Pedang dan Tombak


Penulis: Aidelai

Terima kasih sudah membaca.


"Tuanku, hamba datang bermaksud menyampaikan laporan." Jalal, pria yang ditugaskan memata-matai pasukan musuh, berlutut di hadapan tuannya.

Tenda berwarna biru gelap itu terasa dingin meski di luar udara sangat panas. Meja-meja kecil tertata rapi, di atasnya terdapat lilin-lilin yang tinggal separuh sisa semalam. Pada meja yang lebih bagus dibandingkan meja lainnya, terdapat dua potong roti, satu kurma, dan segelas minuman. Ranjang kecil terbuat dari beludru berada di salah satu sudut tenda. Di meja dekat ranjang, dua pedang serta tiga pisau terlihat baru diasah.

Mengambil tempat di tengah tenda, sebuah kursi nyaman namun ringan berwarna biru lembut yang dihiasi butir-butir mutiara. Di atasnya duduk seorang pria berperawakan tinggi. Rambut hitamnya disisir ke belakang. Kumis tipis menambah kharismanya sebagai pemimpin.

Dialah Raja Mumtaz. Di usianya yang baru menginjak tiga puluh lima tahun, telah dinobatkan menjadi penguasa tanah Yordania menggantikan ayahnya yang wafat akibat perang mempertahankan perbatasan di sebelah timur.

"Katakanlah berita yang berhasil kaudapat, wahai Abu Jalal."

Jalal bersimpuh di hadapan tuannya yang menyambut dirinya dengan senyum selayaknya saudara. Walaupun menjadi pria paling berkuasa, Raja Mumtaz tidak jauh berbeda dengan Pangeran Mumtaz. Pakaian yang dikenakan berbahan satin, bukan sutra, seperti pakaian-pakaiannya ketika masih menjadi pangeran. Hanya jubah biru gemerlap dan mahkota yang membedakan kini.

"Terima kasih, Tuanku. Hamba melihat pasukan Raja Salman berjarak setengah hari dari sini. Hamba berani mengatakan bahwa malam ini akan terjadi peperangan."

Raja Mumtaz mengangguk, ujung jemari telunjuk runcing mengetuk lutut. Kerutan-kerutan di kening menandakan sang raja sedang berpikir. Memikirkan rencana karena pengamatan Abu Jalal dapat dikatakan benar.

Rombongan pasukan Yordania telah bermalam selama tiga hari semenjak perang terakhir melawan pasukan Raja Salman. Belum sembuh para pasukan yang terluka.

Namun jika memilih mundur dan bersembunyi, pasokan bahan makanan tidak akan cukup. Tidak mungkin menjadikan kuda-kuda sebagai makanan karena banyak barang bawaan yang harus dibawa pulang nantinya, termasuk mereka yang terluka.

Sang raja tidak menemukan jalan keluar selain bertarung malam ini. Pulang membawa kemenangan atau membawa kekalahan, dia berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Wahai Abu Jalal."

"Hamba, Tuanku."

"Persiapkan pasukan untuk melawan serangan pasukan Raja Salman malam ini.

"Akan hamba laksanakan, Tuanku."

Jalal pamit undur diri meninggalkan tenda Raja Mumtaz. Di luar tenda, angin musim panas membawa debu-debu beterbangan. Matahari masih bertengger di atas langit selepas salat Dhuhur. Tergesa-gesa Jalal berjalan menuju posnya. Memberitahukan keputusan Raja Mumtaz bahwa malam ini akan terjadi peperangan hebat.

Malam tiba lebih cepat dari dugaan pasukan Raja Mumtaz. Kuda-kuda meringkik penuh kekaguman ditungganggi pria-pria terkuat di Yordania. Sebagian kuda merasakan firasat buruk, bahkan tahu peperangan akan hanya membawa luka fisik maupun luka batin.

Berduyun-duyun dari arah timur muncul pasukan Raja Salman membawa obror-obor serta panji-panji kerajaan. Sayup-sayup terdengar genderang perang ditabuh.

"Allahu Akbar!"

"Allahu Akbar!"

Raja Mumtaz mengenakan pakaian perang. Zirahnya terbuat dari besi yang ditempa oleh pandai besi paling terkemuka di Yordania. Kuda tunggangannya berwarna hitam legam dengan sorot mata tajam. Panji-panji kerajaan berwarna biru gelap dibawa oleh pria-pria di sekelilingnya.

Tangan kiri sang raja diangkat mengepal.

Jalal berseru lantang," Bunyikan genderang. Dengan izin Allah, kita akan berperang melawan kejahatan dan mati dalam damai."

Genderang ditabuh.

Terompet ditiup.

Suara derap kuda segera digantikan dentingan besi beradu besi.. Pasir di bawah kedua pasukan dibanjiri darah. Teriak semangat digantikan teriakan keputusasaan. Kuda-kuda meringkik terjatuh kemudian mati terkena tebasan pedang.

Raja Salman berhadapan langsung dengan Raja Mumtaz. Perbedaan mereka cukup terlihat dari segi penampilan maupun pengalaman. Raja Salman berusia lima puluh tujuh tahun. Telah menaklukkan beberapa daerah-daerah di Timur Tengah.

"Duhai Raja Muda, menyerahlah dan akan kuampuni pasukanmu," ujar Raja Salman dari atas kuda. Pakaian pelindungnya bernoda darah lawan. Di bawah cahaya rembulan, wajah Raja Salman nampak bengis ketika tersenyum. Pun suaranya terdengar kejam ketika tertawa.

Adapun Raja Mumtaz hanya tersenyum tanpa menurunkan kewaspadaan. "Kami akan mempertahankan tanah ini, wahai Raja yang lalim. Kami hidup di sini dan akan mati di sini."

"Sombong sekali raja tidak becus sepertimu." Raja Salman murka. Diayunkannya pedang di tangan kanan menuju pundak kiri Raja Mumtaz.

Kuda Raja Mumtaz meringkik. Cepat melompat ke kanan menghindari tebasan pedang dari Raja Salman.

Pertarungan antar kedua raja tidak terelakkan. Pedang beradu pedang, zirah beradu zirah, kuda beradu kuda. Keringat bercampur darah membasahi badan.

"Allahu Akbar!"

"Allahu Akbar!"

Jalal menerobos pasukan musuh. Kudanya telah mati beberapa saat lalu. Dengan pedang di tangan kiri dan tombak di tangan kanan, dia membantai pasukan lawan yang mengganggu jalannya menuju sang raja.

Kesetiaannya tidak perlu diragukan untuk raja yang lama ataupun raja yang baru. Jalal selalu siap mati kapan saja dalam pertarungan. Disingkirkannya perasaan bersalah karena gagal melindungi raja yang lama.

Malam kian meninggi namun pertarungan belum juga berakhir. Pasukan Raja Salman dan pasukan Raja Mumtaz mengerahkan segenap tenaga.

Genderang berhenti ditabuh.

Terompet berhenti ditiup.

Sementara Raja Mumtaz terkapar di atas medan perang.

"Tuanku."

Jalanan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kanan sang raja.

"Aku masih hidup, wahai Abu Jalal," ucap Raja Mumtaz. Sang raja membuka mata. Dua luka tusukan pedang di perutnya cukup dalam.

"Hamba akan membawa Tuanku ke tempat yang lebih aman," bisik Jalal sembari melepaskan helm pelindung sang raja.

"Altair telah menyelamatkan nyawaku. Sekarang dia bertarung melawan Raja Salman."

Jalal paling mengenal Altair lebih dari siapapun. Komandan perang yang lama mengabdikan diri untuk raja terdahulu.

"Hamba akan membantu Altair setelah membawa Tuanku ke tempat yang aman."

"Tidak, Abu Jalal. Jangan bawa aku," tolak Raja Mumtaz. "Aku ingin berperang sebagaimana yang dilakukan ayahku."

"Mohon maafkan hamba, Tuanku. Hamba terpaksa tidak melaksanakan perintah Tuanku. Jika Tuanku wafat di medan perang, siapa yang akan menduduki tahta Kerajaan Yordania?"

Raja Mumtaz merupakan satu-satunya pewaris kerajaan, yang belum menikah. Kakak laki-lakinya meninggal ketika masih berusia dua puluh tahun karena terjangkiti wabah penyakit.

"Laksanakan perintahku, wahai Abu Jalal."

"Maafkan hamba, Tuanku."

Jalal mengangkat dengan susah payah tubuh sang raja ke atas punggung. Mengendap-endap berjalan melewati mayat-mayat yang mulai menebarkan aroma tidak sedap.

Tiga prajurit mengenali Jalal, langsung membuat perlindungan untuk menjaga sang raja tetap aman.

Raja Mumtaz merasakan perih luar biasa di bagian perutnya yang terluka. Meski ditekan, darahnya tetap mengalir keluar. Udara malam membuatnya kedinginan. Kesadarannya kadang lenyap, kadang datang. Pada suatu kesempatan seolah melihat ayahnya tersenyum.

"Mohon Tuanku menunggu di sini. Noya akan merawat Tuanku. Hamba undur diri." Sebelum sang raja sempat mengucapkan satu kalimat, Jalal melesat menjauh, kembali memasuki peperangan.

Noya adalah prajurit yang bertugas menangani prajurit yang terluka. Dengan cekatan membuka pakaian pelindung sang raja, kemudian membasuh dua luka tusukan di perut. Raja Mumtaz mengerang lirih sebelum kesadarannya lenyap.

Abu Jalal nyaris muntah melihat Raja Salman menunjukkan kepala Altair padanya. Sahabatnya sejak kecil telah tewas membela kerajaan yang dicintai.

"Aku mengingatmu," kata Raja Salman. "Kau adalah utusan Yordania yang pernah datang ke kerajaanku. Bagaimana rasanya kubiarkan hidup? Masihkah kau menganggapku raja yang kejam?"

Tawa Raja Salman meninggi.

"Aku pun mengingat pria biadab sepertimu."

Raja Salman marah, "Lancang sekali rakyat jelata menghina seorang raja yang agung."

"Aku adalah rakyat jelata yang akan membawakan kematian kepadamu."

Jalal melompat ke depan. Berusaha menusukkan tombak dan menyabetkan pedang ke tubuh Raja Salman. Pertarungan sengit dimulai. Dari dua pria yang sama-sama kenyang akan pengalaman bertarung.

Raja Salman berhasil menggores paha kiri dan lengan kanan Jalal, namun Jalal berhasil menggoreskan luka panjang di pipi Raja Salman yang membuatnya semakin murka.

Pedang beradu pedang.

Tombak beradu pedang.

Keduanya sama-sama menguasai teknik pertarungan.

"Allahu Akbar!"

"Allahu Akbar!"

"Di mana Raja Salman?"

"Di mana Raja Mumtaz?"

"Fajar hampir tiba."

"Fajar hampir tiba."

Abu Jalal muntah darah, begitu juga dengan Raja Salman. Napas mereka tidak beraturan. Kelelahan oleh pertarungan yang seimbang. Terluka oleh pertarungan yang seimbang. Raja Salman mulai menyerang Jalal dengan membabi buta, ingin segera mengakhiri pertarungan.

Kesempatan itu digunakan Jalal untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam bertarung menggunakan tombak. Bahkan mereka terlalu lelah untuk saling menghina. Tombak Jalal berputar-putar di tangan kanan, berhasil menyingkirkan pedang Raja Salman.

Tanpa pedang kebanggaan, raja yang lalim itu tidak ada bedanya dengan rakyat jelata.

"Aku adalah rakyat jelata yang membawakan kematian ke pangkuanmu, wahai Saudaraku," seru Jalal.

"Apa?" Raja Salman membelalak.

"Dahulu, aku adalah anak yang terlahir dari rahim seorang ratu. Putra mahkota kedua yang digadang-gadang akan membawa kejayaan membantu sang kakak. Tapi kau dengan segala cara berusaha menyingkirkanku bukan hanya dari kerajaan, namun juga dari dunia."

Raja Salman meneguk ludah. "Kau, adalah adikku?"

"Benar," bentak Jalal. "Aku adalah rakyat jelata yang memberikan kado kematian kepada kakak kandungnya sendiri."

Tombak menembus dada Raja Salman tepat di jantung bersamaan dengan munculnya fajar dari ufuk timur. Dari kejauhan, Raja Mumtaz mendengarkan angin yang membawa kabar keberhasilan Abu Jalal.


FIN


Prompt yang digunakan: middle east

Penulis bisa ditemukan di: Plurk (aidelai)