heart of stone

it's・not・the・end・of・the・line


"Boleh aku bilang sesuatu?"

Detektif itu mendongak. Pandangan matanya mengikuti gerakan sang istri yang datang membawa secangkir kopi panas, menaruhnya di atas meja, duduk di sampingnya - sofa panjang samping perapian yang menyala. Istrinya, si Penulis, tidak segera duduk, ia melepas mantel yang melekat di tubuh Detektif dengan hati-hati seolah-olah tubuhnya adalah patung tua yang rapuh, dilipat ala kadarnya dan diletakkan di spasi samping sofa sebelah. Si Detektif begitu terpaku pada pembawaan istrinya - selalu seperti itu - hingga lupa akan pertanyaan yang diajukan barusan kalau si Penulis tidak duduk di sampingnya dan menatap bola matanya lekat-lekat, lembut nan penuh sayang, "Hm?"

"Oh," Detektif nyaris tersedak - padahal secangkir kopi di hadapan belum ia raih, "tentu."

"Kenapa kopi panas?" dengan senyum lebar, si Penulis masih tidak melepaskan pandangan. Itu pertanda buruk, itu senyum berbahaya, dan hanya si Detektif yang tahu seberapa berbahayanya. "Bukan maksudku protes, sih, tapi kalau sudah jam segini, kamu nggak setega itu untuk menyuruhku memanaskan air dan membuat kopi karena kamu tahu aku menahan kantuk mati-matian menunggumu pulang di sini. Biasanya kamu hanya butuh selimut, lalu kamu menjelaskan hari-harimu sambil duduk di dekat perapian ini, lalu kita tidur."

Uh-oh, di kepala si Detektif sontak berbunyi segera alarm siaga satu, cukup untuk membuat lampu di bilik pikirannya menyala-nyala merah. Ia membuka mulut untuk membuat jeda, "Mmm," tapi seolah tertebak, si Penulis mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat, mempersilakan ia untuk meraih secangkir kopi dan meneguknya beberapa kali.

Ada embusan napas sebagai reaksi selepas dahaga, Detektif itu membuka mulut kali kedua, tapi kali ini ia berniat untuk menjawab, "Jadi ..."

"Jadi?"

Harus, ya, disela dulu seperti itu? Detektif ingin memprotes, tetapi nanti konversasi di antara mereka jadi kehilangan poinnya. Kalau boleh jujur, ia sangat lelah, tapi apabila dibiarkannya keegoisan menang, mereka tak mungkin bisa bertahan bahkan sejak di malam sebelum-sebelumnya. "Aku butuh kopi untuk ..."

"Untuk?"

Oke, pastilah si Penulis merasakan keraguan dalam jawabannya apabila sampai memotong kalimatnya sampai dua kali seperti ini, jadi ia terdiam, menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, "... mencairkan perasaan."

Bibir Penulis mengejang sejenak, berpikir. "Karena detektif diharuskan untuk berhati batu?"

Ganti Detektif yang membuat jeda. "Lebih-kurang." Begitu ia mengatakannya, ada bagian dari otaknya yang berteriak, Astaga, serius? Lihat ekspresi tak puas di wajah istrimu sekarang, oh, Detektif Pintar, kenapa kau tak jawab saja 'ya'? dan benar saja, istrinya memiringkan kepala, tak mengatakan apa pun tapi si Detektif tahu kesalahannya; ia harus menjelaskan bagian mana yang membuat tebakan istrinya agak tidak tepat. "Mmm. Bukti kasus hari ini, yang kutangani, menunjukkan bahwa yang melakukan pembunuhan adalah bagian dari anggota keluarga yang terbunuh."

"Oh, aku bisa membaca ke mana alurnya akan berakhir," si Penulis membenarkan posisi duduknya, "anggota keluarganya, yang lain, tidak percaya, 'kan?"

"Benar, tapi pada akhirnya tuduhan itu terbukti, tersangkanya mengaku, dia memang yang membunuh."

"Itu namanya berhati batu, Detektif," istrinya mengulum senyum. "Bagian mana dari terkaanku yang kurang hingga alih-alih menjawab dengan 'ya' - yang lebih singkat dan lebih tidak membuatmu dalam masalah - kau justru mengatakan 'lebih-kurang'?"

Sekarang suara istrinya justru terdengar mirip dengan unjuk rasa bagian otaknya yang berteriak tadi. Si Detektif berdeham. "Karena sebenarnya, 'mencairkan perasaan' yang kumaksud bukan hanya terkait dengan keharusan detektif untuk berhati batu, tapi juga kebutuhan seorang suami, yang meminta secangkir kopi dengan alasan karena ia secara sederhana hanya ingin minum kopi, dan mendengarkan istrinya yang berbicara tentang hari dibandingkan bercerita kisahnya sendiri."

Kedua bola mata si Penulis tidak berkedip selama beberapa waktu, dan begitu ia melakukannya, pandangan mata di antara mereka teralihkan. Ia melemparkan pandang ke arah cangkir kopi di atas meja, ke belakang menatap mantel yang terlipat, menenangkan diri dengan memanfaatkan jeda untuk mendengarkan suara napas sendiri.

Seolah-olah percakapan barusan tak pernah ada, istrinya kembali menoleh dengan sinar mata yang persis sama saat kedatangannya dari dapur tadi, "Penulis juga bisa berhati batu."

Kini ganti si Detektif yang mencoba menerka, "Karena ada kalanya ia harus membunuh karakter yang tak ingin ia bunuh?"

"Ya, dan ada yang lain juga," suasana tegang yang sempat ada di antara mereka bagaikan runtuh, dan keduanya - meskipun tak pernah saling mengungkapkan - menyukai saat-saat di mana percakapan yang mereka jalin seperti menaiki roller coaster; naik dan turun dan naik lagi dan turun lagi, tak bisa dimengerti oleh mereka yang tidak terlibat langsung di sana, "ada yang bilang bahwa penulis seperti pelarian, karena kau tak bisa membuat dunia menjadi seperti apa yang kamu mau, maka buatlah dunia sendiri."

Sebersit senyum yang sangat jarang di wajah si Detektif akhirnya terulas juga, "Tapi ternyata?"

"Ironisnya," senyuman berbalas, "bahkan dunia yang kaubuat bahkan tetap tak bisa berjalan berdasarkan kemauanmu," ada tawa keluar dari mulut si Penulis, seperti menertawai kesialan sendiri, "dan kau harus berhati batu untuk melaluinya. Menerimanya. Menyerahkan sebagian cerita pada cerita itu sendiri, dan dengan kesepakatan, mengakhirinya bersama."

Detektif meminum lagi kopinya, kali ini agak lama, namun sang istri bisa seakan turut menikmatinya, menunggu si Detektif kembali meletakkan cangkir di atas meja untuk menanggapi. "Bagaimana perasaan berhati batu itu artinya tetap menerima hal-hal yang tidak mudah untuk diterima ...," kalimat itu belum selesai, namun si Detektif melanjutkannya segera begitu mata mereka bertemu, "... terdengar seperti masalahku juga."

Kerutan di kening sang istri, diiringi dengan senyuman sangsi, "Terdengar seperti masalah kita bersama, hm?"

Ada tawa lolos dari si Detektif. Lalu berhenti. Lalu anggukan kecil. "Terdengar seperti masalah kita bersama."

Apabila konversasi ini dilakukan di ruang makan dengan segelas bir pembuka jamuan makan malam di mereka, yang melebur dalam percakapan sudah dipastikan akan bersulang. Namun karena keduanya hanya duduk bersisian, bersandar pada sofa di samping perapian, di musim dingin di mana suara angin yang berembus di luar rumah terdengar seperti suara kerikil-kerikil mengetuki setiap jendela yang ada, maka dengan saling merengkuh dan tak mengatakan apa-apa sudah lebih dari cukup sebagai pengisi malam bagi keduanya.

tamat


a/n: sebenernya, ini untuk menghilangkan writer's block di sela-sela mengistirahatkan mata gara-gara maraton nonton di netbook demi ngejar episode serial tv karena ketinggalan dua season orz terima kasih sudah membaca!