Beberapa tokoh penting:

Erwin — Murid idola di sekolah, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menarik perhatianku. Tidak, tidak dalam artian seperti itu. Anak ini terlalu sempurna, bahkan dengan gayanya yang malas, kebiasaannya bolos pelajaran, keringantanganannya yang menelan banyak korban luka-luka, dan kekurangajarannya pada orang-orang yang lebih tua, lebih bijak, dan lebih baik daripadanya. Ada sesuatu di balik personanya itu yang pasti akan menggemparkan seisi sekolah, dan aku bertekad membongkar rahasia itu.

Aigle — Sahabat Erwin yang juga populer. Aku tak percaya hubungan mereka semurni itu. Ini hanya intuisiku, tapi aku yakin jika aku teguh di jalanku ini, aku akan dapat menyingkirkan kedok mereka.

Frandy — Budak Erwin dan Aigle, sering disuruh-suruh oleh duo itu, terutama diperas uang jajannya. Anak yang penakut dan mudah ditindas. Aku bertekad akan melepaskannya dari cengkeraman mereka, bahkan meskipun itu hal terakhir yang kulakukan.

Houga — Geek dari klub komputer yang suka menyendiri dan menguntit orang. Informan handal, tetapi sulit sekali menjaga kerahasiaan dengannya, kecuali kau bisa membayarnya cukup tinggi sehingga tak ada seorang pun yang dapat melebihi bayaranmu itu.

Sujee — Atlet handal berjiwa preman yang merasa dirinya paling kuat dan suka menindas orang. Seratus persen kebalikanku, yang meskipun secara fisik tak begitu kuat, tetapi dengan kekuatan otakku bisa mengalahkan hampir siapa saja.

Keanu — Cowok yang suka bermain-main dengan cewek, memiliki hubungan misterius dengan Erwin. Tak banyak yang memerhatikan hal ini, bahkan sepertinya Aigle pun tidak.

Alan — Aku. Murid teladan di sekolah sekaligus tenaga lepas di kesatuan intelijen rahasia. Dengan kata lain, aku bisa juga disebut agen rahasia. Sst… jangan sebar-sebar info soal pekerjaan paruh waktuku itu.


Pernahkah kalian merasa lebih baik mati saja? Apapun yang kalian lakukan tak pernah membuahkan hasil. Jangankan berhasil, berjalan saja tidak.

Apakah aku orang yang begitu lemah sehingga menjadi gontai karena terpaan badai kecil sekalipun? Terserah apa pendapat kalian terhadapku, kalian tak mengalami apa yang kualami.

Aku memamer-mamerkan kesusahanku? Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya berkata sejujurnya, yang sebenarnya. Bagi mereka yang hidupnya lurus-lurus saja, tanpa beban, tanpa kekhawatiran, memang kata-kataku ini akan terasa melebih-lebihkan. Tapi, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya: aku tak peduli apa pendapat kalian, aku tak akan repot-repot menyusahkan diri hanya karena pendapat subjektif kalian.

Lantas, buat apa aku menceritakan ini semua, kalian bilang? Aku bisa bertanya hal yang sama pada kalian. Buat apa kalian membaca tulisanku kalau kalian hanya akan menghakimiku sebagai anak lemah yang cuma bisa menyalahkan keadaan?

Ini kisahku, dan akan kuceritakan sebagaimana kebenaran terjadi di depan kedua mataku.

Aku bias? Sama, kalian juga.

Begini, kenapa kalian tidak berhenti saja membaca tulisanku kalau kalian hanya akan mengomel? Aku tidak menulis untuk kalian baca, walau membaca ini atau tidak, tetap pilihan kalian. Jika kalian ingin melanjutkan membaca, kusarankan kalian agar berhenti berpikir dan baca saja. Biarkan aku berpikir untuk kalian, dengan begitu tak akan ada kesalahpahaman di antara kita.

Aku tak bermaksud menyetir opini kalian.

Seperti yang sudah kukatakan dua kali sebelumnya: aku tak peduli apa yang kalian pikirkan tentangku.

Ini kisahku.

Dan akan kuceritakan sebagaimana kebenaran ini terjadi.