INDEKS KARAKTER :

Keluarga Solberg (keluarga wartawan):

Sverre Magnus Solberg, wartawan terkenal yang kontroversial.

Chiu Xiao Ling, sekretaris merangkap penerjemah di perusahaan Norwegia-Taiwan dan penulis, istri Sverre, dipanggil Aling.

Fenja Carina (Fenfen) dan Gustav Tarjei Solberg, saudara kembar, anak sulung Sverre dan Aling.

Magnus Lie Solberg, adik Gustav dan Fenja.

Keluarga Brühl (keluarga diplomat):

Antonio Vicente-Brühl, duta besar.

Verena Cassese-Chen, istri Antonio dan ilustrator paruh waktu, umumnya dipanggil Signora Chen, sahabat Aling.

Karoline (Mao-chan) dan Lars Cassese-Brühl, saudara kembar, anak sulung Antonio dan Verena.

Kana Cassese-Brühl, anak bungsu Antonio dan Verena.

Keluarga Chiu (keluarga pemilik restoran makanan Taiwan di Trondheim)

Chiu Zhang Wei, pemilik restoran, adik laki-laki Aling. Mempunyai kembaran bernama Wei Xin yang memilih menjalin hubungan dengan sesama jenis.

Solveig, istri Zhang Wei.

Astrid dan Barbara Chiu, saudara kembar, anak-anak Solveig dan Zhang Wei.

Karakter lainnya:

Haakon Rasmussen, teman sekolah kembar Solberg, pacar Astrid.

Enzo Franco Bonino, pacar Karoline.

dan karakter lainnya.


1. Cerita Tentang Seksualitas


Gustav dan Fenja Solberg sudah berusia di atas dua puluh tahun, menjalani kehidupan masing-masing di kota berbeda. Gustav menetap di Oslo sebagai asisten Duta Besar Spanyol untuk Norwegia, menyewa apartemen sendiri di pinggiran kota sedangkan Fenja memilih tinggal di Italia dan bekerja sebagai wartawan mengikuti jejak Sverre. Efek didongengi cerita-cerita Sverre atau Flavia ketika menjadi wartawan. Sahabat si kembar, Haakon Rasmussen menetap di Kopenhagen dan mengambil gelar master. Astrid mengikuti jejak Haakon, mengambil jurusan bisnis. Barbara tinggal di Stuttgart, Jerman, mengambil sekolah teknik. Setahun sekali mereka berkumpul bersama-sama di Oslo, mengobrol apa saja tentang kehidupan atau kisah cinta kelabu yang ditambahi bumbu-bumbu. Barbara dan Astrid Chiu datang berlibur ke Oslo. Fenja memutuskan pertemuan diadakan di restoran khas Taiwan yang ada di Grünerløkka. Tamu tambahan lainnya adalah kembar Brühl, Karoline dan Lars lalu adik kembar Solberg, Magnus juga Kana Cassese-Brühl.

"Haakon, Fenfen, Astrid, Barbara, Magnus, Kana, Karoline—" Gustav bergumam. "Lars kemana?"

Karoline Cassese-Brühl alias Mao-chan, si pirang ikal yang imut ini mendengus. "Lars terlambat lagi! Kita tidak berangkat bersama-sama! Aku berangkat dari Berlin padahal! Masih di Leiden barangkali!"

"Langganan terlambat!" dengus Barbara, wajahnya cemberut. "Setiap tahun dia selalu paling terlambat dari semuanya! Mao-chan terlalu tepat waktu!"

"Berpikir positif saja, Barbara. Barangkali mogok di jalan."

Kembar Solberg sudah berusia dua puluh tiga tahun ini sedangkan kembar Brühl hampir memasuki usia dua puluh delapan tahun. Magnus Lie Solberg termuda dari semuanya, Kana Cassese-Brühl baru lulus sekolah menengah keatas bersamaan dengan Barbara dan Astrid Chiu. Usia Haakon Rasmussen ada di tengah-tengah kembar Solberg dan Brühl.

"Kapan kita bisa pesan makanan?" tanya Magnus, membuka-buka buku menu. "Pesan bakso ikan dengan bihun saja."

"Aku juga lapar," Kana bergumam, memainkan ponsel pintarnya. "Lars rajanya terlambat. Dia menyebalkan sekali, kakak payah! Beda dengan Mao-chan yang tepat waktu dan serius."

"Tunggulah," Gustav menyarankan. "Coba tanya Lars sekarang dimana? Kalau masih jauh, kita pesan makanan. Atau cerita-cerita apa saja sambil memesan minuman."

"Kana, kita pesan sesuatu," Magnus menggeser buku menunya. "Kana mau makan apa?"

"Hot pot tidak pakai sayuran," Kana menjawab ogah-ogahan. "Magnus mau apa?"

"Isinya daging atau makanan laut? Aku ingin makan jamur. Kebetulan ada menunya."

"Daging sapi. Aku tidak mau makan jamur, Magnus."

Karoline menyela percakapan Magnus dan Kana. "Kana ini mirip mamanya, tidak suka sayur lalu makannya selalu manis dan daging-dagingan. Hot pot kita pesan setelah Lars datang, kalian pesan makanan lain saja."

"Diamlah, Mao-chan cerewet!"

"Ditunjang buah-buahan saja," Haakon menyarankan. "Misalnya lingonberry, cloudberry, cherry atau buah-buah lainnya yang manis dan asam."

"Suka sekali buah-buahan di sini. Enak-enak, jarang dijual di Tiongkok sana. Makanan yang paling kalian tidak sukai apa?" Kana mengajukan pertanyaan. "Aku paling benci yang namanya sayuran dan jamur kecuali sudah diolah."

"Bubble tea," jawab Magnus. "Rasanya kenyal-kenyal menjijikan. Lutefisk juga."

Haakon melipat tangannya. "Daging kelinci! Aku tidak bisa membayangkan kelinci untuk dimakan!"

"Kita sehati, Haakon!" Karoline mengguncang bahu Haakon. "Aku akan sedih sekali jika ada yang menyakiti kelinci apalagi untuk dimakan! Aku mempunyai dua kelinci Holland Lop! Kelinci itu manis dan lucu!"

Karoline penggemar kelinci. Ayahnya seorang Duta Besar untuk Tiongkok saat ini, bersama istrinya, adalah penyayang kelinci. Terutama ibunya yang mempunyai boneka kelinci dari maskot bernama Miffy. Selalu menggemari kelinci, kesal jika ada yang berani menyakiti kelinci dan berduka sewaktu kelincinya dimakan oleh hewan liar di hutan rimbun Swedia.

"Aku benci makanan manis," Fenja mencibir. "Terutama makanan manis dari Jepang, Korea, Taiwan dan sekitarnya. Dari Italia dan Perancis juga."

"Mengapa?" tanya Karoline kecewa. "Padahal enak dan meriah."

"Tapi makanan asin non-manis favoritku adalah makanan Asia lalu Italia, Spanyol dan Yunani," Fenja melanjutkan. "Melihat Magnus dan Mama mampu melahap kue tart manis membuatku mulas."

"Makanan manis musuh banyak wanita!" Astrid menimpali. "Sepertinya kita ini tidak suka manis di jaman sekarang karena terkenang manis di masa lampau."

"Betul!" Fenja mengayun-ayunkan jarinya ke arah Astrid yang duduk di sebelah Haakon. "Pengecualian saat perayaan Syttende Mai. Makanan manis dilahap. Aku pantang rugi, kalian tentu sudah tahu bagaimana aku."

"Saking tidak mau rugi, puluhan hot dog masuk perut!"

Tahun-tahun berlalu cepat. Astrid dan Fenja akrab. Fenja tidak lagi tertarik pada Haakon, malah tertarik dengan Lars. Syukurlah persaingan cinta berakhir di usia remaja Fenja. Tiada cerita kutukan karena merebut pacar orang atau sejenisnya. Astrid sudah berpacaran dengan Haakon sejak usia Astrid enam belas tahun dan perbedaan usia mereka sekitar delapan tahun. Memang Haakon sangat menawan, lebih tampan dari Lars, tak heran dulu ia dan Astrid bertarung memperebutkan perhatian Haakon. Juga menyebabkan satu penitipan anak bertengkar hebat gara-gara Haakon.

Mengapa Fenja jatuh cinta kepada Lars? Fenja senang membicarakan topik-topik serius di mata orang awam, Lars menanggapinya sabar dan memberi Fenja pengetahuan baru. Sejak itu mereka berkencan di Stockholm namun Fenja menggerutu jengkel, Lars tidak kunjung menyatakan cinta kepadanya. Enam tahun berkencan, tidak ada hubungan lebih jauh berupa ciuman atau pelukan. Sia-sia ia menunggu enam tahun dan masih berstatus perawan di usia dua puluh tiga tahun.

"Kakak Fenfen?" tanya Astrid, merangkul lengan Haakon. "Kakak sudah tidak sabar menunggu Lars?"

"Mati aku!" gumam Fenja tanpa sadar. "Aku mau memesan bir."

"Kembali ke pertanyaan soal makanan yang tidak disukai," kata Gustav. "Organ tubuh binatang untuk dimakan itu menjijikan."

"Makanan berbumbu juga menyebalkan," cetus Barbara. "Ngomong-ngomong ada kabar lucu."

"Apa itu?" tanya Gustav ingin tahu.

"Papa memergoki Astrid dan Haakon sedang bercinta di kamar mandi," Barbara mengatakan tanpa rasa malu. "Ada bercak darah di kamar mandi, lalu Papa marah besar. Ternyata berhubungan pertama kali mengeluarkan darah sepuluh liter adalah hoax adanya."

"HAH?" teriak Fenja. Sial, aku sudah keduluan Astrid. "Lalu bagaimana? Paman Zhang Wei bilang apa?"

Astrid menendang Barbara. "Diamlah, yang penting aku sudah mengenakan pengaman! Aku tidak sebodoh cerita-cerita yang tersebar di internet, sudah tahu berhubungan badan malah tidak pakai kondom lalu hamil ributnya mengerikan. Barbara ketinggalan berita, kebanyakan membaca kisah omong kosong!"

"Baru juga di kamar mandi," ejek Karoline. "Aku dan Enzo sudah pernah bercinta di hutan Swedia. Mainnya kurang hati-hati sih, Astrid. Coba ceritakan pengalaman kalian? Dari A sampai Z?"

Enzo Franco Bonino adalah anak Menteri Pertahanan Italia. Pacar Karoline sejak tiga tahun lalu. Bertemu saat sama-sama mengambil gelar master di Swedia dan bekerja di bidang luar pemerintahan. Kutukan keluarga Cassese dimana keturunannya tidak akan pernah sukses selain di pemerintahan musnah sudah. Karoline sukses sebagai pebisnis makanan Italia, Enzo sebagai direktur perusahaan berbasis teknologi. Enzo dan Karoline tinggal serumah di apartemen yang terletak di dekat Gamla Stan, Stockholm.

"Astrid yang mengajak," Haakon berkata, dibalas anggukan singkat Astrid. "Sial, kita lupa mengunci kamar mandi dan dipergoki Barbara bersama ayahnya."

"Suasana restoran keluarga sedang ramai," Astrid berkata sok malu-malu. "Eh, ternyata ketahuan. Kupikir tidak ada yang datang ke rumah. Salah strategi, untung Mama tidak cerewet dan bersikap tenang."

"Masih untung direstui hubungan keduanya," celetuk Barbara. "Jaman dulu kalian bisa langsung dinikahkan paksa."

"Kawin paksa?" Astrid tertawa ngakak. "Barbara, kau ini bacaannya sejenis begituan pula!"

"Aku membaca bersama Geir untuk ditertawakan. Kalau sesama perempuan aku tidak berani, banyak yang tersinggung."

"Cocoklah kamu bersama Geir. Sama-sama sibuk membicarakan politik dan hal-hal aneh. Semoga kalian jadian," Astrid menyarankan. "Kami semua curiga kamu pacaran dengan Geir."

"Tsktsktsk," Barbara memiringkan kepalanya. Kesal dengan gosip-gosip beredar tentangnya dan Geir. Mereka berdua sempat memenuhi timeline Facebook gara-gara saling membagikan berita politik dengan caption menggelitik. "Aku jatuh cinta dengan dosen di jurusanku. Umurnya baru tiga puluh lima tahun dan tampan sekali."

"Hei, bocorkan ke kita siapa laki-laki beruntung itu," Astrid menyikut Barbara. Gadis berambut pendek itu mengangkat pundaknya. "Ya sudah, nanti kutunggu kabar siapa lelaki itu."

Kaum perempuan tak lagi malu-malu membicarakan seksualitas di depan kaum laki-laki. Pembicaraan ini tidak dibawa ke forum lain, sesudah selesai maka anggap saja pembicaraan tidak pernah ada.

"Aku tidak akan segila kalian berdua," Fenja menukas. "Pengalaman cinta dan seksual kalian lebih banyak daripada aku. Menyedihkan."

Magnus dan Kana tidak mengambil bagian percakapan saudara-saudaranya sehingga berceloteh berdua. Dua-duanya sudah memesan makanan, membagi berdua dengan Kana. Bakso babi dan bihun berkuah dimakannya sambil bercerita. Sedap rasanya, pikir Magnus. Bolehlah ia memesan duluan daripada perut lapar menunggu Lars. Sebagaimana yang sudah-sudah, Lars terlambat berjam-jam.

"Waktu kecil aku sering dijadikan tameng Sepupu Kai. Dia menyebalkan sekali, termasuk pacar Sepupu Kai. Bahasa Mandarin percakapan dan tulisanku betul-betul jelek lalu pacar Sepupu Kai mengejekku dengan bahasa Inggris," Magnus bercerita. "Aku punya banyak pengalaman tidak enak di Taiwan, macam-macam pokoknya."

"Misalnya apa? Magnus tidak kabur?"

"Mama dan Papa bilang jangan berurusan dengan fans fanatik di sana. Separah-parahnya fans black metal di sini, parahan fans fanatik di Taiwan. Kalau hafal jalan, aku sudah kabur. Sepupu Kai tahu aku membenci bubble tea lalu sengaja mencekokiku dengan minuman itu. Aku sudah menolak, Sepupu Kai malah bilang aku manja."

"Oh memang, penggemar di Asia sadis-sadis. Salah berkomentar sedikit saja dikeroyok. Aku pernah mengomentari sesuatu di internet, Magnus. Lalu aku dikeroyok beramai-ramai dan membawa-bawa ayahku sebagai Duta Besar," ucap Kana prihatin. "Sepupu Kai jahat sekali padamu. Sekarang bagaimana? Masih pacaran?"

Magnus enggan bercerita pemukulan yang dialaminya lima tahun lalu. Takut Kana menertawakannya. Sebabnya kasus ini terbilang jarang namun ada di masyarakat bawah tangan.

"Begitulah, sudah putus karena pacarnya tukang pukul ternyata. Rasakan akibatnya. Sekarang dia berkuliah di Kopenhagen. Asalkan jangan di Oslo," Magnus memberengut. "Bahasa Mandarin-ku tidak sebagus kedua kakakku. HSK-ku gagal di tingkat pertama, aku malas mencoba. Kakak Fenfen sudah mengambil HSK level lima. Kakak Gustav tidak ikut HSK melainkan Test DaF bahasa Jerman."

"Baguslah, pacar tukang pukul harusnya diputuskan atau dilindas traktor. Aku sudah mengambil HSK level enam," Kana berkata pelan, tak bermaksud menyombong. "Kakak-kakakku sudah melengkapi levelnya sejak lima tahun lalu."

"Bagaimana bisa?"

"Kami bertiga anak diplomat. Kami harus pandai menguasai bahasa setempat."

"Aku ingin menjadi diplomat," Magnus berkata. "Aku suka budaya-budaya, cerita tentang negara lain. Apa bisa, ya?"

"Bisa saja asalkan Magnus belajar. Tidak ada yang tidak mungkin."

Meja besar terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu si bungsu yang tampaknya diabaikan oleh pembicaraan dewasa mengenai seksualitas oleh kubu kedua. Setidaknya kubu pertama sebagai penyelamat kubu kedua yang tidak kunjung memesan makanan.

"Sudah punya pacar?"

"Tidak punya. Magnus sendiri?"

"Belum juga. Kita diangguri oleh kakak-kakak di sini," Magnus mengangkat bahu. "Kita jalan-jalan keluar saja, di luar ada banyak makanan yang lebih enak daripada di sini. Mau pergi bareng aku, Kana?"

Magnus dan Kana keluar dari restoran. Sisanya asyik mengobrol keras-keras. Sudah lupa tentang Lars yang dua jam lebih belum tampak batang hidungnya. Berbotol-botol bir berserakan. Rekor peminum paling kuat adalah Fenja Carina Solberg, frustasi kekasih hatinya tidak kunjung datang.

"Waktu kecil orangtua kami pernah bercinta di kamar hotel. Suaranya bising sekali," Gustav melebih-lebihkan, mulai mabuk. "Kami terbangun sebentar, habis itu pura-pura tidur. Kita takut orangtua marah. Lalu kami tidak tahan lagi memutuskan untuk bertanya. Mama kaget, Papa tenang."

"Hahaha, kau gila!" Haakon terbahak-bahak. "Orangtuaku dulu pernah bercinta di loteng! Kakekku menghajar ayahku! Lalu—HEI, BOTOL MINUMAN BELUM KUMINUM SAMA SEKALI!"

Fenja merebut botol minuman beralkohol, menenggaknya tanpa perasaan. Karoline berjaga-jaga supaya tidak terjadi hal-hal buruk, mulai menyuruh yang lainnya memesan makanan.

"Dim sum sepuluh porsi, hiks!" Fenja sudah mabuk berat, memanggil pelayan. "Aku sanggup memakan semuanya seorang diri!"

"Ayo, kita pesan!" sergah Karoline, menggebrak meja. "Magnus dan Kana kemana? Kok tidak ada? Nah, kalian berdua mulai mabuk!"

"Biarkan saja Magnus itu, hiks, nanti balik sendiri," gerutu Fenja. "Dia suka hilang seperti hantu."

"GRRRR! KAU INI, FENJA!" Karoline hampir mencekik Fenja. "MENJENGKELKAN!"

"Sabar! Sabar! Sabar! Mao-chan jangan galak!" Gustav mengangkat tangan tepat di depan wajah Karoline. "Jangan marah-marah! Urus Fenfen, biar kita mengobrol sampai puas!"

"Huh!" Karoline mengeluh. "Laki-laki susah dikasih tahu! Boys will be boys!"

"Mao-chan cerewet!" balas Haakon. "Mao-chan ingin menjadi bos di sini!"

Kesabaran Karoline habis, tangannya mengepal. "Dasar pemabuk berat!"

Dalam pertemuan rutin yang biasanya tidak melibatkan Magnus dan Kana maupun kembar Chiu, Karoline nyaris selalu bersikap seolah-olah dialah pemimpin. Tubuhnya mungil, sekitar 160 cm, berkebalikan kembarannya yang mencapai 180 cm. Fenja kerap bersilang pendapat dengan Karoline. Akan tetapi tanpa kehadiran Karoline dan Lars pertemuan sangat hambar. Kembar Solberg sudah mengenal kembar Brühl sejak bayi, masing-masing keburukan dan kebaikan sudah sama-sama tahu.

"Lars kemana?" Fenja tersungkur. "Lars, kau masih cinta padaku—"

"Kita jahili Fenja, yuk!" usul Haakon. "Lars sudah tidak cinta padamu."

"Apa?" tanya Fenja terkejut. "Bohong, ah!"

Mata Fenja sembab, menangis tersedu-sedu. "Hidup sangat menyedihkan, cinta itu buta dan menyakitkan! Lars belum pernah bilang cinta padaku! Jangan-jangan mempunyai wanita lain!" suaranya lirih mengiris, mulai mendendangkan lagu-lagu cinta berbahasa Italia sambil tersedu. "Perché [Mengapa]?" tanyanya dalam bahasa Italia.

"Gawat!" Gustav menutup mulutnya. Ketika Fenja mabuk, terjadilah kisah aneh-aneh yang Gustav tidak mampu mengurusnya. "Dia mabuk betulan! Biasanya pura-pura mabuk!"

Astrid dan Barbara berpindah posisi memegangi punggung Fenja. "Dia minum berapa botol?" tanya Astrid. "Mabuknya sampai segini?"

"Delapan botol," Haakon dan Gustav mengira-ngira. "Bicaralah pada kami dengan bahasa Norwegia."

"Aku belajar bahasa Italia demi Lars!" Fenja hampir berteriak. Gustav menutup mulut Fenja kuat-kuat. Tamu mulai berdatangan, mereka tidak mau diusir hanya karena satu orang mabuk. Makanan baru dipesan oleh kedua adik bungsu kembar Solberg dan Brühl. "Mai più [tidak lagi]!"

"Ada acara apa ini? Sampai mabuk berjamaah?" suara berat laki-laki mengagetkan seisi meja. "Fenfen sakit apa?"

Gustav, Haakon dan Karoline mendudukan Lars Cassese-Brühl, menatapnya tajam secara bergantian.

"KEPARAT KAU! TERLAMBAT SAMPAI DUA JAM BEGINI! KITA SEMUA SUDAH LAPAR BERAT, TAHU!" Gustav berteriak, memukul Lars dengan buku menu keras-keras. "INI BUKAN ITALIA, LARS!"

Karoline ikut menjitak kepala Lars. Magnus dan Kana kembali membawa makanan Rusia.

"Nah, ini dua anak keluar!" seru Karoline. "Magnus! Kana! Kemari kalian!"

Tidak hanya Lars dimarahi, Magnus dan Kana juga karena pergi tanpa pamit. Magnus tampak pucat, Kana santai-santai saja sambil berujar mereka sudah dewasa maka tidak perlu diurusi lagi.

|FIN|