Harapanku…

"Yak anak - anak! Tugas kalian kali ini adalah menuliskan cita – cita kalian masing – masing. Ceritakan apa cita – cita kalian dan bagaimana caranya agar impian kalian terkabul." Itulah kata – kata bu guru yang masih terngiang dikepalaku sampai sekarang. Kata – kata itu bisa terngiang di benakku karena sampai sekarang aku tak tahu apa cita – cita, impian, dan harapanku di masa depan. Resah rasanya kalau memikirkannya, hanya mengandalkan waktu yang terus mengalirdi hidupku dengan begitu cepatnya. Bahkan sekarang aku sudah duduk di kelas 2 SMA. Dan bentar lagi aku harus kuliah dan bekerja. Haduh… mau ambil jurusan aja aku nggak tahu mau ambil apa. Haish… susah juga ya, ngambil kelas IPA juga karena belum tahu mau mau ambil jurusan aja. Kalau pekerjaan palingan nerusin usahanya papah. Ampun… monotone banget ya hidupku ini, habis lulus kuliah, nerusin usaha papah, terus nikah, punya anak, dan ujung – ujungnya meninggal. Masak aku harus kayak gini terus sih, menjalani hidup yang sepi banget kayak gini, tanpa adanya warna – warna yang dapat mengisi kekosongan hidup ini. Haduh… puitis banget ya. Oke sekarang waktunya balik ke kenyataan. "SISKA!" Teriak Bu Maria yang mengagetkanku. "I – iya bu." Jawabku dengan terbata – bata, ya iyalah terbata – bata habis ketahuan melamun pas pelajaran guru paling galak di sekolah gimana nggak takut? "Siska! Kamu ngapain ngelamun? Di kelas itu buat belajar bukan buat ngelamun. Dan ngapain kamu ngelamun di jamnya saya? Emangnya pelajaran saya tidak penting sampai kamu ngelamun?" Tuh kan… kenak amukan Bu Maria. Haish… ngapain juga aku tadi ngelamun, bodoh – bodoh. "Siska! Kamu ngelamun lagi? Ayo jawab pertanyaan saya!" bentak Bu Maria terhadapku. "Ng – nggak ngelamun kok bu. Pelajaran ibu juga penting kok." Jawabku dengan ketakutan. " Kalau penting ngapain ngelamun?" tanyak Bu Maria. "Maaf bu. Saya nggak akan mengulanginya lagi kok bu." Jawabku dengan penuh meminta pengampunan dari Bu Maria. "Ya sudah, kalau gitu kamu kerjakan soal yang ada di depan." Kata Bu Maria sambil menunjuk kearah papan tulis. Mati aku, ngerti caranya aja enggak, gimana jawabnya? "Ayo maju. Kamu kerjain soal yang ada di depan." Kata Bu Maria yang bikin aku makin tertekan. Haduh… gimana ya? Ah, jawab aja semampuku. Aku pun maju dan mengambil spidol yang ada di meja guru. Aku pun mulai menjawab soal yang ada di depan papan tulis dengan kemampuanku yang seadanya. Saat sudah selesai menjawab aku meletakan spidol itu kembali ke meja guru dan kembali ke mejaku. Bu Maria mengecek hasil jawabanku, haduh… pasrah deh pasrah. Tiba – tiba, "yak jawaban Siska sudah benar, caranya memang berbeda tapi jawabannya sama." Aku yang dengar syok berat sama apa yang dikatakan Bu Maria barusan. Serius? Jawabanku betul? Wow! Hari ini hari keberuntunganku kah? Temanku yang di duduk dibelakangku sampai ngomong, "wow! Siska keren banget. Bisa ngerjain soalnya Bu Maria, guru fisika yang terkenal susahnya dengan caranya sendiri. Keren! Salut aku sama kamu Sis." "Ih, keren apanya? Aku aja pasrah banget pas lagi ngerjainnya. Tahu caranya aja nggak kok, tapi mungkin ini hari keberuntunganku kali?" kataku sambil tertawa pelan. "Mungkin?" kata temanku yang juga ikut tertawa pelan. "Jangan berisik!" bentak Bu Maria yang bikin kami kaget. Sampai di rumah, aku di sapa dengan mamah yang sedang bikin kue untuk pesanan orang. Mamah memang menerima pesanan kue untuk acara ulang tahun, atau acara – acara yang nggak begitu memerlukan jumlah kue yang yang banyak, karena mamah hanya dibantu bibik yang bekerja di rumah ini sebagai pembantu dan sebagai asisten mamah dalam membuat kue. Aku juga kadang – kadang bantuin mamah bikin kue kalau lagi ada waktu luang sama pas liburan. Habis nyapa mamah sama bibik, aku langsung ke kamarku yang ada di lantai 2. Sesampainya di kamarku yang bernuansa blush pink dengan corak bunga sakura, bunga kesukaanku. Ah… aku jadi inget kata – kata guruku dulu tentang cita – cita, hmm… kalau dipikir – pikir sih impianku itu buat datang dan tinggal di Jepang. Ah, udah deh mendingan ngerjain PR aja sekarang. Pas makan malam aku sama papah sama mamah makan bareng di ruang makan, makanannya bibik enak loh, tapi masih enak kalau mamah yang masak. Kami biasanya ngobrolin tentang banyak hal, tentang sekolahku, tentang pekerjaan papah sama mamah, terus kadang – kadang ngomongin masalah komplek rumahku. Tapi kali ini kita nggak ngobrol tentang yang biasanya, "Siska, sekarang kan kamu dah kelas 2 SMA, kamu dah nentuin mau ambil fakultas apa nanti saat kuliah?" mati aku, jawab apa ya enaknya? "Siska, kok diam? Jawab dong pertanyaan papah." Kata papah yang bikin aku makin takut dan bingung mau jawab apa. Hah… jawab seadanya aja deh, "em, ya mungkin ambil bisnis?" kataku sambil menunduk tak berani melihat wajah papah sama mamah. "Siska, kamu memang ingin ambil bisnis? Kalau kamu mau ambil fakultas yang lain juga tak apa. Jangan dipaksakan. " tanyak mamah dengan penuh perhatian. Aku melihat raut wajah papah sama mamah yang prihatin, aku jadi tak tega mau ngomong yang sejujurnya. Tapi ya daripada bohong lebih baik jujur aja. "Em, sebenarnya pah, mah. Aku masih belum tahu mau ambil fakultas apa nantinya. Masih belum kepikiran." Jawabku sejujurnya. Ruangan menjadi sepi sesaat setelah aku menjelaskan yang sebenarnya pada papah sama mamah. "Siska, papah sama mamah harap kamu bisa cepat – cepat menentukan kamu mau ambil fakultas apa. Ingat Siska, kamu sudah kelas 2 SMA sekarang itu berarti kamu tidak punya banyak waktu lagi untuk menentukan mau mengambil fakultas apa, mengerti?" kata papah tenang tapi tetap tegas. "Iya pah." Jawabku dengan lemas. Setelah makan malam aku gosok gigi terus langsung tidur. Aku bangun dengan wajah yang cerah, dan aku sadar bahwa hari ini adlah hari Sabtu yang berarti tidak ada sekolah hari ini. Dan biasanya kalau hari Sabtu aku akan bantu mamah bikin kue atau ikut papah pergi kerja, yah itu sih kalau tidak ada teman yang ngajak pergi – pergi. Aku ngecek smartphone ku, dan melihat tidak ada chat dari teman – temanku yang ngajak aku pergi. Ya berarti hari ini aku bantu orang tuaku. Aku pun langsung menuruni tangga untuk ke meja makan dan menemui kedua orang tuaku. Sesampainya aku di meja makan aku bertanya pada mamahku, "mah, hari ini mamah bikin kue tak?" mamah melihatku sebentar lalu menjawab sambil tersenyum, "enggak saying. Mamah hari ini enggak bikin kue, kenapa sayang?" aku pun menjawab dengan menghela nafas kecewa, "yah… kupikir hari ini aku bakal bantuin mamah bikin kue. Hmm… kalau mamah hari ini nggak bikin kue, aku ngapain ya hari ini?" aku memikirkan apa yang akan kulakukan hari ini sambil memakan roti panggang yang sudah dibuat sama mamah. "Gimana kalau kamu ikut papah aja ke kantor?" tiba - tiba papah bertanya kepadaku. Aku yang mendengar pertanyaan papah lalu menjawab, "kalau aku ikut papah ke kantor, aku ngapain di sana?" papah langsung menjawab, "ya… kamu bisa lihat – lihat suasana kantor, sekaligus kamu juga bisa belajar tentang lingkungan social di perkantoran, gimana? Mau ikut?" mamah pun juga menjawab, "iya Siska, kenapa kamu nggak ikut papahmu aja ke kantor?" mamah juga setuju kalau aku ikut papah ke kantor. Aku berpikir sejenak lalu menjawab, "oke deh. Aku ikut papah ke kantor. Aku biar siap – siap dulu ya." Setelah menghabiskan roti panggangku, aku langsung siap – siap untuk pergi ke kantor bersama papah. Sesampainya di kantor aku takjub banget sama apa yang aku lihat di dalam kantor. Semua orang di kantor pada sibuk dengan pekerjaan mereka masing – masing. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka dengan sangat serius. Aku jadi kagum banget melihat mereka. Apalagi yang menjadi manager, mereka sangat serius untuk mengatur para karyawan. Aku pun menanyakan banyak hal kepada papah tentang tugas seorang manager. Dan ketika aku dijelaskan tentang apa itu manger dan apa saja tugas dari seorang manager, aku jadi makin kagum dengan mereka. Sepulang dari kantor aku bilang kepada papah dan mamahku kalau aku ingin kuliah management. Papah dan mamah sempat kaget mendengar jawabanku lalu menanyakan apa alasanku ingin mengambil mata kuliah management. Aku pun menjawab bahwa ketika aku di kantor, aku melihat para manager yang dengan serius mengatur para karyawan, dan ketika aku dijelaskan oleh papah tentang pekerjaan seorang manager aku makin terkesima dan yakin untuk mengambil management. Lalu papah bertanya kepadaku, "kalau gitu kamu mau nerusin usaha papah dengan mengambil mata kuliah management?" aku pun berpikir sejenak lalu menjawab, "nggak juga sih pah. Aku memang akan tetap nerusin usahanya papah, tapi aku juga ingin memperluas usaha mamah dengan mengambil mata kuliah management." Saat mendengar jawabanku kedua orang tuaku kaget lalu bertanya bagaimana aku mengatur kedua usaha tersebut. Dan aku pun menjawab bahwa untuk usaha papah, aku akan tetap bekerja di kantor dan pergi ke pabrik untuk melihat dan mempelajari proses pembuatan produknya dan aku bisa mengatur usaha papah agar lebih effisien dalam bekerja dan menggunakan sumber daya yang ada. Sedangkan untuk usaha mamah, karena aku tahu kalau aku pasti akan sibuk dengan urusan kantor nanti, aku bakal ngembangin usaha mamah dengan memperkenalkan usaha mamah dengan media social, yah seperti online shop lah. Kedua orang tuaku mendengar penjelasanku dan tersenyum sambil mengatakan bahwa aku memang anak yang sangat dibanggakan oleh kedua orang tuaku. Aku sangat senang dengan pujian itu, dan terlebih lagi karena aku sudah menemukan apa harapanku untuk di masa depan.

Tamat