Aku Sudah Mati


Penulis: Page of Cups


Aku sudah mati.

Setidaknya mungkin itu yang aku rasakan saat ini. Seolah sebuah suara yang tak aku kenal, namun begitu wajar terngiang di kepalaku, memberitahuku dengan satu kalimat dan aku pun percaya dengan itu. Aku bisa merasakan tanganku, aku masih merasakan kedua mataku melihat sekitarku, aku masih merasakan kedua kaki menopang seluruh tubuhku. Bagian mana dari tubuhku yang telah mati. Tapi aku, dengan keyakinan yang tak jelas, telah mati dan aku masih merasakan bahwa aku telah mati. Omong kosong.

"Aku telah mati. Kamu telah mati. Kamu mati."

Baiklah aku telah mati. Apa yang aku rasakan sekarang, inikah hidup setelah kematian? Sungguh apa yang berbeda dengan sebelum aku mati, masih kurasakan tubuhku bergerak. Kakiku menapak. Mataku terbelalak. Apakah jantungku berdetak? Kemudian aku pun menyadari, bahkan ketika aku hidup pun sering kulupakan jantung itu berdetak, darah ini bergerak di seluruh sudut tubuhku. Kalau saja ada sebilah pisau, akan kusayat tanganku untuk memastikan bahwa aku benar-benar telah mati. Aku telah mati, dan sekarang aku menyadari dengan seluruh indera dan tubuhku bahwa aku telah mati. Aku telah mati dan kini aku sedang berdiri di sebuah tempat yang begitu kukenal, menyadari bahwa aku telah mati. Kemudian aku pun bertanya apakah aku telah hidup. Apakah aku telah hidup dan berada di tempat ini yang begitu kukenal, namun asing. Aku mengenal tempat aku berada sekarang namun aku belum pernah melihatnya, aku telah mati tetapi aku tidak merasa asing, aku tidak merasa terpisahkan dari dunia ini. Justru aku merasa begitu tenang, aku seperti kembali ke rumah tempat aku bernaung. Kalau saja benar aku memiliki tempat seperti itu. Apakah aku benar-benar memilikinya? Sesungguhnya ada apa dengan diriku sekarang, aku telah mati, aku telah pulang, aku berada di tempat ini, aku telah mati, aku berdiri dengan kedua kakiku, aku bisa memegang tubuhku dengan kedua tanganku, aku telah mati meninggalkan hidupku, aku berada di tempat yang begitu erat dengan keseharianku. Tapi kemudian apakah keseharianku? Apakah aku hidup? Apakah aku telah mati?

Aku telah mati. Mungkin aku mati tertabrak bus, ketika aku sedang berjalan menuju bus kota yang ingin kunaiki di terminal yang begitu ramai ini. Ramai dan tak beraturan. Bus kota berbaris dengan barisan yang tidak seperti barisan, aku bahkan meragukan supir-supirnya mengenal apa itu barisan. Aspal hitamnya yang berlubang di mana-mana menampung genangan air hitam bercampur dengan tetesan oli atau entah cairan apa yang membuatnya terlihat begitu menjijikkan dan akan menenggelamkan dirimu dalam cairan hitam pekat tersebut. Hanya sampah-sampah yang sama menjijikkannya yang bisa dengan tenang mengapung di atas genangan menjijikkan itu, sampah yang mengisi setiap sudut terminal. Seperti bus-bus tersebut dengan badannya yang sudah penuh dempul dan bemper berkarat, berlapis warna hitam atau warna cat dari mobil lain. Bahkan tak layak disebut kendaraan, lebih pantas disebut sebagai sebuah peti kemas berkarat yang bermesin seadanya, yang ributnya minta ampun dan menghembuskan asap hitam setiap kali merongrong memekakkan telinga, sehingga bisa Ia berjalan dengan harapan ganjil bisa membawamu ke suatu tempat, selain rumah sakit atau lebih buruk lagi kamar mayat, atau kembali ke sini tempat aku telah mati.

"Aku telah mati. Ke mana aku harus pergi?"

Aku melihat sekelilingku. Melupakan pandangan keraguan pada tubuhku yang telah mati. Siapa yang tahu aku telah mati di sini, di terminal ini. Terminal yang sama dengan yang biasa kusinggahi. Sama ramainya dengan segala hal menjijikkan dan manusia berwajah kusam memenuhi setiap sudut terminal. Melangkah tak terkendali di atas aspal hitam yang berlubang. Beberapa tapak kaki dari mereka menyipratkan genangan air hitam dalam lubang aspal. Mereka duduk bergerombol di salah satu sudut terminal yang seperti kakus. Kamar mandi terminal lebih tepat disebut sebagai tempat sampah dengan segala hal yang tidak ingin kau lihat bertumpuk. Bahkan keseluruhan terminal ini adalah sebuah kamar mandi besar yang menampung kumpulan manusia, bus, sampah, semua menghitam mengikuti asap hitam yang menyaingi hitamnya aspal. Aku yakin kalau aku telah mati di tengah kekotoran ini. Apakah seluruh manusia itu pun telah mati? Apakah bus ini akan membawaku ke tempat lain lagi? Apakah aku benar telah mati?


FIN


Prompt yang digunakan: death


to the next story