28. Tapperhet | Bravery


"Mama! Papa! Paman! Ayo cepat!" Fenja melompat-lompat, hampir menginjak kaki Gustav. "Kita sudah sampai di Mandal, ya?"

"Fenfen injak kakiku terus!" keluh Gustav, menyingkir dari Fenja. "Minggir kalau masih menginjak kakiku!"

"I have a pen, I have an apple—uh—Apple-Pen—" Zhang Wei dan Wei Xin menggoda si kembar. "P-P-A-P-"

Anak-anak semangatnya tak putus-putus. Begitu juga dengan anak muda. Zhang Wei dan Wei Xin diajak oleh Sverre bergabung untuk berlibur ke Mandal, kota kecil yang berada di bagian selatan. Wei Xin sudah pindah dan bekerja di Kopenhagen sejak setahun lalu, Zhang Wei tetap di Oslo. Ternyata adik kembarnya bisa melepas ketergantungan dan memisahkan pribadi mereka dengan melakukan pembedaan. Zhang Wei dan Solveig berpacaran, setelah pertarungan panjang memperebutkan Solveig sejak menetap di Oslo. Solveig mau-mau saja dengan bocah-bocah penyuka hentai, pikir Aling heran. Lama-lama pikiran Aling keliru, semakin cocoklah keduanya. Solveig tegas, Zhang Wei humoris.

Minggu depan Aling sudah mulai bekerja, si kembar dititipkan di tempat penitipan anak agar mereka bisa memiliki teman bermain dan Aling fokus bekerja. Sebuah perusahaan Norwegia bekerja sama dengan Taiwan, dua keuntungan didapat Aling yaitu bahasa Mandarin terpakai lagi dan bertemu dengan sebangsanya. Kadang ia sebal dengan mentalitas mengurusi privasi tetapi rindu juga. Puas-puaskan berkeliling dan melakukan apa yang Aling inginkan, menyelaraskan dengan keinginan anak.

"Ada banyak pantai, juga kampung halaman Gustav Vigeland kesukaan Mama kalian," Sverre bercerita, mengangkut tas Kånken anak-anak mereka. "Mama kalian takut berenang di laut, bantu Mama kalian agar tidak takut lautan."

"Siapa bilang aku takut, Sverre? Ayo kita jalan menuju Pantai Sjøsanden, aku anak utara yang tidak takut dengan lautan. Jangan hari ini, melainkan besok. Museum Mandal dan Rumah Vigeland sudah dekat."

Wei Xin dan Zhang Wei mengerti mengapa kakaknya takut berenang di laut. Kesalahan si kembar, menenggelamkan kepala kakaknya demi mencapai dasar laut sewaktu usianya lima tahun. Hampir mati kehabisan nafas.

Langkah mereka sudah dekat dengan Museum Mandal dan Rumah Vigeland, gedung bercat putih berhias taman bunga indah bertumbuh sesuai musimnya. Museum Mandal dan Rumah Vigeland bergabung satu kesatuan menjadi Vest-Adger Museet (Museum Vest-Adger).

"Wei Xin, tolong potret kami berempat!" perintah Aling, menyerahkan ponsel berkamera. "Arahkan gaya kami, supaya terlihat bagus!"

Kebiasaan Asia belum hilang-hilang juga, batin si kembar bersamaan. Wei Xin dan Zhang Wei sebagai fotografer dadakan, membantu keluarga Solberg alias iparnya, demi sepiring makan gratis dan bersenang-senang di luar kota.

"Mau foto di depan gerbang Rumah Vigeland?" tanya Wei Xin. "Kami potret, lebarkan senyum kalian!"

"Jalan-jalan di sekitar sini. Biarkan anak-anak masuk ke Museum Mandal."

Museum Mandal memperkenalkan pameran terbesar tentang jenis-jenis ikan. Ikan-ikan di seluruh dunia, tentu saja. Gustav dan Fenja melihat takjub, begitu juga ibunya. Benda-benda melaut tua, aromanya apek, menguarkan aura mistis bagi perempuan keturunan Asia, mengingatkan Aling terhadap gedung tua di Taipei. Sejam setengah sudah dilahap seisi museum, anak-anak harus menghirup udara segar di luar. Benar, keduanya senang berkawan bersama bunga-bunga indah bermekaran. Ada warna merah, kuning, ungu, hitam, pink dan lain-lain. Beragam jenis bunga dikenalkan kepada anak-anak. Sesudah puas bermain, mereka berjalan ke arah Rumah Vigeland tidak jauh dari Museum Mandal.

Rumah Vigeland terpampang jelas-jelas dalam papan transparan bertuliskan Vigeland Hus, menancapkan bendera Norwegia di atasnya. Aling, tidak ketinggalan, meminta saudaranya memotret mereka. Kecil, persis rumah-rumah jaman dahulu, tempat Vigeland bersaudara—Gustav dan Emanuel— tumbuh kembang.

"Kebanyakan foto-foto kakak daripada Paman Sverre dan keponakan," celetuk Zhang Wei, mengembalikan ponsel Aling. "Terakhir kuingat, ada banyak ayam-ayam di kandang dan sedang bertelur. Masih ada tidak?"

"Mari kita lihat," Aling menuntun si kembar. "Aku juga mau melihat ayamnya."

Sebelum masuk ke Rumah Vigeland melihat semua isinya, mereka mendatangi kandang ayam. Ayam-ayam dinamai sesuai nama mantan istri atau wanita yang dekat dengan Gustav Vigeland yaitu Ingerid, Inga dan Laura. Selain Rumah Vigeland, tentu saja hewan-hewan ternak adalah tontonan menarik. Zhang Wei berkata ia membayangkan daging ayam panggang atau ayam berbumbu Nanking sedangkan Wei Xin menginginkan daging ayam rebus dilumuri bawang putih cincang dan saus bawang putih. Aling mendadak lapar, besok atau kapan ia memasak hidangan ayam dengan bumbu tidak terlalu pekat.

"Mama! Mama!" Gustav memanggil Aling. "Kapan kita masuk?"

Kedua anaknya lincah bergerak. Langsung membimbing kedua anak dan suaminya (si kembar boleh menunggu di luar kalau malas masuk ke dalam), patung bersosok Gustav dan Emanuel Vigeland juga karya-karya lainnya menghiasi taman. Vulgar bagi standar Taiwan, apalagi ditunjukkan ke anak sekecil kembar Solberg, ini di Norwegia dan tidak ada masalah. Daripada dilarang, semakin menjadi-jadi lalu menimbulkan bahaya serius seperti perkosaan.

Disambut ramah oleh seorang wanita, menjelaskan sejarah Rumah Vigeland. Zhang Wei dan Wei Xin setengah mati bosan mendengarkan penjelasan soal Gustav Vigeland atau apalah. Sama bosannya tinggal di apartemen menghadap patung-patung di Vigelandsparken. Pikir mereka, bagaimana jika patung itu tiba-tiba bergerak dan mengejar mereka saat mengantuk atau mabuk berat. Kembar Chiu penggemar berat film horor, setelah itu terkencing-kencing dan tidur tidak mau terpisah. Jendela ditutup rapat sebabnya melihat Monolitten tinggi— dimana imajinasi si kembar terlalu liar—melompat ke kamar mereka dan mengganggu tidur mereka, mengganggap sebagai serial killer.

Rumah Vigeland, memang betul-betul berhawa rumah, diperkenalkan tempat Vigeland bersaudara bayi beserta kasur bayinya. Ruang kerja mebel ayah mereka. Kayu-kayu, peralatan dan mesin tua terawat baik. Di sudut ruangan lainnya, patung seorang wanita berambut ikal dan rambutnya terikat di belakang, membantu Gustav Vigeland selama dua puluh tahun. Nama wanita di patung itu bernama Inga Syvertsen. Hubungan mereka—sejauh yang bisa ditangkap Aling—asisten Vigeland. Entah ada romansa terlibat atau tidak, hanya mereka yang tahu.

"Adik-adik mau mencoba prakarya di sini?" tanya nona muda berambut pirang. "Hanya 30 kroner saja. Membuat papan kayu bergambar."

"Boleh ya, Mama? Papa?"

Urusan merajuk, Fenja ratunya. Mata hitamnya memperhatikan Aling dan Sverre berwajah datar-datar saja lalu bergantian memandang Zhang Wei dan Wei Xin, diharapkan pamannya juga mau memberi kebaikan.

"Silahkan," jawab Sverre, menirukan istrinya. "Jarang-jarang pergi ke Mandal."

Senyuman Fenja dan Gustav mengembang lebar. Fenja sudah menunjukkan bakat merajuk demi mendapatkan keinginan sekaligus pembangkang sedangkan Gustav lebih perasa dan memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Prediksi Aling, nantinya Gustav tunduk kepada Fenja.

"Sverre, Wei Xin dan Zhang Wei! Aku mau berbelanja cinderamata, sejam lagi baru kembali. Jaga anak-anak," Aling melambai-lambaikan tangan. Gerakan lincah gemulainya keluar dari ruangan, melangkah bersemangat. "Sampai nanti."

Mampir ke Rumah Vigeland sekalian memperkenalkan kesenangan Aling kepada anak-anaknya. "Biarkan saja dia," Zhang Wei berkomentar. "Sementara kakakku pergi, kita mengawasi si kembar. Melihat anak-anak menyenangkan sekali mempunyai anak, Paman Sverre."

"Kau bisa terpikir soal anak juga?" tanya Wei Xin terkejut. "Lama-lama pemikiran kita berbeda. Kakak kita berdua, memang istimewa dan limited edition. Ketika sudah bertekad berdedikasi maka menunjukkan kesetiaannya."

"Aku setuju dengan kalian."

Sverre menggumam dan merenung. Sejak lulus kuliah, Aling selalu mengurus anak-anak sambil mencari pekerjaan kesana kemari. Jiwa Aling sebagai perempuan mandiri, terganggu bila Sverre menghidupi semua keuangannya kecuali kepentingan kembar Solberg. Memberi ruang menikmati waktunya sejam saja tanpa dibebani anak-anak. Buku karangan Aling berjudul Geliat Cinta Gustav Vigeland, Tarian Naga dan Jantung Ibu dengan Verena Cassese-Chen sebagai ilustrator, mewakili nama masing-masing. Verena ilustrator hebat di mata Sverre, sebentar berpindah ke gaya manga lalu realis lalu kartun meskipun bukan lulusan jurusan seni melainkan berkaitan hubungan internasional. Sampul karya pertama Aling berwarna pastel lembut, wanita bertelanjang bulat sedang memeluk bayi. Aling mengubah rencananya, menjadikan bukunya sebagai buku bertema dewasa.

Dari tulang-tulangmu, di monumen mahakarya Gustav Vigeland

Kau menghilang, ditelan bumi

Besoknya jiwamu mati, dikekang oleh segala kutuk

Demi Surga dan Neraka,

Jeratan setan itu menempel di pundakmu

Padahal sejatinya itu suci

Besoknya kulihat kau meninggal dengan senyuman di bawah patung Mann og Kvinne

Ironis,

Aku baru mencintaimu

Andai aku mengenalmu sebelum jatuh ke jurang

Puisi karya Aling, paling diingat Sverre. Kisah sepasang anak manusia yang berpisah, berbeda nasib akhir yang tragis. Wanita polos terjerumus ke dunia seks berkat cerita pembodohan dan terjun dengan sebagai pelacur. Pengarang cerita pembodohan mencela si wanita sebagai perempuan nakal. Sebuah ironi menjijikan, disentuh Aling dengan sangat baik.

Tawamu kemenangan di awal

Bangga sudah menyingkirkan

Akhirnya kau menangis pedih

Menyayat hati

Sampai-sampai rimbanya tak terdengar

Halaman-halaman lain menuliskan surat kasih untuk Gustav dan Fenja yang waktu itu masih berada di perut. Menangkap ketakutan di hati Aling, belum sempat terselami oleh Sverre, apakah ia menjadi ibu yang baik atau tidak? Berguna bagi bangsa atau negara atau parasit? Berlebihan? Tergantung sudut pandang. Apapun yang berlebihan, sebetulnya dirasakan banyak orang. Kisah cintanya dengan Sverre dituang dalam bentuk puisi esai, antara Taiwan dan Norwegia, jebakan setan dan tema-tema tidak tersentuh. Tema cerita keseluruhan tentang cinta, ketakutan, ambisi, kehilangan dan kemerdekaan. Untuk ukuran pemula, Aling termasuk hebat dan meresap ke hati. Laku keras di toko buku, paling dicari di seluruh Skandinavia dan penuh warna. Aling mencurahkan pikiran dan tenaga, juga hati dan keberanian untuk menulis semuanya.

Sverre bangga mempunyai istri berani daripada istri manis dan baik-baik di depan tetapi busuk di belakang.

"Selesai juga belanjanya!" seru Aling, membawa kantong kain bergambar Angry Boy. "Hari ini aku boros, besok-besok jangan lagi! Kapan lagi berangkat ke sini!"

Aling menunjukkan belanjaannya. Tiga bungkus alat merajut taplak meja bermotifkan karya-karya Gustav Vigeland, cangkir background putih bergambar Angry Boy, cangkir background merah bergambar ragam patung-patung di Vigelandsparken menyerupai gaya seks dan sudah pasti dibanting ibunya, buku tentang Emanuel Vigeland, sepuluh buah kartu pos, dua buah topi bergambar Angry Boy (memang patung inilah paling terkenal di kalangan wisatawan) dan sejarah Rumah Vigeland. Alasan Aling menggemaskan, setiap boros di kota lain selalu saja menggunakan alasan kapan lagi berangkat ke sini.

"Anak-anak sudah selesai? Bagusnya! Kalian betul-betul berbakat!" ujar Aling, memperhatikan karya kedua anaknya dengan seksama. "Mama saja tidak bisa membuat karya rumit seperti kalian."

Pujian-pujian Aling terhadap kembar Solberg menyemangati dan tulus. Boleh saja masa lajang Aling berlaku seenaknya maupun tidak sesuai norma perempuan ala Asia yang mengundang cercaan omong kosong. Lihatlah sekarang, siapa yang menyesal mendapatkan Aling?

Tidak cuma Aling yang beruntung mendapatkan Sverre, Sverre pun demikian. Sverre diberikan istri sekaligus ibu terbaik dengan fokus jelas, mengisi waktu luang melalui kegiatan berguna seperti membantu istri Duta Besar membuat benda kerajinan tangan, mengajari Gustav dan Fenja keterampilan seni.


Pantai Sjøsanden di musim panas berkilauan pasir-pasirnya. Perempuan dan laki-laki bertelanjang dada, mencokelatkan kulit dan anak-anak berenang di tepi pantai. Jumlah manusia tidak sebanyak Ischia yang menjadi tujuan bulan madu Sverre dan Aling. Aling mengganti pakaiannya, mengenakan bikini bermotif polkadot merah. Si kembar berjaga di pos yang sudah ditandai.

Bentangan air jernih meluas. Sverre bertugas memegangi tangan Gustav dan Fenja sementara Aling mencoba-coba berteman dengan laut, melakukan hal yang menantang seumur hidupnya, tertawa kegelian ketika kaki mulai menyentuh air dan mencoba berjalan. Pasir-pasir kasar terasa asing di kaki. Langkahnya dimajukan semakin cepat dan mencoba berenang. Ternyata tidak semenyeramkan bayangannya. Refleks ia berenang, mengitari Fenja dan Gustav, mereka sedang diajari berenang oleh Sverre.

"Mama bisa berenang!" seru Fenja. "Mama bisa berenang!"

"Terima kasih, anak manis," jawab Aling, mencium kening Fenja. "Mama belum pernah berenang di lautan lepas. Menakutkan awalnya, sekarang sudah tidak apa-apa."

"Mau berenang sama-sama?" Sverre menawarkan. "Aku membantumu kalau terjadi sesuatu."

Ragu-ragu, haruskah mengikuti Sverre berenang bersama anak-anak dengan jarak agak jauh menurut ukurannya. Aling setuju sambil memegang ban renang Fenja dan Sverre memegang ban renang Gustav.

Tentu saja Pantai Sjøsanden tidak sebagus pantai-pantai di Taiwan khususnya semacam di Pantai Fulong, Pantai Feicueiwan, Kepulauan Penghu, Kepulauan Jibei. Ketakutannya terhadap air laut bisa lenyap seketika. Tidak ada binatang-binatang menyenggol kakinya. Sinar matahari menghangatkan Aling. Suasana pantai ala Norwegia, tidak terpikirkan di Norwegia dapat menikmati pantai ala Mediterania. Aroma tajam dan udara asin ditepisnya, ia sudah melangkah sejauh ini. Aling anak kandung dari lautan, takut dengan laut dan enggan mendekat mengenal sang lautan. Mengagumi sebatas kejauhan, menatap foto dan gambar. Mengoleksi film bertema laut dan pantai. Ibarat wanita mencintai dan menatapnya dari jauh.

"Laut tidak menakutkan, bukan?" tanya Sverre, menunjuk orang-orang yang ikut berenang di tengah-tengah laut. Bahkan duduk di atas ban sambil membaca buku. "

Satu hal biasa memerlukan keberanian besar. Bukannya ia tidak bisa, ada hal-hal tertentu dimana ia merasa takut sesungguhnya berupa kecanggungan. Jarang dilakukan, di balik itu semua terdapat kerinduan teramat kuat. Sukar dijelaskan, bisa meraba-raba rasa yang ia alami.

"Aku adalah putri duyung cantik, siap menangkap Sverre nanti," Aling menggoda Sverre dalam balutan bikini cantik, mencium Sverre di depan si kembar. Terpana kaget atas ciuman tiba-tiba, kedua pipi Gustav dan Fenja terbakar merah. "Nanti kulanjutkan lagi. Sekarang biarkan aku larut bersama lautan lepas yang ternyata indah."

Aling berani karena Sverre menggenggamnya kuat. Membuat Aling yakin mengeluarkan semua keberaniannya.

|TO BE CONTINUED|


Mandal Museum dan Vigeland Hus tergabung di dalam satu wilayah berdekatan bernama Vest-Adger Museet yang berlokasi di kota Mandal. Foto-foto lain dan informasi tentang Vigeland Hus maupun Mandal Museum dapat dilihat di Facebook Fanpage dengan link sebagai berikut facebook mandalmuseum (digabung) atau mencari informasi di website visitnorway . com dengan mesin pencarian 'Mandal Museum' atau 'Vigeland Hus' lalu bisa juga membuka websitenya di vestadgermuseum . no