| Ten years of story |

Pair: 0514

Rate: M

Category: Angst

Disclaimer: This is a work of fiction. Names, characters, places, events and incidents are either the products of the author's imagination or used in a fictitious manner. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.

Mood: Happy

Music: Adam Lambert – What do you want from me

Warning: Sexual explicit contents


Chapter 4: "I love you"


Lewat dua pertiga malam, pesta kecil-kecilan yang diadakan di rumah Midou resmi ditutup.

Setelah insiden permainan ou-sama yang melibatkan Kevin dan Saga tidak berakhir dengan baik—dimana setelah mencium Saga, Kevin sekonyong-konyong menarik diri dan kembali duduk seakan semua itu tidak lebih dari permainan dan meninggalkan Saga berdiri sendiri, membuat sang pemilik rumah pun memilih untuk menghentikan pesta mereka sebelum terjadi insiden lain yang tidak diharapkan.

Tentunya Midou yang sudah mengenal perangai Saga layaknya adik kandungnya sendiri sudah tahu betul seberapa jelek tempramen Saga, dan ia tidak ingin ambil resiko lebih lanjut.

Midou mengantarkan semua tamunya—tentunya minus Cylon yang menginap, ke depan pintu terasnya. Sambil memeluk bahu Cylon, ia berkata pelan, "Pada hati-hati ya pulangnya, udah malem. Jangan pada ngantuk terus nabrak tiang listrik."

Dari belakang Midou, terdengar Kevin mengumpat pelan.

"Wah, bangsat nih kan, disuruh pulang tapi gue jadi nggak bisa pulang karena mobil gue rusak."

Midou tertawa, lagi-lagi tanpa merasa bersalah.

"Udah makanya lo nginep aja. Ntar pagian dikit gue anterin pulang deh, gimana?"

"Nggak usah, lagian nanti gue malah mendengar desahan-desahan tidak diinginkan dari kamar lo kalau nginep!"

"Hahaha! Jangan mupeng gitu dong Te-chan, hubungan yang sehat berawal dari hubungan di kasur yang memuaskan tahu!"

"Bangsat, otak ngeres!"

"Halah, sesama ngeres dilarang saling menghina!"

Mereka berdua pun tertawa.

Seperti sebuah kebiasaan yang terpelihara dengan baik oleh waktu membuat umpatan demi umpatan yang terlontar di antara mereka hanya akan dianggap sebagai angin lalu. Dan, keduanya menikmati momen itu.

"Gue aja yang anterin lo, Kev." ujar Saga pelan, menawari. "Sekalian gue mau anterin Belle pulang. Gue kan udah janji mau mulangin dia."

Tawaran yang tidak diduga dari Saga sukses membuat Midou dan Kevin sempat tidak bisa berkomentar apa pun saking terkejutnya—termasuk Cylon yang dari tadi memang tidak berselera untuk memberikan komentar. Ketiga anggota Shinobi itu terdiam memandangi Saga untuk beberapa saat, dan masing-masing berusaha menebak motif dari prince of Shinobi yang tumben-tumbennya mengambil insiatif duluan.

"Just save yourself from the trip, I can order a taxi or perhaps Dave can drop me off? Lagian gue nggak mau ngerepotin lo." tolak Kevin halus.

"Non sense, it's not a problem for me at all. Beside, promise is a promise. I said I'll take her back to your place and I will."

"Nggak usah repot, nggak masalah kok nggak usah dianterin juga. Lagian Belle udah disini sama gue juga, jadi baliknya sama gue aja."

"Indeed, so like I said, I'll drop both of you to your place. In fact, I insist." ujar Saga sambil tersenyum, yang justru membuat ketiganya tambah ngeri meski tidak ada satu pun yang berani berkomentar. Dan seperti bisa membaca pikiran ketiganya, Saga kembali menambahkan, "Don't worry, I won't bite."

Untuk beberapa saat Kevin hanya terdiam dan memandangi wajah Saga, masih berusaha menerka motif Saga. Setelah menimbang beberapa saat, barulah Kevin setuju.

"Alright then, if you said so." ujar Kevin. "Bentar gue ambil baju gue dulu di dalam ya."

Saga menggangguk pelan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dave yang sedari tadi berdiri di dekatnya tanpa berkomentar. "Dave, gue bisa minta tolong sekalian antar Mao pulang?" pinta Saga, lagi-lagi di luar kebiasaannya.

"Sure Sha, I'll drop him off."

"Nggak usah, Ga. Gue bisa pulang sendiri kok. Lagian bentar lagi juga pagi, udah banyak taksi. Gampanglah, gue tunggu disini dulu terus nanti gue balik sendiri aja." tolak Mao masih sambil duduk di teras dengan rokok di ujung mulutnya. "Lagian rumahnya Dave nggak ngelewatin tempat gue."

"Ya kan bisa dilewatin," potong Dave. "Udahlah, nggak usah ada adegan tolak-menolak. When Sha said something, just do it, okay?"

Mao menghela nafas panjang, setuju pada poin terakhir Dave.

Ia pun beranjak bangun setelah mematikan putung rokoknya pada asbak yang terletak di atas meja.

"Fine then." ujar Mao pendek. "Bilangin Tenma gue balik duluan sama Dave ya." lanjutnya setengah pamitan pada Midou.

"Iya nanti gue bilangin." sahut Midou. "Lagian si Te-chan ngambil baju aja lama banget ya, buset deh."

"Gue balik dulu ya Sha." pamit Dave. Kemudian ia beralih ke pada Midou dan Cylon, "Gue balik duluan ya, bilangin makasih ke nyokap lo."

"Siap bos, sama-sama. Hati-hati ya nyetirnya."

Selepas kepergian Dave dan Mao, Midou melirik ke arah Saga yang sedang menunggu Kevin sambil setengah melamun. Menimbang kejadian yang baru saja terjadi di antara Kevin dan Saga, Midou pun merasa perlu untuk melakukan intervensi.

"Saga, mau gue aja yang anterin Te-chan? Gue ada mobil kok, dari tadi cuma becandain Te-chan aja. Lagian udah malam, lo balik aja kan besok kerja. Gue aja ya yang anterin?"

"Iya, lagipula tempatnya Tenma jauh dari tempat lo." tambah Cylon menguatkan argumen Midou. "Lebih efektif kalau Midou yang anterin."

"Nggak usah, nggak apa-apa kok. Cuma ngedrop doang kan sebentar."

"You sure you okay?"

"What?"

"You know—I mean, after all that? You sure you okay? if you are not, I can just drop him off, really. No big deal."

"If that's what you are worried about, you don't have to, really. I'm good."

"Sure?"

Belum sempat Saga menjawab, Kevin pun muncul dari belakang Midou sambil membawa pakaiannya yang masih setengah basah di tangan kiri sementara tangan kanannya menarik tali yang terikat pada kalung Belle. Anjing Alaskan Malamute itu pun menggonggong dari belakang seketika melihat Saga.

"Shall we?"


Sudah sekitar 15 menit berlalu setelah Saga dan Kevin keluar dari kompleks perumahan tempat Midou tinggal meunuju apartemen Kevin, dan selama itu pula lah tercipta keheningan absolut di antara mereka. Bahkan Belle yang biasanya tidak pernah absen menggonggong pun seperti tahu diri dan memilih untuk diam mengamati kedua pemiliknya yang membisu dari kursi belakang dengan telinga terkulai.

Sambil mengemudikan mobil, Saga melirik ke arah Kevin yang sedang menopang dagu dan melihat ke arah luar jendela—terang-terangan memberikan gestur tubuh tidak ingin berinteraksi.

"So what are you up to now?" tanya Saga memecah keheningan yang ada.

Kevin melirik ke arah Saga dan menatapnya tajam.

"Lo tahu kan satu-satunya alasan kenapa gue mau dianterin pulang sama lo supaya nggak bikin suasana di tempat Midou makin nggak enak?" tanya Kevin dingin. "So now let's just drop the bullshit and pretend that I'm not here. Besides, I don't really think that you ACTUALLY care what I'm up to." timpalnya lagi.

Saga sempat terdiam sebentar, menggenggam stir mobil dengan kencang lalu menarik nafas panjang agar tidak terpancing emosi, sebelum akhirnya kembali menyahut—meski matanya terfokus pada jalanan di depan.

"It doesn't have to be like that, you know? And I really DO care what you're up to, that's why I asked." sahut Saga pelan namun telak. Kemudian ia melirik ke arah Kevin sebelum akhirnya bertanya sekali lagi. " So, I asked you one more time: what are you up to now?"

"Really, what are you planning by doing all this?"

"It's called making a conversation."

Kevin menghela nafas panjang, lelah beragumen lebih lanjut dengan Saga. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan Saga.

"Well, same old, same old. I'm just living my damn life while waiting the sky to fall."

"Sounds poetic."

"What do you know about poetic? I thought you are allergic to gooey and romantic stuff."

Saga menginjak rem mobilnya ketika lampu merah menyala, kemudian menoleh ke arah Kevin, memandangnya asing. Sepanjang ingatannya yang nyaris tanpa cacat, ia tidak pernah memingat versi Kevin yang begitu menyebalkan seperti sekarang.

"Really, what's with you?" tanya Saga, tak habis pikir.

"What? You asked a question and I answered. Aren't you supposed to be happy?"

"Kevin," panggil Saga pelan namun serius.

Saking seriusnya nada Saga, Kevin pun menoleh tanpa syarat dan untuk pertama kalinya mereka berdua saling bertatap mata dalam durasi yang cukup lama.

"I don't know what the fuck is wrong with you, and I won't know unless you told me. But you being such an ass like this, without telling me what's going on, tis not helping at all. So please, drop this attitude."

Kevin mengalihkan pandangannya ke bawah sebelum akhirnya ia kembali memandang Saga.

"I have no intention to tell you what' going on with my life," ujar Kevin pelan, namun sebelum pernyataannya diprotes oleh Saga, ia kembali menambahkan, "But I'm sorry for being such an ass."

Saga menarik senyum simpul, kemudian kembali menginjak gas mobilnya seketika lampu hijau menyala.

"Apology accepted."

Dan untuk pertama kalinya dalam satu jam kebersamaan mereka, ketegangan di antara keduanya mencair.


"Turunin gue di lobby aja biar lo nggak repot." ujar Kevin pelan seketika mobil Saga mulai memasuki area parkiran apartemennya.

"Really Kev?" tanya Saga sambil mengangkat alisnya. "Gue bahkan nggak ditawarin masuk? Anjing, berasa supir aja cuma ngedrop."

"Lo mau masuk ngapain juga? Udah subuh, mendingan lo pulang aja."

"Not even offering me a cup of coffee?"

"You don't even drink coffee. And I don't have milk in my place."

"Don't be that cold, I won't kick your girlfriend's ass. Of course, that is assuming if you have one."

"—Well, atually I'm dating a guy now."

Pernyataan Kevin membuat Saga tanpa sadar menginjak rem mobilnya secara mendadak dan membuat Kevin hampir saja mencium dashboard mobilnya. Kevin yang terkejut—tidak hanya karena hampir terbentur dashboard namun juga karena melihat Saga yang langsung terdiam mendengar pernyataannya, pun buru-buru mengoreksi.

"I'm just joking, you know? Why you look so serious?" ujar Kevin, untuk pertama kalinya bernada jahil dalam beberapa jam terakhir kebersamaan mereka. "Yaudah, katanya mau mampir? Sekalian tunggu pagi aja, daripada lo ngantuk di jalan." ajaknya, mendadak berubah pikiran—entah apa pun alasannya.

Saga tidak lagi menyahut, dan hanya mengikuti Kevin turun dari belakang selesai memarkir mobilnya.

Sesampainya di depan kamar, Kevin pun mengambil kartu kunci kamarnya dan membuka pintu, mempersilahkan Saga masuk. Masih sambil mengunci mulutnya rapat-rapat, Saga pun melangkahkan kakinya masuk mengikuti Kevin.

"Lo tidur di kamar gue aja, gue di sofa. Sorry, cuma tipe satu kamar. And please don't mind my messy ro—"

Perkataan Kevin terpotong lantaran Saga mendorongnya jatuh ke atas sofa di ruang tamunya sampai ia terduduk. Tanpa sempat diberi kesempatan untuk merespon, Saga menundukkan kepalanya sembari meletakkan kedua tangannya pada sofa, dekat bahu kanan dan kiri Kevin—seakan memastikan agar yang bersangkutan tidak pergi kemana pun.

"Enjoying that, aren't you?" tanya Saga dingin. Matanya menatap lurus ke arah Kevin dengan tajam, "This is all just a game for you after all, huh? The kiss before, and now you are enjoying my reaction by jokingly said you date some fucking guy?"

Kevin tidak menyahut dan hanya menyimak satu persatu kata yang keluar dari mulut Saga.

"During the game, you said to me that it will be a problem if I'm feeling good," ujar Saga sembari mendekatkan wajahnya ke arah Kevin. "It'll be a problem if I got too carried away, cause after all it's just a game, right?"

Saga menatap lurus ke arah Kevin dan jarak yang diantara mereka semakin menipis.

"Well, in that case, let me remind you how good I can make you feel."

Tanpa sempat membiarkan Kevin bereaksi, Saga memiringkan kepalanya dan langsung mencium lembut bibir Kevin. Awalnya, yang bersangkutan berusaha menolak dengan mendorong Saga menjauh. Namun, Saga justru malah makin menjadi-jadi.

Saga menyelusupkan lidahnya masuk dan mulai mendominasi—sementara sebelah tangannya dengan sigap menurunkan resleting celana Kevin, mengeluarkan penisnya, dan mulai mengocoknya dengan irama teratur.

Ia mendorong Kevin ke atas sofa dan memposisikan tubuhnya di atas Kevin.

Lidah Saga menyelusup semakin dalam, mengadu dengan lidah Kevin. Awalnya. Kevin masih pasif dan cenderung berusaha mendorong Saga menjauh, namun semakin lama Saga mendominasi, Saga mulai mendapatkan respon dari anggota Shinobi kelima itu.

Lidah Kevin mulai mengadu dengan lidah Saga, dan ia menarik wajah Saga agar sang prince of Shinobi itu memperdalam ciuman mereka.

Tangan Saga pun bergerak ke atas dan ke bawah dengan tempo yang semakin cepat.

Saat kejantanan Kevin sudah mencapai ereksi maksimal, Saga menarik wajahnya menjauh. Namun sebelum Kevin sempat protes, Saga sudah kembali dan mengulum penisnya yang mengeras.

"Aah, f-fuck.."

Saga menjilati ujung penis Kevin perlahan, memainkan lidahnya disitu sebentar dan sesekali dengan gerakan memutar lidahnya mengenai uretra Kevin, sebelum akhirnya ia kembali mengulum penis Kevin utuh. Kepalanya naik turun dengan tempo perlahan.

Kevin pun tidak lagi bisa memberikan perlawanan. Tangan kanannya bergerak mengelus rambut Saga, sesekali ia mendorong kepala Saga agar dapat memberikan deep throat.

Saga menarik wajahnya ke atas, berhenti mengulum, lalu menggerakkan lidahnya turun perlahan dari ujung penis Kevin hingga mencapai sktrotumnya. Prince of shinobi itu menggerakkan lidahnya menjilati satu persatu testis Kevin sementara tangan kirinya bergerak mengocok penis Kevin yang mulai mengeluarkan precum.

"F-Fuck… S-Saga… Aah.. Mmh.."

Gerakan tangan Saga semakin cepat dan gerakan lidah Saga semakin menjadi-jadi. Saga pun menggerakkan lidahnya kembali naik dari pangkal penis Kevin menuju ujung kejantanannya. Dan tanpa peringatan, Saga kembali melumat penis Kevin utuh.

"Mmh! Aah—Nngh!"

Bertahun-tahun hidup bersama dengan Kevin—ditambah lagi dengan kebiasaan seksual mereka yang di atas rata-rata, membuat Saga sudah hafal reaksi Kevin di luar kepala. Ia mulai merasakan asinnya precum Kevin yang semakin lama semakin banyak, menandakan Kevin sebentar lagi akan mencapai klimaks.

"S—Saga…"

Tanpa perlu instruksi, Saga menggerakkan kepalanya naik turun semakin cepat, mendorong kepalanya semaksimal mungkin agar dapat memberikan deep throat untuk Kevin.

Tangan Kevin meremas rambut Saga, matanya menutup, dan ia tidak lagi bisa berkata apa pun lagi. Tanpa peringatan, Kevin pun mencapai klimaks dan mengenai wajah Saga.

Kevin masih memejamkan mata, dadanya naik turun dan nafasnya memburu. Ia menarik tangannya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Tanpa berkata apa-apa, Saga membiarkan Kevin menikmati momen itu.

Dengan punggung tangan kirinya, ia mengelap tumpahan sperma Kevin yang mengenai wajahnya, kemudian menjilatnya.

Masih di sofa dimana Kevin berbaring dan Saga berada di atasnya, prince of Shinobi itu pun kembali mendekatkan wajahnya ke arah Kevin. Dengan sebelah tangan, ia menarik paksa tangan Kevin yang menutupi wajahnya—membuat Kevin bertatapan dengannya langsung.

"Kevin," panggil Saga lembut. Ia pun kembali memiringkan kepalanya, namun sebelum berhasil mencium bibir Kevin, anggota shinobi kelima itu sudah keburu mendorongnya menjauh dan kembali menciptakan jarak di antara mereka.

"Enjoying that aren't you?" tanya Kevin, merepetisi pertanyaan Saga sebelumnya.

"What?"

"Lo senang ya bisa ngebuat gue kayak gini? Lo senang dapat pembuktian kalau lo masih bisa?" tanya Kevin dingin, namun terdengar lirih.

Belum sempat Saga merespon, Kevin sudah kembali menambahkan.

"You're enjoying this not because you want me, but just because you want to prove it to me that you actually can make me feel good. It may not be a game for you, but you're just taking a revenge on me, which is so much worse." tambah Kevin sembari beranjak bangun, kini duduk berhadapan dengan Saga.

Dengan sebelah tangan ia mengelus lembut wajah Saga yang masih kotor terkena spermanya. Mata mereka berdua saling bertatapan.

"How was it? To know that you are still able to play with my feelings?" tanya Kevin sambil menatap wajah Saga lurus. "After all, that's what you do best, right Saga?"

Rentetan kata yang meluncur keluar dari bibir Kevin tanpa intruksi menghunus tepat pada inti jantung Saga, mengekspresikan rasa kesedihan dan cinta yang mendalam pada saat yang bersamaan.

Tangan Kevin yang semula mengelus lembut wajah Saga pun turun dan mendorong bahu Saga pelan agar prince of Shinobi itu menjauh darinya. Namun dengan cepat, tangan Saga menarik kembali tangannya.

"I never play about this kind of thing, Kev," ujar Saga akhirnya membuka mulutnya. "You, of all people, should know, how serious I am about something like this."

"Don't fuck with me, Saga." ujar Kevin sambil menarik tangannya yang ditahan oleh Saga.

"You know I won't do that to you."

"THEN WHAT THE FUCK ARE YOU DOING TO ME RIGHT NOW?!" bentak Kevin, spontan membuat Saga tersentak. "Lo pergi sepuluh tahun tanpa bilang apa-apa, tanpa penjelasan apa-apa! Lo ninggalin gue sendiri dan bahkan itu bukan pilihan gue! Dan sekarang lo tiba-tiba datang lagi, tanpa peringatan. Terus lo sekarang ngelakuin ini ke gue. Mau lo apa?! Masih berani bilang lo nggak mainin gue?!"

Saga menatap lurus ke arah Kevin, menerima dengan pasrah emosi Kevin yang sudah terlanjur meluap.

Prince of Shinobi itu berkata dengan pelan, "I love you, Kevin. I still am."

Kevin mendengus geli kemudian menatap tajam ke arah Saga. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Saga dan berkata pelan setengah berbisik.

"You can't fall back in love with someone because you can't love the same person twice, because they are not the same person anymore." ujar Kevin perlahan, memastikan Saga menyimak perkataannya. "They were changed by the first time you loved them and they were changed by the first time you left them. So, when you lean close to me and telling me that you are still in love with me, make sure you are falling in love with me, not with the memories of me." tandasnya sebelum kembali menarik diri dan beranjak bangun.

Sebelum melangkahkan kakinya pergi, Kevin berkata pelan, "We are over, Saga. So stop pretending that we are not."

Saga tidak lagi berusaha menghentikan Kevin yang sekarang berjalan menjauh darinya.

Tatapan mata yang tajam serasa menghunus, sorot mata yang terluka dan kata-kata yang dingin. Mungkin saat ini perasaan Kevin memang sudah mengkristal, terlalu licin untuk digenggam, apalagi dimiliki.

Dan Saga sadar kini kristal itu baru saja tergelincir dari jarinya; jatuh, pecah dan berhamburan.

Mungkin Kevin memang benar, cerita mereka memang sudah lama usai.

Dan dalam kesunyian yang menginfeksi, Saga mencoba untuk berhenti menyangkal.

-To be continue-