Mythomania


Penulis: Ayuukang

Prompt: Mythomania. Judul: Mythomania. Sesungguhnya Ayuukang adalah orang yang sangat sangat tidak kreatif.

Oh iya, major spoiler buat novel/movie 'Dilan 1990' meskipun cuma dimention sedikit (...) warning aja, jaga-jaga ada yang ga mau kespoiler. Juga, maaf kalau ending-nya terasa agak ke-rush.


Sara bukan pengunjung tetap perpustakaan, tapi ia rasa perpustakaan akan terasa begitu-begitu saja tiap kali ia mengunjunginya. Seperti sore ini. Malas langsung pulang ke rumah, Sara memutuskan untuk iseng mengecek apakah ada buku yang menarik minatnya di deretan fiksi populer. Ia bukan kutu buku, tapi tiap ada satu-dua novel populer baru yang disediakan oleh perpustakaan sekolahnya, biasanya akan dipinjam untuk mengisi kebosanan.

Hari ini sayangnya tak ada buku yang menarik minatnya. Tapi, sudah terlanjur nyaman dengan ruangan berAC itu, Sara akhirnya mengambil sebuah buku tipis (buku dongeng anak-anak) untuk sekedar dibaca pelepas kebosanan. Diambilnya satu tempat kosong di pojok perpustakaan, dan dalam tiga menit pertama membaca, Sara langsung memutuskan kalau buku yang diambilnya ini pasti akan membosankan.

"Di sini kosong, kan?"

Bisikan seorang pemuda membuat perhatian Sara yang semula tertuju pada buku di tangannya teralihkan pada pemilik suara di sana. Ternyata Aska, teman sekelasnya. Meskipun teman sekelas, mereka sama sekali tidak akrab, bertegur sapa pun hanya dua-tiga kali, mungkin termasuk sekarang ini. Tidak dekat, tapi Sara juga tak punya alasan untuk berkata 'tidak', jadi dia mengangguk.

"Bagus deh. Gue duduk, ya."

Sara kembali mengangguk, sedikit mengacuhkan pemuda yang kini mengambil tempat duduk di depannya sehingga mereka duduk berhadap-hadapan dengan dipisahkan sebuah meja. Meski begitu, ukuran meja yang kecil membuat posisi mereka bisa dibilang cukup dekat.

"Lagi baca apa? Kayaknya seru banget."

Sara memutar bola matanya, mulai menunjukkan ekspresi terganggu yang menyatakan dirinya tak ingin diganggu. Enggan menjawab, ia mengangkat buku yang dipegangnya untuk menunjukkan sampul depannya agar pemuda ini bisa melihat sendiri judul yang tertera di sana.

"Oh, gue udah pernah baca tuh. Endingnya si kakek meninggal."

Dongkol dengan spoiler tak terduga yang tiba-tiba dijejalkan ke depannya, Sara menutup buku yang dipegangnya dengan suara agak keras. Tak peduli kalau itu bisa membuatnya ditegur, tapi sepertinya tak ada yang menoleh ke arahnya juga.

"Dengar, ya. Gue ga keberatan kalau elo mau duduk di sini atau ngupil di sini. Tapi bisa nggak ga usah ganggu gue? Plis? Apa perlu gue pasang tulisan 'sedang membaca, jangan diajak mengobrol' di depan sini?"

Aska, pemuda di depannya, tertawa kecil. "Eh, ga usah marah-marah gitu, dong! Lagian gue bohong kok barusan itu, cuma bercanda, ha ha! Ga usah terlalu serius lah." Cara tertawa yang sangat menyebalkan, menurut Sara. Dikira dengan begitu ia lantas bisa memaafkannya begitu saja? Sebenarnya, yah, sebenarnya, yang dilakukan oleh pemuda di depannya tidak semenyebalkan itu juga. Tapi rumor yang tersebar mengenai pemuda ini membuat Sara memutuskan kalau ia tak akan dekat-dekat dengannya, dan sekarang malah duduk berhadap-hadapan membuatnya jadi merasa terganggu dengan mudah.

"Memang ya, mythomania ga bisa idup tanpa berbohong," Sara mengucap dingin. Ucapannya kali ini mampu membuat Aska menghentikan senyumnya yang menyebalkan, lalu memiringkan kepalanya. "Mytoma—apaan tuh?"

Mythomania. Orang yang suka bohong."

Aska menatapnya sambil mengerjap, awalnya bingung, lalu kembali tertawa kecil lagi. "Ehh, ga usah sensi segitunya napa! Cuma dibercandain dikit langsung ngatain gue tukang hobi bohong. Ga lah, tadi tuh emang gue bohong buat bercanda, tapi jangan nuduh begitu, lah! Parah."

"Bukan nuduh, kok. Anak-anak sekelas juga tahu kalau elo hobi banget bohong."

Kali ini Sara sudah tidak lagi memperhatikan bukunya, dan memusatkan seluruh atensi pada pemuda di depannya. "Bilang sodaraan sama artis lah, pernah menang lomba lukis kecamatan lah, kenal sama desainer terkenal lah, punya barang koleksi langka lah, tapi begitu disuruh kasih bukti, selalu muter-muter cari alesan. Semuga juga tahu kalau elo tuh bohong melulu kerjaannya 'Ka, ga usah pura-pura deh."

Selintas, Sara bisa melihat wajah Aska memucat, walau terlihat sekali kalau ia berusaha mengumpulkan ketenangannya lagi, yang tampaknya bisa segera ia lakukan dalam waktu singkat. "Paan sih lo, sensi amat sama gue. Dibilangin, gue ga pernah bohong juga. Gue ga tahu anak sekelas pada ngomong apa sama elo—yang pasti yang gue omongin itu ga bohong. Gue cuma punya alasan kenapa gue akhirnya ga bisa ngasih bukti ke anak-anak soal ucapan gue."

Sara kembali memutar bola matanya, "Yah, serah lo deh."

Aska tampak menghela nafas, lalu mendekatkan jarak mereka sambil merendahkan suaranya.

"Kalau gitu gue bakal ngasih tahu sesuatu ke elo, spesial, biar lo tahu gue ini pembohong atau bukan." Suaranya dibuat-buat sok misterius, seringai yang dibentuk bibirnya sangat tidak menyenangkan untuk dilihat. "Kemarin gue abis bunuh orang. Di balai kota."

Sara mengerjap, bingung, sedikit terkejut karena itu jelas-jelas bukan hal yang ia espektasi untuk dengar. Aska tampak menahan tawa, menangkupkan satu tangannya di depan mulut agar tawa itu tidak pecah dan membuatnya diusir dari perpustakaan.

"Muka lo, lucu banget. Ha ha. Canda, canda. Tapi seriusan, soal yang gue omongin ke temen-temen sekelas tuh bukan bohongan. Tapi terserah lo juga kalau lo ga percaya." Akhirnya Aska beranjak dari posisi duduknya dan melambaikan tangan tanpa berminat untuk menoleh kembali pada Sara, yang duduk di tempatnya dalam keadaan tak tahu harus merespon apa. Yang jelas ia tahu satu hal; kalau dia tak akan pernah menyukai pemuda bernama Aska itu.

Esok paginya, Sara semakin yakin kalau ia benar-benar tak akan pernah menyukai pemuda bernama Aska.

Berita bahwa ada mayat seorang pria ditemukan di dekat area tempat tinggalnya membuat Sara tiba-tiba merinding saat mengingat kata-kata Aska kemarin. Ia sampai memastikan apakah tempatnya ditemukan balai kota atau bukan, dan jawabannya ternyata bukan. Ada sekitar satu kilometer dari sana, dan yang lebih penting lagi, pria itu diberitakan bukan mati dibunuh melainkan bunuh diri dengan menggantung dirinya di salah satu tiang gedung kosong. Bukan di balai kota dan bukan pembunuhan adalah dua kata kunci yang menyatakan kalau seharusnya kematian pria itu tak ada sangkut pautnya dengan Aska, tapi kebetulan ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Kemarin Aska mengatakan ia membunuh orang dan pagi ini ditemukan mayat... bisa jadi memang kebetulan, dan tepatnya PASTI kebetulan, tapi Sara tidak bisa tidak memikirkannya.

Makanya saat ia dan Aska bertemu di kelas, Sara buru-buru memindahkan perhatiannya, tidak mau mengingat-ingat lagi hal yang ia dengar dari Aska kemarin, tak mau lagi mengingat-ingat berita soal pria yang bunuh diri. Tampaknya Aska pun menyadari gelagat Sara yang tidak wajar kepadanya, dan siang itu, jam istirahat, dia buru-buru mengatakan kepada Sara; "Sara, Sara, bukan gue!"

"Hah?"

"Berita tadi pagi, yang soal orang bunuh diri. Sumpah yang bunuh bukan gue! Itu cuma kebetulan doang, kok!" Sara menaikkan alisnya. "Gue juga tahu kok, ga usah lo kasih tahu juga."

"Tapi keliatan banget lo kayak ngehindarin tatapan gue gitu. Pasti lo mikir kalau jangan-jangan kata-kata gue kemaren ada hubungannya sama berita itu, iya kan?"

"Geer amat sih, nggak lah. Orang bego juga tahu kalau itu kebetulan. Gue ga hobi main cocoklogi juga."

Bohong, sebenarnya Sara memang sempat meragukan Aska. Ada sedikit rasa lega saat Aska mengkonfirmasi soal kebohongannya ini, karena, sebagaimanapun ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu tak berhubungan, tetap ada rasa tidak nyaman yang menyebalkan. Saat Aska mengatakan itu, ada beban yang sedikit terlepas dari bahunya.

"Beneran? Beneran yang beneran kan lo ga mikir gue yang bunuh? Fiuhh, untung deh. Ga lucu kan kalau gue sampe ditangkep polisi gara-gara bercandaan doang, ha ha! Thanks udah percaya pada kebohongan gue... tunggu, kok rasa-rasanya kalimat itu agak salah ya." Sara tidak bisa tidak tertawa. Sara pikir, dirinya tidak akan pernah bisa menyukai pemuda bernama Aska, tapi ia rasa mungkin Aska ini tidak semenyebalkan yang dirinya kira.

"Tapi seriusan, Ra, gue ga bohong kok ke teman-teman sekelas."

Bahkan, Sara jadi agak mempertimbangkan soal fakta ini, walau ia memutuskan untuk tak usah memikirkannya lagi.

Seminggu berlalu sejak kejadian itu dan ia jadi mengobrol dengan Aska agak lebih sering dari sebelumnya. Kini sesekali mereka akan bertegur sapa atau sekedar mengucapkan selamat pagi. Karena teman-temannya bilang Aska itu hobi bohong, Sara selama ini berusaha jauh-jauh dari dia, tapi ternyata dia bukan teman yang seburuk itu. Jadi, saat sore itu mereka bertemu lagi di perpustakaan, Sara tidak meresponnya lagi dengan ketus, dan melambaikan tangan singkat pada Aska sebagai sapaan kasual.

"Baca buku apa kali ini Ra?"

"Ini? Yang lagi populer banget itu loh, kuotnya sampe ada di mana-mana."

Aska tertawa kecil, "Jangan belajar, belajar itu berat. Biar aku saja," dan berucap sambil meniru-niru tokoh novel yang sedang dibaca oleh Sara. Sara terkikik sedikit. "Ya emang berat. Kalau bisa ga belajar gue sih mau ga usah belajar." Mengangkat bahu, dia meletakkan buku tersebut di atas meja. "Sebenernya gue ga yakin ini buku tipe gue atau bukan, tapi populer banget, jadi penasaran. Gue ga nonton filmnya sih."

Aska kali ini tidak pakai izin dulu untuk duduk di depan Sara. "Oh ya? Padahal ngehits banget tuh kemarin. Katanya bagus. Terus? Udah jauh bacanya? Beneran bagus ga?"

"Nggg—gak tahu deh. Kadang lucu, kadang ngebosenin. Selera humornya lumayan sih, tapi kayaknya ceritanya standar aja. Tapi sayang kalau ga dibaca sampe selesai."

"Endingnya mereka putus loh."

"ASKA! Gue bilang kan gue belom selesai baca, ngapa sih kudu banget ngasih spoiler?!"

Aska menyengir. "Canda, canda! Bohong kok bohong. Gue baca atau nonton aja kagak, mana gue tahu ceritanya kayak gimana. Cuma tahu kuot-kuotnya dari meme doang." Sara, yang sadar suaranya agak terlalu tinggi barusan, buru-buru mendekap mulutnya dengan tangan. Ia lalu menggerutu pelan, "kirain. Kalau spoiler beneran awas aja, gue putusin juga lo." Tentu saja dia bercanda, kalimat itu keluar tanpa benar-benar dipikirkan. Sementara Aska mengerjap dan segera menukas, "Kalau mau putus harus nyambung dulu dong, mana bisa putus sebelum nyambung."

"Gue bercanda, 'Ka."

"Jadi lo ga mau, nih, nyambung sama gue?"

"Ha?"

"Nyambung silaturahmi hati dengan hati."

Aska terkikik kecil, sementara Sara merasa wajahnya agak-agak memanas. "Hih, ini orang. Begituan jangan dibercandain, kalau sampai ada yang ngira lo serius gimana? Tamat pertemanan lo."

"Ng! Serius atau nggak tergantung jawaban lo sih, Ra."

Hm?"

"Kalau jawaban lo ga mau, gue ya emang cuma bercanda. Tapi kalau jawaban lo mau, berarti gue serius."

"..."

"Gimana? Jawaban lo apa?"

"...Ka, lo bercanda atau serius sihhh?"

"Yaa, kayak yang gue bilang tadi. Kalau lo ga mau, ya bercanda, tapi kalau lo mau, jadinya serius aja."

Sara mengerutkan alisnya, perhatiannya kini benar-benar sudah tak bisa lagi diarahkan pada buku di tangan, meski jari-jari masih membalik-balik lembaran-lembarannya hanya sekedar untuk membuat tangannya sibuk saja.

"...Sori, Ka, tapi kayaknya... enggak bisa. Bukan apa-apa, kita ngobrol aja jarang, baru semingguan ini sering ngobrolnya."

"Jadi kalau lebih sering ngobrol jawabannya bisa jadi 'ya'?"

"Ga tahu. Mungkin tetap enggak... sori. Lo temen yang asyik, tapi kalo lebih dari itu..."

Aska terdiam. Senyumnya tidak hilang.

"Ha ha! Muka lo. Sara, Sara. Kan gue bilang gue cuma bercanda!"

"...Ihhh, elo! Bikin gue panik aja—!"

"...Habis jawaban lo 'ga mau', jadinya bercanda aja."

Sara terdiam. Aska masih tersenyum.

"Apa karena anak-anak sekelas bilang gue ini tukang bohong, Ra? Makanya lo ga mau?"

"Lo bilang tadi lo cuma bercanda?"

"Jawab aja, Ra."

Kali ini senyuman di bibir Aska menghilang, dan Sara tahu kalau kali ini pemuda di depannya benar-benar serius. "...Mungkin, 'Ka. Bisa juga iya... tapi bisa juga enggak. Gue anggap lo temen yang asyik, cuma itu. Ga pernah berpikir lebih dari itu."

Aska menghela nafas.

"Tapi Ra, gue ga pernah bohong..."

Sara tidak menjawab.

"Apa lo tahu, Sara? Satu-satunya kebohongan yang gue lakuin adalah waktu gue ngomong kalo gue bohong atau bercanda. Sisanya? Beneran. Lo baca sampe abis ga buku yang minggu lalu lo baca? Gue bohong waktu gue bilang bercanda soal spoilernya. Kakeknya beneran mati. Dilan sama Milea? Beneran putus. Gue ga baca atau nonton, tapi gue dikasih tahu temen. Dan soal—" Aska terdiam di sini. Ia lalu tersenyum.

"Mau gua kasih tahu satu kebohongan lagi ga Ra?"

Sara masih tidak menjawab.

"Gue bakal datengin rumah cewek yang gue suka, dan gue bakal bunuh dia."

Wajah Sara sontak memucat.

"Ha ha ha! Bercanda, bercanda! Muka lo lucu banget, Ra, Ha ha ha! Duh, gue ga bisa berhenti ketawa—uhuk."

"Ga lucu, 'Ka."

"Lucu banget, tahu, ehh—tapi seriusnya, gue bercanda loh Ra. Seriusan, jangan dianggap beneran, ya," Aska lalu bangkit dari posisi duduknya, "Ya udah, gue cabut duluan. Hati-hati di rumah tar malem ya, Ra."

Sara bisa merasakan seluruh bulu kuduknya merinding. Wajahnya berubah pucat pasi, dan dipandanginya punggung Aska yang menjauh dan menghilang dari pandangannya. Tak bisa lagi dibacanya novel di tangan karena semua kata-kata yang diucapkan Aska seolah terngiang di kepala— Satu-satunya kebohongan yang gue lakuin adalah waktu gue ngomong kalo gue bohong atau bercanda—kalau begitu waktu dia bilang dia bohong mengenai pembunuhan pria itu... Tapi pria itu bunuh diri, bukan dibunuh—begituan bisa diatur kan? Bisa diatur supaya pembunuhan bisa terlihat seperti bunuh diri... dan malam ini Sara akan dibunuh. Tiba-tiba Sara yakin itu.

Ia tidak bisa tenang, sore itu Sara meminta ibu untuk menjemputnya dan menemaninya tidur. Tapi tak ada apapun yang terjadi, tak ada Aska yang datang berkunjung untuk membunuhnya. Tidak ada apapun.

Esok paginya, Aska bersikap biasa meski tidak menyapanya. Sara pun juga bersikap biasa. Aska itu tukang bohong, Sara ingat itu, jadi pasti itu hanya bohong... tapi kalau itu dikatakan untuk membuatnya lengah? Bisa saja tahu-tahu ia dicegat dan dibunuh. Selama seminggu, Sara selalu ketakutan. Ia tak bisa kemana-mana sendirian, selalu minta ditemani. Tapi, merasa konyol kalau memberitahu alasannya pada teman-temannya, ia selalu mencari-cari alasan. Berbohong seperti Aska si pembohong. Berbohong pula pada ibu agar mau terus menemaninya tidur.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, waktu berlalu tanpa ada tindakan apapun lagi dari Aska. Tiga bulan, empat bulan, enam bulan, setahun. Sara hidup dalam ketakutan, berpikir kalau 'bisa saja dia menungguku lengah untuk mencegatku—' dan pada akhirnya, ia pun disadarkan kalau Aska, Aska si pembohong, memang adalah pembohong yang menyebalkan.

Sara, Sara yang ketakutan pada Aska si pembohong, kini selalu mencari alasan macam-macam agar ada yang menemaninya kemanapun dia pergi.

Ah, apa dirinya pun kini sudah menjadi Sara si pembohong?


FIN


Prompt yang digunakan: mythomania

Penulis bisa ditemukan di: yuukang (plurk), _ayuuka (twitter, walau lagi hiatus) dan yuyukangkang (fictionpress).