慾望和激情 [DESIRES AND PASSION]

Dedikasi : teruntuk malaikat tanpa sayap yang menolongku di masa-masa tersulit, tanpa kata terucap di bibirku namun berupa tindakan sebagai ucapan terima kasih.

Disclaimer : untuk semua nama-nama tokoh di dunia nyata yang saya sebutkan di cerita pendek ini, khususnya Gustav Vigeland dan Teresa Teng yang menjadi tema dari cerita pendek yang saya buat.

Tema musik di cerita ini : Teresa Teng - 姑娘十八一朵花(A Girl 18 Years Old Is A Flower)

Latar cerita : Vigelandsparken, Frogner Park, Oslo, Norwegia

Rate : M


"The sexual drive is magnificient, sublime! It has been covered in darkness by misuse. What makes it so filthy in the eyes of the old is that nothing has been so defiled so slandered. I think it is a grand law of nature."

Gustav Vigeland


Aku bercinta denganmu dalam keremangan malam beserta terang rembulan yang menunjukkan cahaya dimana hati kita saling bertaut untuk mengucapkan sejuta kata cinta. Hatiku begitu terikat denganmu, aku ingin menyerahkan segala milikku hanya untukmu seorang. Tiada pria selain dirimu, aku mencintaimu sepenuh hatiku. Ingin aku merebahkan tubuhku ke dalam tubuhmu, Sayang.

Kuingin bercinta denganmu tanpa batasan norma-norma yang mengikat. Murni sebagai penyatuan cinta yang hakiki karena aku ingin bercinta dengan cinta.

Dari Chiang Kai-shek sampai Max Manus, dari Gustav Vigeland sampai Teresa Teng, dari Taipei sampai Oslo, dari Viking sampai Formosa.

Segalanya kau kusayang dan kucinta. Kubawa tubuhku ke sana, kucari seluruh diriku di tempat lain. Kugenggam kuat seluruh tubuhmu, mencecap aromamu dan kubiarkan belajar bagaimana persetubuhan alami dan suci.

Malangnya aku, aku lahir melalui cinta sekaligus kedagingan dan kebencian. Aku belajar bahwa hasrat dan cinta bagai api dan minyak. Akulah si gadis malang dari pegunungan dan lembah-lembah curam, korban pembodohan wanita berdada besar dan pria gagah perkasa. Cekoki aku bahwa takdirku sebagai perempuan hanya alat pemuas nafsu belaka tanpa suara, dijadikan pelacur jiwa tanpa sadar. Saat tersadar, semua sudah terlambat. Jiwa merusak, meruntuhkan benteng sebagai puing-puing.

.

.

.

Chiu Xiao Ling atau Aling bergandengan tangan dengan suami Norwegia-nya, Sverre Magnus Solberg, sambil mengelilingi Vigelandsparken sekaligus memperhatikan kumpulan anak-anak muda yang terkikik-kikik melihat kumpulan patung-patung telanjang yang ada di Vigelandsparken. Siswa laki-laki mendekati patung telanjang sambil terkikik meledek, mengeluarkan celetuk-celetuk jorok di telinga perempuan. Kedua siswa bertubuh tinggi iseng memegang payudara dan kewanitaan patung itu sambil berpose, pemuda pendek memotretnya dan terkikik campuran geli dan mual. Laki-laki di seluruh belahan dunia sama saja. Senang bercanda terkait seksualitas tapi malu dipraktekan.

Sebuah taman luas, dikerjakan oleh satu orang saja di jaman itu. Tak lain tak bukan adalah Adolf Gustav Thorsen atau Gustav Vigeland sebagai perancang dan pemahat utamanya. Penuh ketelanjangan, tepatnya menunjukkan kejujuran yang hakiki. Bibir Aling mengembang lebar, bukan karena ia berpikir jorok, melainkan terkagum-kagum. Lima tahun selama ia di Oslo, mungkin juga seterusnya, Vigelandsparken tempat teraman dan nyaman untuk melepas suntuk. Ditemani sorbet, tahun ini juga dengan suaminya yang merupakan wartawan dan penulis novel roman terkemukan di seluruh Norwegia. Ternyata masih ada orang yang menghasilkan karya keintiman sebagai sesuatu yang murni, bukan dipolitisir demi kepentingan tertentu. Komik-komik dari negara tetangga di asalnya mengajarkan perempuan tanpa cinta dan masih perawan itu menyedihkan lalu digambarkan betapa nikmatnya menyiksa diri demi cinta dengan penggambaran adegan seksual panas. Termasuk juga novel-novel.

Dulunya Aling menikmatinya sampai ia dikirim ke Oslo, lambat laun ia menyadari sesuatu yang salah tetapi ia belum mengetahui kesalahan apa yang ia dapatkan dari konsep tersebut. Waktu memanggil bak lonceng, Aling merasa kekeliruan besar telah mengecam pemikiran pendek soal seks dan hubungan. Fatal, sungguh fatal, pelan-pelan membangkitkan ketakutan terkonyol hingga serius.

Matahari menunjukkan seluruh sinarnya di musim panas, menyegat kulit para warga lokal dan turis. Aling mengenakan baju tanpa lengan warna putih, rok panjang berbahan lembut dan topi jerami berhiaskan bunga-bunga. Jenis pakaian yang sering ia pakai selama di Taipei, khusus musim panas. Matanya menyipit perlahan, melindunginya dengan kacamata hitam dan merangkul lengan Sverre.

"Coba aku seperti Gustav Vigeland, dari dulu aku merdeka dari pembodohan. Kalau tidak seperti Gustav Vigeland, aku mau menjadi Chiang Kai-shek atau Teresa Teng," gumam Aling. Pernyataan sungguh tak lazim bagi perempuan Asia pada umumnya, namun wajahnya serius sehingga Sverre mengangguk. "Umurku sudah dua puluh tiga tahun, umurmu sudah empat puluh satu tahun. Lalu aku benar-benar takut mencoba sebelumnya, sekarang aku sadar betapa aku tak sepintar dahulu."

"Wajar," Sverre menenangkan istrinya, memeluknya kuat. "Apapun impianmu serta alasanmu ke Oslo adalah anugerah bagiku. Soal pintar tidak pintar bisa dipelajari. Aku inginkan Aling sebagai Aling, bukan perempuan impian ala televisi."

Inilah alasan Aling mencintai suaminya. Ajaran tradisional mengajarkan perempuan harus tunduk di bawah kaki lelaki, ajaran yang semakin hari ditentang oleh perempuan-perempuan Taiwan, mereka memilih bekerja atau menjadi pelacur sekalipun daripada merendahkan diri mereka di bawah lelaki dan mertua sang lelaki yang buruknya selalu mengomentari kesalahan-kesalahan si perempuan. Sang Dewa menunjukkan jalan dan kesempatan Aling menjadi perempuan seutuhnya dengan cara berbeda. Persetan dengan kodrat, kodrat menyiksa perempuan dan saling membodohi satu sama lain. Pembatasan-pembatasan memicu penganiayaan fisik dan mental. Berangkat dari Taipei ke Oslo membawa segudang luka tak kasat mata namun bernanah. Kata-kata setajam pisau, dilontarkan balik, ia dituduh penjahat. Begitulah terus, sampai Taiwan semakin bertambah gedung pencakar langit lalu menggusur kekayaan alam yang ada.

Ia terpapar mengenai seksualitas sejak usianya empat belas tahun, melalui buku-buku basah sembunyi tangan dari temannya. Pertamanya nikmat, kecanduan dan ujung-ujungnya memicu perkelahian khususnya di saat ia ingin keluar dari dunia itu untuk mencari kemurnian sesungguhnya. Kemuakannya menguat, miskin realita, miskin pula moral sang pembuat di keseharian. Makian kotor dari mulut perempuan harus ia terima, sampai ia muntah dan hari demi hari ia skeptis akan cinta. Kepalanya menganggap kaum lelaki inginkan seks semata, perempuan itu alat seks dan pemahaman salah di kepala terus melekat. Melarikan takdir dengan menolak pemuda lokal yang menyatakan cinta kepadanya. Daripada ia sakit hati, daripada ia terjebak atau bernasib sama dengan buku-buku yang dibacanya. Mereka-mereka si penyuka, mayoritas mempunyai hubungan buruk dengan ayah, kakak laki-laki atau pemuda di sekitarnya. Relatif, ia mempunyai hubungan baik dengan laki-laki termasuk ayah dan kakak laki-laki tetapi ketakutan bukan sehari dua hari hilang.

Waktu ia baru tiba di Oslo, seharusnya ia menuju Grunerløkka, malah menyasar ke Vigelandsparken. Sempat jijik dan malu melihat patung-patung telanjang mulai dari menyusu, bercinta, melempar anak kecil, menari, berpelukan, memadu kasih dan segala macam bentuk keintiman memuakkan bagi mereka (itu mengherankan Aling, sungguh ia heran, ia mengagumi karya Gustav Vigeland sama dengan Edvard Munch tapi tidak bagi mereka yang merasa ahli peranjangan dan seksualitas). Lama-lama Vigelandsparken merupakan tempat favorit untuk sekedar minum-minum bersama sahabat Taiwan-nya yang berdomisili di Oslo sekaligus melempar lontaran kritik kepada pemerintah dengan bahasa ibu mereka.

Setahun lebih, kesukaan Aling terhadap Vigelandsparken tak kunjung berkurang. Selain karena apartemennya betul-betul dekat dengan Vigelandsparken dan bisa dilihat dari jendela kamarnya. Mulailah ia mencari-cari buku tentang Gustav Vigeland, buku-buku tua yang kebanyakan dikarang oleh Ragna Thiis Stang, sekalian juga membeli buku-buku Edvard Munch. Pikirnya toh ia tak akan lama-lama di Norwegia, bisa gila ia memikirkan biaya hidupnya yang sinting. Tak beda jauh dengan Tokyo dimana makanan dan barang-barang menggoda iman khususnya kaum pecinta animasi Jepang. Ia tak terlalu menyukai karya-karya Jepang, selain masalah historis antara Jepang dan Taiwan, murni kurang suka saja. Terlalu banyak produk dan hasil karya Jepang membuatnya bosan dan ingin mencari sesuatu yang berbeda. Barang-barang Jepang bisa lain kali, Jepang dan Taiwan hanya selemparan batu melalui pesawat sedangkan Taiwan dan Norwegia sangat jauh. Paling-paling ibunya akan menaikkan alis saat melihat tumpukan buku berisi gambar erotis ala Gustav Vigeland dan Edvard Munch. Ibunya jarang berkomentar, asalkan Aling bersikap baik dan manis di luaran maka tidak jadi masalah.

Sayangnya masalah bagi sok moralis. Dari jaman ke jaman, orang-orang sok moralis selalu ada. Tugas mereka adalah memberikan cobaan kepada orang-orang dan melempar kotoran. Padahal karya-karya Gustav Vigeland pun serupa dengan kesukaan mereka. Dunia memang aneh mengajarkan sesuatu, ada standar ganda karena jarang memberitahu alasan paling sebenarnya.

Kembali ke Gustav Vigeland atau Vigelandsparken. Kekaguman Aling terhadap Vigeland perlahan memaksanya menghapus pemikiran keliru tentang seksualitas. Namun di sisi lain, memunculkan kesadaran yang membersihkan otaknya dan menyadari ia telah menjadi korban pembodohan laki-laki bahkan oleh sesama perempuan. Dalam doa putus asanya, ia pernah menulis adegan seksual sebelum berangkat ke Norwegia. Doa berupa harapan sekaligus ketakutan.

"Berikanlah aku kemampuan seribu lelaki untuk berkuasa dan aku akan menggambarkan bagaimana hasrat bekerja, berikanlah aku kemampuan memandang seksualitas semurni Gustav Vigeland, bagaimana caranya dia menggambarkan persetubuhan dengan indah," itulah doa yang Aling ucapkan sewaktu kembali ke Taipei. Suaranya lirih, sedih luar biasa, "Berikanlah aku juga suami yang mencintaiku dan memerdekakanku dari semua ketakutan. Entah di Taiwan, Jepang atau Eropa. Aku ingin hidup jujur, menghantam semua pemikiran keliruku di masa lalu yang kemungkinan membunuh perempuan lain."

Salah satu karya Vigeland, Mann og Kvinne (Laki-Laki dan Perempuan), pria menggendong wanita dalam keadaan telanjang yang sangat seksual namun lembut. Si pria penuh sayang dan protektif terhadap wanita. Bayangan kepala Aling, pria itu membisikkan sesuatu yang menenangkan. Bagai gadis perawan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang pria. Ternyata ada seseorang yang diciptakan mengeluarkan keindahan melalui seksualitas, itu tak pernah terpikirkan. Seberapapun sering Aling membaca cerita-cerita seksualitas semasa remaja tetap saja ia melihat persetubuhan itu kotor dan menjijikan, tanpa mau memikirkan apakah mempunyai motif paling murni atau tidak.

Sang Dewa mengabulkan doa Aling. Sekitar dua setengah tahun lalu, Aling mengunjungi Vigelandmuseet (Museum Vigeland) dengan tiket sekitar 80 NOK (krone Norwegia). Di dalam museum terdapat sejarah sang kreator yang luar biasa, di tempat inilah ia bertemu Sverre. Pria Norwegia yang tidak terlalu menarik di pertemuan awal ini membuka percakapan yang membuat Aling bingung. Modus utama Sverre adalah pura-pura menyerahkan brosur yang terjatuh, Aling mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi namun Sverre mencoba membuka percakapan dan memberi kartu nama. Aling masih tak tergugah, sibuk mengeliling museum. Pelajaran sejak kecil, dilarang bicara dengan orang asing di tempat umum. Jangan menatap atau merespon, lelaki bisa salah paham dan berharap lebih. Seram, ia kerap mendengar berita pembunuhan dari laki-laki ke perempuan disebabkan cinta.

Tak kurang dari seminggu, ia berpapasan dengan Sverre di Vigelandsparken. Pria itu masih mengingatnya, Aling bertanya mengapa Sverre ingat kepadanya dan Sverre menjawab singkat.

"Karena suaramu sangat khas."

Itu jawabannya, pertama kali ada pria mengatakan hal demikian. Menilai dari suara, tidak melalui fisik. Sebabnya fisik Aling barangkali dimiliki jutaan gadis Taiwan lainnya. Pipi Aling memerah, padahal musim dingin sudah usai dan berganti musim semi. Kesan pertama tak selalu sama dengan kesan kedua, ketiga dan seterusnya. Sang Dewa mendekatkan keduanya dengan cara tak terbayangkan, cinta yang ia anggap mati ternyata tumbuh melalui Sverre. Masa lalunya sangat buruk, menyedihkan dan kotor. Ia diperkosa oleh pemahaman buruk yang mendarah daging sehingga ia sulit menaruh hormat terhadap dirinya. Ia berdoa kepada Sang Dewa untuk membersihkan jiwanya, jawaban Sang Dewa adalah Aling harus di Norwegia untuk menemukan dirinya yang paling sejati.

Jika cinta adalah jawaban dari penyembuhan hatinya, Aling siap menjalani dengan sukarela.

Cintanya terhadap Sverre membangkitkan permintaan lain, berlebihan memang atau terasa wajar baginya, adalah keinginan merayakan Tahun Baru Imlek bersamanya. Dipenuhi warna merah, buah jeruk, permen-permen enak berwarna-warni. Tarian naga yang menggeliat sepanjang jalan, arak-arakan dan teriakan kegembiraan. Mengenalkannya bersama keluarga besar Aling. Berangkat dengan benci dan ketakutan, pulang dengan cinta, kembali dengan cinta.

Cinta memang menimbulkan kepedihan, itulah sisi buruknya.

Aling beruntung belum terpuruk ke jalan kelam seperti banyak kenalannya.

Mengingat kisah hidup Gustav Vigeland sendiri, kerinduan bisa digambarkan melalui karya. Ada sebagian orang yang diciptakan bersuara melalui karya bukan melalui mulut, mereka tak berani melakukan dengan tindakan karena berbagai faktor namun jasa mereka tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bukankah di balik orang hebat, ada orang di belakang layar yang berjasa memajukan orang lain? Gustav Vigeland jelas bukan ayah yang baik, begitulah yang ia baca di buku biografinya, bahkan meninggalkan kedua anaknya dan istrinya demi karya-karyanya. Akar muaranya bahwa kehancuran ekonomi ayahnya telah mengubah sifat-sifat sejati yang harusnya dimiliki sang ayah. Termasuk saat Vigeland bertetangga dengan Munch di Berlin, hubungan mereka rusak karena memperebutkan wanita dan wanita yang diperebutkan memilih orang lain. Selesai masalah perempuan, mereka memilih jalan sendiri dan putus hubungan persahabatan. Cerita konyol yang serupa di Taiwan, hampir setiap hari ada berita semacam ini sampai Aling mengerutkan dahi. Kaum orangtua kerap lupa bahwa kelakuan buruk mereka di depan anak menyebabkan trauma tak disadari. Mungkinkah Vigeland sebetulnya rindu tapi sudah kadung malu, takut anaknya berpikir macam-macam. Semua orang di belahan dunia ini pengecut dan tidak punya nyali berhadapan langsung. Kekangan rasa bersalah, siksaan, trauma turut menghantam orang untuk maju melangkah. Sama saja dengan dirinya, ia enggan balik ke Taipei, sudah nyaman dan terlalu malas menghadapi fanatisme sempit dari kelompoknya terdahulu.

Setidaknya Vigeland tidak mengumbar klaim kesana kemari bahwa ia ayah yang baik bla bla bla . . . ia sudah sering mendengar klaim dari perempuan namun kelakuan sangat berkebalikan.

Ah, buat apa ia pikirkan itu lagi, intinya ia sudah bahagia dengan Sverre. Mau mereka mati sekalipun, Aling mana peduli. Macam mereka mau peduli dengan Aling saja. Lebih baik energinya ia gunakan untuk bercinta atau minum teh Assam sampai mabuk atau kemungkinan ia hamil.

"Memikirkan apa, Sayang? Sudah ribuan kali Aling ke sini, masih melamun saja."

"Kagum sekaligus menyayangkan. Ternyata di balik keindahan, terdapat banyak luka."

"Aling selalu menemukan hal-hal tidak terpikirkan di kepala orang kebanyakan, tapi itulah dirimu yang kucinta."

"Aku berpikir apa adanya saja," Aling mengelak ragu. Apakah itu disebut sebagai elakan, jelas Aling tak tahu karena prinsip Aling adalah mengungkapkan apa adanya dan terkadang ia tidak berhati-hati. "Tidak bermaksud sok tahu, tapi apa yang kulihat atau kurasakan atau kubaca secara seksama."

Sverre tertawa, tawanya mengandung ketulusan dan keramahan yang membuat Aling tanpa berpikir panjang menyerahkan hatinya untuk Sverre selama proses berlangsung. Ia tunjukkan cinta saat ia menyakini saatnya sudah tepat.

"Gustav Vigeland bukan ayah yang baik tetapi mampu menciptakan tempat seindah ini, jika Gustav Vigeland tidak punya hati maka aku tidak bisa menyukai karya-karyanya hingga aku menghabiskan uangku membeli biografinya. Aku tahu mana karya yang dibuat dengan ketulusan dan tidak. Banyak karya bagus di toko buku negara asalku tapi aku tidak bisa menyukainya, aku merasakan sesuatu yang aneh dari karya mereka dan itu menakutiku. Dugaanku benar lalu . . . sudahlah, jangan dibahas lagi . . ." gumam Aling, membalikkan kedua tangannya dan mondar-mandir di sekitar Monolith. "Perbandingannya adalah Lapangan Tiananmen, indah dengan warna merah menguar sekaligus seram karena tragedi mengerikan menari-nari di sana. Waktu itu aku belum lahir, aku lahir di tahun 1994 dan kejadiannya tepat dimana kakak laki-lakiku lahir. Ceritanya seram, beda dengan Taiwan yang aksesnya lebih bebas karena Tiongkok serba tertutup. Dengar-dengar pemerintah sana mencoba menghapus peristiwa Tiananmen tahun 1989."

"Aling lebih berpengalaman membedakan mana seseorang yang tulus dan mencari sensasi," Sverre mengangkat bahu. "Sayangnya aku tidak mempunyainya. Meskipun pola pikir semacam itu keliru tetapi Aling membedakan mana masalah pribadi dan karya kecuali tingkah laku membahayakan di sekitar."

"Jika aku tidak bisa, aku tidak akan memilihmu sebagai suami," Aling menutup bibir Sverre. "Aku jauh lebih peka karena logika dan hati selalu bertempur. Inilah aku, aku si serigala garang yang bisa melunak jika sudah menemukan belahan hati."

Sverre menggendong Aling, mengangkatnya tinggi-tinggi dan mencium bibirnya dalam-dalam. Betapa Sverre juga mencintainya, Aling perpaduan wanita terbaik yang Sverre temui. Kekritisan berbarengan dengan kelembutan, menangkap keindahan tersembunyi dibalik kekurangan dan masa lalu buruk Aling. Memalukan bagi bangsa Asia, sewajarnya bagi bangsa Barat. Aling malu karena ada kecacatan sistem di sana, bukan masalah budaya atau kodrat. Dialah wanita yang ingin Sverre lindungi segenap hati. Boleh saja keras kepala, ngotot, seenaknya dan macam-macam kata buruk menurut para pembenci tetapi di mata Sverre, Aling tetaplah polos dan murni.

"Kau menggoda atau melucu?"

"Keduanya."

Masih segar di ingatan Sverre, Aling memotong rambut panjang yang semeter menjadi pendek sebahu saat mereka bertengkar. Ditanya apa alasan memotong rambut, jawab Aling adalah ia bosan dengan rambut panjangnya yang semakin menyulitkan ia bergerak dan belajar. Ternyata sebab musababnya adalah pertengkaran yang menyebabkan Aling berpikir negatif. Di Asia Timur (umumnya Jepang), memotong rambut panjang sampai pendek merupakan tanda patah hati. Sejak saat itu, Sverre berusaha baik-baik dan menjelaskan duduk perkara bila tidak sependapat. Pertengkaran waktu itu disebabkan oleh kesalahannya sendiri yaitu main tuduh gara-gara cemburu. Kejadian itu sudah berlalu sekitar satu setengah tahun lalu. Syukurlah hubungan mereka bisa berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Susahnya menaklukan wanita Taiwan di depannya ini, gara-gara ketakutan menggila dan mendarah daging. Sepele namun ibarat menyimpan bom waktu.

"Jeg elsker deg [Aku cinta kamu], Sverre. Aku ingin sekali menyatukan seluruh jiwaku denganmu melalui berbagai cara yang kuanggap sebagai bentuk penyatuan cinta."

Bertemu dengan belahan jiwa, kiriman dari Sang Dewa. Di sini ia menemukan matahari terbitnya. Tanah yang selalu dingin di sepanjang tahun. Bagaimana cintanya muncul di balik ketakutan. Semua ketakutan yang menandakan Aling bukan seonggok daging mentah yang bisa diperlakukan sesuka hati. Ia merupakan wanita sekaligus manusia yang mempunyai berjuta hasrat murni dan daging. Nasib Aling mungkin tidak seburuk Gustav Vigeland atau Teresa Teng nantinya, keduanya meninggalkan cinta demi impiannya dan impian mereka merupakan hasil cinta yang dianggap tidak masuk akal namun mereka membutuhkan cinta dan tertuang ke dalam karya-karyanya. Sepanjang sejarah, karya yang selalu dikenang adalah karya yang menggunakan hati dan memilin proses begitu lama bahkan mengorbankan sebagian diri mereka termasuk kehidupan yang diimpikan orang-orang.

Mereka berciuman mesra. Selalu dan selalu seperti kali pertamanya. Ia ketakutan bak anak kucing yang tersesat, berapa banyak literatur erotis yang ia baca termasuk kisah erotis kacangan di masa remajanya dan ia sesali, tetap ia ketakutan saat memadu kasih dengan sang suami. Ada perasaan dosa dan malu, itulah kewajaran, membuktikan praktik dan teori berbeda satu sama lain. Aling takut jika persetubuhan itu mengundang nafsu kasar dan kebinatangan termasuk dari sang suami. Namun ketakutan Aling luruh, cinta diatas nafsu benar-benar ada dan bukan cerita omong kosong. Ia bersatu dengan sukarela, penuh hormat dan kasih. Meskipun ia ketakutan namun ia mempercayai Sverre sebagaimana ia mempercayai Sverre betul-betul mencintainya setulus hati dan menginginkan hati di atas tubuh. Ia mengikuti instingnya, mengalahkan pikiran buruk yang ternyata tidak terbukti.

Meniru patung Vigeland, seorang wanita dan pria menyatukan tubuh sembari dihiasi oleh sinar matahari di dalam museum. Oh, Aling suka diperlakukan semacam itu oleh pria yang mencintai dan dicintainya. Baginya bercinta merupakan kemurnian dan kesakralan terlepas ikatan pernikahan atau bukan. Tubuh yang menyatu, bibir saling menempel dan berucap kata-kata cinta, menembus ketidaknyamanan di awal demi terbukanya gerbang cinta dan kepuasan masing-masing demi cinta.

Itulah cinta. Pengorbanan kepada sosok yang tepat. Bercinta oh bercinta, senikmat itukah rasanya setelah kesakitan.

Di sela-sela pergulatannya, Aling gembira sekaligus mengutuk. Dasar setan orang-orang yang menganggap perempuan tidak boleh merasai cinta dan hasrat, termasuk yang mengajari perempuan harus siap ditiduri termasuk oleh suami. Orang-orang yang membuat ia dan orang lain menganggap diri mereka sebagai benda tanpa harga dan rasa. Beginikah rasanya cinta dan persetubuhan yang berjalan bersamaan dengan penuh kepercayaan?

Andai ia sudah mengerti haknya sebagai manusia, terutama, ia akan berteriak ke seluruh penjuru kota Taipei bahwa ia dibodohi dan semua membodohi perempuan-perempuan sebagai aset lelaki. Ia kutuk juga komik-komik remaja tidak berbobot dari negeri Matahari Terbit yang meracuni remaja-remaja muda juga orang-orang yang meracuninya membaca hingga kecanduan lalu otaknya menjadi rusak. Antara ia menyesal tidak mengatakan tidak atau ia bersyukur proses itu pernah ada sehingga ia menjadi sosok yang memahami orang lain termasuk benda terlarang tetapi selalu melekat sepanjang waktu.

Ia diciptakan berharga, kuat, bahagia, indah dan menentukan takdirnya sendiri. Umpatan kasar yang memalukan sebagai perempuan hanya sekedar umpatan, bukan dirinya yang sebenarnya, kedalaman hati manusia jelas tidak ternilai. Manusia dilahirkan penuh benci, tidak sesuci apa yang ia pikirkan sesungguhnya. Ia adalah ia, memandang hari-hari depan penuh tantangan dan kebahagiaan. Cintanya semakin kuat, seindah bunga matahari dan semeriah geliat tarian naga di Tahun Baru Imlek. Setelah bergulat pertama kalinya, Aling memberanikan diri bertanya kepada sang suami.

"Mengapa Sverre perlakukan aku lembut?" tanya Aling malu-malu, menutupi seluruh kulitnya dengan selimut tebal. Bibirnya meringis pedih sekaligus terlonjak. "Aku sakit sekaligus geli, aku kesulitan menggambarkan ini . . . maaf . . ."

"Itu karena . . . kau istriku dan satu-satunya wanita yang kucintai dan aku tidak ingin menyakitimu apalagi memaksamu. Maaf, aku sudah menyakitimu atau bahkan sudah memaksamu tanpa sadar. Lain kali tidak akan kuulangi, aku bersumpah sampai mati."

Aling merapati suaminya, masih tertunduk malu dengan gelenyar aneh yang bisa dipicu melalui cerita-cerita erotis menggoda telinga dan mata termasuk patung-patung yang menggambarkan ketelanjangan. "Aku betul-betul tersanjung dengan ucapanmu, Sverre. Akan kuingat selalu."

Kelopak-kelopak bunga yang tersebar di sekitar wilayahnya, takluk tanpa daya saat sesosok kuat dan penuh cinta datang ke dalamnya. Luruh atas keramahannya, pintu terbuka perlahan-lahan hingga disambut dengan terbuka. Pandangan mata yang memujanya penuh damba, segenap cinta dan penaklukan lembut untuk memilikinya secara permanen.

Lalu Aling melanjutkan, ditatapnya mata Sverre dengan berani. Aling menghormati Sverre tanpa paksaan, ia akan melakukan apapun demi Sverre karena Sverre telah melakukan hal yang sama untuknya. Cinta seyogyanya diletakkan di tempat sesungguhnya. Ia bukan korban pembodohan atas nama cinta, hanya mengerti bahwa pengorbanan cinta tidak boleh diberikan sembarangan. Dengan pria-pria manapun yang mencoba merayu dan mendekatinya, susah memberi cinta untuk mereka. Mereka yang sesuai dengan gambaran novel dan komik idaman kaum perempuan, dulunya ia sukai, sekarang betul-betul tidak berhasil menggugah hati Aling. Kerinduan Aling merupakan suami yang mencintainya dan mengerti Aling luar dan dalam. Tempat berbagi cerita dan kisah di kala suka dan duka, mengucapkan janji suci di altar maupun kuil atau dihadapan Yang Berwenang.

Pernikahan adalah jalan keluar penyatuan cinta, bukan legalisasi seks semata. Aling menerima lamaran Sverre murni atas dasar cinta, cintalah yang membuat Aling bersama Sverre bersusah-susah mengurus dokumen pernikahan di masing-masing negara. Pengorbanan cinta yang membuatnya menangis berdarah-darah, suaminya selalu membantu dan menyemangati di sela-sela kesibukan.

Terkutuklah orang-orang yang menyepelekan pernikahan dan menganggap paling hebat.

Dulunya Aling berniat menjadi perawan tua daripada berakhir sebagai ibu yang buruk atau bekerja di benua seberang demi aktualisasi diri sebagai wanita. Tapi Dewa sudah menggariskan takdir lain kepada Aling, di sinilah ia bertempat.

"Tidak pernah kusangka aku bisa melakukannya denganmu. Kupikir aku tidak akan pernah mampu, aku mencoba karena dorongan cintaku terlalu kuat, Sverre."

Bersama Sverre, nostalgia cinta yang mungkin pernah ia dambakan di masa remajanya, menjadi nyata dalam bentuk lain. Mampu menyembuhkan luka dan angkara murka di hati, mempercayai ada cinta setulus merpati selain dari tubuh.

"Aku akan mengikutimu kemanapun Aling pergi, mendorong Aling maju dan memberikan Aling kebebasan sebanyak-banyaknya. Kebahagiaanku adalah dimana saat impianku dan impian Aling sama-sama tercapai."

Arloji menunjukkan pukul delapan malam, matahari belum mau terbenam dan sepasang suami istri belum mau beranjak. Mereka masih terfokus dengan ekspresi cinta yang luar biasa, mengabaikan beberapa pandangan geli dan curiga terhadap mereka. Tangan Aling refleks menyentuh perutnya, tersenyum sendiri dan Sverre menangkap gerakan istrinya sebagai pertanda.

"Mungkin anak perempuan," celetuknya. "Aku suka anak perempuan maupun laki-laki. Asalkan itu darimu, Aling. Aku ingin selalu bersamamu meskipun tanpa anak sekalipun."

Seumur hidupnya, anak laki-laki dipandang berkah terutama di lingkungannya. Namun bayangan pertama soal anak maka ia mengidamkan anak perempuan yang kuat dan sehat. Ia tidak pernah membayangkan anak laki-laki di dalam hidupnya. Anak perempuan perkasa melebihi ibunya, sekuat pohon kelapa dan pemberani daripada cantik. Kecantikan mudah dibentuk, keberanian teramat sulit dan ia tidak sempat melakukannya sejak kecil. Berkali-kali ia menyakinkan dirinya sangat beruntung dan diberkahi segala Dewa. Kesempatan yang ia miliki belum tentu dipunyai teman-teman sebayanya.

.

.

.

"The two bodies press convulsively together, man and woman, he fertilizing her, he giving her a budding life, or he planting a seed, a seed of life in her womb – Oh God, I think this God-given idea is so enormous, so eternal, so endlessly wise – that people should not be allowed to depict it in art."

Gustav Vigeland

|END|


Keterangan :

1) Teresa Teng (Dèng Lìjūn) adalah penyanyi asal Taiwan yang meninggal di usia yang sangat muda yaitu usia 42 tahun pada tahun 1995. Sosok dan lagu-lagunya dikenal luas di Taiwan maupun Asia Timur. Ia telah menyanyikan lagu-lagu ke berbagai bahasa. Beberapa lagunya yang terkenal yaitu Tian Mi Mi dan The Moon Represents My Heart.

2) Chiang Kai-shek (31 Oktober 1887 - 5 April 1975) merupakan pemimpin politik dan militer Tiongkok di abad ke-20. Dikenal sebagai jenderal yang tegas, terutama saat perang melawan Jepang. Chiang Kai-shek tidak bisa dipisahkan dari Taiwan dan orang Taiwan mengibaratkan Chiang Kai-shek bagaikan dewa karena berkatnya, pembangunan di Taiwan maju pesat.

3) Max Manus (9 Desember 1914 – 20 September 1996), nama lahirnya adalah Maximo Guillermo Manus merupakan pejuang sekaligus pahlawan saat Jerman NAZI mulai menduduki Norwegia dengan cara melakukan sabotase terhadap tentara Jerman. Tergabung ke dalam Gerakan Perlawanan Norwegia demi merebut kembali Norwegia.

4) Teh Assam merupakan teh hitam yang berasal dari kota Assam, India. Popular di Tiongkok daratan dan Taiwan.