"Jadi apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Hellious pada pria itu.

"Sebenarnya bukan hal yang penting kok. Tapi, intinya selamat karena kau sudah melewati tahap awal. " ucap pria itu.

"Ah terima kasih banyak, Yamato-senpai. "

"Perjalananmu masih panjang, Furikawa. Sangat panjang. Tetaplah berjuang untuk menjadi yang terbaik. "

"Baiklah. Aku mengerti. "

"Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tapi, tentu tidak sekarang. Saat ini bukanlah waktu yang tepat. Aku akan menemuimu lagi nanti, setelah kau resmi menjadi anggota Guardian. Untuk sekarang kembalilah ke Dormmu dan selamat beristirahat. " ucap pria itu sebelum pergi begitu saja.

'Aneh, kenapa ia selalu mengatakan hal-hal yang tidak jelas. Haah, dia itu mencurigakan. ' batin Hellious, lalu memilih untuk kembali ke dormnya.


Dorminotory,

"Hey, Furikawa-san, kau ikutan tidak?" tanya Dionisius, yang saat itu berada di depan dorm tersebut.

"Ikutan? Apanya?"

"Siang ini ada pertarungan loh, antara divisi 12 melawan divisi 1," ucap Dionisius.

"He? Baiklah. Ayo lihat," ucap Hellious.

Maka, mereka segera meninggalkan dorm tersebut dan menuju ke sebuah bangunan bernama Fighting Ground. Sebuah tempat dimana para anggota Guardian bertarung satu sama lain untuk mengasah kemampuan.

Dan saat ini di arena terlihat dua orang pria yang tengah bertarung. Yang satunya memiliki surai berwarna merah, tengah mengayunkan sabitnya ke arah pemuda di hadapannya, yang memiliki surai berwarna aqua green dan menangkis serangan itu dengan pedang excalibur miliknya.

"Oi, bertahan tidak akan membuatmu menang, Hayate," ledek pria bersurai merah itu.

"Jadi kau sudah merasa menang, Harazukurou? Jangan membuatku tertawa," ucap pria bersurai aqua green itu sembari merapalkan sebuah mantera, hingga secara tiba-tiba sebuah ledakan segera membuat pria bersurai merah itu melompat mundur.

"Baiklah, pertandingan berakhir dengan kemenangan dari Hayate Avaron dari divisi satu," umum sang operator arena mengakhiri pertandingan itu.

"Ini pertandingannya bagaimana sih? Jujur aku bingung," ucap Hellious yang masih tidak begitu mengerti dengan kemenangan dari divisi satu itu.

"Hm, entahlah. Perolehan poin mungkin," ucap Dionisius sembari mengamati pertarungan tersebut.

"Mungkin juga. "

"Hey, tak kusangka bisa bertemu denganmu disini Helly, e-eh?! K-kau... Y-yon?!" kaget Jun menatap tak percaya pada pemuda yang saat ini bersama dengan Hellious.

"Eh? Maaf?" bingung Dionisius.

"Kau masih hidup? Bukankah kau... "

"Ano, maaf senpai. Kalau senpai mengira aku ini kapten divisi dua yang itu, senpai salah,"

"Tapi... tapi, kenapa kau benar-benar mirip?!" tanya Jun dengan nada tidak percaya.

"Jun-san, tapi dia ini memang bukanlah Harumiki Dion. Dia sudah meninggal, dan juga anak ini reiatsu, Dna, hingga sidik jarinya benar-benar berbeda kok. " ucap Erick yang saat itu berada di belakang pria itu.

"Tapi, bisa saja kau salah kan?" ucap Jun, membuat pria itu menghela nafas singkat sembari berkata,"Mungkin. Tapi, yang memeriksanya saat itu, Die-taichou, Mizutoki-fukutaichou dan Komozaku-san. Jadi kemungkinan melesetnya 0,1%."

"Ah begitu... maaf ya? Kau soalnya benar-benar mirip dengannya. Ah iya, namaku Jun, Saffire Jun. " ucap Jun sembari mengulurkan tangannya.

"Tidak masalah senpai. Namaku Dio, Yoshitsune Dionisius. " ucap Dionisius sembari menjabat uluran tangan tersebut.

"Karena kesalah pahaman sepertinya selesai. Ngomong-ngomong sistem di Arena ini bagaimana ya?" tanya Hellious.

"Kau tertarik Furikawa? Biar aku yang menjelaskan. Jadi di arena ini ada dua macam pertarungan. Yang pertama pertarungan bebas dan yang kedua pertarungan dengan sistim poin. Pertarungan bebas itu, pertarungan tanpa batasan waktu hingga salah satu pihak pingsan atau mengaku kalah. Sedangkan pertarungan Poin, pertarungan dihitung berdasarkan poin-poin serangan," jelas Erick.

"Poin-poin serangan?" bingung Hellious.

"Poin serangan yang dimaksud disini adalah ketepatan dalam menyerang lawan bertandingmu. Dengan serangan fisik ataupun sihir. "

"Begitu... "

"Kau bisa mengamati pertarungan kedua dan kau akan mengerti. " ucap Erick.

"Pertarungan kedua?"

"Sesudah ini giliran para wakil yang akan bertarung satu sama lain. " ucap Erick, membuat Hellious mengangguk.


"Baiklah, pertandingan kedua antara wakil dari divisi 13 Shin Ryuuzaki, melawan perwakilan dari Arcana, Tierra de Coquile!"

Suara tepuk tangan penonton langsung riuh, menyambut kehadiran dua orang petarung yang saat ini berdiri di arena.

Seorang pria dengan surai ungu jabrik, dengan seorang wanita bersurai perak yang diikat twintail.

"Baiklah, pertarungan kita mulai!"

"Ayo! Frosty! Blizzard!" perintah Tierra pada summonnya yang saat ini berwujud seperti seorang anak laki-laki yang memiliki rambut putih dan menggunakan jubah biru.

Pemuda itu mengangguk sebelum membekukan sekitarnya dan melesatkan pecahan-pecahan es ke arah musuhnya.

Pria itu segera menghindari dan menebas pecahan es yang melesat ke arahnya dengan pedang katananya.

"Counter! 5 Points!"


"Kau lihat Hellious, jika kau mampu menghindari dan membalas serangan dari musuh maka poinmu yang akan bertambah.

"Ah begitu... "

"Tapi, jika balasan seranganmu gagal maka kau akan kehilangan poin yang kau kumpulkan. " sambung Erick lagi.


"Huft, takkan kubiarkan! Pyro! Dancing flame!" perintah Tier lagi pada summonnya yang satu lagi, seorang pemuda dengan surai jingga dan menggunakan jubah berwarna senada dengan surainya. Perlahan ia mulai menembakkan beberapa bola api yang langsung mengelilingi pria itu, sebelum meledakkannya.

"Combination Magic Hit! 10 points!"


"Ah, poinnya Shin-senpai berkurang tujuh," ucap Dionisius.

"Maka dari itu pertarungan point ini memang membutuhkan strategi untuk dapat menang. " sambung Erick.


Shiut! Trang!

Sebuah perisai dari es segera muncul menangkis serangan tiba-tiba dari pria itu.

"Ryu-san, percuma saja menyerang seperti itu. Summonku ini terlatih. Pyro! Inferno!" perintah Tier pada summonnya untuk menembakkan elemen api kepada pria itu.

"Jangan berfikir kau akan menang. Ini baru permulaan. Kazeyukishi!"

Sebuah badai salju segera memadamkan api tersebut dan cukup membekukan salah satu summon wanita itu.

"Pyro! Frosty, ice breaker!" perintah Tierra lagi kepada summonnya untuk menghancurkan es yang membekukan summon satunya itu.

"Tidak secepat itu, Tornado!"

Belum sempat Frosty bergerak pusaran angin itu segera menerbangkannya dan membuatnya terjebak di dalam pusaran tersebut.

"Critical Hit! 30 points!"


"Wah... " kagum Hellious melihat pria itu mampu membalikkan keadaan dengan cepat.

"Critical hit itu, merupakan point plus yang akan terus naik jika musuh tidak bisa melakukan perlawanan. " jelas Erick.

"Time's up! Baiklah, pertandingan kedua berakhir dengan kemenangan dari divisi 13. Sekian pertarungan untuk hari ini. "


"Pertarungannya benar-benar seru ya, Furikawa-san," ucap Dionisius.

"Kau benar Yoshitsune-san. Kapan-kapan kalau sudah sama-sama anggota Guardian, mari bertanding disana. " ucap Hellious.

"Tidak masalah. "

Setelah berpisah merekapun segera menuju ke kamar dorm masing-masing.


Balas Review:

Taintyy #Oi

ya itu, nganu aka Ngenenun, ngejahit, ngecuchih

Jun:wkwk buto ptotess. Njer Malika.

pengennya bikin Makoto tapi ntar ditepak Mako-pai Xd.

Die: Elo ngajak ribut? Dia masih anak2 tau!#TabokButo.

Jun:laah... kok Buto? Yang sabar mbang.


Omake(?):

"Kenapa yang menang itu dia? Padahal kan tinggian poin si tomat?" heran Kabuto yang sampai saat ini gagal paham dengan perhitungan poin yang menurutnya ambigu(?).

"Mungkin karena operatornya ngefen sama Varon-san," ucap Suzushii polos(?).

"Bisa jadi sih. Yang nulis juga ngefen sama gue," bangga Yume.

"Anjrit, ini bukan pertarungan popularitas woi!" sweatdrop Kabuto atas komentar ambigu dari teman-temannya itu.


Omake 2(?):

"Shin Ryuuzaki... "

Sebuah aura gelap segera menaungi yang bersangkutan(?), membuatnya cukup bergidik ngeri bercampur ngilu(?).

"Eh, ada apaan Re? Gue mau balik dulu. Kasihan Ru-chou. "

Dan yang bersangkutan segera melarikan diri sejauh mungkin.

"Bocah kampret itu, awas aja kalau ketemu gue jadiin juga makanan Tiamat," geram yang bersangkutan.

"Toshi, father kenapa?" tanya Tier yang sejujurnya bingung dan tidak mengerti.

"Ah, mungkin dia kerasukan Jin Ifrit," jawab Toshio ngasal(?).

Nggak mungkin dia bilang kalau sang kapten mengamoek hanya karena anggota yang sudah seperti anaknya sendiri itu tangannya luka kegores, yang bersangkutan langsung terciduk. Tidakkah ini, non sense? Padahal itu juga kegoresnya bukan pas battle tapi pas yang bersangkutan manjat pohon untuk mengejar tupai.

Entahlah, mungkin diam adalah opsi terbaik untuk saat ini. (?)

End of Omake