A Yellow Chrysanthemum


Penulis: starberry

- Hi, terimakasih sudah mau membaca tulisanku yang masih jauh dari kata sempurna ini. Tahu bahwa kalian membaca dan (mungkin) akan menyukai ceritaku membuatku lebih bersemangat untuk membuat karya yang lebih baik lagi untuk kedepannya.

- Aku sangat mengharapkan saran dan kritik apapun dari kalian. Aku akan sangat menghargainya.

- Untuk kalian yang mungkin sedang memulai menyalurkan hobi atau bakat klian dlm menulis sepertiku, semangat dan jangan menyerah. Kau pasti bisa, semua orang adalah penulis.

- Terakhir, semangat menginspirasi meski tidak secara langsung. Jaga kesehatan dan jngan lupa makan.

Salam kenal,

ela❤


Malam ini dia sudah selesai mengemasi barang-barangnya karena besok pagi dia sudah harus terbang ke Korea untuk melanjutkan studinya. Evalina Anastasia Hakim, Alin biasa dia dipanggil. Rambutnya kecoklatan dan ikal dibagian bawah, matanya bulat dengan bulu mata lentik dan pupil berwarna abu-abu, kulitnya putih pucat karena jarang terkena matahari dan badannya mungil karena tingginya hanya sebatas 163 cm saja.

"Alin, sudah selesai berkemasnya" Bundanya sudah sedari tadi berdiri di pintu kamar Alin, mengamati putri nya yang akan segera pergi jauh ke negara orang.

"Bunda... sejak kapan ada disitu? Sudah selesai kok, Bun. Ini baru mau turun" Alin buru-buru menutup kopernya dan menghampiri bundanya.

"Barusan saja kok, mau mengajak kamu makan. Yasudah ayo makan malam dulu baru istirahat"

"iya bunda" Alin dan bundanya pun akhirnya turun untuk makan malam bersama.

Alin adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara sekaligus anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya. Abang pertamanya, bang Adam sudah menikah dan punya keluarga sendiri sedangkan abang keduanya, bang Rama sudah bekerja di perusahaan swasta di Bandung yang untungnya masih dekat dengan rumah sehingga masih bisa menemani ayah dan bunda di rumah selagi Alin kuliah di Korea.

Alin mendapatkan beasiswa penuh ke Korea untuk program magister jurusan sastra korea. Awalnya Alin hanya iseng mendaftar program beasiswa ke negeri gingseng itu tetapi ternyata dia di terima dan harus berangkat segera setelah urusan berkas selesai.

Jika bisa diungkapkan, perasaan Alin sekarang sangat dilematis. Alin tidak pernah pergi jauh dari orang tuanya. Bahkan saat ayahnya dipindah tugaskan dari Palembang ke Bandung, Alin tak henti-hentinya menangis ingin ikut ayahnya ke Bandung dan akhirnya mereka sekeluarga ikut pindah ke Bandung. Karena Alin anak bungsu dan perempuan satu-satunya, Alin selalu di manja oleh orang tuanya, bahkan oleh abang-abangnya juga. Dan itu yang membuat Alin galau karena nanti di Korea dia harus bisa hidup mandiri, tidak lama sebenarnya maksimal hanya dua tahun.

"Alin, nanti di sana jaga diri baik-baik ya, tak ada ayah sama bunda, tak ada abang-abangmu juga. Kau harus bisa mandiri" selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, bang Adam pun ikut datang ke rumah karena besok dia yang akan mengantarkanku ke bandara. Ayah tak henti-hentinya mengingatkanku untuk menjaga diri. Dengan logat Palembangnya yang masih kental walaupun sudah lama tinggal di Bandung.

"iya ayah, Alin akan jaga diri baik-baik disana. Alin janji akan belajar yang rajin supaya cepat pulang ke Indonesia" jawab Alin dengan sungguh-sungguh. Dan malam itupun diisi oleh suasana hangat Alin dan keluarganya.

Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya Alin menginjakan kakinya di Seoul. Kota yang selama ini ia idam-idamkan, kota yang selama ini ada di mimpinya kini ia benar-benar akan hidup selama dua tahun di Seoul.

Seoul hari ini suhunya mencapai -2 derajat celcius. Sangat dingin, untung saja Alin sudah mencari tau musim apa yang sedang berlangsung hingga dia tidak perlu merasa khawatir akan mati kedinginan di sini. Tapi tetap saja, Alin belum terbiasa dengan cuaca dingin bersalju ini, dan Alin adalah orang yang mudah sekali terkena flu karena memang daya tubuhnya lemah. Ya, bisa dipastikan sebentar lagi Alin akan pilek dan harus tidur seharian untuk membantunya beradaptasi dengan cuaca di Korea.

Alin sudah sampai di apartemen nya setelah tadi di jemput dan diantar oleh fasilitas kampus. Karena Alin penerima beasiswa penuh dari kampus, dia diberi akomodasi apartmen juga selain biaya kuliah dan biaya hidup. Alin melihat seisi apartemennya sebentar. Apartmennya tidak besar tetapi tidak kecil juga. Pas untuk ukuran seorang perempuan yang tinggal sendirian, yang paling Alin sukai dari apartemennya adalah balkonnya dihadapkan langsung oleh pemandangan Sungai Han yang terkenal itu.

"ah, aku sangat ingin berjalan-jalan di luar tetapi di luar sangat dingin dan aku sangat lelah. Sebaiknya aku segera mandi dan beristirahat semoga besok matahari muncul dan aku bisa berjalan-jalan" Alin bermonolog sambil memandangi Sungai Han dan bergegas mandi.

Doa Alin semalam sepertinya di dengar Tuhan karena hari ini cuaca di luar sangat cerah dan hangat. Alin sangat bersemangat untuk memulai hari pertamanya di Seoul. Kuliah Alin masih dimulai minggu depan karena Alin harus menyerahkan beberapa berkas ke pihak universitas sebelum memulai kegiatan perkuliahan.

Setelah mandi dan bersiap-siap, Alin bergegas untuk keluar menyapa matahari. Walaupun cuacanya cukup hangat tetapi masih ada hawa dingin yang terasa sehingga Alin tak lupa memakai mantelnya karena sekarang dia terkena flu.

Tujuannya kali ini adalah Namsan Tower, sudah lama sekali Alin ingin mengunjungi tempat terkenal yang sering muncul di banyak scene drama itu. Karena jaraknya lumayan jauh dari apartmen nya dia pergi menggunakan bus. Setelah naik bus, ternyata tempatnya penuh dan hanya tersisa satu kursi di sebelah lelaki yang mungkin seumuran dengannya. Dengan yakin Alin menuju kursi itu dan duduk disamping lelaki yang sedang menatap ke jendela dengan headset terpasang di telinganya.

"permisi, boleh saya duduk disini?" karena lelaki itu tampak terkejut dengan Alin yang tiba-tiba duduk disebelahnya, Alin pun membuka suara dengan menggunakan bahasa korea yang sudah ia kuasai sejak lama.

Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman dan mengangguk tanda bahwa Alin dipersilahkan untuk duduk disampingnya. Toh bukannya ini angkutan umum, kenapa Alin harus meminta ijin?

Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Alin sampai di Namsan Tower. Lelaki yang duduk disebelah Alin sudah turun dan karena Alin tidur dia tidak tahu kapan lelaki itu turun. Alin bergegas masuk ke dalam dan tak lupa membeli gembok untuk dia gantungkan di dalam.

Didalam tidak terlalu ramai karena hari ini memang bukan hari libur dan jam-jamnya orang bekerja. Setelah puas melihat-lihat dan memasang gembok, Alin bergegas pulang karena dia tidak cukup kuat untuk bertahan pada dinginnya kota Seoul. Ya, matahari sudah tidak sepenuhnya terlihat, salju juga sudah mulai turun bergantian. Alin harus bergegas pulang sebelum flunya bertambah parah.

Akhirnya perkuliahan pun dimulai. Alin adalah sosok yang ramah, jadi tidak sulit untuk dia mendapatkan banyak teman baru. Dan yang paling dekat dengan Alin saat ini adalah Kara dan Mina, Kara merupakan mahasiswa dari Indonesia juga tetapi bukan dengan program beasiswa makannya Alin baru bertemu setelah masuk kuliah. Sedangkan Mina adalah gadis asli negri ginseng ini. Mereka adalah teman-teman Alin yang siap membantu Alin jika Alin mengalami kesulitan.

Sebulan berada di negeri orang membuat Alin mulai merindukan masakan bundanya. Alin memang tidak terlalu cocok dengan makanan korea, alhasil badannya yang kecil semakin kecil karena terlalu sering memakan mie.

"Alin, kudengar ada restoran Indonesia yang enak di daerah Gimpo, apakah mau kesana? Mungkin akan sedikit jauh tetapi lumayan untuk mengobati rasa rindu akan makanan Indonesia" selesai kelas Kara mengajak Alin untuk pergi ke Gimpo untuk makan makanan Indonesia. Ya, Kara pun merindukan makanan khas negara aslinya itu.

"Benarkah? Ah kamu memang sangat mengerti aku, Ra. Ayo berangkat!" Alin pun sangat antusias dengan ajakan Kara. Alin dan Kara biasa memakain bahasa Indonesia supaya lebih mudah, kecuali kalau bersama Mina maka akan menggunakan bahasa Korea.

Saat akan menunggu bus, tak sengaja Alin menabrak seseorang karena sedang sibuk mencari ponselnya di tas.

"Ah maafkan aku, aku tak sengaja. Apa kau baik-baik saja?"Alin segera meminta maaf karena ternyata barang bawaan orang yang ditabraknya jatuh berhamburan.

"Alin, ada apa?"Kara mengahmpiri Alin yang sedang panik.

"Apa kau tidak apa-apa?" Alin bertanya sekali lagi karena tak kunjung mendapat respon. Lelaki. Ternyata yang ditabraknya adalah seorang lelaki. Dan lelaki itu adalah lelaki yang tempo hari duduk bersamanya saat dia akan pergi ke Namsan Tower.

Lelaki itu terkejut, mungkin menyadari kalau wanita yang barusan menabraknya adalah wanita yang beberapa waktu lalu duduk bersamanya di sebisa mungkin lelaki itu tersenyum dan mengganguk lalu pergi dari hadapan Alin.

"Alin?" Kara menyentuh pundak Alin, membawa Alin ke dunia nyata setelah tadi sempat terdiam di tempatnya.

"Ah, gak papa Kara, aku hanya gak sengaja menabrak seseorang yang sepertinya kuliah di Universitas kita juga. Kulihat dari berkas yang dibawanya ada logo kampus kita"

"Ah memang benar, dia satu Universitas dengan kita dan seangkatan juga. Kalau tidak salah dia jurusan pendidikan" Kara membantu Alin merapikan barang-barangnya yang sempat terjatuh dan lalu mereka bergegas pergi karena bus yang mereka tunggu sudah datang.

Kara benar, lelaki itu mahasiswa kampus Alin juga. Sekarang Alin lebih sering melihat dia di kampus. Air mukanya tenang, rahangnya tegas tetapi wajahnya sangat ramah. Alin belum pernah melihatnya berbicara, dia hanya sering tersenyum menampilkan matanya yang juga ikut membentuk garis lengkung.

Alin diam-diam sering mencari info tentang lelaki tersebut ke teman-temannya, terutama Mina. Ya, karena Mina penduduk asli dan mungkin saja dia tau lelaki itu.

"Mina" Alin menghampiri mina yang sedang duduk di kursi dekat taman.

"Iya ada apa Alin?" Mina adalah orang yang lembut, terlihat dari nada biacaranya.

"Mina, apa kau tau lelaki ini?" Alin menyodorkan ponselnya pada Mina. Ya, Alin sempat memotret lelaki itu tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Mina mengamati ponsel Alin dengan sesama, memperhatikan baik-baik sosok yang membuat Alin penasaran akhir-akhir ini.

"Ah, ya aku tau. Dia mahasiswa jurusan Pendidika Matematika. Dia sangat pintar dan ramah. Kudengar dia masuk dengan program percepatan. Dia sangat terkenal karena sering mengikuti kegiatan amal juga" Mina menjelaskan panjang lebar dengan logat Busannya yang sedikit terasa.

"Kegiatan amal?"

"Iya kegiatan amal, teruatama bersama anak-anak yang berkebutuhan khusus. Alin, kudengar dia –maaf- tidak bisa berbicara, makannya dia selalu saja tersenyum pada orang-orang. Dan kukira itu salah satu alasan dia mengikuti kegiatan amal tersebut. Mungkin sekedar berbagi kata semangat"

Alin terdiam mendengar penjelasan Mina. Dia tidak menyangka, pantas saja lelaki itu tidak pernah membalas kata-katanya. Alin mengira bahwa lelaki itu tidak mau berbicara dengannya, ternyata dia salah. Alin kagum dengan lelaki itu. Ya, hanya kagum. Tidak tahu kalau besok atau lusa.

"Siapa namanya, Mina?

"Namanya Luis. Luis Lee, Alin. Kurasa dia bukan sepenuhnya korea. Kudengar sejak kecil dia tinggal di Perancis dan pindah ke Korea sejak umur 15 tahun"

"Ah, Luis. Jadi nama lelaki itu Luis"

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, dan waktu studi Aluna di korea tinggal beberapa bulan lagi. Alin sedang menyiapkan thesis nya dan syarat ujian lainnya. Satu setengah tahun belakang ini Alin isi dengan mengikuti kegiatan amal, selain belajar dan part time tentunya. Alin bekerja paruh waktu untuk menambah uang sakunya. Disaar dia libur bekerja maka dia akan mengikuti kegiatan amal. Awalnya Alin ikut hanya karena penasaran dengan Luis, tetapi lama-lama Alin menikmati karena rasanya menyenangkan.

Alin tidak pernah terlalu dekat dengan Luis. Alin tahu sejak awal bahwa hubungan dia dan Luis tidak akan berhasil, maka dari itu sejak awal pula Alin menjaga perasaannya supaya dia tidak terlalu jatuh kedalam pesona Luis.

Sulit. Itu yang Alin rasakan. Setiap kali bersama Luis dalam suatu acara, rasanya Alin akan kesulitas bernafas. Dia sudah terlalu jatuh pada Luis tetapi tidak bisa melakukan apapun. Alin hanya bisa menjadi pengagum rahasia. Alin hanya bisa mengagumi Luis dari jauh. Bukan karena keadaan Luis, tapi karena keyakinan mereka yang berbeda. Alin dan Luis berteman, Alin juga sedikit banyak belajar bahasa isyarat agar mudah berkomunikasi dengan Luis. Mereka sangat dekat, tetapi hanya sebatas teman. Alin dan Luis sama-sama tahu bahwa mereka tidak bisa lebih dari sekedar sahabat.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Alin selesai dengan gelar magisternya hanya dalam waktu satu setengah tahun. Orang tuanya tidak bisa hadir ke Korea jadi Alin hanya merayakan wisudanya dengan Kara dan Mina saja. Dan Luis, mungkin.

"Ah, apakah Luis akan datang? Lusa aku sudah harus kembali ke Indonesia. Bagaimana jika Luis tidak datang? Setidaknya kita harus saling mengucapkan salam perpisahan, bukan?" Alin bermonolog dalam hati merasa resah karena yang ditunggu tak kunjung datang.

Alin kecewa karena setelah selesai acara wisudaan pun Luis tak kunjung menampakkan dirinya. Hal itu membuat Alin malas untuk melakukan apapun, bahkan ajakan Kara dan Mina ditolaknya secara halus dengan alasan ingin istirahat.

Sedetik kemudian ponsel Alin berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Alin lantas membuka ponselnya dan secara tidak sadar menaikkan ujung bibirnya. Pesan dari Luis.

From: Luis

To: Alina

Saya ada di taman dekat apartemen kamu. Bisakah kamu datang? Aku ada sesuatu untukmu

Tanpa membalas pesan Luis, Alin langsung bergegas menuju taman. Hatinya berdebar tidak karuan, dia gugup.

Sesampainya di taman Alin melihat sosok yang sedari tadi dia tunggu. Sosok itu memunggungi Alin jadi dia tidak tahu kalau Alin sudah datang. Alin berjalan mendekat, bisa dia rasakan parfum Luis yang selama ini sudah ia hafal betul, wangi Mint bercampur vanilla. Dengan setelan celana hitam dan kemeja putih tulang membuat Luis nampak sempurna di mata Alin.

"Luis" Alin mencoba memanggil Luis.

Luis menoleh, tersenyum sangat lebar hingga mata sipitnya ikut hilang dan berganti lengkungan indah. Matanya tersenyum.

"Maaf, maaf baru bisa menemuimu sekarang" Luis mengucapkan itu menggunakan bahasa isyarat. Alin mengerti dan mengangguk pelan.

"duduk dulu" Alin tersenyum dan duduk lalu diikuti Luis yang duduk disampingnya.

Hening selama beberapa saat sampai Luis memberikan sebuket bunga, sebuah kotak dan surat dengan amplop merah marun senada dengan kotak kecil itu.

"Apa ini?" Alin bertanya pada Luis

"Buka nanti saja kalau sudah sampai di Indonesia. Hati-hati di jalan, senang sudah mengenalmu Alina. Jangan lupa mengabari jika sempat. Aku akan merindukanmu" Luis lagi-lagi berbicara dengan bahasa isyarat. Alin terharu, rasanya ingin menangis tetapi ia tahan. Dia tidak mau merusak momen ini.

Alin mengangguk dan memeluk Luis. Hangat, itu yang Alin rasakan.

Hari ini, akhirnya Alin menginjakkan kakinya kembali di Indonesia, setelah tadi dijemput oleh bang Rama yang sekalian habis ada kerjaan di Jakarta, Alin sampai di rumahnya. Bandung dingin, tetapi tidak sedingin Seoul. Ayah, Bunda, dan abang-abangnya menyambut Alin dengan bangga. Mereka tak henti-hentinya berpelukan dan bercerita apa saja.

Malamnya Alin berbaring di kasur yang sudah lama ia tinggalkan itu. Rasanya lelah sekali setelah tujuh jam perjalanan Seoul – Jakarta, di tambah tiga jam Jakarta – Bandung. Rasa lelah itu seketika hilang ketika Alin mengingat hadiah dan surat dari Luis. Di bukanya koper yang masih belum ia bereskan itu dan mengambil hadiah dari Luis sehari sebelum Alin pulang ke Indonesia. Sebelumnya dia meletakkan bunga yang Luis beri ke vas. Bunganya cantik walaupun bukan mawar. Alin terkekeh, biasanya lelaki akan memberi bunga mawar untuk seorang perempuan tetapi Luis tidak, Alin pun belum tahu nama bunga itu apa.

Yang pertama Alin buka adalah kotak berwarna merah marun dengan pinggiran renda berwarna senada. Alin terkejut, ternyata isinya kalung, dengan bandul sebuah bunga. Persis dengan buuket bunga yang baru saja ia letakkan di vas. Cantik, batinnya.

Setelah itu Alin membuka surat dengan amplop yang juga merah marun itu dengan hati-hati. Jantungnya berdegup, entah kenapa. Dibacanya perlahan surat itu, diamatinya kata demi kata yang Luis tulis dengan sepenuh hati. Setelah selesai membaca, air mata Alin lolos dari sudut matanya. Tetapi sedetik kemudian bibirnya terangkat membentuk senyuman. Dikembalikannya surat itu ke amplopnya dan dimasukkannya ke laci nakas yang ada disebelah tempat tidurnya serta tak lupa memakai kalung pemberian Luis.

Dear, Alina.

Alina, aku masih ingat dengan jelas bagaimana pertemuan pertama kita terjadi. Aku bersyukur bahwa saat itu satu-satunya bangku yang kosong adalah disampingku. Kulihat kau dengan yakin menuju ke arahku, aku sedikit terkejut sebenarnya. Kau mengajakku berbicara untuk yang pertama kalinya. Saat itu aku sangat ingin sekali membalas sapaanmu. Tetapi aku tidak bisa, kau tau kan aku tidak sempurna. Saat perjalanan pertama kita, kulihat kau ketiduran dan bersandar pada pundakku. Keliahatnnya kau terkena flu, aku jadi tak tega untuk turun walaupun busnya sudah sampai tujuanku. Aku menunggu sebentar lagi untuk turun, dan benar kau memindahkan kepalamu dari bahuku, andai saja lebih lama lagi aku tidak tahu kondisi jantungku akan seperti apa.

Alina, kau tau apa yang membuatku memngikuti kegiatan amal pada awalnya? Karena aku merasa minder dan malu untuk berbaur dengan orang normal. Tapi setelah kau datang, kau memberiku kekuatan lebih akhirnya aku sadar lama-lama aku merasa senang untuk mengikuti kegiatan amal. Bukan lagi karena aku malu, tapi aku benar-benar ingin berbagi.

Alina, aku tahu bahwa kita sama-sama membangun tembok pertahanan di hati kita. Mungkin nyaman, suka, kagum atau bahkan sayang yang aku rasakan padamu. Tetapi aku tahu bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Alina, jangan sedih karena merindukanku karena aku pasti jauh lebih sedih karena merindukanmu. Kau harus tau stu hal, tidak semua pertemuan berakhir dengan penyatuan. Ada beberapa pertemuan yang terjadi hanya untuk pembelajaran dan kita termasuk kedalam beberapa pertemuan itu. Aku senang pernah mengenalmu, aku senang pernah jadi bagian cerita hidupmu. Jaga baik-baik dirimu, jangan sampai flu.

Ah satu lagi, bunga yang kuberikan itu adalah Krisantemum Kuning, awalnya akan kuberikan yang warna merah. Tetapi kupikir kuning lebih pas untuk kita. Krisan kuning berarti cinta sendiri atau cinta dalam diam, Alina. Sama seperti kita yang saling mencintai dalam diam.

Sampai jumpa dilain kesempatan. Im glad to know you in person, Alin. See you.

With Love,

Luis.


FIN


Promt yang digunakan: musim salju, perasaan yang terkubur, pilek

Penulis bisa ditemukan di: Wattpad (staarberry)