Drama, Romance

Note : Ini bumbu dalam bentuk cerpen dariku untukmu :3. Jika kisah si Sytlia itu kurang ngena (?). Hope you like it :3.

Warning : GL (Girl Love), pengetahuan parkur hanya selintas

Summary : Halaman depan rumahnya sekarang memiliki rasa yang aneh untuk dikunjungi.

.

.

.


.

Velika tidak punya bimbingan khusus untuk hobinya.

Berulang kali rotasi ke arah depan - berputar ke langit hanya seperti menebali semua hasil yang dilakukannya karena nampaknya terlihat sama dan pujian yang dilemparkan pun pastilah sama.

Omong-omong, ia tidak tertarik pada pujian.

Gerakan Front Flip, salah satu teknik parkur, di halaman belakang rumah yang mempunyai rerumputan kecil untuk perjalanan kaki telanjangnya selama latihan. Rambut ekor kudanya selalu mengibar menghalangi matanya setiap kali mendarat yang diiringi dengan memalingkan kepala -ia selalu mencoba membungkus rambut panjangnya dengan cara yang berbeda, tapi selalu gagal -. Tapi ia menikmati hasil gerakannya meski helaian rambut ekor kuda menempel berkat hasil keringatnya.

Apa yang membuatnya tampak mempertajam situasi pagi yang cerah dengan tatapannya karena ia ingin mulai menguasai teknik Wall Flip pada dinding yang membatasi besar halaman ini.

.


.

Velika tidak begitu tahu seperti apa nutrisi yang selalu karya ilmiah dan orang-orang pintar maksud pada jenis makanan. Jadi kemasan minuman dalam kotak yang mengandung perisa buah akhir-akhir ini selalu dikonsumsi jika itu berarti tubuhnya dapat berkembang dengan baik.

Kelas sama tidak menariknya dalam setiap waktu baik jika dalam kondisi guru absen tanpa sebab maupun istirahat, itu tak ada bedanya membaca kelakuan murid-murid yang lebih senang berkeliaran dan sedikit orang memanfaatkan waktu berharga.

"Hei, Veli~." Bukan teman dekat, akhir-akhir ini senang mengganggu kesendiriannya. "Ini belum waktunya istirahat, lho."

Gadis yang senang mengganti bintik-bintik kuku tak berguna itu dengan model yang berbeda, menekan bahunya untuk melompat tak jelas sekilas lalu muncul di depannya dengan gaya sok imutnya.

"Apa bedanya dengan mereka yang asyik bermain?" Dingin seperti biasa, menyedot sisa air oren itu hingga menimbulkan gemerisik.

Asalkan ketidaksopanannya membuat orang itu segera pergi. Jika cuma memanfaatkan, ia tidak membutuhkannya.

"Kalau begitu, kauikuti saja yang merekalakukan. Bagaimana dengan melompat di atas meja atau memanjat dinding? Aku akan menjadi penonton yang baik untukmu."

Sebelumnya ia tidak pernah menceritakan pada siapapun kecuali hanya bermain-main dengan keahlian itu di taman terbuka -tentu saja, sekedar berlatih bukan untuk pertunjukan -. Apa dia memang sudah menjadi penontonnya selama ini?

Mariebella, masih menyembunyikan kedua tangannya di belakang rok-nya. Tersenyum di sana, tetap berdiri di sana.

"Ada sesuatu yang kauinginkan lebih dari sekedar penonton, 'kan?" Dia membuka mata lebar separuhnya agak bengong, ia mencoba menghapus maksud pertanyaan. "Kurasa memang lain kali saja. Aku tidak mau pamer hari ini."

"Memang!" Seruan sembari menggebrak meja separuh mengerling pada wajahnya membuat Velika mempertegas genggamannya pada kotak minuman kosong itu.

"Selama ini aku mengagumi gerakanmu itu! Aku harap kau bisa mengajariku!" Tampang memohon.

Ia sedikit menjauhkan bahu orang itu untuk beranjak dari bangku. "Jangan pernah mengikuti hobiku. Cari saja hobi yang pantas dilakukan seorang gadis manis sepertimu."

"Gadis manis? Seperti kau ini bukan perempuan saja."

Ia meraba bagaimana belitan ekor kudanya tetap erat dengan ikat rambut yang biasa digunakan gadis-gadis lain, lalu pergi.

"Lagipula apa-apaan gelang gambar tengkorak yang dibuat dari kain itu? Mirip punya Kakak laki-lakiku."

Dia tidak menyerah, bergerak menghalanginya lagi.

"Apalagi yang kau mau?"

"Asupan nutrisi untukmu." Sekotak wadah yang ditutup, apa itu yang disembunyikannya sedari tadi? "Aku sengaja membuatnya untukmu. Kemasan minuman dalam kotak yang akan kaubuang itu hanya perisa jeruk yang dibuat dari pewarna makanan saja -tidak ada hubungannya dengan jeruk sungguhan. Supaya kau semakin lincah bergerak —ayolah."

Antara menerima dan tidak menerima, berhubung ia bosan mengamati wajah ala kucing yang dibuat orang itu.

"Terima kasih. Kau simpan saja di mejaku."

.


.

"Veli~! Tunggu~."

Suara nyaring yang seenaknya selalu meliukkan namanya, rambut pirang Mariebella mengibar pada turunan jalan yang sedang dilaluinya di belakang dan ia yang sudah mencapai akhir dari jalanan itu.

Apa yang membuatnya memutuskan berhenti di tengah yang lain mengangkut tas lebih dulu meneruskan perjalanan hanya untuk membuat gadis yang ribut dengan banyak aksesoris di tasnya itu tidak usah menyeru namanya lagi.

"Apa yang kauperlukan dariku?" Ia menunggu hingga gadis itu menyelesaikan napas yang terbata-bata di tengah menopang tubuh ramping itu melalui lutut.

Menengadah rapuh. "Ajarkan aku…. Gerakan kerenmu itu…"

"Itu bukan untuk perempuan." Membetulkan strap tas, berbalik. "Maaf, ya."

"Tapi-tapi-." Dia menarik lengan Velika. "Tidak adil kalau hanya kau perempuan di dunia ini yang boleh belajar memanjat."

Ia menepuk dahi. "Namanya parkur. Sejenis latihan pertahanan diri dan belajar melewati rintangan-rintangan."

Renggutan pada lengan dipererat. "Waw, keren. Aku tidak perlu meminta bantuan Kakakku kalau ada barang yang tersangkut."

"Kalau tidak bisa, ya tidak bisa!" Ditepis kasar, Velika separuh berlari.

.


.

Beberapa hal yang remeh namun menarik keluar darah di kepalanya terjadi.

Ketika guru wanita yang senang menebali bibirnya dengan lipstik merah itu menyemburkan semua yang tertera pada papan tulis yang mencangkup bahasa asing di sana, Velika tidak bisa menahan dirinya dari kantuk.

Hanya jemarinya yang terlantar di hamparan meja dikejutkan dengan sesuatu yang tidak pantas baginya.

"Kenapa kau mewarnai kuku jariku, hah?!" Mariebella mengangkat kuas kecil itu dan menaruh senyuman dengan mulut terbuka melihat reaksinya.

"Hei, jangan berkelahi di sini."

.

Ia tahu permintaan tentang minta diajari parkur itu dikatakan lewat perilaku menyebalkan sang gadis yang mulanya kefeminiman itu begitu serasi dengan caranya berpenampilan, wajah, dan rambut bergelombang. Tidak cukup dari memasang tulisan pensil yang melukis wajah konyol Velika -sumpah, itu tidak ada mirip-miripnya dengan wajah Velika -atau memanggil namanya tidak jelas hanya untuk menertawakan dengan teman-teman bagaimana bentuk tampang kesalnya ketika menoleh pada sang pemanggil; membuatnya merasa menjadi idiot. Ia pikir semuanya lambat laun berakhir karena anak itu tidak melakukan hal kekanakan itu lagi.

Velika memaksakan diri untuk tetap menerawang huruf-huruf yang akan dijadikan bahan menghadapi ulangan harian besok. Seharusnya ia berterima kasih untuk sinar dari gorden yang muncul itu.

Ia semakin puas berteriak ketika sinar yang mengerjap-erjap itu membentuk bayangan perempuan berambut semraut bak nenek di pertengahan kaca.

Kelakuan itu nampaknya tidak akan bertahan lama begitu suara familiar yang menyela aksi sinar itu.

Setelah menyibak gorden berwarna emas, sosok itu bahkan bukan hal yang harus diteriakan lagi sekalipun rambut itu sama menyeramkannya dengan bayangan.

"Kau lagi?! Malam-malam begini?!" Spontan menggeser kaca untuk perkataan yang bahkan tidak bisa dipercayainya.

Mariebella tersenyum antusias. Sinar itu tidak berhenti mengerjap, ia melongok-longok dengan berjinjit-jinjit; mencari si pembuat sinar.

"Kakakku sedang mencari bola-nya yang hilang di sekitar rumahmu, jadi aku ikut membantunya mencari." Tunjukkan dengan ibu jari. "Tapi sekarang sudah ketemu, Kakakku yang mengotak-atik senternya."

"Jangan banyak alasan. Pergilah."

.


.

Velika tidak bisa bertopang dagu terlalu lama lagi.

Mariebella tetap berjuang mengganggunya, merusak Minggu pagi di taman - tempat olahraga bagi kebanyakan orang. Dia mengaku begitu jarang menjelajahi perbukitan kecil ini terutama jika sendirian. Tapi bagaimana bisa kelincahan tak jelas itu mencolok dan membuat satu-satunya orang normal disisi gadis itu menanggung malunya?

"Lihatlah, atraksi ini…."

Dia hendak menghantam tanah dengan telapak tangan lagi, ia bergumam nyaring untuk menjeda gerakan itu.

"Baiklah, aku mau mengajarimu." Sangat terpaksa, kalimat yang ditekan dengan sengaja.

Gadis itu agak menengadah, seolah memandang sesuatu yang berkilauan. "Benarkah?"

"Tapi bukan sekarang." Handuk biru muda pendek ditengkuk ditarik, berlari-lari kecil untuk menjauh.

"Hore!" Ia tidak jadi menghardik ketika si rambut pirang yang mengikat mie bergelombang itu dengan gaya ekor kuda cepat membentuk raut yang berbeda. "Tapi, kenapa?"

"Ini hari khususku."

.


.

Halaman belakang rumah Velika adalah awal mereka. Matahari saja menyantuni mereka dengan mengurangi kapasitas yang berlebihan biasanya pada siang hari.

"Kuperkenalkan, ini tempat yang sering kugunakan untuk parkur." Besi memanjang seperti untuk mengantri pada kasir seperti di kebanyakan mall, benteng di sisi kanan yang lebih rendah dibanding benteng sebagai pembatas, dan dinding bernoda bekas pijakan kaki.

Mendadak, sepulang sekolah karena gadis itu sendiri yang memintanya. Dia memakai seragam olahraga dari sekolah.

"Wah, sejuk, ya. Kukira akan ada barbell di sini." Dia menikmati mengedar sekali lagi pada tiap ruang.

"Yah, begitulah, haha. Bagusnya sih, memang pagi-pagi." Velika tidak menyukai sikap terburu-buru yang tak terencana pada awalnya, tapi ya, sudahlah.

"Kau harus pemanasan terlebih dahulu supaya tidak cepat pegal." Ia menuju satu kursi dengan meja kecil, di bawah naungan sisa atap rumah.

"Eh? Kukira kita akan melakukannya bersama-sama."

"Aku mau beristirahat dulu."

Banyak yang ditanyakan Mariebella dalam jeda beristirahat sambil mereguk segelas air - ia malas menambahkan cemilan-, soal prestasi tanpa medali yang digapai dari hasil otodidaknya. Nyatanya gadis itu bisa membuatnya antusias dalam membahasnya. Makna teman satu karakter itu tidak berdusta, rupanya.

"Akan kuajarkan teknik dasar terlebih dahulu. Ayo, Mariebella." Bahkan ketika rerumputan kecil menyambut injakkan kaki darinya, memanggil begitu mudah baginya.

"Kau tidak usah memanggil dengan nama panjang. Panggil aku Bella." Dia sudah lebih dulu menyergap pagar besi yang mampu menjadi cermin 'peledek' itu.

"Aku lebih suka memanggilmu Mari." Entah kenapa, ia melampiskan pikiran itu sekilas pada langit.

"Kau yang berbeda! Keren!" Dia bahkan mengacungkan ibu jari.

Masa bodoh baginya; apa alasannya. Barangkali memang serasi dengan rambut mie itu. "Kita akan berlatih keseimbangan dengan menaiki pagar ini. Namanya Balance."

Ada alat bantu dibawah rongga, Mari menaikinya tanpa masalah.

"Yang sambil merentangkan tangan itu, 'kan?" Dia melakukannya.

"Dengan tantangan." Velika menyiram pagar itu dengan segelas air.

"Wa- hei, apa kau gila?!" Nyaris terpeleset dengan kaki telanjang itu, ia membungkam tawa.

"Posisi seperti itu namanya Cat Balance…" Tawa meledak.

"Ja-Jangan tertawa!"

.


.

Banyak kegagalan yang harus dimaklumi.

Karena tubuh itu ramping, feminim, atau yah, sebenarnya bukan karena apapun, tapi ia senang bisa melakukannya bersama. Anak itu cukup lucu dengan kesalahannya dalam melakukan Cat Jump, atau bagaimana cara dinding yang tersedia tidak mampu membuat tubuh ramping itu berputar - berterimakasihlah karena telah disediakan matras di bawahnya. Dalam hal apapun, kelakuan sang gadis yang kurang feminim, yang tetap menggemari teknik menghias kuku.

Tapi Velika tahu bahwa roda tidak akan selalu berputar di tempat.

Ada saat di mana justru ia merasa 'takut' untuk bertemu dengan Mari sekalipun itu hanya melambaikan tangan sebelum menaiki bus.

Padahal kemampuan mereka berbeda, tentu saja lebih berwawasan dirinya. Bukan semacam kekaguman atau selalu dikagetkan dengan lengkingan namanya setiap kali dipanggil, ini sudah jelas berbeda.

Beberapa hari ini, les tambahan sepulang sekolah itu diliburkan.

"Kenapa? Padahal aku sudah memotong buah-buahan untuk kita bersama di halaman belakang rumahmu."

"Maaf ya, pokoknya tidak bisa." Ia tidak mau menyeretkan matanya sedikitpun pada warna yang terbentuk dari gadis itu, berbalik, agak berlari.

Halaman belakang itu pun, malah menumbuhkan sensasi yang lebih kuat mendukung rasa 'takut'-nya. Jadi Velika tertahan ke sana sementara waktu.

.


.

Entah bagaimana penyebutan yang tepat untuk sikapnya belakangan ini.

"Veli~. Aku ingin belajar menapak di dinding…"

"Kukira ada masalah dengan dindingnya…" Mundur beberapa langkah, secara tak sopan lantas menjauh.

Di hari lain , permintaan Mari terkesan memaksa dengan berpakaian olahraga tepat setelah pulang sekolah atau tiba-tiba berhasil meraih lengannya. Kau tidak boleh begitu, kita sudah lama tidak berlatih lagi, aku sudah bersusah payah membuat makanan untuk istirahat kita nanti, dan segala bentuk desakan yang terus-menerus membuat otaknya meledak - karena saking banyaknya alasan yang jadi membuatnya merasa bersalah juga.

Jadi, jika segala bentuk ketidaksopanan itu malah menjalar dan semakin besar menumbuhkan 'ketakutannya', lebih baik jika Velika tidak usah muncul di depan gadis itu.

Maka 'libur yang panjang' ini, ketidakmengertian Mari dibalik keceriaan itu, dan rasa enggan tiba-tiba pada halaman belakang bertumpuk dengan label ketidakmengertian juga dalam dirinya.

Kepalanya terlalu ingin tetap terantuk pada meja yang disesaki buku-buku terbuka (buku pelajaran, buku novel, dan buku tugas), atau sekedar beringsut dari ketidaknyamanannya pada sudut buku yang menusuk belakang kepalanya; itu tidak dipedulikan juga.

Keidiotan efek hatinya lebih menguasainya dibanding keidiotan ketika memilih menghindar tidak jelas, ia bergumam tidak jelas membayangkan itu. Padahal mungkin saja, semua itu masih bisa dialihkan dengan saling memamerkan gerakan baru pada lampiasan pagar sekolah atau tembok sesekali, dan ia bisa menonton rambut panjang bergelombang dalam terpaan cahaya yang selaras dengan itu.

Senyuman khas itu, cara kuku-kukunya memamerkan versi berbeda, dan bagaimana bentuk raut itu ketika memanggil namanya, hanya dalam sekelabat rupa gadis itu pun sama-sama menyiksa kepalanya!

Velika bisa memulai dengan pekerjaannya hari ini; mengerjakan pr, tapi pulpen seperti ikan yang tertampar ke daratan (atau mungkin itu efek getaran tangannya?) jadi ia pikir kepalanya membutuhkan banyak waktu untuk tertidur.

Sampai kapan? Sampai kapan kebenaran yang tersembul ke permukaan harus dibenamkannya menjadi kekeliruan?

Halaman belakang saja sudah jarang ditemuinya, nyaris seperti libur yang merekalakukan, mungkin ada rasa secara tak langsung bahwa Velika tidak suka jika tempat kesukaannya menjadi tempat orang lain juga. Jadi itu berarti ia tidak mau bertemu dengan Mari di sana.

Tapi tempat itu sekarang sudah berkaitan dengan gadis itu, berhubungan secara imajiner.

Velika hanya butuh nama dari perasaan aneh itu.

.


.

Ia sudah mendapatkan nama itu, tapi bukan yang pertama kalinya.

Beruntunglah karena yang pertama bisa dibilang normal dan tidak separah yang sekarang.

Kenyataan dari yang pertama itu sangat mengejutkan dari wujud orang yang selama ini dikagumi, ternyata dia melakukan hal menjijikkan di pinggir jalan dengan sesamanya.

Dan ia yang sendirian sepanjang waktu malah menemukan jalan yang salah - mungkin bukan karena hasil pengamatannya pada orang itu (makhluk pertama). Sepertinya ini penyakit yang disandangnya sendiri.

Di taman, Minggu sore, Mari berhenti sekejap untuk mengembalikkan ponsel ke tas yang disampirnya dan ia merasa beruntung dengan pertemuan secara tak sengaja itu.

Karena itu adalah saat di mana ia bisa menjelaskan agar tak terlalu disalahkan.

"Mari!" Melambaikan tangan setelah gerakan lari sepanjang menyusuri taman membentuk jarak yang tak jauh dengan orang itu.

Beruntungnya dia masih bisa memberi balasan, cukup antusias.

"Kau sedang olahraga sore?"

Ia menghisap napas seperti hendak menghabiskan semua udara di sekelilingnya, memberi waktu pada dirinya untuk menikmati pemandangan.

Wajah itu tertutupi gelap dari benteng di sisi mereka, tapi ia tahu bahwa garis bibir itu telah memudar sejak awal.

"Aku ingin minta maaf soal parkur yang terlalu lama diliburkan. Kita bisa- ."

"Tidak perlu repot-repot." Lengan tas ditarik. "Kurasa aku ingin mengikuti Kakakku saja. Dia selalu ke tempat olahraga angkat beban."

"Kau mau ke tempat olahraga angkat beban?" Itu tidak pantas untukmu, hei. "Kenapa jadi begitu?"

Dia tidak seperti Mari yang dikenalnya ketika menunjukkan kepala menunduk yang separuh menyembunyikan sesuatu. "Soalnya aku kecewa berat setiap kali kau menolak. Potongan mangga harus kuhabiskan sendiri, aku rugi sudah mengenakan pakaian olahraga - kau banyak menghindar, sih. Aku selalu menanyakan alasannya, tapi kau tidak menjawabnya dengan benar."

Masalahnya, ia tidak bisa membedakan keseriusan dengan candaan dalam pertanyaan itu karena keceriaan selalu tersemat di dalamnya. Ia dihujani perasaan berdosa sekarang.

"Kau sendiri 'kan, yang selalu banyak bercanda? Ayolah, kita bisa memulainya lagi. Setiap kali aku bertemu dengan halaman belakang itu, aku ingin bertemu denganmu di tempat itu."

Setengah memelas, agak-agak mendekat. Raut datar itu hampir tidak dikenalinya lagi.

"Mungkin memang lebih baik kalau berakhir saja jika ujung-ujungnya timbul keraguan. Maaf aku sudah sering mengganggumu. Aku sudah punya hobi yang baru sekarang." Mari mengambil ruang, merelakan sepatu yang memiliki tambahan pada tumit itu melebur pada kubangan sisa air hujan.

"Hobi yang baru itu sangat tidak pantas denganmu!" Rasa yang bercampur aduk dalam dirinya, kenapa harus ditambah dengan masalah lain seperti bentakan? Ia ingin mencabut akar-akar rambutnya jika perlu.

"Jadi kau memang lebih suka, ya, jika hanya kau saja perempuan yang aneh di dunia ini? Rakus."

Kenyataannya, dia benar-benar marah.

"Permisi." Sepatu ber-hak itu mengetuk-etuk lantai semen hingga beralih pada bagian kering dibalik punggung Velika, yang masih memproses segala bentuk ketidakpahaman ini.

Kembali ke awal; apa yang membuatnya merasa beruntung ketika bertemu dengan Mari tadi?

Karena itu adalah saat di mana ia bisa menjelaskan agar tak terlalu disalahkan.

"Tidak masalah jika kau tidak mau lagi belajar parkur." Kepalan di sisi badan dirapatkan, pendengaran ditajamkan untuk tahu; suara sepatu itu tidak begitu jauh.

"Syukurlah…"

"Alasanku selama ini berlari karena…."

Detakan jantung memenuhi dadanya, dingin menggerayangi secara tiba-tiba, sore agak kelam menjelang perputaran waktu menyantuninya.

"Aku…. Menyukaimu!"

Kepala berputar ke belakang secara spontan, ia benci melakukannya. Mari melakukan hal yang sama, ia bersyukur tidak usah tahu tampang seperti apa yang terbentuk di sana.

"Hah?! Dasar gila! Untung saja aku sudah mengganti hobi!"

"Itu benar!"

"Aku tidak peduli!"

Hanya begini saja? Hanya begini saja? Velika masih tercebur dalam ketidakmengertian, perasaannya semraut, ia ingin punya tambahan waktu untuk berbicara dengan gadis itu lagi.

Benteng tak terlalu tinggi, tapi itu cukup menutupi orang setinggi dua meter sekalipun. Ia hanya dijebak oleh beberapa kubangan yang terlantar di sisi kiri. Hanya jalan yang dilalui Mari sekaranglah yang ada.

Sebelum semuanya berakhir, bahkan jika dosanya tidak diampuni.

Sejarak beberapa langkah digunakan untuk berlari, lalu salah satu kaki bergantung pada benteng untuk melanjutkan lari sekilas dalam posisi agak miring. Seperti Tic Tac!

Tapi ia tidak bermaksud meraih objek mana pun. Malah tiang listrik yang seharusnya membatalkan aksi tak jelas itu digunakan untuk menghentak melompat pada arah yang tepat.

Mari memang tersusul tapi tidak mengomentari seperti biasanya, wajah itu tidak akan jelas terbaca berkat gelap.

Sekalipun begitu, ia masih bisa merasakan dosa itu.

Cara Velika memantul membuat wajah mereka bertubrukan.

.

.

END


Hore, akhirnya beres juga *tampang ngenes*. Kalo gini sih, emang lebih baik kalo SaruMi aja yang gw tulis .. Secara, itu pair be-el baru-baru ini, duh, tapi belum nonton animenya, haha, jadi belum bisa nulis fic-nya, deh.

Agaknya baru sekali ini gw nulis karakter cewek dengan olahraga gerakan. Di sekolah gw juga ada yang parkur, lho, ya, udah jelas cowok lah. Kalo gak ada guru, pekerjaannya itu, ya, gelantungan di ambang pintu, lompat di meja, dan ngajarin orang parkur juga. Tapi itu bukan berarti gw terinspirasi dari situ, ya. Gak ada hubungannya.

Gw sebenarnya pengen berbagi kesengsaraan, tapi sudahlah. Nanti, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang (?).