Katak 2005


Penulis: Kuso

Eeeh. Ini cuma tulisan iseng-iseng saja (...) relatif panjang jadi terima kasih sudah membaca~ Pesannya dalam tulisan ini cuma satu: menyesal melakukan daripada menyesal nggak melakukan. Tulisan ini dipenuhi dengan hal-hal pretensius kayak keputusasaan, kecemburuan, dan krisis eksistensial. Jadi menyikapinya ya jangan lah terlalu serius. Feedback boleh-boleh saja, ditunggu malah. Semoga bisa menikmati ya~ (NB: Webe judul gan)


"Jika ada kau dapat mengulang satu hari dalam hidupmu, apa yang akan kau lakukan?"

Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. Hirose Yuuta adalah seorang dewasa muda Jepang pada umumnya. Hanya saja hari ini ia baru ditolak kedelapan kalinya dalam seminggu. Tentu saja ini perihal pekerjaan. Logikanya sederhana: ia tidak akan bisa menikah kalau tidak punya uang. Kalaupun punya uang, hidupnya yang nelangsa selama ini juga belum kedapatan satu pelipur lara.

Gadis impiannya tidaklah rupa-rupa. Tidak perlu terlalu muda ataupun terlalu tua. Tidak perlu dada terlalu besar atau rata sama sekali. Selama suka sama suka dan senyumnya bisa jadi pelipur lara itu saja sudah cukup. Malam itu bergelimang kesedihan. Sementara teman-temannya sudah kawin semua dan berkeluarga—berkebalikan dengan laporan di berita bahwa dewasa muda Jepang enggan kawin dan beranak—Yuuuta malah sendirian ke kedai makan. Semangkuk gyuudon dan beberapa potong oden agaknya dapat mengentaskan rasa kesepiannya, tapi ia salah. Sepulangnya ke apartemen yang cukup untuk hidupnya seorang diri pemuda itu membasuh mukanya. Di cermin terpantul wajah letihnya. Ia bisa melihat kerut-kerut kecil yang mulai bermunculan. Juga kantung mata yang mulai tebal di bawah rongga bola matanya. Tipikal. Hidup dewasa ini melelahkan, apalagi di usia ke 29-nya semua terasa ganjil. Seganjil serat-serat rambut putih yang mulai bermunculan diantara hitam legam rambutnya

Ia bertanya pada dirinya, "di mana aku salah melangkah dulu?" Tak pernah jadi murid yang benar-benar berprestasi, tapi bukan anak bandel juga. Tak pernah melanggar hukum, tapi selalu ada momen-momen di mana ia merasa sedikit serong masih boleh. Hasil akhirnya adalah seperti sekarang.

Kini matanya menatap tembok di samping kasurnya. Dalam kesepian yang mencekik, tembok tersebut terlihat seperti opsi yang lebih cepat untuk membuat dirinya tertidur—ketimbang membayangkan adakah caranya membangun mesin waktu dan memandu dirinya di masa lalu agar menjadi orang yang lebih baik dan memiliki mencoba sedikit lebih keras. Tapi tidak. Yuuta tidak senekat itu. Ia hanya memejamkan mata dan berharap bahwa dirinya bisa kembali ke masa lalu.

Perlahan-lahan gelap total mulai menelannya. Kesadarannya menipis, suara di kepalanya juga mulai tenang. Teater benaknya yang memutar adegan-adegan masa lalu mulai berhenti. Terlelap dalam tidur tidak pernah seenak ini.

Kerjap matanya menyambut pagi. Hari ini agak terang, ada sedikit yang berbeda dari yang terakhir diingat Yuuta. Langit-langit kamarnya terasa agak luas. Lampu putih yang menggantung pun menyala. Terakhir diingatnya, dia memang sempat mematikan lampu sebelum tidur untuk menghemat tidak pagi ini. Dan atap yang dilihatnya pun sebenarnya bukan hal baru—bisa saja ia melindur. Memutuskan untuk kembali terperjam karena lelah, ia terkesiap. "BANGUN!"

Suara menggelegar, terbenam oleh tembok yang mengungkungnya. Ini semua terasa familiar. Atap itu, suara itu, atmosfer ini. "Hmmm..." Gumamnya pelan. Semua sensasi ini terasa begitu nyata. Ketika seseorang bermimpi beberapa indera mungkin tidak merasakan apapun. Kali ini berbeda. Bau apek dari kamar yang agak lembap di musim semi, hangat mentari pagi yang menembus tirai kamar, empuknya bantal yang menahan kepalanya, dan segala bagian kulitnya yang dapat merasakan sekelilingnya. Ini semua begitu nyata.

Pelan-pelan Yuuta mendudukan dirinya. Belum sempat benar-benar sadar, ketukan dari pintu kamar yang agaknya terletak di sampingnya terdengar "Pergi sekolah? Jangan lupa kunci pintu!" Suara perempuan yang kali ini agak lembut meski masih terdengar lantang. Jarak vokalnya persis seperti yang tadi berteriak hanya saja intonasinya berbeda. Ini adalah kamarnya dan ia tidak ingat punya penyakit tidur berjalan sampai bisa berangkat dari Tokyo ke Hiroshima dalam satu malam. "Mimpi, ya..." Gumamnya. Perlahan matanya menyibak ke seisi kamar. Posisi mejanya sebagaimana ia ingat sedekade lebih lampau. Berhadapan dengan futon yang dipakainya untuk tidur. Di sampingnya sebuah lemari geser yang menempel dengan pintu. Bayangkan saja kamar Nobita di Doraemon, hanya saja ia lebih suka tidur menghadap meja dibandingkan ke arah pintu.

Ini benar-benar kamarnya. Kaget? Tentu saja. Otaknya masih mencerna, tapi tangannya liar bergerak mencari ponsel. Biasanya Yuuta meletakkan benda penting itu cukup teratur, di samping kasur tidurnya. Kali ini tidak.

Kamar berbeda, tata letak berbeda. Tidak ada yang diingatnya benar-benar jelas soal kamar itu. Buku-buku bertumpuk, tape deck merk Aiwa yang jadi teman saat belajar, dan meja yang kayu dengan guratan-guratan iseng di atasnya. Di sana ia menemukan ponselnya.

Ponselnya pun berbeda dari terakhir Yuuta ingat. Sebelumnya pria muda itu masih menggunakan ponsel pintar dengan layar sentuh yang terlalu besar. Bahan solid, hanya sudah agak lambat. Tapi kali ini... nostalgik. Bentuk lipat, layar luarnya menunjukkan pukul 07:38 pagi. Gambar amplop terpampang, satu pesan masuk.

Instingnya adalah membuka kotak pesan si ponsel. 'Tuhan'. Kontak pengirim dengan nomor tidak terpampang. "Ini yang kau inginkan, kan? Selamat menikmati XOXO."

"..."Ia terdiam beberapa saat. Masih mencoba mencerna. Tidak tahu tuhan yang mana, buddha atau jesus. Bisa jadi Loki atau malah setan yang menyamar jadi tuhan untuk menyesatkan umat manusia. Tapi kalau benar ini kerja tuhan, dia bisa apa?

Hidupnya baru didiskon sekitar dua belas tahun—begitu kata penunjuk tanggal di ponselnya—dan si pria muda (kini remaja) itu dapat lakukan hanyalah... berdiri. Berdiri sampai dengus tawa konyolnya lepas. "Hahahaha..."

"HAHAHAHAAHAH..." Dan berubah menjadi tawa menggelegar. Tuhan itu konon serba bisa. Keajaiban adalah domainnya, dan Yuuta bukanlah orang yang taat pada kepercayaan. Kalau ada satu hal yang dipercayanya maka itu adalah bukti empiris—makanya ia berharap ada mesin waktu bukan loncat dari lini masa A ke B secara ajaib. Tapi ini mungkin mengubah persepsinya terhadap hal itu.

Kecuali, Yuuta masih menganggapnya sebagai mimpi. Dan dalam mimpi semua hal yang mustahil dapat terjadi, salah satunya adalah seperti sekarang ini. Percaya tidak percaya dan benar atau tidak sudah tidak relevan saat ini. Inilah yang diinginkannya: untuk hidup barang sehari saja di masa lalunya. Maka ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dibukanya lemari geser dan ia meraih seragamnya. Buru-buru ganti baju, cuci muka, dan gosok gigi. Keluar dari pintu geser, Yuuta disambut oleh lorong kecil. Kamarnya terletak cukup dekat dengan pintu luar. Inginnya sih, menjelajah dulu. Menyesapi masa lampau dengan semua sensasi yang terlalu riil ini.

"Ossu,"akhirnya ia memutuskan untuk berangkat sekolah. Yang disapanya di perjalanan adalah Ryouma, teman bangku sebelah. Anak atletis dan tampan. Kelak ia akan menjadi pemain professional tapi Yuuta tak berminat untuk mengungkap semua itu. Langkahnya diseragamkan dengan si kawan bangku sebelah. "Kemarin," pemuda jangkung itu tiba-tiba berceloteh sambil merangkul bahunya. "Kenapa kau nggak nonton tim kita? Final wilayah kan!" Ingatan Yuuta pun samar-samar tentang hal itu. Banyak kesehariannya yang sepele terlupakan ketika ia menginjak awal dua puluhan. Hidup baginya menjadi suatu proses bangun-cuci muka-berangkat-melakukan hal-pulang-tidur lagi. Suatu otomatisasi yang tidak berarti. Sehingga kesan-kesan lama yang ditinggalkan di masa sekolahnya banyak yang hilang. Menggeleng pelan, ia tahu ia harus berbohong. "Sedikit tidak enak badan, biasa." Ia tertawa canggung. Seingatnya pada masa ini, adalah masa-masanya Yuuta keranjingan bermain game konsol. "Draque paling baru menyita waktuku sampai subuh."

Sampai di gerbang, langkah-langkah kaki yang tidak seragam itu perlahan mengumpul di satu titik. Secara acak memasuki lorong-lorong depan kelas. 3E adalah ruangan yang Yuuta duduki dulu. Langkahnya pelan, menikmati lagi kenangan-kenangan yang kini membanjiri benaknya. Ia menyisiri jajaran bangku barisan tempat duduknya. Baris kedua dari pintu, bangku ke tiga dari depan.

Bangku ini mungkin pada garis waktu yang sesungguhnya sudah diduduki oleh beragam orang. Sedekade lalu perasaan ini tidak terasa, namun nyaman yang kini dirasakannya pernah nyata juga dulu. Ia menundukkan kepala seolah mencoba menghirup dalam-dalam bau plastik dan besi yang menyusun kursi tersebut agar tersimpan dalam paru-parunya.

Sedang anteng meresapi momen, isi sakunya bergetar. Ia menarik ponselnya keluar. Dugaannya kalau bukan ibunya, mesti ayahnya. Tapi yang didapat si pemuda lebih dari itu. 'Tuhan' sekali lagi keluar. "Sekarang apa lagi," lenguhnya. "Bagaimana? Menikmati pagimu? Jangan lupa kau di sini untuk suatu alasan. Jadi bereskan itu dan lanjutkan hidupmu."

"Sebelum hari ini berakhir. 3"

Tuhan senang main-main, juga senang main kode. Ia mengetik balasan: "Maksudnya apa? Aku harus lakukan apa?" Dan tanpa ragu ia pesan send. Tidak ada tanda-tanda pesan terkirim. Untuk beberapa saat si remaja baru itu masih menatapi ponselnya hanya untuk mendapati tanda silang bahwa pesan tidak terkirim.

Beberapa saat kemudian, lonceng tanda kelas akan dimulai berbunyi. Derap-derap langkah di lorong sudah tidak terdengar untuk beberapa saat karena sebagian besar murid sudah duduk di dalam kelas. Namun samar-samar, ia bisa mendengar satu sandal sekolah dari dalam kelasnya yang mendadak sunyi. Cepat, dan diakhiri dengan decit pintu geser yang sebelumnya sudah tertutup. "Maaf!" Suara tenor tersebut mengalihkan perhatian seisi kelas ke pintu. "Aku agak terlambat!" Sengal-sengal nafas dari sosok berkuncir kuda tinggi di pintu menyelangi kalimatnya. Gadis itu pasti berlari dengan amat cepat dari gerbang ke pintu sampai terlihat selelah itu. "Aah, ternyata." Lanjutnya sendiri. "Belum mulai ya?"

Seisi kelas menjadi riuh, mereka berkelakar. Yang ada di pintu tadi adalah Miura Himeko. Gadis anggun anggota klub atletik. Populer diantara laki-laki dan para gadis pun menyukainya. Sering dimintai tolong oleh klub lain dan tidak jarang memenuhi pertolongannya. Tubuh sintal, wajah manis, dan percaya diri. Rumornya, sudah 50 orang di sekolah ini yang ditolaknya dan semuanya pun memiliki kepribadian menarik dibandingkan Yuuta. Ryouma—si sahabat bangku sebelah—pun konon pernah ditolaknya. "Hei," bisik suara dari sampingnya. "Mau sampai kapan melototin dadanya seperti itu?"

"Berisik ah," kibas lengannya ke arah si teman. Gadis itu memang populer, berada jauh dari jangkauan Yuuta. Ibaratkan Yuuta adalah katak dalam sumur, maka Himeko adalah bulan yang jauh di angkasa sana. Dari dalam lubang kecilnya yang terkungkung tembok sempit dan tinggi, sesekali gadis itu menyinari meski tertutup awan. Dan sekali cahaya itu menyoroti lubangnya, Yuuta hanya bisa terpukau.

Rambut sehitam bulu gagak, tatapan mata lembut yang seringkali diiringi senyum. Mesti pria-pria yang dirumorkan itu sama terpukaunya dengan Yuuta. Meski ia hanya katak, untungnya, si bulan duduk tidak jauh darinya. Malah gadis itu (entah suratan takdir seperti apa yang menimpanya) duduk sangat dekat dengan Yuuta. Sisi kirinya si teman, sisi kanannya si gadis. Bukan tidak jarang dalam ingatannya Yuuta menolak ajakan untuk bertukar kursi. Hanya saja menatap ke pinggir selama jam pelajaran akan terlihat aneh, dan ia pun terasa canggung—kalah kelas—jika harus memulai basa-basi duluan tanpa perkanalan dan lainnya.

Singkat kata, Hirose Yuuta yang masa itu 17 tahun, hampir tidak pernah mengobrol dengan rekan bangku sisi kanannya. Menyukai gadis itu? Siapa tidak. Himeko beberapa kali meminjamkannya bolpoin ketika Yuuta lupa membawa wadah alat tulisnya. Sekali waktu Yuuta yang hampir tidak pernah kesiangan lupa membawa bekal makan siangnya. Gadis itu, di tengah kerumunan kawan-kawannya yang mengajak santap siang bersama, sempat menyisihkan sisa makanan ke tutup wadah makanannya untuk Yuuta. Gestur yang diikuti beberapa gadis lain yang tampak seperti gerombolan meerkat di savana Afrika.

Siapa tidak jatuh hati dengan kombinasi keanggunan, kesupelan, dan hati semurni platina seperti itu. Masalah terbesarnya adalah Yuuta sedari dulu sadar kalau dia itu cuma katak. Tidak kurang, tidak lebih. Terkurung kegelisahannya akan dirinya sendiri dan ketidakpercayaannya pada dirinya sendiri. Hanya bisa menatap, sesekali melompat, dan kembali jatuh lagi. Mereka sempat berbincang barang sepatah atau dua patah kata, tapi itu hanya pertukaran wajar ketika mengoper catatan atau kertas ujian ke sekelilingnya. Mereka pernah bertatap mata, tapi hanya sekilat saja. Belum lagi arah pulang mereka berbeda. Akan terlalu canggung jika Yuuta menyengajakan diri berjalan mengikuti arahnya. Meskipun ingin, ia tidak bisa. Ia merasa tertekan.

Dan ini, agaknya, adalah sumber penyesalan terbesarnya. Tidak mencoba lompat sejauh mungkin, barangkali bisa sampai bulan. Pelajaran dimulai. Tidak ada interaksi berarti antara dua murid itu. Pelajaran trigonometri yang dibawakan oleh gurunya di depan kelas mendadak berasa tidak berarti—tidak ada yang berarti. Lagi pula ini waktu yang berbeda, dan jika ia memang ditakdirkan untuk menghidupi garis waktu ini kelak, Yuuta bahkan belum bisa membayangkannya. Satu emosi yang dirasakannya diantara kebas-kebas dan kaget akan perubahan waktu itu: Ia harus bicara dengan Miura Himeko sebelum hari ini berakhir.

Jam makan siang tiba. Tidak mungkin berbicara di tengah jam pelajaran, apa lagi sepertinya murid yang tidak khawatir akan ujian akhir tahun nanti hanyalah Yuuta seorang. Pilihan universitas pun tidak terlewat di benaknya. Lakukan saja yang sebelumnya dilakukan, pikirnya. Karena toh, ia telah menjalani segala sesuatunya sekali. Akan sesulit apa percobaan kedua? Kalau pun ada aksinya yang mengubah masa depan di masa kini, bakal seburuk apa sih?

Ketika bel makan siang berbunyi, Himeko pergi dengan segerombol gadis lainnya. Nampaknya hari ini si gadis tidak membawa bekal—dan tentu si katak tidak peka juga begitu. Ia menyelinap keluar kelas, sebelum Ryouma yang masih sibuk menyalin catatan sadar. Kakinya sekali lagi menelusuri lorong di mana beberapa murid menghabiskan waktu menatap lapangan dari jendela. dari kelas D sampai A sudah ia lewati, tidak ada gadis berkuncir tinggi yang ingin ditemuinya. Kafetaria pun begitu. Meski ramai dan riuh—atau justru karena itu—Yuuta masih tidak bisa menemukan Himeko.

Dalam gontai, sedikit putus asa, ia memutuskan untuk mengambil satu lap mengelilingi sekolah. Ke taman luar ruangan yang ramai akan murid. Ke gymnasium di mana hentakan bola—apapun macamnya—pasti terdengar setiap saat sampai ketika jam pulang sekolah. Dan bahkan ke luar ruangan ganti wanita dan toilet wanita di mana Yuuta tidak berani berdiri terlalu lama demi menjaga nama baik dirinya di masa lalu. "Hah..." Lenguh si remaja. Sedikit putus asa, Yuuta memutuskan kembali ke kelas. Jam istirahat pun masih panjang karena Yuuta memutuskan untuk tidak menghabiskan waktunya makan siang.

Ryouma pun tidak ada di dalam kelasnya. "Lihat Ryouma?" Tanyanya pada seorang gadis berkacamata yang lewat. Gelengan kepala pelan. Awalnya Yuuta ingin menanyakan Himeko alih-alih sahabatnya, tapi apa boleh buat. Lidahnya tercekat di tengah dan nama yang terucap berbeda dengan apa yang terucap. Akhirnya ia kembali ke bangkunya. Menderap-derapkan jari dengan tidak sabar ke atas mejanya. Bergantian, telunjuk sampai kelingking dan kembali lagi ke telunjuk. Kali ini jam makan siang bahkan terasa lama.

Mengingat kembali ke masa lalu, masa-masa ini memang terasa lama namun jika ia melihatnya secara retrospektif, semuanya terasa sekilat mata. Kuliah, bekerja, dan mungkin kelak ia akan menikah dan punya anak. Bisa saja tiga tahun di sekolah terasa abadi tapi ketika ia berumur 40, 50, atau bahkan 60 nanti semuanya hanya terasa sekejap mata. Semuanya bisa hilang tanpa ia sadari. Seperti Ryouma yang menjadi pro dan tidak pernah menghubunginya lagi. Ataupun Himeko yang di masa depan tidak pernah terdengar di dalam grup sekolahnya—kabarnya ia menikahi seorang dari luar negeri dan tinggal jauh dari Jepang sehingga kontaknya susah dihubungi.

Sementara ia, di masa depan, akan membusuk di Tokyo selama beberapa tahun. Menjadi mesin otomatis yang hanya tahu cara bekerja di satu tempat sebelum memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Penyesalan lain dalam dirinya adalah tidak hidup segenap hati. Ryouma dulu pernah mengajaknya masuk tim basket, ia tolak karena itu bukan hobinya. Risiko-risiko seperti membantu orang di jalan, memerhatikan sesuatu dengan sebaik mungkin, atau belajar segiat-giatnya sampai masuk universitas terbaik, mestinya semua itu dapat dicapai. Hanya saja Yuuta senang hidup apa adanya. Que sera-sera. Jadi apapun, jadi. Dan kemana itu membawanya? Ke penyesalan.

Menjadi introspektif membuatnya depresi. Dan keabadian jam makan siang agaknya hanya perasaan Yuuta saja. Ketika bel itu berbunyi, apa yang terjadi ketika jam masuk kembali terulang. Hanya saja kali ini Himeko berhasil menyelinap dan tahu-tahu sudah berada di bangkunya saja, menatap ke arah Yuuta. Wajahnya memasang senyum lebar.

Rasa panas. Nadinya yang sebelumnya berdesir dingin kini terasa agak hangat. Yuuta tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa—wajahnya pasti kini terlihat konyol. Satu kata pun tidak bisa diutarakannya. Sementara gadis di bangku sampingnya sudah kembali melihat ke papan tulis, dari sisi lainnya terdengar suara. "Cie," agak bass. "Berisik," mendesis. Ryouma juga sepertinya sudah kembali. Kedua orang ini bisa muncul dengan tiba-tiba tanpa sadarnya adalah hal yang menarik. Sedalam itukah lamunan Yuuta sampai bisa mengabaikan sekeliling?

Menyongsong sore, wajah-wajah lelah di dalam kelas mulai merekah. Beberapa detik sebelum bel pulang yang bisa berbunyi kapan saja. Satu orang yang mempertahankan ekspresinya sedari siang tadi mungkin Yuuta saja. Masih bingung kenapa Himeko senyum ke arahnya, dan haruskah ia bertanya ada apa? Bahkan katak pun akan heran jika bulan tidak bergerak selama beberapa saat. Bisa jadi ada dua skenario yang mungkin: kiamat, atau keajaiban. Sampai saat ini rasanya jantungnya bakal copot kalau mencuri pandang ke bangku sebelah yang tampak fokus pada pelajaran. "Oy," Ryouma menyela lamunannya. "Kalau masih di situ saja, mending ikut latihan basket," ajaknya lagi. "Ogah," tandas tanpa berpikir. "Masih ada urusan."

Mengajak ngobrol Miura Himeko adalah prioritasnya tertinggi saat ini. Bagaimanapun caranya, dimanapun tempatnya. Tapi butuh keberanian untuk hal itu, makanya Yuuta harus mengumpulkannya dulu. Sambil mengikuti si gadis yang meninggalkan kelas ke lorong. Setidaknya Yuuta cukup hapal rute pulang yang sama diantara semua murid: melalui gerbang depan yang merupakan satu-satunya gerbang di sana. Mencoba untuk tidak terlalu mencolok, ia menunggu beberapa saat sebelum berdiri. Ryouma sudah lebih dulu berangkat ke latihannya sehingga Yuuta bisa dengan tenang menunggu.

Rentang dua menit, Yuuta bergegas. Meninggalkan tasnya di belakang. Tidak ada yang berarti baginya saat ini kecuali berbicara kepada Miura Himeko. Mengambil kesempatan yang selama ini ia gantungkan saja di depan wajahnya. Mestinya ia mencekik dirinya di masa lampau karena tidak secepat itu memutuskan untuk mengenal si gadis lebih dekat, tapi penyesalan hanya penyesalan. Kini dalam benaknya hanyalah penasaran yang terdalam. Tidak peduli pada kontinuitas ruang dan waktu.

Tapi... ya. Keberanian itu hal yang mahal. Semahal rasa malu dan harga diri seseorang. Bagi seekor katak dalam sumur, Yuuta punya harga diri yang tinggi. Ia akhirnya menemukan si gadis berkuncir di jalan panjang depan gerbang sekolah. Langkahnya pelan namun. Sendirian. Sebenarnya, jika dipecah seperti ini mereka toh hanya dua orang saja. Di luar sekolahnya—tentu di luar komunitas atletik juga—mungkin mereka hanya dua anak SMA yang sama-sama canggung.

Seperti yang diingatnya, Yuuta tidak pernah ke gadis itu sekalipun. Arahnya berbeda. Jadi jika punggung ramping yang diayuni rambut sehitam bulu gagak itu hilang dari depannya, kesempatan Yuuta menemukan Himeko dekat ke nil. Di dekat sekolah mereka adalah kompleks perumahan yang tidak terlalu ramai. Semakin jauh kaki Himeko melangkah, semakin lelah kedua pergelangan kaki Yuuta mengejarnya. Gadis itu tidak berhenti berjalan selangkah pun.

Memasuki distrik pertokoan, riuh orang mulai memenuhi trotoar. Yuuta masih bisa melihat punggung Himeko. Melalui dua orang pegawai konstruksi yang menggotong batangan kayu besar, memisahkan mereka beberapa saat. Himeko berbelok menuju distrik pertokoan dimana restoran-restoran terletak. Jalanan di depan mereka menyempit sehingga Yuuta harus cerdas-cerdas menjaga jarak.

Gadis itu berhenti di suatu kafe. Tema warna hangat kecokelatan dan dalamnya terlihat hangat. Jendela besar di luarnya memberi Yuuta pandangan cukup jelas apa yang terjadi di dalamnya. Miura Himeko duduk di satu kursi yang sebelumnya sudah terisi.

Rambut kuning berdiri, bahu lebih lebar dari gadis itu. Dari caranya menyandarkan diri di kursi depan jendela, pasti seorang pria. Beberapa detik Yuuta memperhatikan hal tersebut. Dalam hatinya kini berkecamuk perasaan tidak jelas. Pacarnya? Saudaranya? Kencan? Cuma ketemu? Pasti pacar kan! Seperti ada longsor besar di dalam hatinya dan ia tidak bisa berpijak atau bertahan pada suatu apapun. Yuuta hanya bisa menonton. Untuk beberapa saat, yang bisa ia lihat dari balik jendela hanya bahu si pria yang bergerak-gerak.

Kalau itu memang pacarnya, ekspresi seperti apa yang diperlihatkan Himeko? Apakah ia bahagia? Haruskah Yuuta mendadak masuk dan melihat langsung? Tentunya sang katak tak berani. Ia cuma bisa menonton dari balik jendela. Sementara di luar semakin gelap, ia meninggalkan titik pengawasannya ke mesin penjaja minuman di dekat tikungan tempat ia bersembunyi. Satu koin, soda limun, dan ia kembali ke titik awalnya. Penasaran pun tidak ada gunanya. Wajahnya yang terasa panas tidak karuan kembali dingin kembali setelah minum soda tersebut. Ia hanya bisa menunggu dan bersikukuh pada tekad awalnya: menunggu Miura Himeko keluar dan berbicara barang satu kalimat saja kepadanya. Tapi, jika kesempatan itu datang. Apa yang akan dilakukannya?

Lagi, tidak terbayang. Satu sisi dirinya yang hanya hidup terbawa ombak tetap keras kepala meski sekuat mungkin Yuuta melawan hal tersebut. Ia hanya ingin ada waktu berdua saja. Soal apa yang dibicarakan tidak penting. Begitu kata pertama keluar, maka kata selanjutnya akan menyusul. Selama ini begitu, dan tidak akan ada yang berubah sedikit pun dari itu. Bahkan dalam satu hari yang berulang dalam hidupnya ini.

Si rambut pirang masih duduk di belakang jendela yang sedaritadi Yuuta perhatikan lekat-lekat. Mendadak, kuncir hitam menyibak dan menyembul dari hadapannya. Dengan cepat Himeko terlihat menghampiri pintu. Keluar dari tempat itu dan meninggalkannya dengan cepat. Kepala gadis itu tertunduk.

Selanjutnya yang diketahui Yuuta, gadis itu berjalan ke arahnya dengan kepala tetap tertunduk. Cepat, tapi tidak secepat di trekl lari. Ia gelagapan. Kaleng sodanya hampir terjatuh dari genggamannya. Sembunyi, kemana!? Benaknya sekali lagi berkecamuk akan hal yang berbeda. Untungnya, seolah tak kasat mata, si gadis hanya lewat di depannya. Melangkah begitu cepat meninggalkan tikungan sampai di satu titik.

Tunggu apa lagi,ini kesempatanmu.

Pengecut.

Pecundang.

Katak.

"Tunggu!" Pekik Yuuta membelah keheningan. Tapi punggung gadis itu terus pergi menjauh, memisah jarak antara mereka berdua. Sementara kakinya sendiri mulai berjalan, ia bisa merasakan pembuluh darah di kepalanya penuh seperti mau meledak. Jantungnya berdegup kencang, sekencang-kencangnya. Himeko tidak berhenti, memaksa Yuuta untuk berlari dalam sepatu sekolahnya yang tidak nyaman.

Kedua kakinya melangkah bak piston dipaksa bekerja keras. Bergantian, menghantam satu sama lain. Ia bisa melihat jarak diantara mereka teriris. Beberapa langkah saja dan ia dapat meraihnya. Meraih tangan yang mengayun dengan cepat mengikuti langkah si gadis. Kalau sudah begini, kalau tangannya sudah meraih ke tangan yang tergantung itu, bisa jadi Yuuta melakukan lebih dari hanya sekadar bicara.

Meski tersengal dan hampir terjatuh, Yuuta berhasil menahan telapak tangan Himeko. Ia merasakan si gadis berhenti di titiknya berdiri. Sisi trotoar itu kini terasa sepi, seperti hanya milik mereka berdua. Kecuali dengan suara latar deru kendaraan dan suara pekerja bangunan yang mengetuk-ngetuk kayu. "Tunggu," sekali lagi sambil mencoba menarik dan mengatur nafas.

Tangan seseorang terasa hangat ketika kau menggenggamnya. Itu hal yang disetujui secara umum oleh hampir semua orang. Tapi tidak dengan Himeko. Tangannya terasa basah, dingin. Bergetar. Yuuta yang tersengal dan hanya dapat melihat tangan yang ia gapai kini memindai tubuh si gadis. Dari telapak tangan, naik ke siku, naik ke lengan, naik ke bahu. Seluruh tubuh gadis itu bergetar. Samar-samar isak terdengar. Bertengkar? Berkelahi? "Ah, um, halo."

Aku Yuuta dari Bangku sebelah dan iya, aku menguntitmu tadi.

Tidak mungkin begitu juga. "K-k...Baik-baik saja?" Patah-patah suaranya mirip orang tercekik. Yuuta tidak kembali ke dalam sumurnya untuk kali ini. Ia melihat belakang kepala si gadis yang belum berbalik. Geleng kepala lemah. Gadis itu tidak baik-baik saja untuk saat ini. Bukan posisi Yuuta juga untuk menanyakan itu karena ia, pada saat ini, hanyalah stalker busuk yang mencoba mendekati seorang gadis yang sedang rapuh. Yuuta bergerak ke hadapan si gadis. Kepalanya masih tertunduk. Kalau seperti ini, ia tidak bisa berbicara mata ke mata dengan Himeko. Tangannya yang kini sudah tak menggenggam tangan si gadis bergerak perlahan. Masing-masing ke arah pipi si gadis. Mencoba mengangkat kepalanya perlahan agar mereka bisa saling tatap. Jari-jari si pria muda dapat merasakan dingin diantara hangat. Panas pipinya yang bertemu dengan air mata. Sensasi yang pertama kali dihadapi olehnya. "Halo," ucapnya sekali lagi.

Gadis itu masih tidak merespon, hanya terisak dan matanya tidak terlihat fokus pada apapun. Meski kini isaknya sudah lebih pelan, Yuuta tidak tahu harus berkata apa. Saat ini, wajah yang biasanya penuh dengan senyum dan rasa percaya diri itu terlihat begitu rapuh. Seperti akan runtuh ke dalam rentetan isak tangis yang selanjutnya.

"H..halo." Sekali lagi. Sungguh, ia tidak punya ide apa yang harus dibicarakan dan diam-diam ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak merencanakan terlebih dahulu. Sejak awal, kenapa harus Himeko? Apakah ia menyukainya? Rasanya tidak. Ia hanya berjalan mengikuti instingnya—mengikuti proses otomatisasi yang terjadi pada tubuhnya dari momen ke momen. Sebutlah ini takdir, tapi takdir jahat apa yang mempertemukan perjaka berumur 29 tahun yang kembali ke usia 17-annya untuk menemui gadis (nampaknya) berkelahi dengan pacarnya di dalam sebuah kafe.

Jalan terbaik adalah menjadi jujur pada dirinya sendiri. "Um, begini." Lanjutnya menyapu sedikit rasa ragu yang tersisa dengan berdehem dan melempar pandang sedikit ke lantai beton di bawahnya. "Saat ini aku belum menyukaimu."

"Tidak tahu kalau nan—" kata Yuuta terputus. Gelap menelan horizonnya. Seakan tenggelam ke dalam tinta hitam yang tiba-tiba menelan semua kesadarannya, semuanya hilang begitu saja. "Sedikit lagi, sedikit lagi! Sedikit lagi sial! Tuhan!? Mana tuhan!?"Umpat dalam gelap itu tidak membantu sama sekali. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia dapat merasakannya. Bahwa apa yang perlu dilakukannya sudah ditunaikan. Tidak ada lagi yang Yuuta bisa lakukan.

Spektrum cahaya putih kini menggantikan hitam yang menelannya. Atap yang dilihatnya sekali lagi berubah. Bukan lagi atap rumahnya yang terasa tinggi. Kali ini atapnya hanyalah plafon yang membosankan khas sebuah kamar apartemen. Buru-buru ia mendudukkan tubuhnya. Ponsel yang ada di samping kepalanya dengan mudah dijangkau. Satu pesan di kotak masuk, dan ia sudah bisa menduga dari mana asalnya. Tuhan. "Ohanyan Gozainyaaan 3 Gimana, puas? Tapi mohon maaf, kuotamu sudah habis. Jadi, nikmati hidup apa adanya, yaaaa!"

Seperti dugaannya. Tidak ada satu pun hal yang dilakukannya di masa lampau tadi berarti. Seperti hanya sebuah mimpi, dan siapa tahu kalau pesan dari tuhan ini juga hanya kelakar belaka yang kebetulan sama dengan mimpinya. Yuuta sadar harus memotong jatahnya menonton film sains-fiksi kecuali ingin hal seperti ini berulang. Kembali ke kamar mandi, wajahnya yang kemarin terlihat tak segar kini terlihat sedikit lebih terawat. Menarik betapa sebuah tidur nyenyak semalam dapat mengubah seseorang.

Ia menggosok giginya dan mengganti baju. Jam dinding menunjuk angka sepuluh lewat lima menit. Masih terlalu pagi untuk pergi keluar apalagi saat ini dia NEET dan terlebih, ketika mengecek kalender, ini hari minggu. Kembali ke atas kasurnya, ia merasakan ponselnya yang ditinggal disana bergetar. Satu pesan. Kanji yang dikenalnya muncul di layar. Bukan tuhan, "Hi-me-ko."

Kalau ini kelakar selanjutnya, maka ini tidak lucu. Buru-buru ia membuka pesannya. "Sedang apa? Sekarang sempat ketemu? Ayo ke toko pastry di sebelah apartemenmu!"

"..."

"..."

Yuuta tentu saja tidak dapat menolak ajakan tersebut. Apa yang fiksi dan apa yang nyata terasa tercampur sekarang. "Ya, tunggu saja. Aku dalam perjalanan," balasnya tanpa emoji apapun. Memasang jaket parkanya dan meninggalkan pintu apartemennya terkunci, ia berangkat. Tuhan memang suka bermain-main, dan kali ini, permainannya menguntungkan bagi Yuuta.


FIN


Prompt yang digunakan: Stalker, Dilan

Penulis bisa ditemukan di: weabooakut di twitter, ujangapri di plurk, gue di hatimu. (kiss)


Pesan dari penerima cerpen: Gue ga ngasih prompt Dilan woy #gausahnumpangeksisheh