18th June 2016 on 12.56 PM

Hangatnya siang di tengah kedinginan di dalam mobil. Itulah yang kurasakan selama ini setelah masuk ke dunia lain yang penuh dengan es dan salju.

Saat memasuki dunia baru ini, di sambutlah dengan salju yang menumpuk di sepanjang jalan.

Terlintaslah beberapa pertanyaan mengapa Zaide menyukai musim seperti ini. Kadang rasanya begitu tidak enak jika bertanya lalu membatalkan ini. Tapi, sekali-kali, cobalah untuk bertahan dalam dingin.

"Hey! Sampai kapan kau memperhatikan salju-salju itu?"

Aku melihat Corwin yang melihat sahabatnya yang melihat jendela mobil entah sejak kapan.

"Aku tidak tahu. Tapi aku menyukainya!"

"Kau suka? Aku yakin kau lebih suka lagi setelah kita tiba di penginapan. Mengapa? Karena kita akan hangat di sana."Kata Nenek Tasya yang ada di paling depan bersama kakek yang menyetir mobilnya

"Kakak,"

Aku merasa terpanggil oleh adikku. Aku melihatnya yang tampak lemah di sampingku. Wajahnya terlihat pucat. Hmm... Tania. Maafkan aku. Aku lupa tentang ini.

Aku langsung mengambil jaket merahku yang ada di tas. Kemudian aku berikan pada adikku.

Tak berhenti sampai situ. Aku mengeluarkan syal merah putih panjang yang mungkin bisa membuatnya hangat.

"Tolong bertahanlah, Nia."

Aku melingkarkan syalku pada leher Nia. Kemudian aku tersenyum padanya. Aku tak mau rasa khawatirku terlihat padanya.

Kupeluk tubuhnya yang dingin dengan erat sambil menunggu hingga kami sampai.

"Kakek, kapan kita sampai?"Tanyaku

"Mungkin 3 jam lagi."Jawab Kakek Foregin

"Bisakah Anda cari tempat yang lebih dekat?"Tanyaku

"Aku akan berusaha. Memangnya kenapa?"Tanya Kakek Foregin

"Nia kedinginan, kek!"Jawabku

"Sudahlah, kak. Aku... Baik-baik saja."Kata adikku yang masih kupeluk

"Ah... Baiklah kalau begitu."Kata Kakek Foregin

John dan Corwin melihat kami yang duduk di belakang mereka. Wajah mereka langsung terlihat sedih melihat kami berdua.

"Butuh bantuan, Kay?"Tanya John yang langsung pindah ke belakang

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. John ikut memeluk adikku.

"Corwin, tolong berikan ini pada Tania."Nenek Tasya sepertinya memberi bantuan lain

Corwin menengok dan mengambil sebuah termos kecil. Kemudian ia memberikannya padaku.

Aku segera mengambilnya dan membuka tutup termosnya.

Ah... Teh hangat.

"Nia, minumlah."

Tania melihatku kemudian ia mengangguk pelan. Kuberikan termosnya dan ia minum tehnya.

"Zaide, kau masih memandanginya? Di saat seseorang sedang kedinginan?! Oh... Ayolah!"Corwin tampak sedikit kesal dengan sahabatnya itu

"Ini, kak."

Nia memberikan termos itu padaku. Aku mengopernya ke Corwin dan ia langsung menerimanya dan memberikannya pada nenek.

"Terima kasih, nek."Kataku yang kembali memandangi Nia

"Sama-sama, Kay."Kata Nenek Tasya

"Corwin, sudahlah. Biarkan dia."Kata John yang melihat Corwin sejak tadi

"Hm... Baiklah."

Rasanya perjalanan masih panjang dan aku tak tahu kapan kita akan tiba.

Kuharap, kau masih bisa bertahan, Nia.