Alice

by:Phantom Devil

#SpecialForMako-Pai. Semangaat buat ceritanya, everyone is rooting yuuu Xd


"Alice,"

Panggilan itu membuat gadis bersurai coklat madu itu menoleh ke arah seorang wanita bersurai tosca itu.

"Auntie? Ada apa?" tanya gadis itu, menatap bingung sosok wanita yang sudah beberapa bulan ini menjaganya.

"Ayo makan siang dulu. "

"Um... "

Gadis itu, Alice, mengangguk sembari mengikuti wanita itu menuju ke ruang makan, dimana hidangan telah tersedia di meja makan.

"Uncle belum pulang ya?" tanya Alice, sembari mengambil posisi duduk di salah satu kursi di meja makan itu.

"Mungkin sebentar lagi dia pulang. "

"Baiklah. "

"Ah iya, katanya besok dia mau mengajakmu jalan-jalan kan?" tanya wanita itu lagi.

"Um, iya. Kalau Uncle tidak sibuk. Aku tidak mau merepotkannya. " jawab Alice sembari menyantap makanan itu.

"Jadi rencananya kalian akan kemana?"

"Um... Aquarium. Aku ingin ke Aquarium," jawab Alice.

"Alice suka binatang laut ya?" tanya wanita itu sembari tersenyum.

"Alice sukanya Penguin, ya kan?"

"Ah, Rou-kun kau sudah pulang?" kaget wanita itu yang sejujurnya tidak mengira kalau pria itu pulang lebih awal.

"Baru saja kok. Dan semua pekerjaanku juga sidah selesai. Untuk apa aku berlama-lama di kantor?" ucap pria itu sembari mengusap kepala Alice.

"Um... uncle, keadaan Daddy dan Mommy bagaimana?" tanya Alice.

"Alice, tenang saja ya? Ayah dan Ibumu akan baik-baik saja. Dan apapun yang terjadi pada mereka, itu bukanlah kesalahanmu, ya?" ujar pria itu.

"Tapi... gara-gara aku mereka jadi harus sakit. " gumam gadis itu sembari menunduk.

"Alice, kau tau? Kewajiban orang tua itu menjaga anaknya. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi. " jawab wanita itu.

"Itu benar Alice, kau tidak boleh sedih ya? Ayah dan Ibumu juga pasti akan sedih kalau melihatmu menyalahkan diri seperti ini. "

"Um... baiklah Auntie, Uncle. Terima kasih banyak. "


Setelah makan siang, Alice memilih untuk kembali ke kamarnya. Ia diwajibkan untuk beristirahat, karena kondisinya belum pulih seutuhnya.

Dan untuk itulah, ia terpaksa tinggal dengan kakak sepupu dari ayahnya untuk sementara waktu. Hingga kondisinya membaik dan kedua orang tuanya sembuh seperti sedia kala.

"Kau pikir mereka akan sembuh? Jangan terlalu banyak berharap, Alice. "

Sebuah suara, seiringan dengan kemunculan sesosok gadis membuatnya tersentak kaget. Gadis itu lagi. Gadis bergaun kelabu, dan mengenakan flat shoes berwarna abu-abu. Surai pirangnya tergerai, berantakan.

"Kau ini siapa? Kenapa kau terus mengangguku?" tanya Alice, membuat gadis itu hanya tertawa kecil.

"Kenapa? Kau lupa, kalau ini semua salahmu? Kau sudah lupa? Kau yang melukai kedua orang tuamu, kan?"

"Tidak... Tidak! Itu tidak benar... ini bukan salahku!" kilah Alice.

"Alice, kau tidak perlu berkilah. Kau sendiri mengetahuinya kan?"

seringai sosok itu.


"Alice? Alice! Bangunlah, hei,"

Panggilan itu membuat Alice terbangun dan membuka matanya hanya untuk melihat sosok pamannya itu berada di samping tempat tidurnya. Bulir-bulir keringat dan air mata membasahi wajahnya.

"Alice?" panggil pria itu sembari mengusap kepala gadis itu.

"Uncle... "

"Alice, kau baik-baik saja? Kau mimpi buruk lagi ya?" tanya pria itu sembari mengusap lembut surai gadis itu.

"Um... iya,"

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan ya? Uncle disini, tidak ada yang bisa melukai keponakanku ya?"

"Terima kasih, uncle," jawab Alice sembari tersenyum. Ia merasa lebih baikan saat ini. Setidaknya ia bersyukur, semua hanyalah mimpi buruk. Ini pasti karena ia yang terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting.


To be Continue