"Ueno-chan?" Aku tersentak kaget. Lamunanku seketika buyar. Aku mendongak dan mendapati Moriko Riiyuu, pacarku, memandangku khawatir.

"Ah, maaf. Aku sepertinya melupakan sesuatu," jawabku mencoba tertawa kecil. "Tapi, rasanya tidak penting."

"Kau sakit ya?"

Aku menggeleng pelan. Masih mencoba melukiskan senyuman di wajah. Senyum palsu.

"Yang benar?" tanyanya lagi sambil menyentuhkan tangannya ke dahiku. Rupanya dia benar-benar khawatir. Maaf ya, aku memang tukang melamun, sih…

"Aku tidak apa-apa. Ayo, jangan diam saja di sini," ajakku sambil meraih tangannya dan menggandengnya. Riiyuu tersenyum dan mengikuti langkahku.

Sore itu, Riiyuu mengajakku ke taman bermain. Aku mengangguk setuju. Toh, wajar sekali-kali berkencan disela-sela kesibukkan sekolah. Ehem, bukan bermaksud sok sibuk. Tapi, sekolahku memang benar-benar sibuk.

Ah, tidak. Hanya kelasku saja yang sibuk.

Tahun lalu, aku memutuskan menjalani masa SMA-ku di kelas AAA. Kelas dimana semua muridnya mempunyai IQ diatas rata-rata. Awalnya, aku masih bisa mengimbangi. Tapi, aku nyaris stres berat berada di kelas itu. Wuih… capek benar! Hanya satu hal yang membuatku bisa bertahan di kelas itu.

Cuma satu. Orang itu.

.

.

.

"Ueno-chan… Lagi-lagi kau melamun… memikirkan apa sih?" Riiyuu melambaikan tangannya di depan wajahku.

Aku lagi-lagi nyaris melompat dari tempat duduk karena kaget. "A, aduuhh… Ma, maaf… Aku–"

"Apa aku mengganggumu?"

Eh?

Aku memandang wajah sedih itu. "Tidak, kau sama sekali tidak mengganggu."

Riiyuu menggenggam erat tanganku. Kurasakan tangannya gemetaran. "Apa email-email-ku mengganggumu? Apa aku membuang waktumu jadi tersia-sia? Apa aku–"

"Cukup!" bentakku cukup keras. Jujur, aku terkejut juga bisa berteriak sekeras itu di depannya. Sebelumnya, marah pun aku tidak pernah.

"Ue…?" aku tahu, wajar saja Riiyuu shock seperti itu. Tapi, aku kini sedang badmood. Kau bertanya disaat yang tidak tepat, Riiyuu.

"Aku sudah bilang, bukan? Berkali-kali! Kau tidak mengganggu sama sekali, senpai! Aku tidak masalah dengan email yang kau kirimkan setiap hari! Waktu belajarku juga tidak terganggu! Kenapa kau tidak paham-paham juga sih?!" gerutuku. Aku ngomong ngebut begitu, mungkin Cuma tersampaikan sedikit. Ah, tapi aku malas mengulangnya!

Wajah Riiyuu semakin muram. Aku ikutan sedih jadinya. Lagi-lagi kau buat aku merasa sangat bersalah, Riiyuu. "Maaf, aku berteriak tadi…" bisikku pelan. Aku takut dia balik marah atau mungkin langsung pergi meninggalkanku. Oke, aku pilih yang kedua saja.

Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Riiyuu tersenyum. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku bertanya hal yang sama lagi, ya?" ujarnya sambil tertawa pelan. Aku tahu, dia hanya bermaksud mencairkan suasana. Tapi, nyatanya gagal.

Kecanggungan itu mengalir diantara aku dan Riiyuu. Aku mengerti karena sifat kami terlalu mirip. Kami sama-sama lebih suka mengalah. Kalau sudah begini, kami sama-sama merasa bersalah. Yang terjadi berikutnya kami hanya diam dan diam.

Ahh… Rasanya aku ingin langsung lenyap saja. Atau… memundurkan waktu kembali?

.

.

Mungkin itu yang benar. Memundurkan waktu kembali.

Kembali ke saat aku dan Riiyuu hanyalah teman. Bukan, hubungan kami sebelumnya hanyalah antara senpai dan kouhai yang sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah bertemu. Aku sama sekali tidak mengenalnya, hanya tahu namanya. Itu pun karena aku satu sekolah waktu SMP. Kenapa bisa ya aku jadian dengan Riiyuu?

Ceritanya tidak panjang. Bahkan, aku tidak melalui tahap pendekatan terlebih dahulu. Dan yang terjadi adalah… ya, seperti sekarang ini. Aku tidak tahu, kenapa aku menjawab 'iya' waktu itu. Mungkin karena kesenangan atau karena kesepian? Ya, faktanya, aku belum pernah pacaran sebelumnya.

.

.

Akhirnya, aku memutuskan untuk memesan minuman lagi. Kepalaku jadi pusing kalau memikirkan semuanya. Satu kalimat sederhana tapi cukup menohok hatiku terus berputar di kepala.

.

Apa aku menyesal?

.

Riiyuu berdeham pelan. "Ueno-chan…" panggilnya pelan. Oh, God… aku tahu benar nada bicara ini. Riiyuu ingin bicara serius.

Aku mengangkat tanganku sebelum Riiyuu sempat berbicara lagi. "Tunggu sebentar, senpai. Tunggu sampai pesananku datang, bisa? Kepalaku pusing," tahanku sambil memijat kening. Tuh 'kan, aku masih memanggilnya senpai, bukan Riiyuu-kun atau Rii-kun.

Riiyuu langsung berdiri dan memegang dahiku untuk kedua kalinya. "Kau sakit?"

"Nggak. Aku hanya pusing karena hari ini cukup panas. Kalau aku minum, nanti juga sembuh."

Riiyuu menghela napas lega, lalu duduk kembali tapi masih menatapku khawatir. Oh, manisnya… dia mengkhawatirkanku seperti ini… harusnya aku berpikiran seperti itu. Tapi, hatiku tidak mau berkata seperti itu. Yang terpikir malah kata-kata 'tidak perlu khawatir padaku sampai seperti itu 'kan. Aku baik-baik saja.' Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Tak lama, pesananku datang. Dengan cepat, aku menyeruput lemon tea yang bagai oase bagiku kini.

"Ue-chan, begini… Aku minta maaf sebelumnya…"

"Langsung ke intinya aja, senpai. Aku memaafkanmu hehe..." potongku mencoba bercanda. Sepertinya, harusnya aku yang minta maaf karena tidak serius. Maaf.

Riiyuu memandangku dengan tatapan aneh yang sulit dijelaskan. Jadi, aku berkata lagi, "Ma, maaf. Habisnya, kau terlihat terlalu tegang. Aku hanya mencoba rileks."

Riiyuu tertawa ngakak. Pasti dalam pikirannya aku ini cukup aneh. "Tidak apa-apa, Ue-chan… Mukamu mirip kepiting rebus tuh…"

"Kemarin udah bagus panda, sekarang kepiting…" protesku tak lupa dengan manyunan di bibir.

"Ih, pede banget! Panda 'kan karena kantung mata tuh, tebal banget! Kurang tidur ya? Nanti sakit, lho."

"Oh, ternyata karena itu! Salah aku kemarin sudah tebar senyum nggak jelas."

"Jadi kemarin pandaku ini kesenengan gitu? Jangan cemberut dong, hehe…"

"Aku ini bukan panda, tauk! Kucing!" balasku sambil mengepalkan tangan seperti kucing yang lagi imut-imutnya bergaya. Aku mungkin memang nggak imut, tapi kucingnya imut kok.

Bukannya tertawa, Riiyuu malah terdiam. "Kenapa harus kucing?"

Aku menelengkan kepala, bingung. "Karena mereka lucu. Kenapa memangnya?"

Riiyuu memalingkan wajahnya. Lagi. Aku yakin ada apa-apa. "Apa?" todongku.

"Aku… Aku tidak suka kucing sama sekali. Bisa dibilang aku benci sama kucing."

Aku menggaruk-garuk kepala, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Jadi hanya kata 'Oh, gitu' saja yang keluar. Itu pun pelan hampir nyaris tak terdengar. Tapi, aku yakin Riiyuu dengar.

"Ano… kembali ke permasalahan sebelumnya…" Riiyuu kembali berdeham.

"Senpai, nggak memesan makanan?" potongku lagi. Sumpah, rasanya aku ingin memplester mulutku! Kenapa sih, aku selalu bicara hal yang tidak penting disaat-saat yang salah?!

Riiyuu menggeleng pelan. Raut wajahnya kembali bingung. (kenapa kau bingung mulu sih! Aku bingung juga jadinya…)

"Ma, maaf… Lanjutkan."

"Begini, karena kau bilang langsung ke intinya saja, hm… aku Cuma ingin bertanya…"

"Ih, lucu~~" jeritku sambil menatap penuh cinta pada sesuatu yang tiba-tiba naik ke pangkuanku. Ya, betul, si kucing main naik seenaknya.

"Ueno, bisa tidak kau serius sedikit?! Berhenti mengalihkan pembicaraan! Jangan-jangan dugaanku benar! Kau itu terpaksa ya jadian denganku?!"

Aku tidak menoleh dan memilih untuk menunduk. Bukan. Aku bukan memilih untuk menunduk. Tapi, aku memang tidak bisa mendongak saking shock-nya. Cuma gumaman 'he?' yang keluar.

Tunggu… Mengalihkan pembicaraan katanya? Apa iya? Aku tidak sadar melakukannya. Maaf.

"Ma, maaf, bukan begitu maksudku. A, aku… Aku–" sambung Riiyuu mulai gelagapan. Tapi, aku potong lagi. Kali ini aku tidak bermaksud menghindar. Sudah jelas di kepalaku apa permasalahannya sekarang.

"Sudahlah, senpai. Mungkin kau benar," jawabku dengan setengah berbisik. Sungguh, aku tidak tahu yang mana kenyataan yang mana hanya ilusi. Ini mimpi atau bukan? Hubunganku dengan Riiyuu ini mimpi atau bukan?

Kata-kata itu mulai berputar-putar lagi di otakku. Aku bisa-bisa gila kalau tidak segera menghentikkannya. Jadi… apa aku menyesal bilang 'iya' waktu itu? Apa aku menyesal memilih pacaran dengan Riiyuu? Apa aku menyesal?

Mataku memanas dengan sendirinya. Hei, aku tidak ingin menangis. Haha… Otakku memang selalu tidak sejalan dengan tubuhku. Heran..

"Ue…" Tuh 'kan, aku membuat Riiyuu mengeluarkan ekspresi menyakitkan itu lagi. Berapa kali lagi aku harus minta maaf?

Aku menggeleng kuat-kuat dan kuhapus air mata sialan ini. Sambil terisak, aku mencoba bicara, "Aku yang minta maaf. Mungkin senpai benar. Aku bahkan tidak tahu apa aku terpaksa atau tidak. Maaf…" Untuk pertama kalinya, aku bicara sejujur ini dengan Riiyuu. Aku baru sadar. Astaga, bodoh benar aku ini!

Tangan Riiyuu yang besar memegang pipiku dan menghapus air mataku yang masih saja keluar. Ia hanya tersenyum. Tapi, aku tahu, dibalik senyum itu ada luka yang menganga lebar. Tertera jelas di matanya.

Dan aku yang membuat luka itu…

"Maaf, maaf, maaf, maaf…" bisikku berkali-kali.

Aku tahu, kata maaf saja tidak akan bisa mengembalikan semuanya… Tidak bisa memutar waktu…

Kututup wajahku dan menangis lagi. Kali ini, aku memang ingin menangis.

.

Menangisi betapa bodoh dan kejamnya diriku…

.

Karena mau selama apapun aku bersama Riiyuu, aku tahu hatiku tetap tertuju pada satu sosok yang lain…