Saat aku sedang mengetik ini, entah apa yang ia lakukan di tengah laut sana.

Bagiku ia adalah seorang teman. Salah satu orang yang penting dan berharga dalam hidupku. Seseorang dari sekian banyaknya manusia di dunia, yang menarik perhatianku. Orang yang selalu bertingkah sok misterius. Seorang masokis yang dengan senang hati menawarkan diri untuk di tendang, -dan demi apapun, tanpa diminta sekalipun, aku dengan sangat sangat ikhlas akan menendangnya sekeras mungkin.

Kalau orang bertanya bagaimana kami bisa saling mengenal, jujur saja aku tidak ingat. Tentu saja kami mengenal lewat media sosial, tapi aku tak tahu bagaimana kami menjadi cukup dekat. Dan entah bagaimana aku jadi mengandalkan dirinya untuk tempat bercerita. Padahal aku orang canggung yang terbiasa menyimpan segala sesuatunya sendiri.

"Karna aura kita cocok bu, kamu jadi nyaman cerita sama aku."

Tentu saja ia tetap orang aneh yang sok tahu dengan kemampuan anehnya. Dan tentu saja aku akan menyangkal segala teori-teori anehnya, walaupun kadang berpikiran sama. Dan lagi kenapa juga kami harus memanggil satu sama lain dengan sebutan 'bu' dan 'pak'? Entah siapa yang memulai.

"Coba injek bumi tiga kali dulu bu."

Orang super bodoh yang memberi syarat super kamvret saat akan bertemu, enaknya diapakan? Rasanya ingin teriak "BEGO!" di depan kupingnya. Ah, sekalian hadiahi jitakan keras di kepalanya juga boleh. Padahal sudah di depan mata, tapi malah cari mati mumpung sosok aslinya belum kelihatan.

Yah, kuakui, saat dia muncul dengan cengiran bodohnya, aku langsung merasa canggung. Karna dia? Tidak juga sih. Pada dasarnya aku orang super pemalu yang tengah membiasakan diri -atau memaksakan- untuk banyak berinteraksi, jadi bertemu secara nyata dan di media sosial itu sangat jauh berbeda sensasinya. Untuknya yang kurasa sering bertemu dengan orang lain mungkin biasa saja, tapi bagiku, jujur saja aku merasa senang. Memangnya berapa banyak orang yang ingin bertemu denganku secara langsung? Oh, hanya orang aneh yang ingin bertemu denganku secara nyata. Aku yang kaku seperti kanebo kering ini, dilirik pun sangat tidak penting.

Aku bukan pengingat yang baik, orang-orang sering menyebutku pikun, tapi aku setidaknya ingat beberapa perkataan bagus darinya. Perkataan yang terdengar biasa tapi memberi semangat -setidaknya untukku. Ia sebenarnya cukup bijak walaupun semua celotehan bijaknya diakhiri dengan ucapan bodoh bin kamvret. Karena sesungguhnya ia adalah orang kamvret yang -belagak- bijak.

Katanya orang bodoh itu sekarang sedang mengambang di tengah lautan. Salah satu hal yang membuatku iri padanya.

Laut itu sesuatu yang ingin ku sentuh. Laut yang bisa tenang dan mengamuk tiba-tiba, sesuatu yang kukagumi dan takuti secara bersamaan. Yang bahkan hanya dengan kulihat dan kubayangkan saja sudah bisa membuatku senang. Sekali saja dalam hidup, aku juga ingin berada di tengah lautan, menghirup aroma asin-nan-amis lautan, merasakan angin kencangnya menerpa tubuh dan menerbangkanku. Tapi aku tak seenteng itu hingga diterbangkan angin. Dan itu cukup mengerikan jika benar-benar terjadi.

Sedangkan dia disana, bekerja dan hidup di atas laut yang indah. Menertawakanku dan menggalau ria di tempat yang kuinginkan. Bahkan mengatakan ingin meloncat. Memangnya dia ikan? Atau duyung pria yang bisa bernafas dalam air?

Yang terakhir itu tidak pantas, karna orang itu akan merusak citra dan mitos indah para duyung. Ia sama sekali tidak seksi sebagai duyung. Lagipula kalau dia meloncat, bagaimana dengan janjinya untuk membawakan pilus saat ia kembali? Janji untuk menemani mencari buku yang pernah ia lewatkan dengan alasan ketiduran? Permintaannya untuk di tendang keras-keras saat pulang? Lalu siapa lagi yang mau mendengarkanku dan memenuhi notif whatsapp ku yang sepi?

Aku tahu ia punya rasa sakit yang belum hilang. Atau mungkin hanya dirinya yang kelewat baper? Apapun itu, semua orang punya masalahnya masing-masing. Dalam hal ini, kami punya sebuah kesamaan. Sama-sama pernah punya pikiran untuk mengakhiri hidup -kurasa, koreksi jika aku salah ya! Yang pasti ia pasti tengah memperjuangkan dirinya. Menyembuhkan atau menutupi lukanya sendiri. Ia tidak sendirian dan aku hanya ingin ia tahu itu. Aku akan selalu disini, mendengarkan, memberi semangat dan menghiburnya saat ia membutuhkan seseorang untuk itu. Seperti yang ia lakukan padaku selama ini. Karena ia salah satu orang yang penting bagiku.

Lalu, yang ingin ku ucapkan untuknya...

Selamat ulang tahun!

(Walau sudah lewat beberapa hari)

Berapa sih umurmu sekarang? Aku lupa... Pokoknya terima kasih sudah menjadi temanku. Terima kasih sudah peduli padaku. Terima kasih sudah menjadi orang kamvret yang sok bijak. Terima kasih sudah lahir di dunia.

Ngomong-ngomong orang sok bijak itu saat membaca tulisan ngaco ini, entah dengan ekspresi seperti apa? Tersenyum bodoh dan tertawa sendiri seperti orang gila? Atau malah terharu hingga meneteskan air mata?

Ah, terserah!

Yang manapun boleh, tapi jangan lupakan pilus internasional yang kau janjikan itu ya!

.

.

.

.

P.S. Aku tidak tahu apa yang ku tulis. Karena kau minta hadiah dan aku tidak tahu harus kasih apa. Dan aku bukan orang yang bisa langsung jujur, aku lebih suka mengungkapkan isi hatiku dengan cara ini. Lagipula aku harus mulai menulis lagi, kalau tidak kepalaku terasa mau pecah. Intinya? Masa bodoh! Meracau apaan sih aku ini?