Undangan


Penulis: Sarcastic Mont Blanc

Begitu baca daftar prompt, yang terbayang hanya plot ini padahal sebelumnya belum pernah coba menulis cerita horor :3c


Sebut saja namanya Melati.

Bukan karena dia cantik seperti bunga putih itu, tapi karena kehadirannya selalu dikaitkan dengan hal mistis. Yah, dia memang cantik - sangat ramah dan ceria, malah - ketertarikannya terhadap hal-hal macam itu yang mendorong orang-orang menjauh. Ada yang bilang dia bisa 'melihat'. Kadang-kadang aku mencegatnya sedang menatapi satu sudut ruangan yang kosong, atau mengambil langkah yang tidak biasa saat berjalan di jalan yang kosong. Namun kupikir dia hanya anak yang nyentrik, seperti para orang bule yang mengaku sebagai penyihir dengan daun-daun dan rempah aneh mereka.

Lima belas tahun lalu, kami masih memakai seragam merah-putih, duduk di ruang kelas yang kosong menunggu hujan reda setelah kelas tambahan. Duduk berhadapan di pojok kelas, di atas meja ada secarik kertas bekas latihan ulangan dan sekeping uang logam 500 perak. Melati menulis huruf dan angka ke dalam beberapa baris dengan sangat rapi untuk anak usia 10 tahun, nyaris seperti diketik. Dengan dramatis dia menarik goresan, lalu mengangkat kertas ke udara, menikmati langkah pertama permainan kami.

Aku? Hanya duduk diam. Mengingat mimpi buruk yang menjangkitiku sejak itu, persahabatan kami mungkin lebih banyak mudarat daripada manfaat, tapi aku senang ada yang mau melibatkanku dalam hidup mereka. Luapan kegembiraan bercampur ingin tahu dari mata Melati membuatku merasa diterima. Kalau kata orangtua, nyemplung ke sumur pun aku ikut.

"Takut?" Melati bertanya saat menaruh kertas di antara kami.

Aku mengedikkan bahu. Aku ingin bilang kalau Melati terlalu banyak nonton film horror, tapi aku tidak mau memadamkan semangatnya. "Kalaupun takut, mau gimana lagi."

"Ya, kabur, dong." Melati terkekeh. Dia menaruh koin lima ratus di atas kertas, mengedikkan dagu mengisyaratkanku untuk melakukan hal yang sama.

Melati yang pertama melantunkan mantera itu.

"Jalangkung, jalangkung,

Di sini ada pesta,

Pesta kecil-kecilan,

Datang tidak diundang,

Pulang tidak diantar."

Terus dan terus, Melati mengulangi mantera.

Tidak ada hasil.

Sudah mulai bosan dan kedinginan karena hujan, akhirnya aku ikut mengucapkan mantera, mengundang cengiran dari Melati.

Setelah beberapa menit berlalu, lagi-lagi tanpa hasil, Melati melihatku dengan tatapan bosan. Aku sudah siap mengangkat jariku dari koin ketika tiba-tiba koin di tangan kami berputar kencang. Sesaat kupikir Melati sedang mengerjaiku, tetapi melihat wajahnya yang pucat, aku menjadi panik.

Koin di jari kami terus berputar keluar masuk kertas. Suara gesekan kertas terasa memenuhi telinga kami, mengalahkan deru hujan di luar.

"Melati, disuruh pergi aja setannya! Aku nggak mau main lagi!" teriakku.

"Aku nggak tahu caranya!" balas Melati.

Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi - aku memilih mengikuti saran Melati sebelum permainan ini dimulai.

Kabur.

Tanpa aba-aba, aku langsung menarik jariku.

Melati terkesiap. Sebelum dia sempat menahanku, aku sudah berlari menyeberangi halaman sekolah, menerobos hujan, memburu rasa aman di luar kelas.

Salah seorang guru muncul dari dalam ruang guru begitu mendengar teriakan Melati memanggil-manggil namaku. Kebingungan dengan teriakan Melati dan tangisanku, beliau menyuruh aku duduk dulu.

"Ada apa? Ada apa?" Bu Guru bertanya, bingung melihatku yang basah kuyup. Dia melihat ke Melati yang masih berdiri di depan kelas seberang halaman. "Kalian ngapain? Kok belum pulang?"

Aku menoleh ke seberang halaman sekolah. Melati berdiri di depan kelas, menyipitkan mata berusaha melihat melewati dinding hujan deras. Wajahnya tampak cemas, menengok ke kanan kiri mencari jalan memutar menghindari hujan.

Saat kakinya mulai melangkah, aku melihatnya untuk pertama kali.

Awalnya kupikir itu bukan apa-apa. Hanya gumpalan hitam - mungkin plastik sampah. Lalu gumpalan itu bergerak - seperti makhluk hidup, merayap, tubuhnya berkeriut seperti ulat. Setiap gerakannya terasa salah. Setiap gerakannya menambah rasa panikku.

Aku berteriak memanggil Melati, menunjuk-nunjuk ke arah gumpalan itu. "Awas! Melati! Belakang kamu!"

Melati melihat ke belakang. Lalu ke arahku, lalu kembali lagi ke arah jariku menunjuk. Dia tampak bingung.

Gumpalan itu semakin mendekat ke Melati - lalu berhenti. Dia berbelok. Menujuku.

Aku tidak ingat apapun lagi setelahnya.

Aku hanya mengingat rasa dingin membekap seluruh tubuhku sampai beberapa hari ke depan. Rasa lelah terus memberati badanku meski aku sudah tidur sepuluh jam sehari. Kata mamaku tidurku jadi sangat pulas, beberapa kali mereka coba membangunkanku tapi aku tidak terbangun.

Aku harap aku bisa terbangun, karena dalam mimpi makhluk itu juga mengejarku.

Aku naik, naik, dan terus naik untuk menghindarinya, tapi dia selalu bisa menangkapku. Terkadang aku terjatuh saat berlari. Saat aku merayap naik, aku selalu menoleh ke kegelapan di belakangku. Saat itulah kurasakan ada yang mencengkeram kakiku.

Tanganku berusaha meraih anak tangga teratas, berteriak memohon pertolongan. Mataku menatap ke dalam kegelapan, melewati tangan yang hitam legam itu, berusaha memahami apapun yang mengejarku. Namun akhirnya aku terjatuh lebih dalam, sekelilingku semakin gelap dan dingin.

Lalu aku terbangun dengan mata sembab.

Pertama kali kulihat bentuk makhluk itu dengan jelas adalah saat kelas berlangsung. Kulihat gumpalan hitam bersembunyi di belakang kaki meja. guru Aku terus menunduk melekatkan pandangan ke bukuku, berusaha tidak memerhatikan makhluk itu.

Lalu aku merasakan ada yang melewati kakiku- basah, kasar, licin. Dingin. Mengingatkanku pada ikan mas koki peliharaanku dulu yang mati.

Aku berteriak, melompat dari kursi.

Teman-teman di sekelilingku otomatis ikut mengangkat kaki. "Ada apa? Kecoa ya?!"

Aku menunjuk-nunjuk ke pojok belakang pintu. Makhluk hitam itu bersembunyi di balik tong sampah. Guruku menggeleng kepala. Dengan ujung penggaris kayu kelas, dia menggeser tong.

Gumpalan hitam itu berbentuk seperti belatung hitam besar. Kulitnya tampak sangat basah dan licin, ada guratan melengkung seperti sisik di badannya. Lubang di ujung kepalanya perlahan terbuka, menunjukkan isi tubuh yang sama hitamnya.

Dia seperti sedang tersenyum saat melihatku. Aku berteriak.

Kelas menjadi gaduh. Kepala sekolah sampai datang, dahinya mengernyit melihatku histeris sementara guru seni musik kebingungan menenangkanku.

Esoknya, dari bilik toilet aku mendengar salah seorang teman sekelas mencibirku. Cari perhatian. Dukun. Gila.

Orangtuaku juga tidak percaya, tapi mereka mengakui rasa takutku. Mereka percaya kalau aku percaya semua pengalamanku adalah nyata. Saat aku mulai masuk SMP dan tidak ada tanda-tandd aku aku akan membaik, aku diajak menemui psikiater.

"Aku tidak gila," tepisku.

"Kamu sedang sakit. Kalau kamu mau ikut, semuanya bisa normal lagi," kata ayah.

Setelah beberapa sesi dengan seorang dokter muda dan beberapa obat tidur, histeriaku - begitu diagnosa psikiater - akhirnya mereda.

Karena aku memaksa menjadikan semuanya normal. Kalau merasionalisasi semuanya sebagai khayalan - timbul dari rasa trauma, seperti kata psikiaterku - aku bisa menghadapinya lebih mudah. Menjadi gila lebih baik daripada... apapun yang aku alami.

Sampai aku dewasa, aku berpura-pura semuanya adalah normal.

Barang mendadak terjatuh? Salah menaruh.

Sesak napas setelah mimpi buruk? Sleep paralysis.

Makhluk hitam kecil di pojok elevator kantor? Hanya khayalanku.

Pasti hanya khayalanku, karena orang lain tidak ada yang bereaksi.

Aku memandangi makhluk itu. Bentuknya masih sama seperti biasa, hanya saja dia semakin membesar. Makhluk itu merayap perlahan menuju arahku, meninggalkan jejak lendir di belakangnya. Semakin dia mendekat, semakin tercium bau busuk yang basah. Seperti bau sesuatu yang sudah mati.

Hanya khayalanku. Ibu Galatea, manajer perusahaan yang berdiri di depanku, sama sekali tidak bergeming ketika makhluk itu memanjat melewati wedges merahnya.

Dia berhenti di depanku. Lalu seperti ular, dia menanamkan mulutnya di kakiku.

Aku sedikit merasa bangga bisa menahan diri untuk tidak berteriak.

Rasa sakit ini hanya sementara. Hanya khayalanku. Setelah ini usai, dia akan pergi seperti biasa. Aku akan mendapat ketenangan selama beberapa hari sampai dia merasa lapar lagi.

Dia bahkan tidak akan meninggalkan bekas. Karena dia hanya khayalanku.


Jari-jariku menyisir halaman kertas, merasakan titik-titik kertas mengerut dan tinta memudar. Halaman-halaman setelahnya kosong.

"Maaf ya, Melati, Tante cuma punya ini."

Aku langsung buru-buru memasukkan catatan harian Irene ke balik bantal. Mama Irene datang membawa baki berisi cangkir minuman dan sepiring gorengan. Aku ingin menolak, tapi melihat kantung mata di bawah mata Mama Irene, aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Seorang Ibu baru saja kehilangan anaknya. Masih muda, tapi kena serangan jantung, bisik tetangga.

"Makasih, Tante." Aku diam-diam menarik tangan dari balik bantal selagi Mama Irene menaruh suguhan di atas meja.

"Kamarnya berantakan, ya? Tante belum sempat bebersih lagi setelah tahlilan."

Aku tertawa kecil. "Kamarku lebih berantakan, Tante. Yang segini mah rapi banget."

Mama Irene menghela nafas. "Sudah lama, ya, gak ketemu Melati. Kamu dan Irene masih sering ngobrol setelah pindah sekolah?"

Aku menggeleng. Setelah apa yang terjadi pada Irene waktu kami masih SD, aku dimarahi mamaku.

"Kemampuan kamu tidak boleh disalahgunakan. Sekarang orang lain jadi ikut merugi karena kamu!"

Karenanya aku pindah setelah lulus SD, menjauh dari Irene, dengan harapan Irene tidak lagi ketempelan karena kemampuanku. Aku sudah biasa diikuti oleh... makhluk-makhluk dari dunia lain. Kadang-kadang ikut menempel pada orang di sekitarku, seperti penyakit yang menular, tapi hanya sebentar. Dengan sedikit kemauan (dan doa, kalau mau sedikit lebih religius), biasanya mereka akan menjauh.

Namun kalau melihat gumpalan hitam gendut menggeliat di pojok kamar Irene, sepertinya penyakit yang kutularkan kepada Irene sudah terlalu parah.


Prompt yang digunakan: 15 tahun yang lalu, kucing, hujan, mimpi, terjebak dalam lift, ikan hias, ibu, kegelapan