Gaung Sesal di Bentang Waktu

-

-

Apakah makna menjadi seorang ibu? Pepatah mengatakan kaki seorang ibu adalah tempat dimana surga berada. Namun bila sang ibu tak bisa menjadi surga bagi putra dan putrinya, apakah gelar ibu itu telah gugur darinya?

Sebagai seorang wanita yang berkeluarga, kau selalu memiliki empat pilihan. Menjadi istri yang baik, menjadi ibu yang baik, menjadi keduanya, atau tidak menjadi keduanya sama sekali. Pilihan ketiga jelas adalah pilihan yang paling menantang dan paling sulit. Jelas pilihan itu juga adalah pilihanku, setidaknya itulah yang kupikirkan saat aku masih muda dan naïf.

Aku tidak menyadari kalau angan-angan dan gagasan semata takkan semudah itu diwujudkan. Sebuah gagasan sebagaimana sebuah petunjuk hanya bisa diterapkan untuk jalan dan situasi tertentu saja. Barangkali gagasanku saat itu kurang tepat untuk situasi yang kuhadapi. Namun aku tidak menyerah. Aku berusaha menyintas kehidupan yang getir dan memaksakan gagasan mulia itu di jalanku. Semua kulakukan atas nama cinta.

Sebagai putri dari tuan tanah di sebuah desa yang makmur, masa mudaku sangatlah bergelimang kemudahan. Aku mendapatkan apapun yang kuinginkan, termasuk gaun indah yang dibeli setiap kali ayah mengajak ke kota, sesuatu yang membuat sirik sebagian gadis lain di desa, tetapi membuatku jadi perhatian para pemuda.

Hidupku yang nyaris sempurna mulai memasuki titik balik saat seorang pemuda yang adalah teman masa kecilku berubah menjadi sosok yang penting. Damar adalah keponakan kepala desa. Pemuda itu pindah ke desa saat masa remajanya, diasuh di bawah pengawasan pamannya.

Damar pemuda yang tampan, pemandangan yang jelas menyita perhatian para gadis. Persahabanku dengannya adalah satu hal yang melengkapi kesempurnaan masa mudaku. Kemudian benih cinta itu pun tumbuh diantara kuatnya persahabatan kami. Meski masing-masing terlalu malu untuk mengakuinya, tetapi isyarat sunyi itu telah mengatakan semuanya dengan lantang.

Perasaan itu bergema hingga ke masa dewasa kami, dengan diam yang masih membungkam kejujuran. Namun sekuat apapun rasa itu, selama tidak ada yang benar-benar menyuarakannya, semua akan sia-sia.

Setelah lulus dari SMA, Damar pergi meninggalkan desa untuk kembali tinggal dengan ibunya di kota. Kami mengisi kekosongan itu dengan saling berkirim surat. Sepanjang korespondensi itu berlangsung, topik mengenai perasaan itu masih merupakan hal yang sensitif, seperti sebuah garis pembatas dialiri listrik tegangan tinggi yang takkan kami langkahi. Kami membuat semuanya tetap tidak terungkap. Hingga akhirnya Damar mengatakan kalau dia menikah dengan seorang wanita pilihan ibunya.

Kabar itu menghantamku keras, membuatku menyesali pilihanku untuk diam. Namun saat itu bukan masanya seorang wanita untuk berkata terlebih dahulu. Aku pun memendam penyesalan dalam diam, sebagaimana pilihan yang mengiringku pada kekecewaan ini.

Belum satu tahun berlalu, ketika sesuatu terjadi. Aku masih sibuk membenahi hati yang porak-poranda, mengalihkan pikiran dengan kesibukan membantu pekerjaan di sawah. Damar muncul lagi di desa. Seorang diri, tanpa seorang istri yang dikabarkannya padaku sebelas bulan lalu.

Damar menghampiriku di suatu siang setelah aku membantu memanen padi. Dia tampak berbeda dari yang kulihat dulu. Garis-garis kedewasaan telah mengubah raut wajahnya. Pemuda bandel yang dulu sering mengintipku mencuci baju di sumur dari sela-sela dinding anyaman bambu berlubang di sanggar pramuka tempatnya berkumpul dengan teman. Kini raut wajahnya berubah lebih serius, dengan kumis tipis yang mengingatkanku bahwa kami bukan lagi siswa dan siswi SMA yang malu-malu.

Terlepas dari sosok dewasanya yang sekarang, ada seberkas kesedihan di mata Damar. Seberkas isyarat tidak bahagia membayangi senyum yang diberikannya.

Aku menanyakan kabarnya, juga kabar istrinya. Sebuah formalitas. Betapapun berat dan kelu lidahku saat mengatakannya, tetapi sudah waktunya bagiku untuk melepaskan masa lalu. Aku takkan membiarkan diriku terus menerus meringkuk dan menyesal terus-menerus. Masa lalu takkan terulang dan mustahil membenahinya demi untuk mengambil keberanian menyatakan perasaanku, meski hanya melalui goresan pena.

Namun Damar tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah berputar-putar menanyakan hal lain, dengan gencar, seolah tengah mengiringku pada topik lain.

Kemudian saat mulai kehabisan bahan pembicaraan, dia terdiam. Aku pun terdiam. Untuk sesaat, kami hanya memandangi bulir-bulir padi yang telah menguning di petak sawah yang belum sempat dipanen, berdesir dibelai angin sepoi.

Ketika Damar mulai berbicara lagi, yang diucapkannya adalah pernyataan yang sama sekali tidak kuduga.

"Aku kemari untuk melamarmu, Surastri."

Aku tak pernah mengira dia akan mengatakannya. Setidaknya tidak untuk saat ini, ketika aku telah memutuskan membuang angan seperti itu jauh-jauh berbulan-bulan lalu.

Aku terperangah. Tidak mampu berkata-kata karena puluhan pertanyaan berjubel di benakku, mendesak satu sama lain, berebut untuk dikatakan terlebih dahulu.

Damar terus berbicara, menjawab pertanyaan yang tak kukatakan.

"Aku mencintaimu. Aku tidak bisa melalui semua ini tanpamu."

Kata-kata yang dulu kuharapkan diucapkannya. Dahulu. Jauh sebelum sesal itu datang padaku. Sekarang sudah terlambat.

Atau mungkin belum terlambat. Mungkin belum.

"Bagaimana dengan istrimu? Ibumu? Lantas siapa yang akan kau bawa ke rumahku menemui orang tuaku?" aku memberondongnya dengan pertanyaan.

Dan pertanyaan terakhir yang mengekor hanya kusuarakan dalam benak. Apa yang akan dikatakan orang-orang padaku?

Damar tidak memberikan jawaban yang pasti. Setelah itu, dia menghilang selama beberapa hari. Kusangka semua pertanyaanku siang itu kembali menyadarkannya pada pernyataan khilaf yang dikatakannya.

Namun, setelah beberapa hari, dia datang ke rumahku, didampingi paman dan bibinya. Mereka berbicara panjang lebar dengan kedua orang tuaku. Aku bergeming dan membisu sembari meremas pegangan nampan hingga buku-buku jariku memerah.

Setelah berdebatan panjang, mereka beralih padaku.

"Bagaimana, Nak. Apa jawabanmu?" bapak bertanya.

Sudah bukan rahasia lagi bagi mereka bagaimana isyarat perasaan kami berdua sejak masih remaja. Bagaimanapun, mereka pernah muda. Tentu lebih memahami hal-hal tidak biasa yang hanya ditunjukkan dari gestur semata.

Saat itu, sembari menunduk, tak mampu menatap Damar yang duduk di seberang meja, aku memberikan jawaban. Entah kegilaan macam apa yang membuatku mengangguk saat itu. Kegilaan, atau perasaan cinta yang terus kubiarkan menggumpal selama bertahun-tahun.

Damar menikahiku. Meskipun hanya dengan sebuah acara selamatan kecil setelah akad nikah kami di KUA. Orang tua Damar tidak datang. Entah itu adalah tanda orang tuanya tidak menyetujui pernikahan ini atau karena ketidaktahuan mereka. Sebagai gantinya, paman dan bibinya yang mendampingi Damar.

Meskipun dengan dasar cinta, pernikahan kami jauh dari bayang kebahagiaan yang kuimpikan dulu. Aku harus berjuang keras untuk memperjuangkan pengakuan, demi hakku sebagai seorang istri. Dan hak ketiga anakku – Retno, Teguh, dan Ratih.

Jalan yang kutempuh tidak mudah, penuh bebatuan cadas yang mengikis tekad. Saat aku nyaris tersungkur dan menyerah, keberadaan putra dan putriku yang memberikan semangat untuk tetap berdiri tegak.

Kuabaikan omongan masam orang-orang. Mereka takkan memahami ini. Mereka takkan peduli pada alasan kami. Bagi mereka, cinta bukanlah sesuatu seperti yang dilihatnya pada kami. Akan selalu ada komentar tidak tidak menyenangkan yang mereka katakan dengan bisikan-bisikan mengenai segala bumbu dalam rumah tangga kami – entah saat kami tertawa bahagia, atau saat kami bertikai karena prasangka.

Kucurahkan seluruh hidupku demi keluarga. Aku berusaha menjadi seorang istri yang baik, yang mengabdikan dirinya pada suami. Di sisi lain, aku berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Damar hanya pulang sesekali dalam beberapa bulan. Pekerjaannya di pertambangan yang ada di luar pulau sangat menyita waktunya. Belum lagi waktu yang masih harus disisihkannya untuk anak dan istrinya di kota.

Situasi itu menyita nyaris semua kesabaranku untuk tetap mempertahankan lapang dada. Seperti berjalan pada seutas tali diantara dua bukit terjal dengan jurang hitam menganga yang siap untuk menelanku saat terjatuh, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap seimbang.

Sesekali keseimbangan itu goyah. Tanpa sengaja, dan tanpa bisa kucegah, aku melampiaskan kekesalan pada anak-anakku. Perbuatan yang kubayar dengan sesal, juga tangis dan air mata di wajah kanak-kanak yang tidak memahami mengapa kesalahan karena kenakalan kecilnya berujung pada hukuman yang menyakitkan.

Untuk mengobati penyesalan itu, sebagai sebuah kompensasi, kulakukan apapun untuk menebusnya. Kubuatkan mereka makanan dan camilan manis, apapun yang membuat mereka senang dan melupakan apa yang kulakukan.

"Ibu, ini enak sekali," kata sebuah suara cempreng yang manis.

Kata-kata itulah penghiburanku.

"Kami sayang ibu."

Ucapan sederhana dari jiwa-jiwa yang lugu dan mata yang cemerlang, takkan pernah berbohong. Dari ungkapan itu lah kureguk dalam-dalam kekuatan untuk kembali menyintas kehidupan.

Ujian selanjutnya datang, tanpa diduga-duga, dan menghantam tanpa ampun. Kabar kematian suamiku. Kabar yang membuatku kebas dan seketika merasa tak mampu bertahan. Hanya adik perempuanku satu-satunya yang mengingatkanku untuk tetap tegar demi anak-anak.

Kulalui tahun-tahun selanjutnya dengan membesarkan anak-anakku seorang diri. Memang berat, tapi pada akhirnya aku menemukan keseimbangan. Perlahan-lahan, ritme kehidupan dan segala kesibukan kembali mengalihkan pikiranku dari kegetiran. Kucari penghiburan di tengah anak-anak, terutama pada diri putri bungsuku.

Ratih mengingatkanku pada masa muda. Rasanya seolah menyaksikan kembali diriku yang dulu dari mata yang lain. Persamaan diantara sifat kami membuatku terhanyut diantara rasa takjub, bangga, dan waswas. Aku takjub dan bangga ia tumbuh menjadi sesosok gadis cantik yang periang, menyenangkan banyak orang dengan kehadirannya, dan menyemarakkan setiap saat dengan senyum manisnya. Di sisi lain aku merasa cemas dengan kecenderungan emosinya yang meledak-ledak dan kebiasaannya membuat keputusan dengan tergesa, sama sepertiku dulu.

Ibu mana yang ingin putrinya untuk mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya di masa muda. Cukup aku saja yang menjalani kepedihan itu, bukan anak-anakku. Kudoakan masa depan cerah bagi ketiganya.

Namun tanpa sadar aku telah melakukan kesalahan lagi. Kesalahan yang nyaris sama sekali tidak kurasakan saat melakukannya.

Perhatianku yang tercurah pada Ratih, tampaknya menghalihkan fokusku dari kedua kakaknya. Retno dan Teguh tumbuh nyaris tanpa bimbinganku. Aku memang memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, kebutuhan sandang dan nutrisi mereka juga tak pernah kekurangan. Hanya sebatas itu saja. Retno menemukan bimbingan yang dibutuhkannya dari adik perempuanku dan suaminya yang mengawasi gadis muda itu selama dia menempuh pendidikan tinggi di sebuah akademi perawat di kota. Sedangkan Teguh mengasingkan dirinya dan mengisi waktunya dengan setumpuk buku, hampir tak ada yang memahami apa yang dikatakannya.

Apakah aku menyesal? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Setidaknya mereka baik-baik saja.

Setelah lulus dari akademi perawat, Retno bekerja di sebuah rumah sakit dan hidup mandiri di kota lain. Dia jarang pulang karena kesibukannya. Tetapi putri sulungku tidak pernah lupa untuk menelepon setiap beberapa hari sekali saat dia punya kesempatan. Obrolan singkatnya selalu terisi dengan pertanyaan bagaimana kabarku hari ini, apa yang kulakukan, dan bagaimana kabar adik-adiknya.

Sesekali, Retno juga mengirimkan bingkisan untuk kami. Pakaian dan tas yang bagus untukku, meski aku sudah bilang padanya untuk berhemat.

"Tidak apa-apa, Bu. Retno punya sedikit rejeki lebih, dan kebetulan saja melihat banyak barang bagus saat jalan-jalan," itu yang dikatakannya.

Retno juga tidak melupakan adiknya. Si bungsu selalu bersorak girang setiap kali mendapatkan bungkusan berisi pakaian, sepatu, dan pernak-pernik lainnya. Sedangkan Teguh hanya mengulas senyum singkat saat menatap buku baru hadiah dari kakaknya, sebelum dia menghilang di balik pintu kamarnya.

Sementara itu, Teguh lulus dengan nilai memuaskan dari SMA, sayangnya aku melewatkan hari wisudanya karena pagi itu Ratih merasa tak enak badan. Retno menelepon Teguh, menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bisa datang. Jawaban pemuda pendiam itu sedatar biasanya.

"Tidak apa-apa kok, Mbak. Bukan kewajiban mutlak harus ada keluarga yang datang saat wisuda. Toh acaranya hanya begitu saja. Mbak Retno tidak usah cemas."

Tiada sebersit kekecewaan dalam suaranya. Tidak pula di wajah yang adalah cerminan sempurna ayahnya saat muda. Hanya saja dulu Damar lebih sering tertawa. Dan aku tidak berhasil mengingat kapan tepatnya aku mulai kehilangan suara tawa putraku.

Sampai disitu, aku masih belum menyadari kesalahan apa kiranya yang telah kulakukan tanpa sadar. Apa yang sudah tergelincir dari tanganku tanpa kusadari?

Tahun-tahun tenang yang kujalani pun mulai retak.

Entah bagaimana semua itu bermula, Ratih mulai berubah. Entah siapa yang mengubah perangainya. Gadisku yang manis berubah menjadi pemarah, betapapun aku berusaha tetap bersikap sabar dan tenang saat dia melakukan kesalahan.

Suatu sore, saat Teguh baru pulang dari pekerjaan sampingannya membantu gurunya sebagai pemandu wisata purbakala, aku bertanya apa yang harus kulakukan soal Ratih.

"Ibu harus lebih tegas padanya," jawab Teguh.

"Tegas bagaimana? Kamu lihat sendiri setiap ibu menasehati adikmu, dia malah membentak ibu."

Teguh mengerutkan alis. Raut serius yang sama dengan ayahnya saat memikirkan sesuatu. Ada banyak sekali hal yang berkelebat dari matanya. Aku menunggunya mengatakan semua itu. Kuharap apa yang dikatakan Teguh sama banyaknya dengan apa yang tersirat di matanya. Namun dia hanya mengatakan teka-teki seperti biasanya. "Kalau dia masih begitu, berarti ibu kurang tegas padanya."

"Bagaimana kalau kamu yang bicara pada adikmu?"

"Kalau ibu saja tidak mau didengarnya, apalagi aku, Bu. Bukan tempatku untuk menceramahinya."

Aku beralih mencari solusi pada Retno, berharap putri sulungku akan bisa memberikan saran yang lebih jelas.

"Ibu terlalu lunak pada Ratih. Sekarang ibu lihat kan bagaimana jadinya dia." Ada nada kecewa dalam suara Retno. "Nanti akan kutelepon adik, kucoba bicara dengannya."

Namun keesokan harinya, yang kudengar adalah suara Ratih yang marah-marah dari dalam kamar. Sesaat sebelum kesunyian menjelang, ada suara seperti ponsel yang menghantam lantai tegel dan pintu yang dibanting menutup.

Hatiku pedih mendengar amarah Ratih. Kemana perginya gadisku yang manis? Menghilang kemanakah pribadinya yang periang dulu?

Sayangnya kepedihan itu tidak berhenti sampai disitu saja. Suatu malam, Ratih pulang terlambat. Dia sudah pamit akan mengerjakan tugas kelompok. Mulanya aku tidak cemas, karena aku selalu mempercayai anak-anakku. Mereka anak-anak yang jujur. Tapi saat malam semakin larut, dan putri bungsuku belum juga pulang, kecemasan mulai menyergap dan menggaruk-garuk hati.

Aku mengirimkan pesan pada ponsel Ratih. Hanya ada tanda terkirim dan dibaca. Tapi tanpa balasan. Saat aku meneleponnya, bunyi dering panjang terdengar mengisi kekosongan. Alih-alih suara putriku yang menyahut diujung sambungan, suara operator mengabarkan kalau pemilik nomer tersebut sedang tidak bisa menjawab telepon.

Teguh sesekali mondar-mandir dari kamarnya ke ruang tengah, sembari menjulurkan badannya sejenak ke arah ruang tamu dimana aku menunggu adiknya. Aku tahu dia juga cemas, meskipun tidak mengatakannya.

Nyaris pukul sebelas malam. Saat Ratih pulang nanti, aku akan benar-benar memarahinya.

"Bu, Ratih pergi ke rumah siapa? Akan kucari," kata Teguh.

Aku menengadah pada putraku. Hanya dia yang bisa kuandalkan saat ini. Kecemasan ini menghimpitku begitu rupa, hingga sulit sekali untuk menahan agar suaraku tidak pecah oleh isakan. Sementara air mata sudah mulai mengaburkan pandanganku. "Adikmu pergi ke….."

Kata-kataku terputus, mengambang di udara dan terbawa angin malam yang menerobos masuk saat pintu dibuka.

Ratih masuk dengan sosok yang berantakan dan kumal. Rambut panjangnya tergerai dan acak-acakan. Ada lecet yang memerah di ujung sikunya. Dan dia menangis.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Ratih hanya menggeleng dan terus menangis.

"Katakan pada ibu, nak."

Ratih menangis semakin keras. Aku pun tak kuasa lagi menahan air mataku lebih lama. Aku memeluk putriku dengan erat. Berjuta prasangka buruk memenuhi benakku.

Di depan kami, Teguh bergeming, membisu seperti biasa. Namun tangannya mengepal erat, amarah membuatnya gemetar. Pemuda itu baru saja melangkahkan kakinya ketika sang adik merosot dan menahan kakaknya, memeluk kaki sang kakak dengan erat sambil menangis.

"Jangan, Mas Teguh. Ratih mohon."

"Sudah kubilang kan kalau dia itu bukan orang baik. Akan kubuat dia membayarnya," raung Teguh.

Seumur hidup, baru kali ini aku melihat putraku semarah itu. Aku tak mampu berkata-kata, terjebak antara menyetujui niat Teguh atau menyesali perilaku Ratih.

"Jangan, Mas," Ratih masih meratap di kaki kakaknya. "Ratih cinta dia."

Kalimat terakhir yang keluar dari ratapan adiknya membuat Teguh membeku. Saat itu, jelas terlihat di wajah dan sorot matanya apa yang dirasakan putraku. Kegetiran, kekecewaan, dan murka.

Lagi-lagi perpaduan rasa kelam yang tak terperi itu datang menghampiri, dan menghukum kesalahanku dengan teramat kejam. Aku sibuk kembali menelusuri benang waktu yang telah lalu, mencari-cari kesalahan yang membuatku harus meneguk pahitnya penyesalan. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Lama kurenungi takdir yang menimpaku. Menelusuri pola yang membingungkan, seperti mengamati jalur retakan-retakan di tanah yang kering saat musim kemarau, menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan.

Entah memang kesalahanku yang sulit dicari ataukah aku yang menolak kenyataan. Selama ini aku telah memperjuangkan apapun bagi anak-anakku. Memberikan cinta dengan sepenuh cinta yang kumiliki. Namun apakah cintaku tidak buta? Apakah caraku mencintai mereka telah ternodai keangkuhan yang membuatku sulit mencari kesalahanku sendiri?

Cinta mestinya membangun hal-hal yang baik dan indah, bukan malah menghancurkan. Kesalahan mana yang telah membuat Ratih yang periang menjadi gadis pemarah yang salah melangkahkan kakinya pada pergaulan yang buruk? Padahal selama ini aku sangat memperhatikan Ratih. Malah sebetulnya dialah yang paling kuperhatikan. Ratih yang merupakan cerminan diriku di masa muda, selalu membuatku cemas bilamana dirinya membuat kesalahan yang sama seperti pilihanku di masa lalu.

Kesalahannya memang tidaklah sama seperti pilihanku dulu. Namun sama fatalnya.

Aku menghibur diri dengan mengingat kalau Retno dan Teguh baik-baik saja. Tetapi bisikan kesadaran menghujamkan bilah kenyataan tanpa ampun.

Tidak. Mereka berdua tidak baik-baik saja. Aku telah mengabaikan Retno dan Teguh. Mereka mungkin tidak baik-baik saja seperti yang terlihat.

Retno tidak pernah menceritakan padaku masalah apapun yang dihadapinya, dia lebih memilih untuk berbicara pada bibinya. Bukankah itu berarti Retno lebih mempercayai bibinya daripada aku, ibunya?

Sementara Teguh menjauhkan dirinya dariku, jarang sekali berbicara. Dia tidak membicarakan masalahnya pada bibinya, padaku, atau pada kakaknya. Bahkan Retno sekalipun bilang mengorek informasi dari adik laki-lakinya bukan hal mudah.

Apa yang selama ini kuperjuangan dan kulakukan demi cinta ternyata memiliki begitu banyak lubang. Tuhan mempercayakan putra dan putri di bawah asuhanku. Namun tanpa sadar rupanya aku hanya memeluk salah satunya saja, dan mengasingkan dua lainnya.

Betapa megah kesalahan yang kulakukan demi cinta. Tak ada yang salah dengan cinta yang kumiliki. Yang salah hanyalah caraku.

Menelusuri jejak katastrofa cintaku pada diri anak-anak, aku pun meragukan kualitas diri ini menjadi seorang istri yang baik dan ibu yang baik. Masihkah surga mereka berada di bawah kakiku? []