Exiled Elysium


I am: yet what I am none cares or knows,

My friends forsake me like a memory lost;

I am the self-consumer of my woes,

They rise and vanish in oblivious host,

Like shades in love and death's oblivion lost;

And yet I am! and live with shadows tost

(I Am - John Clare, 1844)


Peri Biru menghadiahkan anugerah terindah yang diimpikan oleh Pinokio, menjadi bocah laki-laki sungguhan karena dia telah menjadi anak yang baik. Pinokio dan ayahnya hidup bahagia selamanya. Dua kalimat penutup dongeng itu selalu terngiang-ngiang dalam benak ini. Sungguh akhir yang membahagiakan – dan membuat iri, karena kenyataan tidak akan bisa seindah itu.

Namaku Jack, itu adalah nama pemberian dari pemilikku yang baru. Dia bilang nama itu cocok bagi seorang bocah laki-laki bermata satu. Dia menyebutku "bocah", aku bahagia dia menganggapku demikian. Meskipun pada kenyataannya aku tidak akan berubah menjadi bocah sungguhan. Tidak akan ada keajaiban yang sama terjadi pada Pinokio untukku. Jika kalian bertanya-tanya apakah aku ini? Maka akan kujawab dengan seulas senyum yang selalu ada di wajah ini, aku adalah sebuah marionette.

Alice, pemilikku, adalah gadis yang sangat menyukai boneka. Gadis berambut pirang panjang itu punya banyak sekali boneka, berjejer rapi di salah satu ruangan di lantai dua rumah besarnya. Setiap hari, dia menghabiskan banyak waktu di ruangan itu untuk bermain bersama kami atau membacakan banyak kisah menarik dari buku bergambar yang berwarna-warni. Kadangkala dia membacakan cerita dari buku tebal tidak bergambar yang terlihat begitu membosankan. Tetapi saat Alice membacanya, ternyata kisahnya tidak seburuk yang kukira.

Di ruangan ini, aku punya sahabat dekat bernama Peter – itu juga nama pemberian Alice. Berbeda denganku yang selalu punya senyum, Peter adalah marionette dengan wajah yang tidak begitu bahagia. Dia punya ekspresi yang nyaris datar, sampai rasanya tidak tahan untuk memanggilnya "Bitter" – si Pahit, dan dia selalu sewot saat aku mulai iseng memanggilnya demikian.

"Namaku bukan Bitter! Hentikan itu," sergahnya jengkel, sebelum akhirnya ia kembali menerawang ke kejauhan di balik jendela.

Tentu saja Alice tidak tahu soal keisenganku ini, karena dia tidak bisa mendengar secara langsung percakapan apapun yang kami lakukan. Tapi seandainya gadis itu bisa mendengarnya, aku pasti sudah dimarahi karena mengganggu saudaraku.

Ya, bisa dikatakan kalau Peter adalah saudaraku, bahkan jauh sebelum Alice memungut kami berdua. Peter adalah hasil karya saudara pembuatku. Itu sebabnya bisa dikatakan kalau kami masih bersaudara, mungkin lebih tepat kalau dikatakan sebagai sepupu.

Peter membenci pembuatnya. Aku tidak tahu apa itu karena dia membuat Peter punya ekspresi yang datar ataukah karena Peter kurang beruntung jatuh ke tangan para pemilik yang sepertinya kurang betah dengannya, sebelum pada akhirnya ditelantarkan di sebuah tumpukan sampah. Namun sepertinya kami berjodoh saat aku juga dilemparkan ke tempat yang sama.

Kalau kalian bertanya seperti apa kisahku, mungkin yang membuat kalian penasaran adalah mengapa aku hanya memiliki satu mata. Bisa dikatakan aku juga tidaklah lebih beruntung daripada Peter, meskipun aku masih bisa mengingat sentuhan lembut dan penuh sayang dari pembuatku. Aku dihadiahkan pada seorang gadis yang juga penyayang. Hidupku cukup bahagia kala itu, tapi hanya sejenak, sebelum akhirnya beberapa hari kemudian pemilikku dan keluarganya pergi ke kota lain dengan tergesa, sedangkan aku tertinggal.

Aku pun jatuh ke tangan pemilik kedua yang menemukanku di rumah itu, dan bersamanya dalam waktu yang cukup lama. Seorang bocah laki-laki yang punya banyak mainan – tapi mereka semua dalam kondisi yang memprihatinkan, dan tidak lama kemudian aku pun bernasib sama seperti mereka. Boneka kelinci dengan perut gembul yang tersayat, kapas dibalik permukaan berbulu lembut tubuhnya menyeruak keluar dari sayatan itu, dia menatap dengan terdiam saat bocah itu membakar mata kananku dengan ujung tongkat besi dari perapian.

Hingga akhirnya dia pun pergi dari sana, aku merasa sangat lega. Barangkali aku hanya beruntung dia tidak ingin membawa marionette rusak – atau barangkali aku sudah terlalu membosankan baginya, sudah tak ada kerusakan mengasyikkan yang bisa dilakukannya. Dia melemparku ke dalam perapian yang sudah nyaris padam, dan aku teronggok disana dalam waktu yang juga cukup lama, berbaring bersama abu dan jelaga.

Ketika penghuni baru tempat itu akhirnya datang setelah nyaris delapan musim berlalu, menemukan sebuah marionette yang kotor dan hitam berselimut jelaga, mengernyit jijik, lalu tanpa banyak komentar langsung menggamit kakiku dan melempar keluar jendela. Aku mendarat tempat di sebuah onggokan sampah – yang ternyata Peter sedang bersandar pada sebuah kotak hadiah usang disana.

Mungkin Tuhan mendengar doaku dan ratapan Peter, hari itu, saat hujan deras mengguyur kota, Alice menemukan kami. Dia menatap dengan iba lalu membawa kami pulang.

"Nah, kalian berdua sudah tampan," ucap Alice senang saat dia selesai membersihkan kami dan memakaikan baju baru buatan tangannya.

Dia merapikan simpul dasi pita berwarna lembayung di leher saudaraku dan menyisir rambut jagungnya.

"Kau akan kupanggil Peter. Well, sebenarnya itu nama kakak laki-lakiku. Papa dan mama sepertinya tidak suka aku membicarakan dirinya setelah Peter meninggal beberapa tahun lalu. Tapi aku menyayanginya. Sangat menyayanginya. Dan dia punya rambut pirang kecokelatan yang mirip sepertimu."

Jadi Peter dinamai menurut almarhum kakak Alice. Namun tampaknya Peter tidak kecewa karenanya. Dia tidak mempermasalahkan asal nama yang diberikan Alice.

"Kau tidak marah?" tanyaku.

"Tidak," sahut Peter. "Mengapa aku harus marah? Dia menamaiku sesuai dengan nama orang yang disayanginya."

Saat merapikan penampilanku, Alice mengusap bekas menghitam yang tak bisa hilang di mata kananku. Gadis itu mengernyit sedih, "Siapa yang telah melakukan ini padamu?"

Meski tahu dia tak bisa mendengar, tapi bagaimanapun aku tetap mengatakannya, "Pemilikku sebelum ini. Kelihatannya dia memang tidak pandai dalam menjaga apa yang dimilikinya. Sungguh bocah yang tidak punya rasa syukur."

"Kuharap itu tidak terasa sakit lagi. Nah, ini, aku membuatkanmu penutup mata," ujar Alice sembari memasangkannya. Lalu dirapikannya helai-helai rambut hitamku yang mencuat kemana-mana dan sebagian kusut karena terbakar. "Nah, kau juga sudah tampan lagi. Sudah tidak hitam lagi. Seandainya kau seorang gadis mungkin akan kuberi nama Cinderella hahaha….. Jangan marah ya, kau tetap menawan kok. Baiklah, kau akan kupanggil Jack. Sepertinya itu cocok untuk bocah lelaki bermata satu."

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang nyaris sama. Alice sepertinya tidak punya banyak teman lain. Dia selalu menghabiskan waktu luangnya bersama kami, dan tampaknya dia juga menikmatinya. Senyum selalu tersungging di wajahnya yang pucat, seolah mengungkapkan kalau dia merasa baik-baik saja hanya bersama kami, meskipun tanpa teman manusia.

Ketika cuaca diluar sedang cerah, Alice mengajak beberapa penghuni ruangan favoritnya berpiknik di halaman rumahnya yang juga luas. Dia menggelar selimut diatas rerumputan dibawah pohon oak yang teduh, menyiapkan beberapa sandwich dan beberapa buah stroberi segar yang jadi favoritnya.

Bahkan ketika kami sedang berpiknik pun, Alice akan membacakan cerita. Peter menyukai kisah Peter Pan. Tentu saja, karena tokoh utamanya punya nama yang sama dengannya.

"Peter Pan, selamanya menjadi anak-anak di Neverland. Tidakkah kau berpikir itu juga mirip dengan kakak Alice? Dia yang telah merengkuh keabadiannya di Neverland," kata Peter.

Lantas apa kisah favoritku? Aku menyukai apapun yang dibacakan oleh Alice – semua kisah yang dibacakan olehnya.

"Apa yang akan terjadi pada kita saat Alice tak ada?" tanya Peter suatu saat.

Dia sudah mulai bersikap getir. Sekalipun apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar, Alice yang terikat pada kefanaannya, sedangkan bagi kami waktu berjalan sedikit berbeda meskipun suatu saat kemusnahan juga tidak akan terhindarkan. Aku lebih suka untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk itu – yang cepat atau lambat pasti akan tiba. Aku lebih suka menyimpan perenungan itu untuk diri sendiri daripada mengucapkannya dengan lantang, dan menikmati setiap detik bersama Alice.

"Entahlah," sahutku muram, tertular kegetiran Peter. "Kalau kita kehilangan Alice, itu berarti kita kehilangan seorang ibu."

Peter terkekeh. "Itukah anggapanmu tentang Alice?"

"Iya. Dia merawat kita, menjaga, memberikan rasa sayangnya dan melewatkan waktunya bersama kita. Kurasa itulah yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya," jawabku yakin.

Peter terdiam cukup lama. Dia kembali menekuni kegiatan favoritnya; menerawang keluar jendela, seolah selalu ada sesuatu yang menarik perhatiannya diluar sana.

"Apakah kau tidak menyukai Alice?" Itu satu-satunya pertanyaan yang terpikir olehku. Karena Peter seringkali melamun sambil melihat entah apa yang ada diluar sana, bahkan ketika kami sedang dalam acara pembacaan cerita.

"Bukan begitu," sergah Peter buru-buru.

"Lantas?"

"Aku hanya tak bisa membayangkan bila kita kehilangan Alice. Tempat ini tidak akan terasa seperti rumah lagi. Aku hanya tidak siap kehilangan rumah lagi – mungkin kau bisa bilang kalau aku selalu tidak siap. Kita memiliki ketidakberuntungan masing-masing dan kenangan-kenangan tidak menyenangkan, hingga akhirnya kita semua bisa berada di tempat yang memiliki ikatan pada diri kita masing-masing. Kita ada untuk mengabdikan keberadaan kita pada Alice, untuk menjadi penghiburan dan objek kasih sayangnya. Tetapi ketika seseorang yang membuat tempat ini terasa seperti surga menghilang, orang yang membuat keberadaan kita berguna dan memiliki makna…. Apa yang harus kita lakukan?"

Kini aku yang terdiam. Sudah kubilang aku lebih suka untuk tidak menyuarakan kecemasan itu secara terang-terangan. Campuran beragam perasaan yang tidak bernama itu lebih baik bila ditahan saja, karena bila dikatakan sensasi rasa menyakitkannya justru semakin terasa nyata. Tapi Peter sudah terlanjur mengatakannya. Kini aku pun mau tidak mau harus merasakan pukulan yang lebih keras dari yang kutahan sebelumnya.

"Aku tidak tahu," jawabku. "Yang kutahu kehidupan berputar seperti roda, berputar tanpa henti. Keatas dan kebawah, begitu seterusnya – karena pergerakan itulah waktu bisa berjalan. Selayaknya hukum alam, sesuatu yang berada diatas akan jatuh ke bawah – itu berarti saat kita berada diatas hanya sejenak bila dibandingkan dengan saat kita dibawah. Kalaupun kita beruntung mendapatkan saat yang lebih lama diatas, pasti selalu ada yang harus kita korbankan. Yang harus kita lakukan hanyalah menjalani hidup yang memang jadi bagian kita, tidak kurang dan tidak lebih."

Aku menatap ke arah Alice yang berayun-ayun dalam kursi goyang kesayangannya, lelah dan mengantuk.

"Itu sebabnya kita harus selalu mensyukuri apapun yang kita punya. Menikmati setiap menit dan detik yang kita punya bersama Alice. Sesuai dengan yang kaukatakan, itulah salah satu hal penting yang memberikan makna bagi keberadaan kita. Biarlah masa lalu berlalu, karena kita telah memperoleh keberuntungan kita bersama Alice."

Kemudian sunyi menjelang. Hembusan angin musim semi yang lembut dari jendela yang terbuka membuat tirai di ruangan itu seolah berdansa dengan kelopak-kelopak apple blossom yang terbawa angin dan berputar-putar seperti salju. Alice memejamkan matanya. Dia tampak begitu tenang dalam tidurnya.

Penghuni ruangan itu mulai gusar. Peter menunduk dengan ekspresi datarnya – aku yakin seandainya dia punya air mata untuk diteteskan, mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya. Sedangkan aku tak bisa melakukan apapun kecuali tersenyum, tak peduli betapa pun ingin kulepas senyuman itu, menunjukkan segala apapun yang telah porak-poranda dibaliknya. Aku hanya bisa meyakinkan diri bahwa Alice telah mendapatkan apa yang diinginkannya, entah ke Neverland ke tempat saudaranya ataukah ke Wonderland untuk memulai petualangannya sendiri. Itulah satu-satunya alasan yang tepat untuk senyum ini.[]

~~~~~ End ~~~~~