Nightmare about Bullying

.

Elena ingin terbangun secepatnya, dari dunia gelap dibalik kelopak matanya.

Raungannya tidak didengarkan.

Sosok dirinya bertindak melanggar dari sifat seorang Elena. Pemberani dalam konotasi mengungkap kebencian terhadap orang yang justru melindungi dirinya.

Kepada gang perkotaan yang sama sekali tidak mengabarkan pertolongan, kenapa ia hanya bertindak sebagai kamera saja?

"Orang yang sok kuat, ingin terkenal. Kenapa orang-orang pasif ingin berlindung padamu?" Hanya ocehan yang selalu mengalir, lalu tamparan sebagai penutup. "Bertemu denganmu membuatku ingin menghajarmu!"

Teriakan Elena tidak berarti, dari mimpi buruk yang diputar untuk kedua kalinya.

.


.

Hanya sekedar mimpi, tapi kejadian itu tercelup seolah ada rangkaian adegan yang pantas bersambung.

Rasine tidak lagi menyapanya. Merajuk tanpa sebab.

Elena sudah berulang kali berganti topangan dagunya seperti kegelisahannya—tapi cara sikunya menekan meja tidak jauh berbeda dengan sebelumnya-, pikirannya yang terus bergejolak, namun semua jalan itu ragu untuk dicobanya.

Ketika Rasine tetap berjejak dengan karakter wajah yang sama—datar dan bosan—sejak merajuk padanya, Elena mengangkat tangan lalu memanggilnya secara skeptis, terpotong-potong, dan ketakutannya cukup mencuat di sana.

Orang itu melengos, seolah mendapat panggilan yang mengganggunya.

.


.

Elena ingin berpura-pura dibalik rasa ciutnya ketika bertanya pada seseorang.

Rangkaian tentang Fisika tidak begitu membelitkan otaknya, hanya tentang rangkaian seri dan paralel listrik. Rasine punya sisi kepandaian dalam bidang akademik dan selalu menjadi orang yang laris ditanyai.

Ia mencoba menjadi salah satu dari mereka semua.

Alih-alih, setelah himpunan itu tidak bertanya soal gambaran garis untuk menghitung aliran listrik yang mengalir, ia sudah menunjukkan buku tugasnya, tapi Rasine tidak menganggapnya; bertanya sesuatu yang tidak berguna pada teman di sisinya—orang yang sedang menulis.

.


.

Ada kelanjutan dari caranya—pura-pura meminta tolong pada pelajaran Fisika saat itu.

"Kenapa tidak mau membantu?! Sudah kuduga—kau memang pahlawan bohongan!"

Kapan ia benar-benar tertidur? Lagi-lagi berujung seruan yang tak dianggap dan mereka semua yang berkumpul 'tidak berani'.

Tidak berani, lafal yang agak kelu dilidahnya.

Dulu semua orang bisa memanfaatkannya.

Kelas sudah mengabarkan sepi tatkala kelopak mata yang berat agak pedih dan pegal pada tengkuknya menjalar begitu saja.

Semua orang memang tidak menggunakannya sebagai pembantu lagi, tapi mereka melupakannya di bel pulang.

Elena tidak mengingat; kapan ia benar-benar tidur di bangkunya. Ingatannya tidak punya kejadian itu sebelum tidur melahapnya.

.


.

Angin menggerakkan ketakutannya. Itu terangkum dari cara berlarinya.

Ia terkejut ketika lapangan masih memangku Rasine—sendirian—di pinggiran tanah lapang.

"Tunggu!" Elena mengejar ketertinggalan tapi punggung itu malah bergegas untuk sebaliknya.

"Di mana janjimu yang akan melindungi seseorang—apapun yang terjadi?!" Wajahnya terbakar ketika berseru mencolok sekalipun matahari adalah makhluk ketiga.

"Kenapa kau terus berlari…."

Rasine berpaling sekilas dari pelariannya.

Dan mata itu, membentuk ketakutan?

"Akhir-akhir ini aku bermimpi buruk tentangmu. Tolong, dengarkan ceritaku!"

.


.

Apanya yang 'cerita'.

Rasine hanya terkulum bersama duri, yang dijaganya selama ini dari 'orang-orang jahat'.

Meski hanya satu duri di antara pada korban penindasan, duri itu lebih kasar dibanding mereka yang selalu menadahkan tangannya.

Sekarang dia mengejarnya dengan bentakan keras itu lagi.

Kota yang dilaluinya selalu redup oleh banyak aktivitas orang. Seolah baru saja terlapis kebakaran kemarin, ia tahu sejarah perang yang berembuk di tempat ini.

Seperti labirin. Bualan itu berdentang-dentang tidak jelas sejalur dengan gang yang dilaluinya.

"Kenapa kau tidak mau menjelaskan saja padanya kalau pertolonganmu terhadap bully lebih memihak pada teman-temanmu!"

Rasine tidak mengerti; apa salahnya.

"Kenapa kau tidak lindungi saja dirimu sendiri!" Ia setengah berteriak, gang buntu menggaungkan aliran suaranya. Orang itu tampil tidak seperti wujud Elena. Bahkan rambut pendek itu seperti tanpa masalah dengan kusut.

"Pembohong sepertimu adalah awal keberadaanku." Ada tawa aneh setelah kalimat itu. "Terus memberikan kepalsuan bahwa kau bisa diandalkan."

Serangan mendadak, dia bergegas dengan tongkat baseball—entah dari mana—dan menggerakkannya di udara.

Rasine berjengit di antara perkakas gudang dan pikirannya melompat-lompat ketika memilih barang yang sebaiknya digunakan.

Satu pukulan pada pinggir kiri tembok.

"Mengakulah." Ujung tongkat menyapa bahunya.

Rasine terkesiap. Dalihnya buntu seperti tembok dibalik punggungnya.

Gadis aneh di depannya itu mengalami sakit tak jelas pada kepalanya; secara tiba-tiba hingga tongkat itu benar-benar menepuk bahunya, lalu erangan dan sumpah serapah itu menegur tekanan yang dialaminya.

"Aku berusaha menyingkirkan orang ini darimu!" Tunjukkan dengan tangan kosong sebagai akhir dari kesakitannya. "Aku ingin menolongmu dari orang ini!"

Kepalan itu seperti sudah gemas untuk menghantam, dia kesulitan melakukannya, tapi Rasine tetap menyiapkan dirinya.

Ketika renggutan pada kerahnya benar-benar menjadi—dan Rasine meminta permohonan untuk dilepas-, Elena berubah menjadi yang seharusnya.

Anak cengeng yang penakut.

"Itu bukan aku…" Kedua tangan yang terbongkar untuk tidak mencekal apapun dan memberi jarak.

"Aku selalu tidur sembarangan dan 'aku yang lain' ternyata muncul…. Aku tidak menyangka—ternyata itu nyata…"

Rasine tidak mengerti.

"Maafkan aku, mimpi buruk itu nyata. Orang lain dalam diriku, semua yang dikatakannya itu hanya prasangka…"

Rasine muak dengan ketidakmengertiannya.

"Apa itu sebabnya orang-orang menjauhiku?" Dia punya gestur yang aneh ketika mengatakan itu.

"Aku tidak mau tahu." Ia ditahan ketika berhasil melewati gadis ini.

"Kumohon, bertemanlah denganku…" Diaduk air mata, dan bunyi bergelombang dari isakannya.

Padahal Rasine hanya berkumpul dengan para korban penindasan untuk membantu mereka—alih-alih ia terkena penindasan juga.

Perasaan Elena beresonansi dengannya. Tapi ia tidak bisa dan tidak menginginkannya.

Sekali hentak untuk terlepas. "Aku takut." Cepat-cepat bergegas.

Suara tangisan itu terbongkar di gang sepi.

.

.

END

Kalah lagi di yang ini, tapi bodo amat. Ada lomba novel yang diadain dan semoga kuring gak kalah/kalo kalah makin ngenes. Oke, see you again.