Sahabat Mata


Penulis: Vierseason

Absurd banget ya? Belakangan emang bisanya bikin beginian. Boleh dong komentarnya di taruh di akun storial eug. Wqwq. Onegai. Plis.


Namanya Isbat, pemuda yang kurang dari seperempat abad hidup di dunia. Waktu dirinya lahir—hampir dilahirkan—orang-orang sibuk membicarakan namanya. Ibunya saja sampai tidak sadar air ketubannya pecah. Untunglah, dia berhasil lahir dengan normal dan menangis tidak lama setelah menjauh dari selangkangan ibunya.

Isbat, begitulah kakeknya menamakan. Bertepatan dengan tangisnya, orang-orang bersyukur mendapatkan kepastian. Sejak saat itu, Isbat tidak lagi dilupakan. Ia selalu diingat. Setidaknya setahun sekali karena kebetulan saja namanya "Isbat".

Selain itu tidak ada yang spesial. Ia hidup sebagaimana Anak Millenial: mempunyai serangkaian akun media sosial, merekam tiap momen dalam kehidupan, dan berujung sempoyongan pada rutinitasnya itu. Benar, Isbat tidak kuat dengan gaya hidupnya. Bapaknya di-PHK sepihak, kebon milik kakeknya di kampung hangus terbakar, lalu ibunya tidak pernah pulang sejak Isbat berusia lima tahun.

Isbat pernah bertanya kenapa ibunya pergi, kenapa ibunya tidak kembali. Tapi, tidak pernah ada yang memberi jawaban pasti selain karena Isbat atau untuk Isbat. Memori terakhirnya dengan sang ibu kadang terngiang dalam benak Isbat. Samar, karena Isbat mulai lupa wajah ibunya, bagaimana suaranya, apalagi kebiasaannya. Lalu Isbat tertawa miris.

"Karena Isbat. Untuk Isbat." Begitu kata Bapak.

Kiranya, terbayang "isbat" yang lain, yang terselip dalam ucapan bapaknya dan itulah yang membuatnya tertawa miris karena belakangan ia sering menertawakan namanya.

"Apalah arti sebuah nama?" tanya Isbat di hadapan cermin. Menggombali diri sendiri dengan menganalogikan sosoknya sebagai setangkai mawar, ia terkekeh. Katanya, mawar tetap harum meski namanya bukan mawar. Mau diberi nama Sahl pun dia bakal melarat seperti sekarang. Bakal luntang-lantung mengejar kawanan Millenial-nya.

Isbat tetap Isbat. Mau mengganti namanya sekalipun hidupnya tidak akan berubah. Ia tetap kelaparan. Jika bulan lalu ia bisa makan nasi dengan tahu, bulan ini tidak pakai tahu—cuma nasi. Besok, dia belum tahu. Keadaan bapaknya makin kritis saja. Popoknya lebih mahal dari makannya sehari. Sejak jatuh saat dengan dirinya di-PHK, mulut pria beruban itu miring melulu. Lama-lama yang lainnya ikut miring, ingatan, langkahnya, dan Bapak berujung terkulai di atas ranjang. Kalau tidak dipakaikan popok, kotorannya berceceran kemana-mana. Busuknya sampai ke rumah tetangga, bikin mereka gedor-gedor gendang telinga Isbat dengan cibiran mereka.

Isbat cuma Isbat. Mau ganti jadi Mubarok, belum tentu ia diberkahi uang bergepok-gepo. Ia tetap menghibahi rumah demi rumah dan melempar segulung koran ke halaman depan, bantu ngangkut bahan bangunan, atau menemani wanita kesepian—seperti Maudy, misalnya.

Subuh itu, ia berjalan mengantong tiga lembar uang seratus ribu. Selinting rokok terselip di antara bibir. Tangannya meraba kantong, mencari pematik, lalu ia mendesah dan menyimpan linting rokok terakhirnya ke dalam kantong. Ia tendang kerikil sambil bersungut-sungut. Lalu tendang lagi kerikil yang sama. Lama-lama ia pun tersadar dan berhenti menendang kerikil itu, yang seukuran bola pingpong.

Isbat mengernyitkan dahi saat sudah selangkah dari kerikil itu. Ia berjongkok dan makin bertambah lipatan di dahinya. Ia sentuh kerikil itu, kenyal. Lalu digulingkannya dan...

"HAA!" Isbat terduduk dan mengesot mundur. Ia terkejut bukan main dengan keringat dingin mengucur. Halimun yang menyelimuti jalanan subuh itu seolah berbisik di antara desau angin.

"Mengapa takut, Isbat? Itu hanya mata bola."

Mata bola itu beriris biru. Bentuknya tetap utuh meski berulang kali ditendang, memantul, dan bergelinding di jalanan yang tak rata itu. Mata itu menatapnya. Lugu, tidak seperti mata Maudy yang penuh nafsu.

Lagi, Halimun berbisik, "Dia ingin kenalan denganmu, Isbat."

"Bagaimana pula berkenalan dengan mata? Dengan ditatap lama-lama?" tanya Isbat dalam hati. Tapi bagi Halimun yang menyelimutinya, bahkan sampai ke hati dan otaknya, pertanyaan-pertanyaan itu terdengar jelas.

"Kau cecap dengan lidah, Isbat. Mata senang dimanjakan, apalagi saat pertemuan pertama."

Atas sabda sang Halimun, Isbat pun merangkak maju. Ia tangkup mata bola itu dengan kedua tangannya. Lalu pelan-pelan, Isbat menjilat mata bola itu.

"O, oh!" mata Isbat yang semula kelabu kini tampak mengkilap. Belum pernah ia rasakan mata bola. Rasanya dingin dan tajam seperti soda. Teksturnya lembut bagai tahu. Ia cecap lagi mata bola itu dan lama-kelamaan ia memakannya dengan rakus.

"Pelan-pelan, Isbat." Halimun mengingatkan, lebih-lebih menyelimuti Isbat dalam kekalutan.

Kala tabuh beduk terdengar, Halimun menyusut dalam embun. Ia tinggalkan Isbat yang duduk bersimpuh, merem-melek, lalu mengekek.


Setelah itu, Isbat jadi enggan makan nasi. Ditraktir Juwita steak saja dia enggan.

"Aku lebih ingin matamu, malah." Ucapan Isbat membuat Juwita tertawa nyaring. Isbat tidak suka suaranya yang melengking, tapi mata cokelatnya yang menatap jenaka itu benar-benar menggugah selera. Mata Juwita selalu menatapnya dengan penasaran. Sok meledek dan jual mahal, kadang. Berulang kali mata itu terlempar, mengalihkan perhatian pada hal lain di ruang itu. Tapi mata cokelat itu selalu kembali menatap Isbat. Seolah bilang, "Ayo kenalan lebih dekat, Bat."

Kalau sudah diajak begitu, Isbat mana mungkin menolak. Ia bilang pada Juwita, "Aku ingin mengenalmu lebih dekat." Juwita setuju. Jadi, Isbat memutuskan untuk berkenalan dengan mata itu.

Isbat mencongkel mata Juwita. Wanita yang ditinggal suaminya dinas itu melolong keras. Isbat hanya geleng-geleng kepala dan dalam hati berkata, "Dasar wanita." Tapi, mata tak pernah bohong. Mulut Juwita mungkin melontarkan penolakan, tapi mata itu tak lepas memandangnya saat dicongkel.

Kini Juwita diam. Dia tidak lagi merengek dan menendang-nendang Isbat. Sepasang mata bola beriris cokelat itu pun telah berada dalam tangkupan tangan Isbat. Seperti yang Isbat lakukan pada teman mata pertamanya, ia cecap keduanya. Pesan Halimun masih ia ingat, tapi Isbat tidak bisa menahan kegirangannya mengenal mata Juwita. Rupa-rupanya mata itu mendamba kawan bercanda. Suaminya, Gamal, pria yang membosankan. Dari mata Juwita, Isbat melihat Gamal yang melulu membahas proyek jalan.

Isbat pun merasa lega, dia yakin Juwita juga. Setelah mata Juwita, makin banyak mata yang ingin Isbat kenal. Ada yang terang-terangan mengajaknya kenalan dan minta dimanjakan. Tapi ada juga yang lancang dan jual mahal.

Padahal Isbat tidak pemilih soal mata. Mau mata yang rabun atau normal, baginya sama saja asal mereka mau saling kenalan. Mau mata jantan atau betina, Isbat sama-sama senang berteman dengan mereka. Bagi Isbat, berkenalan dengan mata lebih mudah daripada berbicara. Mulut bisa bohong, tapi tidak dengan mata.

Melalui kawan-kawan matanya, Isbat tahu dirinya tidak sendirian. Mereka menderita, mereka berbahagia. Isbat bisa melihatnya seolah ia melihat dengan kedua matanya. Isbat juga bisa merasakannya. Kadang dia bisa menangis terharu sehabis berkenalan. Kadang ia bisa merasa kaya atau pintar setelah berkenalan.

Suatu hari, terlintas lagi dalam benak Isbat mengenai ibunya yang belum juga pulang. Isbat pun berpikir, mungkin ia bisa berkenalan melalui mata bapaknya. Bapak memang sudah lupa caranya buang air, tapi Mata Bapak yang selalu mendamba langit-langit bolong itu pasti masih ingat dengan Ibu.

Jadi, Isbat congkel mata bapaknya. Satu dulu, karena ia mendadak ragu mata bapaknya juga lupa karena sudah lama melihat Ibu. Isbat pun berkenalan mata itu. Rasanya pahit dan ingin sekali Isbat meludahkannya. Tapi, Isbat paksakan untuk terus berkenalan dengan memanjakannya. Tapi mata itu bilang,

"Buat apa dimanja kalau akhirnya ditinggal sebatang kara."

Isbat tak pernah tahu bapaknya—mata bapaknya—semurung itu. Isbat selalu ingat bapaknya tertawa keras sambil menepuk-nepuk bahu Isbat. Bapak selalu berceloteh riang tentang koleganya di kantor sebelum akhirnya kena PHK dan menjadi seperti sekarang.

Agaknya Isbat kecewa. Bola mata buram itu membuat Isbat menyesal berkenalan dengannya. Tapi, Isbat tahu dirinya tidak boleh mengenal sebelah mata. Isbat kumpulkan segenap niat untuk berkenalan lebih dalam. Ia mencongkel mata bapak yang kiri. Dia manjakan, tapi jawabannya sama. Cerita bapaknya begitu murung. Katanya, Ibu pamit ke Tanah Suci. Kerja. Tapi setelah itu tak ada kabar sama sekali. Mata Bapak bilang bosnya sering memuji, tapi tahu-tahu Bapak kena PHK. Mata Bapak bercerita banyak, lebih dari mulutnya yang kini membiru. Soal motor yang diminta Isbat bertahun-tahun yang lalu, juga tanah Kakek yang hangus, dan—yang paling bikin Isbat terkejut—tentang Bapak yang memberi nama Isbat, bukan Kakek.

Isbat jadi banyak tahu tentang bapaknya. Ia pun ingin membalasnya. Mata dengan mata. Maka Isbat congkel matanya. Satu dulu. Lalu dia kenalkan matanya pada Bapak. Dengan tangan yang bergetar, Isbat congkel matanya yang lain agar Bapak bisa mengenal Isbat seutuhnya. Tapi, mata Isbat yang satu lagi malah berguling jatuh. Isbat keburu loyo dan pandangannya gelap. Dia buta. Menggapai matanya sendiri saja tak bisa.

Isbat menyesal. Isbat makin kecewa. Bapak hanya bisa kenal sebelah mata. Padahal Isbat ingin dikenal seutuhnya oleh Bapak. Disayang lagi oleh Bapak.

Kini keduanya terkulai bersisian. Bau busuk yang berkali-kali lipat itu membuat tetangga menggedor-gedor pintu, bukan lagi gendang telinga Isbat. Hari demi hari berlalu dan barulah mereka tahu. Jerit mereka tertahan di kerongkongan. Mulut yang semula terbuka, terkatup lamat-lamat. Tapi, tidak dengan mata mereka. Yang terbuka lebar dan mengutarakan beragam rasa.


FIN


Prompt yang digunakan: Makanan, kelaparan.

Penulis bisa ditemukan di: storial . co/profile/vierseason (hilangkan spasi)