Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana

Karya Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi tersebut terus terngiang dalam pikiranku. Entah apa alasan yang membuatku mengingat puisi itu lagi dan lagi tanpa pernah terhenti di dalam pikiranku. Ah aku lupa, masih ada kejadian itu, kejadian dimana orang itu membacakan puisi tersebut dengan penuh perasaan. Perasaan yang amat tulus sampai aku menerimanya menjadi pengisi hatiku yang telah lama kosong. Kukira dialah yang akan terus mengisi hatiku ini dengan kebahagiaan yang tak pernah terhenti hanya dengan hal – hal sederhana. Ternyata aku salah, salah total. Ternyata orang tersebut adalah orang yang justru memberikan kepedihan hanya dengan hal – hal sederhana. Kini aku sudah tak bertemu dengan orang itu sejak pesta kelulusan SMA, saat dimana aku memutuskan untuk menghentikan semua rasa pedih ini dengan memutuskan hubunganku dengannya. Namun, apakah keputusanku ini sudah benar? Dia mengatakan bahwa ia akan berubah, berubah menjadi sosok yang akan terus menyayangiku dengan sepenunhnya, sosok yang akan terus memberikan kebahagiaan di dalam hatiku hanya dengan hal – hal sederhana. Aku menceritakan kejadian tersebut kepada mama dan juga sahabat – sahabatku, aku pun juga menanyakan hal yang sama kepada mereka mengenai kemungkinannya perasaan menyesal itu muncul. Dan mereka semua mengatakan bahwa ini adalah keputusan yang paling baik, dan aku tak perlu memikirkan kemungkinan tersebut, karena tak akan ada hasil yang memuaskan jika aku terus melanjutkan hubunganku dengan orang seperti itu. Benar, dia adalah orang yang tak patut untuk aku pertahankan. Meskipun aku tahu hal itu, tapi entah kenapa aku terus memikirkannya.

5 tahun telah berlalu semenjak pesta kelulusan itu. Kini aku sedang menempuh pendidikan S2ku di Paris untuk mengambil jurusan sastra Perancis. Aku sudah hampir sepenuhnya melupakan orang itu. Hal itu kulakukan dengan menyibukkan diriku dengan tugas – tugas serta mengikuti berbagai macam kegiatan yang ada di kampus. Meskipun aku belum sepenuhnya melupakan orang itu, tapi setidaknya aku telah berusaha kan? Memikirkannya membuatku tersenyum sendiri. Saat ini aku sedang duduk di dalam kedai kopi yang ada dipusat kota cinta ini sambil meminum secangkir kopi dan mengerjakan tugas essay ku di laptop. "Amel!" aku mendengar namaku dipanggil dan melirik ke arah suara itu. Dan yang kulihat adalah seorang gadis dengan wajah blasteran Indo – Perancis dan rambut bergelombang dengan warna cokelat muda melambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumnya dan lambaian tangannya dengan senyuman dan lambaian tangan balik sambil berseru, "Claire!" gadis itu langsung mendatangi mejaku dan duduk di kursi yang ada di sebarangku. "hey, aku dengar katanya kamu bakal pulang ke Indo ya?" Tanya Claire to the point. Aku menganggukkan kepala ringan sembari tersenyum dan berkata, "iya, aku bakal pulang ke Indo." Claire tampak terkejut dan bertanya "pourquo ? Kok dadakan? Biasanya kau tak seperti ini." Aku hanya tersenyum kecil dan berkata, "desol . Aku tahu ini dadakan. Tapi itu karena mama sama papa ingin aku segera pulang. Katanya ada urusan keluarga." Claire menganggukkan kepala tanda mengerti lalu berkata, "ah pantas saja dadakan. Berarti kamu cuti dong?" aku hanya mengangguk dan Claire langsung menghela napas kecewa. Aku pun heran dengan telepon yang kuterima dari mama minggu lalu. Mama hanya berpesan untuk segera pulang ke Indo dan hanya mengatakan bahwa ada urusan keluarga, mama juga tidak memberitahuku tentang urusan keluarga apa yang mengharuskanku untuk segera pulang ke Indo. Tapi 1 hal yang pasti, aku punya perasaan buruk yang mengatakan bahwa ini adalah berita buruk meskipun aku tak tahu berita buruk apa yang akan menimpaku.

4 hari berlalu semenjak pertemuanku dengan Claire di kedai kopi. Kini aku telah sampai di Indonesia, lebih tepatnya di kota kelahiranku Semarang. Aku sedang mencari sosok papa dan mama yang biasanya akan langsung meneriaki namaku sedetik mereka melihatku, namun kali ini tidak ada yang meneriaki namaku, bahkan aku pun tak melihat sosok papa dan mama di lorong bandara. Aku mulai khawatir, aku takut terjadi sesuatu dengan kedua orang tuaku. Ketika aku ingin segera berlari keluar sambil menarik koperku untuk mencari taksi, ada orang yang langsung berdiri dihadapanku dan bertanya, "apa anda nona Amel? Anak tunggal dari Bapak Stefanus?" aku terkejut melihat pria berbadan tegap yang sedang menggunakan jas hitam dan menatapku dengan wajah yang amat serius. Aku menelan ludah dan menjawab, "iya saya Amel, tapi bapak itu siapa ya? Dan bagaimana bapak bisa kenal dengan papa saya?" pria itu langsung melihat sekeliling dan berkata, "kurasa di sini bukanah tempat yang baik untuk berbicara mengenai hal ini. Mari ikut saya ke dalam mobil, Bapak Stefanus sudah menunggu anda beserta dengan Ibu Herlina." Pria tersebut langsung mengarahkanku ke mobil sedan hitam yang aku yakini bahwa itu bukan mobil papa ataupun mama. Aku hanya duduk di kursi belakang dan memegang tasku dengan erat. Selama perjalanan aku hanya duduk diam tanpa mengubah posisiku sama sekali, tampak sekali kalau aku tidak tenang. Siapa pria ini? Dan apa hubungan papa dengan pria ini? Kecemasan beserta rasa takut menyelimutiku selama diperjalanan.

Sesampainya mobil berhenti aku langsung melihat sekeliling dari balik jendela, dan yang kulihat hanya ada 1 rumah besar dengan taman yang sangat luas. Aku yakin seratus persen bahwa aku tak pernah kesini dan aku tak tahu ini adalah rumah siapa. Pria tersebut membuka pintu mobil dan mempersilakanku untuk keluar dari mobil tersebut. Aku keluar dan langsung bertanya kepada pria tersebut, "rumah siapa ini? Dan kenapa aku dibawa ke tempat ini?" pria tersebut tidak menjawab pertanyaanku dan hanya berkata, "silahkan masuk ke dalam nona." Aku sedikit tersinggung dengan sikapnya yang tak menjawab pertanyaanku. Meskipun aku tersinggung, aku tetap masuk ke dalam rumah itu dan melihat isi rumahnya sangat mewah. Belum puas aku melihat – lihat isi rumah tersebut, pria tadi memintaku untuk masuk ke sebuah ruangan. Dan ketika aku membuka pintu, aku melihat papa dan mama berada di sofa yang ada di ruangan tersebut. Aku langsung memanggil mereka dan memeluk mereka dengan erat. Papa dan mama juga memelukku dengan erat sambil berkata, "maaf mel, maafin papa sama mama." Aku melepas pelukanku dan menatap mereka dengan tatapan bingung. Ketika aku ingin bertanya apa maksud dari perkataan mereka barusan, tiba – tiba saja pintu terbuka dan ketika aku melihat orang yang berada di pintu itu tubuhku langsung membeku, dan napasku berhenti seketika. Tak mungkin, orang yang di depanku hanyalah ilusi. Bagaimana orang itu ada di sini? Pria dengan wajah sedikit blasteran itu menatapku dengan senyuman yang aku kenal. Senyum hangat yang persis ia tunjukan ketika ia membacakan puisi itu. Tidak, ini mustahil. Hal ini tidak mungkin terjadi! Ketika aku ingin mengatakn sesuatu, pria tersebut berkata, "sudah lama ya kita tidak bertemu Amel? Tak terasa 5 tahun telah berlalu semenjak pesta kelulusan kita saat SMA. Kau masih mengingatku kan Amel?" suara itu, suara yang telah lama tidak aku dengar tapi masih sama seperti dulu, suara yang selalu membuat jantungku berdebar tiap kali aku mendengarnya. Dengan lirih aku berkata, "Daniel?" orang itu langsung tersenyum makin lebar dan sambil mendekatiku ia berkata, "ternyata kau memang masih mengingatku ya? Aku sungguh tersanjung lo." Entah kenapa aku merasakan ada hal yang benar – benar buruk yang akan datang menimpaku dengan munculnya kembali Daniel dalam kehidupanku. Dia berjalan melewatiku dan kedua orang tuaku dan berhenti di depan meja yang ada di ruangan ini. Aku menatapnya dengan tatapan takut, jujur aku tak tahu apa yang ia inginkan dari kedatangannya yang tiba – tiba dan adanya kedua orang tuaku di tempat ini.

Daniel melihatku dengan tatapan terkejut sejenak lalu tersenyum kepadaku dan berkata, "kau tak perlu takut. Aku tak akan menyakitimu dan kedua orang tuamu." Aku pun langsung bertanya, "lalu apa maksudmu dengan membawaku dan kedua orang tuaku ke tempat ini? Dan rumah siapa ini? Terus kamu juga kenapa ada di sini tiba – tiba?" dia hanya tertawa singkat dan menyuruhku untuk duduk dulu. Aku dan kedua orang tuaku menurut dan duduk di sofa itu. Daniel kemudian duduk di sofa yang ada di seberang kami. Dengan tampang serius dia kemudian berkata, "jadi begini, aku di sini karena ini adalah rumahku, jadi wajar saja kan aku ada di sini? Lalu mengenai keberadaan kalian di sini itu karena aku mempunyai sebuah permintaan. Permintaan yang mudah bagiku dan kurasa akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak." Aku memandangnya dengan tatapan bingung dan bertanya, "apa maksudmu dengan permintaan yang menguntungkan?" Daniel memandangku sejenak sambil tersenyum dengan tatapan yang aku tak mengerti, tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dia kemudian menjawab, "permintaanku hanya simple. Aku ingin kamu Amelia Ester menjadi pendampingku seumur hidup." Aku terdiam, aku sungguh tak bisa mencerna apa yang dia katakana barusan. Tidak, lebih tepatnya aku tak ingin mengerti apa maksud perkataannya barusan. Kesunyian menyelimuti ruangan ini sejenak hingga suara papa menghentikan kesunyian ini dengan bertanya, "pendampingmu seumur hidup? Maksudmu, menjadi istrimu?" Daniel langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan papa barusan, ia pun langsung menjawab dengan nada gembira, "yap, tepat sekali! Aku memang ingin, tidak hanya ingin tapi sangat ingin menjadikan Amel sebagai istriku. Tentu anda dengan istri anda tidak keberatan dengan hal ini bukan?" aku menatap Daniel dengan tatapan marah dan berkata, "menjadi istrimu? Untuk apa aku melakukannya? Dan apanya yang menguntungkan kedua belah pihak? Ini hanya akan menguntungkan bagi dirimu, tidak untukku dan juga kedua orang tuaku." Daniel tertawa sambil berdiri dan kembali berdiri di depan meja dan berkata, "hahaha, Amel.. Amel… kau mungkin tidak tahu tapi kedua orang tuamu berhutang banyak sekali denganku. Dan aku yakin, meskipun kamu berhenti kuliah dan ikut bekerja, kau dan keluargamu tak akan mampu untuk membayarnya." Aku terkejut mendengarnya dan langsung memandang kedua orang tuaku ingin meminta kepastian. Dan yang aku terima hanyalah tundukan kepala lemah dari kedua orang tuaku dengan wajah yang amat sedih sekaligus malu. Dari apa yang dilakukan kedua orang tuaku aku paham, bahwa ini bukanlah mimpi, melainkan sebuah realita.

Aku menghela napasku sejenak lalu memutar kepala sehingga pandanganku tertuju dengan wajah Daniel. Aku lalu bertanya dengan pelan, "berapa jumlah hutang yang aku dan keluargaku bayar kepadamu?" dia menaikan sebelah alinya dan bertanya, "kenapa kamu bertanya tentang itu? Kau ingin membayarnya?" aku pun langsung membalasnya dengan nada sedikit marah, "cepat kataan saja, berapa jumlah hutang kedua orang tuaku." "30 miliar." Jawab Daniel secara langsung tanpa basa – basi. Tubuhku membeku seketika setelah mendengar jawabannya. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku dengar. 30 miliar? Dari mana uang itu bisa kukumpulkan? Daniel menatapku sejenak lalu berkata, "hutang itu akan seketika hilang jika kamu mau menjadi pendampingku. Tapi jika kamu tidak mau, maka hutang 30 miliar itu harus kamu bayar. Aku tak peduli berapa lama kamu akan membayarnya, tapi kamu harus ingat, jika kamu tidak segera membayar hutangmu, maka hutang itu akan terus bertambah tiap bulannya." Pikiranku kosong, sungguh kosong. Jika ini mimpi, kumohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

"tak ada satu pun dari kalian yang berkata sesuatu. Akan kuanggap bahwa kalian menerima permintaanku." Kata Daniel dengan tersenyum. Senyuman itu entah kenapa membuatku takut, sangat takut. "okay karena tak ada yang menolak, silahkan Amel, kamu tanda tangani kontrak ini." Ucap Daniel sambil mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkannya didepanku. Aku menerimanya dengan tanganku yang bergetar. Setelah aku menerima dokumen itu aku melihat apa isi dari kontrak tersebut. Aku membaca isi kontrak itu satu – satu, sampai dinomor terakhir aku kaget dan bingung, isinya mengatakan bahwa aku harus mengikuti program KB. Aku langsung menatap Daniel dan bertanya, "nomor terakhir, apa maksudnya dengan aku harus ikut program KB?" Daniel pun langsung menjawab, "aku ingin melakukannya denganmu, tapi aku tak ingin punya anak. Dan aku tak suka menggunakan pengaman." Aku tak mampu berkata – kata mendengar jawaban Daniel barusan. Sungguh apa maksudnya itu? Dia ingin melakukannya tapi tak ingin punya anak, terus dia juga tak mau pakai pengaman? Gila! Aku menghela napasku yang terasa tercekat di tenggorokanku. "Daniel, bisa bawa orang tuaku keluar dari ruangan ini. Dan aku hanya ingin bicara berdua denganmu, empat mata." Aku berkata dengan nada yang pelan dan menahan amarah yang ada di dalam diriku. Daniel mengangguk dan menyuruh pria yang tadi menjemputku untuk membawa kedua orang tuaku pergi dari ruangan ini dan tidak masuk lagi ke sini.

Setelah kedua orang tuaku pergi dari ruangan, aku langsung berdiri dan menarik kerah baju Daniel. Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya sampai wajah kami sudah tinggal berjarak beberapa cm aku berbisik di telinganya, "aku tak tahu maksudmu apa dengan melakukan ini, tapi aku pastikan aku tak akan sudi menjadi istrimu."aku langsung melepas genggamanku dari kerah bajunya dan mendorong pelan tubuhnya. Dia pun langsung tersenyum, "aku tak peduli dengan apa yang akan kamu lakukan, tapi kamu perlu ingat sesuatu." Dia langsung mendekatkan wajahnya kepadaku dan langsung berbisik di telingaku dan berkata, "kamu Amelia Ester akan selamanya menjadi milikku. Aku tak akan membiarkan orang lain merebutmu dariku. Ingat itu mon amou ." Dia langsung mengecup pipiku dan menjauhkan wajahnya dariku. Aku menatapnya dengan tatapan kebencian yang teramat dalam. Aku berbalik badan dan ingin keluar dari tempat, tapi langkahku dihentikan oleh Daniel dengan memegang salah satu tanganku. Aku tak memalingkan wajahku dan berkata dengan nada dingin, "lepaskan tanganmu. Aku ingin membawa kedua orang tuaku pergi dari sini." Aku tak tahu ekspresi apa yang di tampilkan Daniel, tapi aku hanya mendengarnya berkata, "kamu boleh pergi, tapi tidak dengan kedua orang tuamu." Perkataannya itu langsung membuatku meledak dan langsung memalingkan badanku sehingga berhadapan langsung dengan Daniel. Aku pun langsung berkata dengan amarah, "apa maksudmu dengan hal itu! Kau ingin mengurung kedua orang tuaku di tempat ini? Kau gila ya!?" dia tertawa seperti habis mendengarkan sesuatu yang lucu. Daniel pun menghentikan tawanya dan tersenyum kepadaku sambil berkata, "apapun akan kulakukan jika hal itu bisa membuatmu menjadi milikku." Tubuhku langsung merinding mendengar ucapannya itu. Siapa orang yang menyeramkan ini? Aku sudah tak mengenalnya lagi, Daniel yang aku kenal sudah digantikan oleh makhluk menyeramkan yang sekarang ada di depanku ini. Daniel tersenyum dan melepaskan tanganku sambil berkata, "jadi, apa yang akan kamu lakukan? Pergi dan meninggalkan kedua orang tuamu disini, atau kamu menandatangani kontrak itu?" aku terdiam sejenak lalu aku memandangnya dan berkata, "berjanjilah untuk tidak melukai kedua orang tuaku mengerti? Aku akan berusaha untuk mengembalikan semua hutang orang tuaku selama yang aku bisa." Setelah aku mengatakan itu, aku langsung keluar dari rumah itu tanpa memandang balik ke dalam rumah tersebut. Aku pun langsung mencari taksi dan pergi ke rumah lamaku.