Forest of The Skull

by: Phantom Devil


For: Magatte Alex's birthday


Saat ini Alex telah berumur delapan belas tahun. Dan hari ini merupakan hari terakhir latihannya, sekaligus langkah terakhir untuk menjadi seorang seorang Soul Reaper. Soul Reaper merupakan malaikat pencabut nyawa yang bertugas untuk memusnahkan para monster yang mengganggu, sekaligus mengantarkan jiwa orang yang telah meninggal ke tempatnya. Dan Alex benar-benar tidak sabar untuk melawan monster-monster tersebut, sebagai tes terakhir untuk meresmikan dirinya sebagai seorang soul reaper.

"Lex, kau yakin bisa menyelesaikan tugas ini sendiri?" tanya Kabuto agak khawatir.

"Tenang saja. Aku bisa melakukannya, kau tidak perlu khawatir. " ucap Alex, sembari melangkah turun dari mobil pinjaman ayahnya itu.

Seorang soul reaper harus tangguh dan harus bisa mengatasi masalahnya sendiri, karena itu ia harus bertahan di hutan ini selama satu minggu sebagai ujian penentuan. Dan ia yakin bisa melakukannya.


Di sisi lain sebuah hutan, seorang pemuda dengan surai abu-abu melangkahkan kakinya menelusuri hutan itu. Keningnya berkerut, mengamati peta yang di berikan oleh mentornya itu, ralat asisten mentornya. Ia di tugaskan untuk menemukan sebuah kotak apalah itu yang katanya berharga. Dan di dalamnya terdapat susu stoberi. Terdengar ngawur memang, namun seperti itulah kenyataannya.

Calvin, seorang hunter yang berniat untuk mengganti pekerjaan menjadi seorang assasin karena lelah melihat tugas yang diberikan hanya berputar pada hewan hilang, anak hilang, dan benda-benda hilang lainnya. Memangnya ia apaan?

Dan salah satu syarat untuk berguru pada seorang Assassin bernama Chronos adalah memasuki hutan dan menemukan kotaknya lalu keluar dari hutan. Terdengar sederhana, namum peta yang diberikan padanya sedikitpun tidak membantu. Sangat tidak membantu. Ia menghela nafas pelan, tidak tau berada dimana, dan bahkan kompasnya pun saat ini sepertinya rusak.


Alex terus memasuki hutan, sembari menghabisi sekumpulan monster yang menghadang di jalannya. Hingga, saat ini sepertinya ia berada di dalam keadaan yang cukup sulit.

Empat ekor Chimera, menatapnya buas, dengan taring tajamnya yang mengalirkan air liur. Dan tentu saja Alex kaget, seharusnya di tempat ini hanya ada ghoul dan hollow kan? Bukan monater seperti ini?


Sementara itu, Calvin menyimpulkan kalau hutan ini sepertinya penuh kutukan. Terutama dengan banyak monster aneh yang dilawannya. Seekor burung dengan kepala tengkorak, seekor kadal dengan kepala tengkorak dan memiliki lidah panjang. Monster macam apa itu sebenarnya?

Semakin dalam ia memasuki hutan ini, semakin aneh monster yang bermunculan. Dari mayat hidup, bahkan hingga monster-monster aneh yang berwujud abstrak.

"Tempat apa sih ini sebenarnya? Eh, Chimera? Tunggu, apa yang dilakukan bocah coklat itu?" kaget Calvin, mengetahui ada orang lain berada di hutan ini.

Tanpa berfikir panjang, ia segera melesat dan mengayunkan pisaunya, melukai ketiga monster itu sekaligus.

"Hey, kau yang disana! Cepat menyingkir tempat ini berbahaya!" teriak Calvin pada pemuda yang tidak begitu jauh darinya itu.


Sementara itu, Alex cukup kaget melihat ketiga monster itu meraung, seiringan dengan kemunculan seorang pemuda aneh dengan surai abu-abu. Sepasang pisau dagger berada di genggamannya.

"Hey, yang harusnya menyingkir itu kau. Pisau seperti itu tidak bisa melukai mereka!"

"Nah! Kau pikir ini pisau dapur? Ini bukan pisau dapur, tau!"

"Yang mengatakan itu pisau dapur juga siapa?"sweatdrop Alex.

Raungan tiga ekor chimera itu segera menghentikan perdebatan mereka mengenai pisau, yang sepertinya akan terus berlanjut.

"Ada baiknya kita selesaikan dulu masalah monster ini. Kita bisa membahas masalah pisau dan yang lainnya nanti," ujar pemuda itu membuat Alex mengangguk dan mengeluarkan pedang katananya.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memusnahkan tiga ekor chimera tersebut.

"Kau lumayan juga, kupikir kau seorang turis yang tersesat disini," ucap pemuda dengan surai abu-abu itu.

"Tidak sopan, aku ini Soul Reaper tau," ujar Alex.

"Soul Reaper? Job macam apa itu? Kau ini necromancer?"

"Hah, Necro apa tadi? Necrophobia?" bingung Alex, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Bukan, Necromancer. Emang Necrophobia apaan?" tanya pemuda itu, tak kalah bingung.

"Phobia sama Necro," cengengesan Alex, membuat yang bersangkutan langsung sweatdrop.

"Ya udah, jadi kau ini siapa? Dan apa yang kau lakukan di hutan ini? Ah iya, ngomong-ngomong namaku Calvin, Calvin Chrono, seorang Ex-Hunter dan Assassin in training. " ucap pemuda dengan surai abu-abu itu, dan memiliki sepasang mata beriris coklat, Calvin.

"Hoo, namaku Alex, Magatte Alex. Seorang Soul Reaper. Dan ujian terakhirku adalah survival di hutan. " jelas Alex.

"Jadi, Om sendi-bletak-aduh, " sebuah getokan ranting kayu mendarat di jidat Alex.

"Satu, umur gue tujuh belas tahun, dua kayaknya kita seumuran, tiga gue nggak setua itu geblek!" kesel Calvin, sembari melamjutkan acara menggeplak jidat Alex dengan ranting kayu.

"Oh... hee?! Masa elo berumur tujuh belas tahun? Paling juga, elo tuaan bulan. Gue bulan Desember betewe," ucap Alex cengengesan.

"Gue bulan Maret, berarti harusnya elo lebih tua dari gue?" greget Calvin.

"Nggak ah, umur gue Delapan Belas tahun-"

"Elo lebih tua kampret!" greget Calvin yang bawaannya ingin ngasah golok untuk ngebacok pemuda di hadapannya itu.

Setelah bercerita sedikit tentang identitas masing-masing, maka mereka memutuskan untuk menjalani tugas masing-masing bersama. Toh, tidak ada yang tau dan tidak ada peraturan harus sendiri-sendiri kan?


To Be Continue


Haappy Birthday Alex and welcome abroad my new san. Well, that's all I think, See you in the next Chappie Xd.