Zan merunduk memperhatikan jalanan yang sangat sepi dari jendela gubuknya. Jalanan yang hanya dipenuhi 2 sampai 3 orang membawa barang dagangan, berlalu lalang.

Hidup macam apa yang hanya memperhatikan hal ini setiap hari?

Bosan.

Lalu Zan melihat Mama berjalan masuk ke dalam gubuk.

"Zan, mama pulang."

Zan menatap malas ibunya.

"Aku sudah tak tahan lagi berada disini," keluh Zan.

"Sst!" desis Mama. "Jangan bicara sembarangan, Zan! Bisa-bisa nyawa taruhannya!"

"Mati saja lah," kata Zan cuek.

"Ish!" Mama berjalan pergi ke dalam suatu ruangan di dalam gubuk itu. Mama tak tahan dengan omelan Zan serta ekspresi murung yang membuatnya bosan melihatnya. "Kalau kau bosan, sekali-kali bantulah papa bekerja!"

Ih! Negara macam apa ini!?

Anak-anak disuruh bekerja memenuhi kebutuhan pokok. Ya, aku tahu kalau menghormati orang tua dan membantu mereka adalah tindakan yang mulia.

Tapi Zan iri pada anak-anak di luar negara ini. Anak yang berusia 13 tahun sepertiku belum ada yang bekerja! Apa yang mereka lakukan? Bermain, berkumpul dengan anak-anak sebaya, biarlah orang tua bekerja sampai si anak berusia minimal 15 tahun.

Zan cukup muak melihat poster poster dan puja-pujaan besar tertempel di dinding warga, atau di tiang-tiang kota, mengenai sang raja. Sang raja agung Caisan.

Hahaha! Raja 'agung' apanya!? Tak ada yang dilakukannya demi kami!

Zan pergi keluar gubuk lewat pintu belakang, langsung menghadap ke ladang. Ayahnya mencangkul dengan topi bundar kayu. Tangan Zan lalu mengambil cangkul yang bersandar di dinding gubuk.

Aw!

Telapak tangan Zan terasa pedih saat mulai memegang gagang cangkul dari kayu itu. Rasa panas tersengat ketika menyentuhnya.

Zan masuk ke dalam gubuk lagi untuk mencari-cari kain supaya saat memegang cangkul, rasa panas itu bisa mereda.

Zan melilit kain itu dan memegang gagang cangkul yang sudah ditutupi. Kakinya melangkah menuju ladang untuk membantu Papa.

Belum juga Zan mencoba mencangkul, terdengar teriakan maskulin dari luar gubuk yang berbatasan dengan jalan.

"Apa itu!?" sahut Papa.

Zan mengikuti Papa berlari ke dalam gubuk dan membuka pintu. Cangkul Papa ditaruh di dinding dekat pintu.

Tampak 4 orang prajurit berseragam biru laut membawa busur dan panah.

"Siapa yang berdesis bahwa ia akan keluar!?"

Oh tidak. Itu kata-kataku kemarin.

Keduanya tak bisa berkata-kata, bengong, dengan tatapan kosong nan takut.

Papa berkata dengan suara bergetar. "Ku-kumohon, ta-tak ada sa-sa-satupun dari kami ya-yang me-menga-nga-ngatakan hal i-itu."

"Hm? Apa anda yakin?"

Papa mengangguk ketakutan.

"Apa ada anggota keluarga lain disini?" mata salah satu prajurit itu memandang ke arah Zan. "Anda?"

Zan merasa tak dapat mengeluarkan suara. Bisa dibuka, tapi tidak keluar suara. Hanya meneguk ludah. Matanya berusaha menjauhi pandangan prajurit yang mengancam.

"A-Apa?" ucapnya spontan.

"Apakah ada anggota keluarga lain?" tegasnya kembali.

Zan merunduk menatap tanah.

"Ada."

"Apa dia yang mengatakan itu?"

"Ti...tidak," kata Zan pelan. Tidak meragu, hanya takut.

"Baiklah."

Keempat prajurit itu pergi meninggalkan tempat. Setelah cukup jauh, Papa mulai menarik nafas.

"Zan, papa mohon kamu jangan membawa masalah."

Zan tidak berkata-kata. Ia bahkan tak tahu harus mengucapkan apa. Entahlah, campur aduk rasanya. Zan merasa bersalah atas yang diucapkannya kemarin.

Papa berbalik dan mengambil cangkul, bergegas menuju ladang.

Tapi masa aku harus pendam terus perasaan menyebalkan ini? Dalam rangka apa coba orang-orang di atas tidak memberikan kebebasan berekspresi?

Syut!

Mata sipit Zan yang masih berdiri di tempatnya membesar melihat sebuah panah melintas di depannya, tak berujung ke mana.

Kaget.

Bulu kuduk Zan merinding.

"A-?" sahut Papa spontan. Kemudian Papa terkesiap dan mencoba berlari ke ladang.

Spontan Zan juga mengikutinya.

Berada di tengah teriknya sinar matahari itu, tubuh Papa rasanya lemas dan tak kuat lagi untuk berlari. Kakinya bergetar, kemudian jatuh. Banyak keringat bercucuran di wajahnya. Zan segera menghampiri Papa, membantunya berdiri.

"Tidak usah," ujarnya getir. "Pergi!"

Zan merasa ketakutan. Gerakannya kaku. Masa harus kutinggalkan Papa?

"Ba-ba-bagaimana dengan Mama?"

"Tinggalkan!"

Tinggalkan?

"Pa, kenapa aku harus meninggalkan Mama!?"

"Sudah, pergi saja!" tangan kurus kering papa mendorong sekuat tenaga lengan Zan, meski tak kencang, tapi cukup mendorongnya sampai Zan nyaris terjatuh dan harus menjaga keseimbangannya.

"A-Apa!?"

"Mamamu..."

Sebuah panah mengenai punggung Papa hingga ia terjatuh dengan wajah di tanah. Seluruh tubuh Zan kaku.

"Pa!"

Tampak 4 prajurit dengan busur dan panahnya menghadap Zan dan berlari ke arahnya. Mencoba menangkapnya.

Maaf, Pa!

Kakinya refleks melangkah jauh dari ladang menuju hutan lebat. Tidak peduli arahnya ke mana, yang penting sekarang aku harus pergi, menjauhi tempat ini!

Neraka ini!

Zan terus berlari sampai otot-otot kakinya melemas dan tak kuat lagi melangkah. Zan berlutut mengambil nafas, dan beristirahat sebentar.

Sekarang aku harus mencari Mama. Tapi Mama di mana, apa dia masih bekerja di kantor?

Zan menengok sekeliling. Tidak ada tanda-tanda prajurit datang.

Syat!

Sebuah panah mengenai lehernya. Tenggorokan Zan terasa perih.

Zan memegangi lehernya yang terasa seperti terbakar itu. Matanya terasa tertarik untuk menutup. Ia coba sekuat tenaga menengok siapa yang menembaknya.

Samar-samar, tampak sesosok wanita berpakaian kulit panjang dengan busur di tangannya.

Belum jelas.

Tubuhnya jatuh. Kedua mata Zan tertutup dan tubuhnya tak bergerak lagi.

Sosok itu mendekati tubuh Zan dan menatapnya tajam dengan tajam.

"Zan, maafkan Mama. Tapi kamu kurang bersyukur hidup dipimpin Raja Agung Caisan. Raja sudah melimpahkan banyak hal langsung dari dewa. Mama harus mengurangi anggota keluarga supaya bisa bertahan."

SELESAI