah seseorang yang pernah ia temui. Apalagi jumlah sepupu yang ia miliki di kampung halaman sangatlah banyak dan sangat sulit baginya untuk mengingat nama mereka satu per satu. Mungkin Ari memang sepupu jauhnya. Ia pernah sedikit mendengar cerita dari almarhum Ayahnya yang menceritakan bahwa kakaknya adalah seorang pebisnis yang selalu berpindah-pindah kota maupun Negara. Bisa jadi, Ari adalah anak dari Pamannya yang sukses di negeri seberang itu.

"Tidak apa kalau kau tidak bisa mengingatku. Lagipula kita juga jarang sekali bertemu dan terakhir kali kita bermain bersama adalah saat kau berusia lima tahun. Sudah pasti kau melupakannya, ya…" ucap Ari menggeleng pelan, "Lebih baik kau beristirahat saja dulu. Oh, ya. Aku hampir lupa memberitahu padamu sebelumnya, Made. Mulai saat ini aku akan tinggal disini bersamamu. Kebetulan kampus tempatku berkuliah ada di dekat sini. Ayah juga sudah memberikan ijin kepadaku tinggal disini. Jadi, mulai sekarang kita berdua akan tinggal bersama."

"…" Made tidak bisa berkomentar apapun. Ia hanya bisa mengangguk pelan mendengar celotehan sepupunya yang terdengar begitu semangat itu. Ia tidak sempat mengatakan apapun karena kedua kelopak matanya yang terasa berat memaksanya untuk kembali terlelap.

"Selamat tidur," hanya kata itulah yang dapat ia dengar dari sepupunya.


Melihat Made kembali terlelap, Ari hanya bisa menghela napas kemudian mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

Sungguh ia tidak mengerti apa yang sudah ia lakukan!

Saat itu karena reflex ia segera melesat menuju Made sebelum truk besar itu menubruknya. Entah mengapa sesuatu di dalam dirinya tidak menginginkan pemuda itu menemui ajalnya hingga ia mampu melakukan hal nekat yang seharusnya tidak bisa dilakukan oleh seorang malaikat. Ia seharusnya tidak bisa ikut campur dalam hal ini. Namun sekali lagi sesuatu dalam dirinya tidak bisa menerima begitu saja keinginannya tersebut. Kini ia justru berada dalam situasi yang semakin sulit.

Manik biru itu melirik ke sosok yang tengah pulas tertidur itu sejenak.

"Apa kau benar-benar melupakan sepupumu sendiri?"—kebohongan yang ia ucapkan beberapa saat yang lalu masih terngiang di kepalanya. Ia tidak mempercayai kata-kata tersebut keluar begitu saja melalui kedua bibirnya. Memang saat itu ia merasa panik ketika Made menanyakan siapa dirinya tapi itu tidak harus membuatnya mengambil peran sebagai sepupu palsu pemuda itu juga 'kan? Ia bahkan mengarang cerita yang seharusnya tidak ada untuk menyakinkan statusnya kepada pemuda itu. Dan sekarang, pemuda itu percaya bahwa dia adalah sepupu jauhnya yang datang kembali untuk berkuliah disini.

Ari tidak tahu apa lagi yang akan ia lakukan untuk menutupi kebohongan yang ia lakukan setelahnya. Saat ini ia tengah berada di dalam wadah sementara yang membuatnya terlihat bagaikan manusia normal lainnya. Kekuatan malaikatnya masih ia miliki namun ia tidak dapat menggunakannya sebebas yang bisa ia lakukan di dalam wadah sementara ini.

Sekali lagi Ari menghela napas dan menundukkan kepalanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku…" gumamnya pelan


Sudah seminggu berlalu sejak Made mengalami kecelakaan di jalan raya itu dan sudah seminggu pula ia tinggal bersama dengan sepupu jauhnya, Ari Setya. Sejujurnya, Made masih meragukan ingatannya yang tidak mampu mengenali sepupunya sendiri. Walaupun ia masih merasa belum yakin memiliki sepupu jauh, Made menyingkirkan prasanka anehnya tersebut dan menerima kedatangan Ari untuk tinggal bersamanya. Rumah yang semula hanya dihuni olehnya seorang diri kini terasa sedikit ramai berkat kedatangan penghuni lain yang mengisi kekosongan tersebut. Untuk pertama kalinya Made merasa lega. Lega karena ia tidak sendirian dan juga lega karena sepupunya ada bersamanya walaupun hanya sementara waktu. Tetapi ia sangat mensyukuri hal itu.

"Aku berangkat." Ucap Made ketika ia sudah selesai mengikat tali sepatunya dan berniat membuka pintu.

"Jangan lupa membeli telur setelah pulang sekolah nanti, ya!" sebuah suara mengingatkannya membuat Made tersadar ia tidaklah sendirian di dalam rumah ini. Kalau dulu tidak ada balasan apapun ketika ia berangkat menuju sekolah, kali ini ia mendapat balasan yang sudah lama ingin didengarnya. Rasanya senang. Tapi juga sedikit menyedihkan baginya.

.

.

"Made? Kau kenapa?"

Suara itu kembali sukses membuat Made tersadar dari lamunannya. Dilihatnya sebuah tangan yang kini berada di atas pundaknya dan sang pemilik tangan tersebut yang memandanginya dengan kedua alis bertaut heran.

"Ah… Tidak… Bukan apa-apa…" jawab Made menggelengkan kepala pelan.

Sepupunya, Ari masih memasang ekspresi wajah yang sama sambil meneliti dirinya. Kemungkinan ia mencoba untuk mencari tahu alasan kenapa dirinya melamun ditambah lagi wajahnya yang sedikit terlihat muram dan pucat saat itu.

"Apa kau sakit? Badanmu terasa panas?" tanyanya sambil meletakan telapak tangan di atas dahinya untuk mengukur suhu badannya.

"Tidak… Aku baik-baik saja. Aku sehat, kok" jawab Made dengan halus menyingkirkan telapak tangan Ari yang masih menempel di dahinya. "Aku berangkat dulu." Ucapnya sekali lagi

"Hemm… Hati-hati di jalan, ya." Balas Ari sambil menyunggingkan sedikit senyum di wajahnya kemudian melambaikan tangannya, "Jangan lupa melihat kanan-kiri sebelum menyebrang jalan dan membeli telur sepulang sekolah nanti. Ah, kalau aku belum kembali kau bisa menghangatkan soup ayam yang ada di panci." Pesannya.

Made hanya bisa terkekeh pelan mendengar pesan tersebut. Ucapan sepupunya kini terdengar seperti ibu-ibu yang cemas dengan anaknya yang akan ditinggal pergi seharian saja. Ia hanya mengangguk pelan sambil meraih knob pintu lalu membukanya lebar. Dengan langkah lebar ia berjalan keluar.

"Semoga harimu menyenangkan!" seru Ari sebelum ia berjalan terlalu jauh dari rumah.

Sejenak ia berbalik dan memandangi sepupunya yang sudah berdiri di samping pintu rumahnya dan masih melambaikan tangan untuk mengantar kepergiannya.

Ya, ia akan terbiasa dengan semua ini.

"Ya!" balasnya dengan semangat sebelum berlalu pergi.

Made tidak tahu bagaimana ia mendeskripsikan perasaan yang ia rasakan saat ini. Ia memang merasa senang. Kesedihan yang ia rasakan mungkin berangsur-angsur menghilang tetapi tidak sepenuhnya lenyap. Rasa sakit karena kehilangan anggota keluarganya masihlah tetap membekas dalam ingatannya tetapi untuk sesaat ia setidaknya bisa melupakan rasa sakit itu. Walaupun dulu ia berusaha untuk tegar dan berjalan dengan kedua kakinya sendiri, kini ia tidak perlu lagi menyakiti dirinya sendiri. Ia tidak perlu membebani dirinya sendiri. Dan ruangan luas kosong yang dulunya begitu menakutkan untuknya kini tidak terlihat menakutkan kembali. Karena ia tahu ia tidak sendiri.

Ya, ia tidak sendirian. Setidaknya untuk saat ini ia tidaklah seorang diri.

Ia masih memiliki Ari. Sepupunya.


Jejak Kaki Author:

Jujur! Gue agak menimbang-nimbang sebelum publish nih Fic! *garuk kepala* Tapi karena kasihan fic ini harus menghias folder dan sama sekali gak pernah kesentuh-sentuh (mau nyentuh tapi gak kesampean *tunggu! kok jadi ambigu kata-katanya?*) jadi akhirnya setelah diedit baru deh di publish disini. Hahahaha ^^

Sebenernya fanfic ini rencana dibuat untuk event Challenge Fiction RuLiA groups "Hujan" dan "Supernatural". Tapi... berhubung saya Author yang telat deadlinenya dan fanfic ini jalannya lamaaa banget, niat buat mengikutsertakan fic ini pun urung dilaksanakan. Hahahaha... Ya... sebagian besar salah Author juag yang menelantarkan karyanya #Plak!

Err, ya. Tadi saya bilang diatas ini Shonen-ai tapi gak terlalu juga sebenernya (maksudnya?) dan karakter yang akan saya gunakan di fanfic ini adalah OC saya Made Krisna dan Ari Setya. Dan jujur fic ini terinspirasi oleh lagunya Mama Mariah Carey ft Ne-Yo yang judulnya Angels Cry sama kayanya Yuki Kajiura yaitu I talk to the rain sama Hear our Prayer. Mungkin yang pernah mendengar bisa mengerti bagaimana feel lagunya hahahah... bagi author sih semacam lulaby kalo lagi insomnia.

Terima kasih bagi yang sudah berkenan membaca dan menikmati fic ini.

Masukkan saran dan kritikan akan sangat Litte hargai.

Salam,