Competition In Volley Balley

.

Genre: Friendship, Hurt/Comport

Note: Aku menghapus imajinasi ini dari daftar memoku. Dan membuatnya lagi, tapi berbeda.

Warning: Tak ada pemeran laki-laki, tokoh-tokoh minim, dan begitulah seterusnya. Mungkin ada yang mau mengoreksi?

Summary: Berpisah dari grup gara-gara perbedaan sekolah. Sudah pasti mayoritas orang-orang dengan jalur otak mereka yang berbeda-beda menyusahkan rutinitas, entah kenapa. Ia hanya memiliki dua teman, eh, tidak, satu teman. Meski aneh dan berubah-ubah, dialah api semangat hidupnya. Hingga poster voli dibacanya, mengingatkannya pada grup masa lalunya itu.

.

.

.


Sytlia memasuki gerbang terhalangi orang-orang. Bertabur tampang kusut dan tak semangatnya, kedua tangannya tak bisa lepas dari strap tas gendongnya. Hari pertama sekolah, semuanya cerah seperti mentari kuning diatas langit. Namun dirinya menanggung kepedihan; berpisah dengan dengan grup pertemanan yang di bentuk di kelas 1 SMP yang bisa bertahan selama tiga tahun (meski waktu itu pernah berbeda kelas).

Ia memainkan langkah kakinya, cepat melambat sesuai suasana hatinya. Sekolah disini, sesuatu yang tak bisa diterimanya. Sekolah sederhana tanpa taman-taman indah atau apalah itu. Murah baginya. Ia iri pada teman-teman segrupnya yang rata-rata bisa memasuki sekolah favorit, impian yang dibentuknya bersama. Wajar, mereka orang kaya. Sampai-sampai ia berpikir dirinya seseorang yang berkebalikan. Tapi, sekolah favorit pun belum tentu kriteria sekolah yang diharapkannya. Sekolah yang mencerminkan masa depan cerah disertai sorotan cahaya bagai lampu konser dan juga, jangan lupakan jumlah kaca-kaca di setiap bangunannya. Apalagi jika sampai menyentuh lantai, atau lebih menawan lagi; pintu dari kaca.

Sepatu hitam putih bertali dikaki kanannya menaiki lantai kotor jalur kelasnya. Butuh memasuki lorong berpapan informasi, melewati pintu tiga kelas. Ia menengadah mengecek papan di kepala setiap pintu.

Pada akhirnya, yang didapatinya di kelas beberapa siswi dengan masing-masing pasangan mereka tanpa ada yang menoleh padanya. Pelan ia menyerbu bangku tersisa dua di belakang dari masing-masing deret, yang paling ujung tinggal satu bangku. Yang diambilnya bangku nomber empat di deret kedua. Duduk disitu, mengotak-atik ponsel layar sentuh yang me-mainstream namun menggiurkan bagi mereka yang tidak memilikinya. Menatap layar ponsel cemberut, diam-diam mengedarkan penglihatannya. Ia ditinggalkan. Mereka menitipkan tas berwarna.

.

-Awal kehidupan yang tak manis-

.

Sytlia tidak akan mengomentari apapun tentang kelas. Atau bagaimana seorang guru matematika yang pertama kali dilihatnya – kini berdiri di depan kelas, menulis materi di papan tulis putih – repot dengan spidol hitam yang kehausan tinta. Biarlah semua yang tidak akan dialami di sekolah modern ini tetap terjalani.

Ia menikmati setiap lekukan yang dilakukannya, membentuk huruf beraksara sambung jelek yang – hanya – dapat dipahaminya. Sayangnya tiga jari yang mengapit pulpen merk rendahannya dikagetkan oleh ketukan pintu. Sehingga huruf selanjutnya yang seharusnya bersambung 'a' menjadi rerumputan tiga lekuk.

Langsung saja semua yang merasa terusik mengangkat kepala penasaran pada objek yang menimbulkan bunyi itu. Muncul seorang gadis yang – lagi-lagi – tentu tidak dikenalnya beraut cemas setelah sebelumnya mengucapkan salam kala pintu terbuka.

"Maaf, maaf, maaf…" Dia membungkuk-bungkuk sopan pada sang guru, namun yang dihormati menyuruhnya segera duduk tanpa adanya kemarahan atau emosi lainnya. Wajarlah, baru hari pertama, sih.

Gadis berparas cantik yang diekorinya oleh kedua matanya – sebagiannya mendapat bisikan – berhenti di gang antara saf bangku kedua dan ketiga, mendekati bangku miliknya dan duduk disitu. Sytlia mengecek setiap bangku dengan matanya. Tidak semua penuh, sekitar dua atau mungkin tiga yang kosong.

Kenapa tidak di bangku lain saja?

Gadis itu menunduk, pipinya memerah. Ia sedikit mengerling dengan memiringkan kepala, juga mengamati setiap tarik hembus napas yang dapat tergerak dari kedua bahu. Pastilah sisi pemalu yang ditunjukkan gadis itu.

"Kau tidak apa-apa? Kenapa bisa terlambat?" Sytlia berbisik tajam. Tak ingin mengganggu suara alami kertas dan pulpen dari mereka yang menulis materi.

Orang yang disampingnya itu menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, kok," dilanjutkan oleh tawa keringnya. Catat, Sytlia tidak ikut tertawa.

"Aku bangun pukul lima tanpa alarm. Ibuku mengomel, rambutnya seperti singa, jadi aku cepat-cepat pergi. Sesampainya disini, aku tidak tahu dimana kelasku." Rangkuman dan penyampaian lengkap melalui kedua tangannya menarik sudut bibirnya. Kemudian mereka tertawa kecil hingga salah satu siswi mendesis memberi teguran.

Sytlia menuju pertanyaan penting dari semua yang telah diberitahukannya. Mengenai pelajaran hari ini dan secarik curahan tentang dirinya. Namanya.

"Aku Vera. Salam kenal." Goresan runcing penanya melanjutkan coretan rumus yang disalinnya pada buku tulis. Sepuluh detik ia terdiam mengamati ketulusan yang terpancar di wajah makhluk bernama Vera ini. Akhirnya dan semoga saja, sebuah ikatan pertemanan diharapkannya demi menyembuhkan kehilangan akan sahabat-sahabatnya.

.

-Perbedaan kesukaan mewawancarai segalanya-

.

Sebagai anak baru berkadar pendiam untuk hari ini, ia tidak merasa keberatan dengan kelas sepi di jam istirahat. Baru kali ini diam seperti ini memang. Namun akan baik-baik saja jika Vera menemaninya disini.

"Hei, kau tahu tidak, siapa nama asli tokoh utama di drama Korea yang akan segera datang di siaran AniShin?"

Tahu apa Sytlia tentang tontonan selain olahraga? Ia menggeleng lembut, "Aku tidak suka acara yang seperti itu."

Vera cemberut, "Wah, sayang sekali." Meja mereka bergerak sedikit ke depan. Setelah sebelumnya muncul sebuah panggilan.

Ajakan untuk Vera.

"Biasanya kau membawa sekotak makan yang isinya aneh-aneh."

"Aku sudah menyiapkan itu tapi ketinggalan."

Mereka yang tentu saja tanpa disertai Sytlia saling sebar senyuman di setiap kata yang keluar dari mulut mereka, kemudian menuju pintu. Masih bisa disaksikan kedua sosok itu tahap demi tahap dari deretan kaca.

Dia bukan sekedar murid baru, pikirnya. Dia sudah punya teman.

Apa yang membuatnya tampak berduka? Ia tidak merasa nyaman oleh salah satu individu yang lain.

.

-Individu yang tak dimengerti-

.

Sytlia menelusuri jalan pulang bersama bayang samarnya di bawah lantai. Dibatasi sebuah tembok merah darah kotor persegi panjang berlubang kotak memanjang vertikal sebagai khas, bayangannya menekuk. Percakapan orang-orang berpadu embusan angin sepoi bertolak arah. Ada besitan angin menimbulkan gatal pada mata kanannya, ia memalingkan muka. Usai kegiatan tanpa tujuan itu mengembalikannya normal, seorang siswi berseragam lusuh, kusut, juga tak enak dipandang mata berjongkok, menunduk. Tubuhnya bergetar naik turun. Oh ya, sebuah deskripsi terlupakan menuliskan. Punggung siswi itu menutupi setengah hiasan berlubang pada tembok.

Sytlia memerhatikan gadis itu, ia sedikit membungkuk. Gadis yang ternyata mengenakan kacamata minus tebal berbingkai kotak dan hitam mengangkat kepalanya. Kacanya berembun, air mengalir melewati pipinya. Alunan kesedihannya bertiup pelan melalui mulutnya.

Gadis yang tak dikenalnya memang. Aura iba secara tak langsung melingkupinya, terbawa suasana. "Kenapa kau menangis?"

Bersama gaya pengemis minta uang versinya, gadis itu sedikit mengangkat kertas berisi coretan-coretan miring bertinta merah, suatu yang menakutkan bagi para siswa sepanjang hidup mereka.

"Nilaiku jelek! Hwaaa…" Tak disangka tangisan sembunyi-sembunyi itu akhirnya pecah juga. Tentu Sytlia terlonjak dan merasa bersalah. Tidak, tidak, ia tidak menyakiti gadis itu, 'kan? Menangis memang lumrah, kalau punya kesedihan yang mendalam, siapapun juga mengalaminya, tapi…..

Hanya karena dapat nilai jelek? Yang itu tidak bisa disepakati.

Sytlia tersenyum menyeringai, berkacak pinggang, "Hah, dasar bocah! Ulangan mendadak tadi aku sama sepertimu!" Gairah semangat bawaan sejak lahir miliknya mengalir deras melalui peredaran darah; ia seakan merasakannya. "Tapi kau malah memojokan dirimu dengan jongkok mencurigakan!"

Manik pada kedua mata membulat tergenangi kumpulan kecil air di atas kantung matanya. Mulut kecilnya juga tertutup.

Sytlia masih ingin melontarkan kalimat semangatnya lagi. "Kau lihat mataku? Apa aku juga cengeng?" Ia menunjuk matanya sambil mengerling. Langsung saja gadis itu menggeser ke ruang luas dan pergi tanpa pamit.

Apa caranya salah? Seseorang yang tak dikenalnya itu marah diam-diam?

Ia berdiri tegak melanjutkan tujuannya. Biasanya jika ada salah satu anggota di grupnya yang diberi semangat begitu dia langsung bangkit.

Masih tampak punggung gadis itu dipertengahan jalan. Dia berjalan tertatih-tatih sedang tangan kanannya menyeka air di wajahnya dan tangannya yang lain membeberkan kertas. Lain kali kalau bertemu dengannya lagi, Sytlia ingin meminta maaf.

.

-Terkadang ada jalan pintas di sebuah pertigaan-

.

Baiklah, kali ini Sytlia ingin mengomentari kelasnya. Siswa-siswi cuek cenderung bersenang-senang dengan kelompok mereka, tak ada meja baru, tak ada susunan jadwal piket, tak ada susunan organisasi kelas, tak ada hiasan kelas…. Apa tak ada orang bijak yang berani bertingkah kepemimpinan demi kelas tak beraturan ini? Ini memang hari kedua, sih.

Ia menggigiti pensilnya gemas. Kehidupannya disini hanyalah bencana. Tak ada seseorang yang dikenalnya selain Vera. Sayangnya bahasan Korea-nya selalu tumpah pada teman Vera yang kemarin itu. Semakin mempersulit keadaan saja.

Sssrrkk….. Druk….

Bunyi buku-buku, alat tulis dan sebotol minuman jatuh ke lantai. Semuanya dipalingkan oleh bunyi-bunyi itu.

"Ehehehe….." Pelakunya tertawa cemas, berupaya merangkul buku-buku yang –terlihat- baik-baik saja di atas meja. "Ma-Maaf mengganggu… silahkan dilanjutkan…" Dia membungkuk memungut barang-barang berceceran lainnya.

Dan kau tahu siapa orang itu? Dialah gadis cengeng gara-gara nilai jeleknya.

Ya ampun, gadis itu sekelas dengannya! Tepat dibelakangnya. Duduk sendirian.

"Kau tidak apa-apa? Cepat ambil buku-bukunya!" Guru Fisika berbalik menggambar susunan angka-angka aneh bernama rumus.

Sytlia masih memperhatikan bagaimana gadis itu menata buku-bukunya, botol minumannya kembali jatuh oleh siku si empu sendiri, pencarian pulpen diantara rongga-rongga meja dan gangnya.

Gadis ceroboh. Penampilannya seperti idiot.

Sampai akhirnya gadis itu lelah sendiri oleh ulahnya, sekitar satu hingga dua menit. Dia meneguk air dari botol itu, dan tersedak kala kaget menyadari Sytlia menontonnya.

"Kau tidak apa-apa?"

Gadis itu menggeleng sembari mengunci tutup botol pada minumnya.

"Oh ya, aku minta maaf soal yang kemarin. Aku ingin menjelaskan kalau kita itu senasib. Tapi kau malah pergi begitu saja." Sytlia bertopang di atas meja yang diajak bicara.

"Salahkan nada bicaramu….. yang tidak menyenangkan itu…" Tak ada perubahan dari raut gadis itu sedari tadi. Peluh cemas, berpadu memainkan jari-jemarinya.

"Tidak menyenangkan, katamu?" Ia terpancing. "Kau tidak merasa aku sedang menyalakan bara apimu?"

"Bara api? Maksudnya apa?"

"Ah, sudahlah."

Ia bermaksud berjabat tangan. "Aku Sytlia. Salam kenal."

"Aku Gley." Mereka bersalaman.

Ada yang harus dimaklumi dan memaafkan dalam hati perkataan dari Gley tadi. Orang yang berkekurangan, pribadi yang berantakan, dan faktor kemiskinan, mungkin saja. Akankah suatu hari nanti mereka bisa berteman? Bukan yang diinginkan Sytlia, tapi mengingat krisis sosial dan adaptasi buruknya, di sekolah ini, di kelas ini.

Seseorang mencolek bahu kanannya. Ia tertahan bertanya pada Gley, "Apa?"

"Guru itu melihatmu," bisik Vera menunjuk ke belakang dengan jempolnya secara sembunyi.

.

-Persatuan yang tidak ada gunanya-

.

Kegemaran yang berbeda memengaruhi segalanya. Vera si penggila Korea selalu membahas penyanyi beserta isinya. Respon yang digunakan pastilah senyuman atau paling tidak ia bertanya siapa mereka. Maklum, Sytlia lebih tertarik pada bidang olahraga. Olahraga melekat saat-saat dulu menjadi pribadi tomboy, tapi sekarang kepribadian itu agaknya menghilang. Tinggal olahragalah kenangannya.

Perbedaan itu merenggangkan mereka. Vera pada dasarnya bukan murid rajin yang senang membahas pelajaran formal sekolah, begitupun dirinya. Keduanya memiliki keegoisan ingin didengarkan. Baiklah, kalau begitu. Mereka sebatas teman sebangku.

Beberapa hari dicuacai kesendirian. Ia membaur dengan yang lainnya, namun itu membingungkannya dan tak bisa mengetahui siapa teman yang sebenarnya.

Lebih baik memang diam sendiri.

Seseorang menepuk pundaknya di belakang. Ia memutar tubuhnya, seketika melotot tak percaya.

Orang itu bukan Gley seperti dalam dugaannya. Dia gadis berpenampilan 'bersih', tak dikenalnya pula. Parasnya tidak perlu dikomentari. Dia gadis biasa tanpa noda pengganggu apapun!

"Hai." Dia mengangkat tangannya berdekatan dengan wajahnya. Ponsel merah muda di tangannya yang lain menyala melukiskan warna-warni tak jelas yang memantul pada baju seragamnya.

"E-Eh…." Ekor napasnya cukup panjang untuk gumaman itu. "Bu-Bukan kau yang….. harusnya di bangku ini, 'kan? Seharusnya ada gadis lain disini. Atau mungkin…." Kau hanya menumpang saja, hehe, lanjut batinnya.

"Aku tidak mengerti…." Gadis itu kembali mengotak-atik ponselnya.

Sumpah, Sytlia belum pernah melihat orang itu. Meski tidak begitu sering bertemu dengan orang-orang baru disini. Tapi…

"Aku Selena."

…. Nama itu tidak ada dalam buku daftar hadir!

"Jangan-jangan kau murid baru, ya."

"Entahlah. Aku tidak ingat."

Apa yang sedang Sytliabicarakan? Ia tidak akan bertindak langsung lagi. Daripada kejadiannya seperti Gley.

"Ah, sudahlah! Lagipula masalah itu tidak penting! Aku terlalu gegabah, habisnya kau itu terasa ajaib bagiku (karena orangnya langsung ada)! Hahaha…."

Sebisa apapun mulutnya berakting tetap saja tawanya kering. Ia menggaruk tengkuknya dalam tawanya.

"Ada perlu apa?"

"Aku sendirian. Apa kau mau menemaniku?"

.

-Kesendirian memuntahkan otakmu-

.

Satu minggu menjalani pendekatan yang bernama teman dengan sosok Selena yang dewasa ini. Dewasa dalam harfiah kecil; dari perkataannya saja. Terhadap pelajaran formal dia pemalas, diam-diam tertidur di kelas, jarang mengerjakan pr dan murid kacau lainnya. Ia membenci bagian saat perempuan itu keluar kelas menghafal demi pengulangan ulangan gagalnya; namun kalimat bijaknya masih tercincang dan –terkadang- tak sesuai dengan keadaannya. Dia merupakan kemiripan dari salah satu anggota grup-nya. Meski sesekali menghilang setidaknya orang itulah penghangat hatinya.

Ia masih mencurigai tentang keanehan Selena. Gley tidak tahu apa-apa tentangnya, padahal dia menempati bangku yang sama. Ia lebih merindukan Selena ketimbang ketidakhadiran Gley, meski baru-baru ini diketahuinya gadis itu termasuk kategori orang pandai. Kenapa dunia ini terbalik, ya?

Di kala mereka duduk berdua bernostalgia di bangunan lantai setinggi setengah gagang sapu, menikmati perlindungan daun-daun dimakan ulat merunduk tak jauh dari atas kepala mereka. Para murid berbilang mengganggu mata mereka namun itu membuat terperanjat. Menuju papan informasi di lorong.

"Banyak orang." Sytlia dan Selena menunggu hingga sebagian dari mereka mau menyudahi. Alih-alih yang lainnya datang, saling mengisi kekosongan. Ia tidak mau diam lebih lama lagi. Menyerobot memaksa diri untuk menjadi yang terdepan.

Te-Terlalu dekat ke papan. Dasar, manusia. Sytlia menyokong tubuhnya ke papan. Sedikit menengadah, sebuah poster wanita Amerika Utara bertubuh atletis dengan seragam tanpa lengan memantulkan sebuah bola. Eh, salah. Ralat. Seorang wanita Amerika Utara bertubuh atletis dengan seragam tanpa lengan mengangkat sebuah bola putih. Bola voli.

Ia teringat kenangan manis bersama mereka. Salah satu olahraga yang paling banyak mendapatkan vote dari tiap anggotanya. Karena selain terdiri dari enam orang, dua dari mereka sudah menjadi senior. Termasuk dirinya di tingkat pertengahan; berperan sebagai libero, pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Peraturan tidak boleh men-smash menyusahkan baginya.

"Hei, kenapa kau melamun?" Dari sekumpulan orang-orang yang hampir berkurang, Selena disampingnya beraut agak cemas.

"Poster itu mencari grup voli!" antusias Sytlia, membaca ulang isi poster.

"Begitu saja? Lalu apa masalahmu?"

"Aku berpikir untuk mendaftarkan diri." Ia melirik Selena diam-diam, gadis itu tidak begitu serius membaca.

"Secara tiba-tiba? Pikirkan lagi!"

"Ini olahraga kesukaan kami. Setidaknya aku ingin mengenang mereka." Ah, bayang-bayang mereka menimbulkan sendu pada matanya.

"Voli membuatmu patah hati." Selena menariknya keluar dari kerumunan. Ia tidak menepis, hingga Selena membawanya menjauh, menjauh dari papan informasi.

"Kau tidak suka voli, ya?" Mereka berhenti di ambang pintu kelas, ya, setidaknya tidak mendekati ambang pintu – hanya dipinggirnya saja.

"Voli membangkitkan ingatan masa lalumu. Kau tidak akan menjadi Sytlia yang optimis lagi." Ada kalanya, ia tidak mengerti. Selena, bersama perilakunya hari ini, menyimpang dari harapannya.

"Apa maksudmu? Voli itu hanya olahraga. Voli atau mereka akan menjadi bayangan pendorong di belakangku."

Selena terbengong sejenak lantas matanya menyipit. "Tadi sebelumnya kau sempat bersedih." Memerhatikan sedetail itukah? Kerumunan yang tadi tidak mengizinkannya mengenal wajah-wajah pengamat poster disekelilingnya.

"Tapi sekarang, aku merasa hidup meski hanya meihat posternya saja."

Mereka memberikan pengertian satu sama lain. Selena kalah dan selalu percaya dengan kata-kata. Itu merupakan salah satu yang bahkan disukainya daripada mengandalkan perbuatan untuk berkelahi.

.

-Ini hanyalah sebuah manipulasi-

.

Olahraga itu dibuka dua hari lagi, ng… Kamis. Apa yang akan ada di sana? Net putih membelah lapangan, bola voli, seragamnya, tentu saja. Sytlia mengulang paragraph pembahasan pemeran Spiker, orang yang bertugas memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Dari catatan usangnya, materi yang ditulisnya dulu. Ia mengetahui yang mendasar dari permainan itu, ya, semuanya. Voli terus menuntunnya.

Ah, ya! Sytlia teringat dengan bola putih itu, ia memilikinya. Maka bergegas keluar setelah mendekam satu jam di kamar, turun tangga seperti sepatu kuda, dan belok. Pintu putih berbalik gudang. Hanya satu tapak kaki kau langsung menemukannya.

Ia memutar pegangan yang bulat pada pintu itu. Sedikit pintu didorong, angin dingin kulkas merayapi kulitnya. Gudang mati tempat tinggalnya para barang tak terpakai, rongsokan, dan tak berharga. Sekardus botol hijau kosong, sepatu bekas, sarang laba-laba, dan ….ah, sudahlah. Sekarang, dimana bola itu berada? Sytlia hanya menitipkannya di sini, bukan termasuk kriteria.

Mulai menyingkirkan kardus-kardus kotor, tanpa rasa takut. Ia terbiasa dengan kegelapan. Tak terlalu gelap, masih bisa dilihat. Membuka isi kardus, satu per satu. Tidak ada. Sytlia membungkuk memalingkan wajahnya ke kanan, menelusuri setiap barang dari rak ke rak. Tidak ada. Mencarinya di sudut-sudut. Tidak ada. Kalau begini, kapan latihan yang menyenangkan itu akan terlaksana? Ia tidak sabar. Bola, oh, bola. Apa tidak ada cara yang lebih keren untuk bermain petak umpet?

Ia memutuskan untuk meraba-raba kepala lemari. Bayang hitam globe, tumpukan kardus-kardus, dan serbet. Namun kala hendak dan mengangkat kursi dekat pintu terbuka, barulah bola voli muncul.

Sytlia menutup pintu gerbang, lalu mengangkat bola voli berambut sarang laba-laba, debu dan kotoran usang lain. Bola ini perlu disikat, direndam, di… jemur? Hei, aneh sekali!

.

-Tentang mimpi dan janji busuknya-

.

Voli memerlukan orang sebagai teman bermain. Persyaratan sebanyak enam orang. Ia harus minta. Meski yang daftar tentu banyak. Tapi, mereka memiliki seseorang untuk berbagi. Atau beberapa.

"Selena! Tunggu!" Ia mencegat perempuan yang dipanggilnya, dari depan merentangkan kedua lengan.

Selena menarik strap bagian kanan tas gendongnya dengan tangan yang searah pula. "Ada apa?"

"Bergabunglah denganku! Jadilah teman bermain voliku! Aku mohon." Sytlia tanpa kendala mengenai latar, dan langsung ke inti yang diperlukannya begitu saja. Kurang logis.

"Tapi aku 'kan tidak daftar."

Ia meraih tangan kiri Selena. "Tidak apa-apa. Kau hanya menjadi lawan permainanku saja. Aku mohon." Keromantisan tanpa sengaja diperankan.

"Padahal kau bisa mengatakannya di kelas." Selena tersenyum.

"Ah, benar juga, ya." Sytlia kaget melepas tangan berukuran dengannya. "Aku terburu-buru. Maaf, ya."

.

"Kau mau, 'kan?" Sytlia tegang menunggu harap. Selena kebingungan.

"Kenapa tidak dengan teman se-timmu saja?"

"Si-Siapa?" Sytlia merasa mendapat pukulan telak. Jujur saja, berkat lingkungan ia sudah lupa caranya berbaur dengan orang-orang.

"Yah….. kau tahu 'kan kalau seseorang itu, pasti harus melalui tahap sebelum bisa akrab."

Telunjuk menepuk-nepuk dagu, menelusur mangsa di langit-langit perbatasan. "Betul juga, ya. Tapi aku tidak bisa main voli."

Kepalan yang dialiri antusias ditabrak ke bahu Selena. "Tidak apa-apa, kau hanya melempar bolanya saja. Aku yang akan memainkannya dengan tungkai lenganku." Ia menunjukkan gestur merangkum kedua tangan lalu mengayunkannya dan entah apa yang membuat gadis didepannya terhibur dan tertawa.

"Bagaimana dengan teman sebangkumu?"

Sytlia mengambil kursi, duduk seperti semula. "Maksudmu, Vera?"

Anggukan dengan senyuman. "Kurasa kau harus mencoba memintanya. Mungkin dia bisa berbuat lebih dibanding hanya melempar bola."

Selena memaksa dari keyakinan yang terus menyembur dari kilauan matanya. Sytlia mengalami kebuntuan.

"Kau tahu; aku dengannya tidak dekat, 'kan?"

"Ketika mengerjakan soal, kalian tampak akrab, 'kan?" Dia mungkin benar, tapi tidak mengerti.

Pertemanan sesuai bidangnya bukan yang diinginkannya.

.


.

Selena menariknya dalam jalur setelah beberapa menit bel istirahat berdentang. Ada tujuan lain dari kapasitas langkah yang dipermainkan. Sytlia sudah bertanya, tapi dia hanya menunjukkan punggung gadis dengan kilasan bahasa asing mereka.

"Kau masih ingat film…."

"Hei." Sytlia maju terdepan untuk menyapa – sesuai keinginan Selena -. Vera dan temannya berbalik.

"Eh, kau. Ada apa?" Senyum kaget dari Vera.

Ia tahu, seharusnya obrolan di perhangat dengan basa-basi, atau hal ringan lain tentang aksesoris di baju yang masih bisa dijadikan bahan pembicaraan. Sayangnya kedua wajah seperti cepat-cepat meminta maksud.

"Kau tahu 'kan, ada pertandingan voli di sekolah ini. Dan aku harus berlatih."

Dua orang didepannya saling berpandangan.

"Jadi…." Keraguan. "Aku ingin kau menjadi teman bermain voliku. Maukah?"

Baiklah, Sytlia tidak sepenuhnya berharap. Karena keraguan itu lebih mendominasi maupun pada fisiknya.

Vera bersinar untuk jawaban yang akan keluar. "Maaf ya, kita ini tidak satu selera. Aku suka drama Korea, kau suka olahraga."

Berbalik dan melaju tanpa embel-embel sampai jumpa, ia terpaku bersama senyum kaku dan cap anak bodoh menurut para senior di dunia perbualan.

Aura Selena tertangkap.

"Yah, aku bisa paham."

.


.

Sore bersambut kecerahan cahaya dengan sengatan tingkat rendah namun warna oranye mencolok. Selena berseberangan dengannya, dibentengi net diantara mereka, di lapangan milik umum, saling memantulkan bola voli meski pola lengan mereka berbeda dalam melakukannya.

Selena melempar dengan kedua tangannya yang dibeberkan terangkum di depan wajahnya dan Sytlia membentuk lengannya sesuai aturan permainan yang diketahuinya.

Ia tidak bisa menilai; seberapa baiknya kecepatan pantulan bola atau ukuran bola mencapai langit jika saja orang yang diajak berlatih memang tahu banyak tentang voli.

"Kau terlalu jauh melemparnya!" Selena berlari ke belakang.

"Ups, maaf!" Ia mengambil beberapa langkah untuk berpijak pada posisi yang tepat sesuai insting.

"Tangkap, ya." Dia tidak kembali ke posisi semula – berdiri di tempat bola itu jatuh – hingga bola yang mengarah padanya berdekatan dengan net dibagiannya.

"Hei!"

Tertawa kecil. "Minta maaf!"

Ia menggeleng – entah dalam maksud apa – meski tawa itu begitu renyah dan berunsur kegembiraan. Sosok gadis sederhana itu memutar memorinya tentang hari-harinya sebagai remaja yang sederhana, bagaimana kalimat pemberi ide saja mampu membuatnya naik tangga selangkah. Di sisi lain, ketidakhadiran itu membuat seorang gadis aneh menempati bangku yang paling terakhir itu.

Gley, masih dipertanyakan.

"Aww." Bola putih itu seenaknya menembak kepala Sytlia.

"Kenapa kau berhenti?"

Sosok Selena yang dipecah oleh kain net yang berlubang seolah mencoba menerka maksud yang terpendam dari raut Sytlia.

Bola voli tidak dibiarkan melompat-lompat kecil lebih jauh ke serong kanan.

"Apa kau benar-benar tidak tahu orang yang bernama Gley?" Lemparan dengan tungkai lengan darinya.

Selena menengadah menanti bola di langit. "Tidak, memangnya kenapa?" Berhasil menangkapnya.

"Aku ingin kalian berdua berteman."

Gley dan Selena selalu bergantian dalam hal absen, menempati bangku paling belakang secara bergiliran pula.

"Kukira bangku itu hanya aku yang menempati."

Mustahil bagi mereka tidak saling mengenal.

"Yah, dia anak yang aneh, sifat kampungannya mencolok dengan kacamata tebalnya."

Selena memandang tanpa arti ke tanah di wilayah pijakan kaki Sytlia.

"Tidak usah dipikirkan, haha. Dia memang anak aneh!"

.


.

Ia tidak pernah mendapatkan seorang teman yang mudah menghilang.

Atau itu hanya gambar yang dilihat orang-orang semata mengenai ia dan Selena yang selalu bersama-sama?

Jika itu benar, maka seharusnya sosok itu hanya penambal kesendiriannya, seperti tempat bertanya, tempat berbicara, dan tempat apapun sebagai bidang, bukan benar-benar teman dekatnya.

Padahal Sytlia sudah berpikir baik untuk menyambungkan mereka hingga begitu sebuah perkumpulan seperti dulu bisa dialaminya lagi.

Dari gang yang dideret dengan perumahan di kanan kiri, pulang sendirian dan ia satu-satunya yang berjalan yang berseragam sekolah. Selena tidak ditunggu, itu memang disengaja.

Orang-orang yang menghuni di kelasnya, yang sudah tidak peduli sejak awal, tidak pernah membicarakan keanehan itu padanya. Juga seorang murid pemegang daftar kehadiran siswa tertutup seperti mereka semua.

Ia benci; masalah ini hanya bergulung di otaknya.

Berlari, tetap lurus ke depan mencapai tempat terbuka dengan sore yang sama seperti kemarin, firasat menghindari diri dari orang itu hanya sekejap dalam pemikirannya.

Padahal banyak hal yang bisa dikeruknya mengenai itu pada orangnya sendiri, tapi ia tidak suka dengan wajah bingung dan kalimat yang tersendat-sendat seperti berbohong.

Sosok Selena selalu ada bersamanya, entah kenapa.

Sosok Selena tidak terlihat berbicara dengan beberapa orang kecuali hanya sebagian kecil.

Sosok Selena memang bisa belajar, tertawa, tersenyum, tapi sifat itu tidak cukup membuktikan.

Membuktikan bahwa dia benar-benar hidup.

Bola putih dihantamkan ke tanah mulus itu lalu melompat-lompat kecil ke arah lain seiring ia yang mengolah kakinya melakukan hal yang sama mengekor bola itu.

Sekarang Sytlia membenci pikiran buruknya mengenai Selena.

Entah apa yang bisa dilakukan bola voli tanpa tim, ia sempat berpikir untuk memainkan pantulannya pada tungkai lengannya tapi namanya diseru oleh seseorang yang berlari ke mari.

Selena.

"Pergi!"

Dia tersentak berhenti di tempat, beberapa jengkal antara perbatasan lapangan yang digarisi warna putih.

"Eh?"

"Aku tidak menyuruhmu datang lagi ke sini, 'kan?" Bola voli dirangkul telapak tangan yang terbuka lebar.

Selena melanjutkan langkah. "Memang, tapi aku tahu kau akan…."

"Jangan mendekat!"

Berhenti lagi. "Kenapa?"

Ketajaman dari sorotan mata yang melirik, ia nyaris bertindak seperti pembully dengan berjalan singkat ke arah horizontal yang berlawanan lalu kembali lagi.

"Kau…." Ia benci mengatakannya. "Kau wujud dari rasa kesepianku! Dasar makhluk aneh!"

Tampang kebingungan dan banyak menelisik hal lain untuk meminta jawaban. "Apa maksudmu dengan wujudku yang berasal dari….."

"Aku membencimu!"

Napas bersuara yang terhela itu seharusnya bukan hal yang menarik untuk dilihat. "Kenapa….. Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?"

Berpaling ke kanan. "Kau selalu menghilang, itu membuatku tidak bisa mengerti!"

"Yah, mungkin kau bisa memakluminya karena aku sendiri juga…."

"Itu membuatku takut! Kau seperti hantu!" Tunjukan telunjuknya yang tepat sasaran adalah suatu keraguan ketika mengatakannya.

"Hei, mari kitabicarakan baik-baik. Jadi, apa masalahnya?"

"Kau selalu bolos! Itu masalahnya!"

"Aku tidak bolos, itu hanya seperti…."

"Aku tidak suka orang yang selalu bersembunyi!" Setengah membentak, wajah bola voli menjadi tatapannya. "Pergi!"

"Aku tidak…."

"Pergi!"

Gesekan dengan tanah yang berangsur terlalu menekan hingga Sytlia tertarik untuk tahu keadaan gadis itu.

Dia menahan suatu perasaan yang berat juga pembauran dengan kemarahan.

"Aku juga merasa sering menghilang, selalu berpindah tempat dan kehilangan waktu!" Kalimat terakhir itu setengah berteriak, selanjutnya berlari berbalik menuju jalur yang sama seperti saat dia ke mari.

.


.

Alam menertawakannya. Kelas suram kembali seperti biasanya dengan ia yang masih tidak memiliki cahaya yang mengembalikan dirinya pada sifat masa lalunya. Empat sampai lima orang di kelas ini.

Selena menghilang lagi tanpa sebab. Sekarang Gley dibelakangnya sedang menghitung sesuatu yang tidak jelas. Dia menjauhinya secara wajar, bentakan yang berbalas lalu berlari begitu saja.

Sytlia menjulurkan kedua lengannya, berdecit ke depan dengan banyak jeda akibat telapak tangannya, akhirnya ambruk bersama kepalanya. Baiklah, ia berterima kasih atas hasil dari kelakuannya, membenamkan wajahnya di sana.

Itu berarti, permainan bola voli dilakukan oleh sendiri. Seharusnya ia tidak usah memedulikan keanehan sosok Selena selama jam latihan masih berlangsung. Orang-orang pasti akan menolaknya ketika diajak termasuk Selena pada awalnya. Dan sekarang ia punya perasaan; merasa menjadi beban.

Menegakkan punggungnya, membungkuk memungut bola putih di bawah kursi. Apa makna yang diberikan bola ini adalah sebuah kebersamaan dan kotornya adalah berkat berbagai tangan dan tanah. Ia memendam bara penyesalan di wajahnya, benda putih itu sekali hentak ke lantai pantulannya tercapai menapak menuju meja dan seseorang menjerit setelahnya.

"Hei, kenapa ada bola seperti ini di kelas?"

"Eh maaf, tidak sengaja mengenai kepalamu, ya."

"Sakit, tahu. Dasar, kau ini."

.


.

Selena benar-benar tidak muncul lagi. Dan Gley menjadi rajin sekolah.

Ia terpilih menjadi bagian dari kelompok voli bersama dengan orang-orang yang tak dikenalnya – tapi orang-orang itu saling mengenal -, dihimpun di lapangan untuk pertemuan sekaligus perantara yang dilafalkan seorang pembimbing sebelum melayangkan mereka pada lapangan musuh.

"Ingat empat tugas penting dalam permainan voli?"

"Ya!" Serempak, suara Sytlia bisa dibilang rendah.

Selama latihannya memang tidak menggunakan perasaan ini supaya bisa terus berlatih. Alih-alih tak bisa ditopangnya lagi, penjelasan dari pembimbing sekejap menghilang dan muncul lagi dengan kalimat yang tak dipahaminya. Sytlia tidak ambil pusing untuk tidak peduli.

Ia merasa ditinggalkan.

.


.

Lapangan yang bagai stadion dengan beberapa penonton diluar sekolah maupun sebagian yang berasal dari sekolahnya. Garis net sudah terbentang, musuh berbaju biru gelap membentuk lingkaran sempit dengan lengan mereka saling merantai pada punggung temannya. Sytlia berpaling pada timnya, mereka juga melakukan hal itu.

"Bagaimana ini? Apa kemampuanmu?"

"Aku sendiri tidak tahu. Menurutmu, apa?"

Seharusnya hal semacam itu sudah ditentukan sejak awal, itu menambah semangatnya terpuruk karena dua hal; ia tidak akan mendapatkan kedudukan penting dan mereka hanyalah orang lain.

Tapi Sytlia tahu bahwa bualan-bualan dan sambutan sok hangat itu bisa kembali muncul jika aura mereka berhasil mengelilinginya.

"Kami tidak akan memasuki empat peran penting, aku dan dia." Seseorang yang menggunakan gaya rambut ekor kuda menggerakkan telunjuk diantara dia dan teman di sisinya.

"Lalu, siapa yang akan menjadi Tosser?"

"Tentu saja yang lain. Memangnya jumlah kita hanya sampai sini, ya?"

Sytlia disetori banyak mata yang menemukan ide.

"Ada apa?" Satu per satu mata dibalas.

Satu-satunya perempuan yang bertopi menepuk pundaknya. "Kau jadi Tosser. Boleh?"

Jujur saja, itu adalah peran asing meski ia tahu definisi-nya karena sama sekali belum pernah mendapatkan peran itu.

"Astaga, kelihatannya dia tidak tahu."

"Biar kujelaskan, Tosser adalah….."

"Aku tahu." Tebal dan yakin. "Tapi aku belum pernah menjadi Tosser…."

Mereka serempak mengeluh menggunakan suara, ia tergagap meminta mereka agar tidak seperti itu.

"Akan akuusahakan." Senyuman.

.


.

Kau, tetaplah dengan posisimu!"

"Di mana tempatku berdiri?"

"Di belakang dia, cepatlah!"

Jalan permainan yang ditujukan masih saja posisi orang-orang, aba-aba untuk menangkap bola dan mengatur seseorang ketika mereka hendak memantulkan bola.

"Tangkap itu!" Sytlia menunjuk.

Orang yang ditunjuknya malah hendak mengalihkan bola itu pada rekan di sisinya yang justru bisa membuat bola terjatuh dalam hitungan detik.

"Tangkap kembali, jangan diberikan padanya!"

Dia sempoyongan. "A-Aku, kurasa tidak kusengaja!" Berusaha meraih pijakan di kanan lalu bola bisa terpantul ke seberang net.

Sytlia menghembus napas keberhasilan meski perempuan itu terjatuh gara-gara kakinya yang meliuk mencoba menahan beban tubuh untuk tetap berdiri. Nyatanya semuanya kembali membaik, ia memerhatikan serius sikap lawan mereka.

Selanjutnya, serangan bola mengarah pada Spiker.

"Lihat bagaimana caraku melakukannya!" Sang Spiker sempat memberi semangat dari senyumnya.

Ia merasa terbangun.

.


.

Kerja sama mereka dan caranya yang memberi aba-aba menampung banyak poin kebahagiaan.

Tim mereka disoraki karena kemenangannya.

"Hore, kita menang! Keren!"

"Kukira semua ini tidak begitu terasa…."

"Kau tidak termasuk dalam peran penting, sih. Aku merasa tim kita paham betul tentang peran."

Anehnya, padahal semua yang dilakukannya tidak lebih karena berdasar pada artikel-artikel tentang voli dan sesekali menonton video-nya untuk lebih tahu. Ini pengaruh mereka yang dibelakangnya, kumpulan orang yang tak dikenal yang bisa saja paling mahir untuk soal voli.

Sytlia tertarik pada aroma kebahagiaan itu dan cara mereka semua mengekspresikan kemenangan tim yang didukung. Rasanya mendapat kebanggaan yang memeluknya seperti ini adalah suatu yang tabu bahkan belum pernah terjadi dihidupnya. Meski mereka hanyalah orang lain yang merelakan diri untuk tetap diam demi penentuan emosi. Seperti itulah permainan.

Tangan yang diangkat tiba-tiba dicabut kembali, mengenang bahwa tidak ada seorang pun yang dikenalnya di sana.

Pada siapa ia akan melambaikan tangan dan membalas sorak itu?

Jika ia melakukan itu, akankah seseorang akan membalasnya sekalipun dia bukan orang yang dikenal?

Sytlia sudah menyadari bahwa ia tidak sendirian. Berpaling ke belakang pada mereka.

Mereka sibuk dengan adegan peluk-pelukan yang dilakukan semuanya meski tampak secara terpisah.

Penonton lain juga banyak yang melakukannya, sebagiannya lagi sendiri dan berceceran di mana-mana dengan fisik kesendirian itu.

Diejek, orang-orang di sana hanya peduli dan mendukung pada aksi hebat, bukan gambaran orangnya.

Sekarang ia merasa bahwa semua orang di sini tidak ada yang mengaguminya.

Seseorang menepuk pundaknya. "Kau memang Tosser terbaik yang dimiliki tim ini."

"Lain kali, kita bermain bersama lagi."

Memang benar adanya jika kesendirian lebih dalam periode singkat, tapi hatinya hanya sedikit-sedikit terangkat untuk bersikap tegar seperti telur masak yang dicoba dijepit-jepit dengan jemari karena saking panasnya.

Hatinya mulai turun bersedih seperti hujan gerimis di sini.

.


.

Gerimis itu malah membesar, sebagian orang punya jalan masing-masing dalam menanggapi hujan tersebut. Jalanan yang sepi sedang dihibur butiran air berat dari hujan, hanya ia satu-satunya yang menjelajahi sepotong jalan diantara rumah-rumah bisu yang berderet. Mereka memang mencegahnya pulang, tapi ia tahu bahwa sesuatu yang lebih pahit akan beredar di sana, malah semakin menjamur.

Jadi biarkan wajahnya yang sudah ternodai uraian air tidak bisa terbaca oleh siapapun yang melihat.

Siksaan alam ini membuatnya menggigil kecil berkat air dingin cepat meresap pakaian dan tas yang digendongnya lebih berat berkali lipat. Seseorang keluar dari suatu bangunan dengan payungnya, setengah menggusur kaki kirinya yang dibalut putih di sana.

Orang itu menoleh ke belakang tepat pada arah Sytlia, lalu gestur menggerakan jemari merapat menyuruhnya datang ke sana.

Vera.

"Sytlia, kau tidak menggunakan payung." Payung merah muda saling berbagi untuk menaungi. "Pulang dari mana?"

"Lapangan sekolah sebelah. Bertanding voli." Ia menunduk berpikir bisa menemukan arti dari balutan pada tungkai kaki itu.

"Kakimu kenapa?"

Vera tersenyum kecil. "Kecelakaan motor. Aku hanya mencoba meninggikan gas seperti orang lain, tapi malah menubruk tembok rumah orang. Kakiku ini terjepit motor, beruntunglah hanya terkilir sedikit."

Sytlia menanggapi dengan decakan ala orang dewasa yang memaklumi perbuatan anak kecil. Vera mengucap maaf dengan sedikit seringainya.

"Seharusnya kau istirahat di rumah."

"Ibuku menyuruhku membeli bahan pangan untuk makan malam." Sekantong hitam besar diangkat. "Omong-omong, bagaimana hasil akhirnya? Tim-mu menang?"

"Begitulah." Sytlia tidak menunjukkan kebahagiaan dalam bentuk apapun.

"Wah, keren! Apa hadiahnya?"

"Tidak tahu, karena aku langsung pergi sih." Ia ingin meyakinkan sesuatu dari senyum hambarnya – nyatanya perasaan itu hanya sekejap saja.

Vera hanya menengadah dengan kecemasan. "Kau seperti tidak bahagia."

"Itu karena tidak ada orang yang bersamaku di sana." Paham atau tidak itu tidak masalah. "Aku telah mengatakan sesuatu yang salah pada Selena."

Hujan yang berulang kali menubruk naungan mereka adalah bunyi untuk beberapa saat.

"Memangnya kenapa? Kau tidak bisa minta maaf?"

"Dia tidak kembali lagi. Aku tidak mengerti." Agak membuang muka.

Vera seperti mencoba memandang wajahnya. Tapi satu tepukan pada bahu itu agak aneh rasanya. "Kau tidak tahu soal Selena? Kau masih belum tahu kenapa dia tampak aneh untuk soal absen sekolah atau yang lainnya?"

Sytlia terkesiap dan secara tegas menghadap. "Apa itu semacam penyakit?"

Bahunya merosot. "Sayangnya, kau benar."

Mata yang terbuka lebar segera ingin tahu lebih dalam. "Penyakit apa?"

"Kepribadian ganda. Dan Gley adalah sosoknya yang lain. Dua kebalikan antara yang pintar dan bodoh. Kau melihat gadis yang bernama Gley tampak kampungan? Mungkin saja dia tidak tahu caranya bertata rias."

Rasanya seperti tubuhnya berdenyut dan hendak ambruk di jalanan basah – yang terkadang tidak disukainya -. Selena bukan hasil imajinasi kesepiannya, dia masih orang anggap hidup juga namun hanya salah absennya yang menghidupi gadis itu. Kenapa ia bisa sebodoh ini?

Segala kebodohan itu sudah menguras hari-hari membahagiakannya tentang hobi dan dukungan. Dan kesendirian sudah membakarnya hingga semuanya tampak datar dan tak menyenangkan.

Baiklah, ia memang salah.

"Sytlia, kau menangis?"

"Hwaa." Pundak yang lebih rendah itu dilingkar oleh lengannya secara tiba-tiba.

"Aku tidak mengerti!" Suara di tengah isakan. "Aku telah salah soal Selena, aku tidak mengerti arti teman sebenarnya…" Dari yang iadapatkan selama ini, dari sekolah yang diremehkannya hanya karena tidak berniat masuk ke sana.

Hujan dan pijakan mereka masih sama.

"Maaf ya, aku jadi tidak bisa datang melihat pertandinganmu gara-gara kondisiku…"

"Dari niatmu saja aku sudah senang! Terima kasih!"

.

.

.

.


END

Dua cewek yang pelukan di tengah naungan payung itu rasanya menggelikan, ya. Untung ilfee gw gak sampe tumpah ke sini, haha.

Maaf ya kelamaan, maklumilah diriku yang pemalas. Ini adalah salah satu cerita yang melenceng dari Yuri yang sebenarnya lebih diinginkan. Tapi saya meneruskan kesalahan ini dan berpikir kalau ini merupakan bagian ringan dalam Yuri (kagak hot sampe kiss). Untuk adegan menjijikkan, adegan kiss berkepanjangan dalam diary yang pernah kamu baca itu sebenarnya saya simpan saja tanpa pernah mau mengirimnya ke dunia maya (masih inget dengan diary saya yang pernah kamu baca?). Dalam hal suka pair abnormal, saya lebih suka bl *gak nanya*.